Mengatasi Problema Buruh

1244 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 1 Mei 2013

Kasus buruh ini memang agak rumit dan unik. Rumit karena sebenarnya sudah sering terjadi di berbagai daerah di belahan dunia berkaitan dengan demo buruh karena gaji yang kecil dan kesejahteraan buruh.

Kasus Buruh menarik? Ya, menarik. Sebabnya seperti pada kasus-kasus serupa, Dalam aksi Hari Buruh indonesia, Komite Aksi May Day menuntut penghapusan sistem kerja kontrak, outsourcing, dan menuntut jaminan kesehatan untuk buruh di seluruh rakyat Indonesia. Ini sudah sering terjadi, dan bahkan sudah banyak perusahaan industry yang rugi dikarenakan buruhnya pada berdemo.

Mulai dari pemberitaan yang begitu bombastis: “150.000 pekerja padati GBK pada 1 May 2013 atau May Day”. Kemudian seiring berjalannya waktu dan ditemukannya beberapa fakta yang menyebabkan krugian industry ratusan triliun rupiah. Kenapa bisa begini? Siapa di balik munculnya kasus ini? Termasuk, sebenarnya bagaimana pandangan islam mengenai kasus buruh ini? Menarik untuk didiskusikan. Maka, pada 1 May 2013 seperti biasa MediaIslamNet dan Pesantren Media menggelar diskusi pekanan yang diikuti kru MediaIslamNet, Voice of Islam, dan seluruh santri pesantren media Pesantren Media.

“1 Mai dikenal sebagai hari buruh internasional sehingga diamana-mana terjadi unjuk rasa buruh dimana-mana biasanya sih di nengara-negara kapitalis termasuk di Indonesia,” jelas Ustadz Umar Abdullah sekilas untuk diskusi, dan kemudian di alihkan kepada moderator yang dimana diskusi kali ini akan dipimpin oleh Dhiya Musa Amal Romis.

Kasus Buruh makin jadi buah bibir di media internasional menjelang tanggal 1 Mei lalu. Seperti diberitakan media massa, seluruh buruh tengah mempersiapkan alat-alat yang akan di gunakan untuk berdemo pada tanggal 1 Mei 2013.

Bagi kami di sini, tentu saja kasus Buruh menjadi begitu menarik dan membuat penasaran sehingga kemudian diputuskan jadi tema diskusi pekan ketiga bulan Desember lalu.

Seperti pada biasanya, sang moderator memimpin diskusi. Dan langsung dibuka kesempatan untuk bertanya atau memberikan opini bagi peserta diskusi.

Abdullah, peserta diskusi dari kalangan anak-anak mengajukan pertanyaan khas anak-anak, “mengapa para buruh itu berdemo?”. Ada juga pertanyaan-pertanyaan dasar yang diberikan oleh Yusuf Adittiya yaitu, “apa itu buruh?”. Dan kemudian lanjut ke pertanyaan dari Taqiyuddin, “kenapa bisa ada hari buruh?”.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari Mufiddah, santriwati Pesantren Media, “apa sih bedanya buruh dengan PNS?”. Sementara Kak Farid, santri Pesantren Media angkatan pertama mempertanyakan, “apa saja permasalahan yang diderita buruh Indonesia?” . Hmm…. Kira-kira kenapa ya?.

Gak mau kalah. Kali ini Fathiman NJL, santriwati Pesantren Media yang mengajukan pertanyaan, “apakah karena ini hari buruh internasional. Pemerintah membebaskan buruh untuk berunjuk rasa?”.

Hawari, santri Pesantren Media juga ikut bertanya, “mengapa kok bisa rendah sekali gaji buruh di Indonesia jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN?” herannya.

Belum reda terkesima dengan pertanyaan Hawari, giliran Anam, santri Pesantren Media yang mengajukan pertanyaan, “apakah dimasa khilafah ada masalah seperti ini?” tanyanya.

Dhiya musa sang modereator masih memberikan kesempatan kepada peserta lainnya untuk bertanya. Saknah Reza Putri, santri Pesantren Media pun bertanya, “mengapa presiden malah pergi ke Surabaya? mengapa tidak diatasi pedemo di istana?”.

Setelah itu giliran Teh Neng, santriwati Pesantren Media angkatan pertama mengajukan pertanyaan, “kalau buruh itu tahu gajinya kecil kenapa mereka mau bekerja sebagai buruh?”. Kemudian lanjut ke pertanyaan Cylpa Nur Fitriani, santriwati Pesantren Media, “Apa yang telah dilakukan pemerintah dengan kasus buruh ini?”.

Sesi pertanyaan masih dibuka oleh Dhiya Musa. Lalu Chairunnisa Bayu Parameswari, santriwati Pesantren Media, “Siapa yang menetapkan hari buruh atau Mey Day ini?”. Dilanjutkan dengan pertanyaan dari Teh Ira, santriwati Pesantrn Media, “bagaimana cara mengatasi problema buruh?”.

Lanjut ke pertanyaan dari Noviani Gendaga, santriwati Pesantren Media, “kira-kira berapa gaji yang pantas untuk buruh Indonesia sekarang?” tanyanya penasaran. Dan pertanyaan Holifah Tussadiah, santriwati Pesantren Media, “mengapa tangal 1 mei dijadikan hari buruh internasional?”.

Nah, sekarang giliran Teh Novia, santriwati Pesantren Media angkatan pertama “Dampak apa yang akan terjadi bila demo buruh terus berlanjut?”. Terakhir pertanyaan dari Wigati, santriwati Pesantren Media, “bagaimana pandangan islam mengenai kasus buruh ini?”.

Sebagai pemimpin diskusi, Dhiya Musa Amal Romis mulai melemparkan pertanyaan yang diajukan kepada forum, barangkali ada yang ingin berpendapat atau mengomentarinya.

“Coba, siapa yang mau mencoba menjawab pertanyaan pertama?  mengapa para buruh itu berdemo?.” Dhiya Musa memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya atas pertanyaan yang diajukan.

Siti Muhaira menjawab dengan antusias, “menolak kenaikan harga BBM”. Kak Farid juga mencoba menjawab, “karena mereka ingin menuntut kesejahteraan buruh”. Tak mau ketinggalan Hawari pun mencoba memberikan jawaban, “karena engak setuju dengan sistrem kerja kontrak”. Enggak mau ketinggalan Cylpa pun menjawab “karena orang yang berdemo itu ingin memberikan aspirasi masyarakat.!” serunya.

Dhiya Musa kemudian bertanya kepada Abdullah sebagai pemilik pertanyaan. Apakah ia puas dengan jawaban-jawaban dari peserta diskusi atau perlu diperjelas?. Dan karena Abdullah menjawab puas dengan jawaban yang diberikan, maka Dhiya Musa kembali melanjutkan kepertanyaan berikutnya.

Ke pertanyaan Yusuf, “apa itu buruh?” sama dengan pertanyaan pertama Dhiya Musa kembali memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya atas pertanyaan yang diajukan. Abdullah menjawab, “buruh itu diambil dari kata upah jadi buruh itu adalah orang yang diberi upah”. Tak mau kalah dari kakaknya Taqi menjawab, “buruh itu pekerja”. Kemudian di perlengkap oleh Hawari, “Buruh, Pekerja, Tenaga Kerja atau Karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau Pengusaha atau majikan”. Mendengar jawaban dari Hawari kemudian Dhiya Musa membenarkannya.

Untuk pertanyaan dari Taqi “kenapa bisa ada hari buruh?”. Hawari menjawab, “untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Tetapi, karena di Indonesia itu nasibnya kurang baik maka mereka berdemo”.

Beralih kepertanyaan Mufiddah “apa sih bedanya buruh dengan PNS?”. Dhiya musa menjawab, “buruh itu bekerja dan digaji diperusahaan swasta sedangkan PNS bekerja dengan Negara dan gajinya tetap”. Setelah memberikan jawabannya Dhiya Musa bertanya kepada peserta diskusi barangkali ada yang ingin menambahkan.Dan ternyata benar, Hawari ingin menambahkan “PNS itu hidupnya lebih terjamin karena gajinya tetap”. Dan kemudian Teh Neng mengatakan, “sebenarnya buruh dan PNS itu sama karena mereka sama-sama di gaji oleh majikan atau bosnya. Yang bukan buruh itu adalah pengusaha, pedagang atau orang yang tidak digaji oleh orang lain.”

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari Kak Farid “apa saja permasalahan yang diderita buruh Indonesia?”. Noviani mencoba menjawab, “gajinya kecil sedangkan harga bahan pokok melambung”. Lalu dilanjutkan dengan jawaban dari Dhiya Musa, “gajinya kecil, pekerjaannya berat dan harga kebutuhan sehari-hari melambung tinggi makanya banyak buruh yang berunjuk rasa menuntut kesejahteraan”.

Langsung saja ke pertanyaan dari Fathimah, “apakah karena ini hari buruh internasional. Pemerintah membebaskan buruh untuk berunjuk rasa?”. Dhiya Musa menjawab, “sebenarnya pemerintah tidak juga, kan hari-hari biasa juga sering tiba-tiba terjadi demo”.  Hawari pun menambahkan, “bisa jadi, ini kan negara demokrasi jadi orang-orang suka demo dan kebetulan karena hari ini adalah hari buruh initernasional jadi mereka berdemo besar-besaran berharap pemerintah mendengarkan suara mereka”.

“Siapa yang mau mencoba menjawab pertanyaan dari Hawari? mengapa kok bisa rendah sekali gaji buruh di Indonesia jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN?”. Dhiya Musa memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya atas pertanyaan yang diajukan.

Kak Farid mencoba menjawab, “standar gaji itu biasanya sudah ditetapkan  oleh pemerintah dan biasanya UMR (upah minimum regional) rendah sehingga tidak mencukupi kebutuhan buruh”. Enggak mau ketinggalan Anam menjawab, “seperti yang kita ketahui biaya pendidikan di Indonesia mahal sehingga menjadikan kualitas sumber daya manusianya jelek kualitas  bisa meningkat jika harga pendidikan di Indonesia murah. Kan kalau bianya murah akan lebih banyak lagi orang-orang yang bersekolah jiks dibandingkan dengan biaya pendidikan yang mahal”.

Untuk pertanyaan selanjutnya dari Anam “apakah dimasa khilafah ada masalah seperti ini?”. Dhiya Musa langsung saja menjawab, “Jelas tidak, soalnya setiap Negara yang menerapkan hokum islam pasti akan sejahtera karena hukum-hukum islam itu jelas” dan kemudian hampir seluruh peserta diskusi membenarkan.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan pertangaan dari Putri “mengapa presiden malah pergi ke Surabayadaripada mengatasi pedemo yang ada di istana?”. Hawarimenjawab, “karena SBY punya twitter”. Karena kurang menyukai jawaban Hawari, Dhiya Musa membalas dengan kata “enggak nyambung tahu”. Noviani juga enggak mau ketinggalan, “mungkin karena presiden sudah enggak peduli lagi dengan rakyatnya” jawabnya ketus. Hawari kembali menjawab, “karena presiden memiliki agenda penting yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dan kebetulan bertepatan dengan hari buruh sedunia atau may day”.

Setelah pertanyaan dari Putri terjawab maka diskusi dilanjutkan ke pertanyaan dari Teh Neng “kalau buruh itu tahu gajinya kecil kenapa mereka mau bekerja sebagai buruh?”. Lalu dengan serempak Abdullah dan peserta diskusi yang lain menjawab dengan yakinnya, “enggak ada pekerjaan lagi”. Berbeda dengan Abdullah hawari menjawab “karena orang indonesia itu suka bekerja kepada orang lain dan ketika mereka tidak menemukan pekerjaan lain mereka memilih untuk menjadi buruh padahal itu tidak menjamin. Kalau orang luar itu misalkan enggak ada uang mereka itu memilih untuk membuka usaha sangat berbeda dengan orang Indonesia soalnya orang Indonesia itu enggak mau berusaha karena tidak mau menanggung resiko” katanya. Kemudian Noviani dan Anam menambahkan “karena gak ada lahan usaha dan karena kualitas pendidikan mereka itu kurang jadi mereka takut membuka usaha karena enggak memiliki ilmunya”.

Lanjut ke pertanyaan dari Cylpa “Apa yang telah dilakukan pemerintah dengan kasus buruh ini?”. Dhiya Musa kembali memberikan kesempatan kepada peserta diskusi dan Hawari menjawab, “menurut data yang saya baca tindakan pemerintah dalam hal ini adalah prihatin dan berharap saja (tindakan SBY)”.

Langsung saja ke pertanyaan Chairunisa “Siapa yang menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh atau May Day ini?”. Hawari menjawab, “Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Kongres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momem tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik massif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik massif di era tersebut. Tanggal 1 mei dipuluh pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di kanada 1872, menutut delapan jam kerja di AS dan diberlakukan mulai 1 mei 1886. Jadi, yang menetapkan 1  May sebagai hari buruh adalah Federation of Organized Trades and Labor Unions”.
Setelah pertanyaan Chairunisa terjawab kita beralih ke pertanyaan “bagaimana cara mengatasi problema buruh?” dari Siti Muhaira. Dhiya Musa memberi kesempatan kepada peserta diskusi dan Teh Novia pun mencoba menjawab, “harusnya pemerintah manaikakan gaji para buruh, jangan ada lagi yang namanya PHK, dan kalau bisa buruh itu membuka usaha sendiri”.  Kemudian Anam menjawab, “caranya pemerintah harus memberikan bantuan kepada perusahaan agar mereka dapat menaikkan gaji buruhnya”.

Lanjut ke pertanyaan selanjutnya “kira-kira berapa gaji yang pantas untuk buruh Indonesia sekarang?” dari Noviani. Dhiya Musa menjawab, “gaji buruh itu tidak bisa disama ratakan karena biaya kehidupan di setiap daerah itu berbeda-beda yang terpenting gajinya dapat memenuhi kebutuhan para buruh”.

Setelah itu pertanyaan dari hilifah “mengapa tangal 1 mei dijadikan hari buruh internasional?”. Dhiya Musa menjawab “Karena tadi sudah terjawab dengan jawaban pertanyaan yang sebelumnya jadi saya tidak akan mengulanginya lagi”.

Lanjut ke pertanyaan dari Teh Novia “Dampak apa yang akan terjadi bila demo buruh terus berlanjut?”. Dhiya Musa menjawab, “jalanan menjadi macet, perusahaan merugi karena pekerjanya pada demo, juga yang jelas perekonomian terganggu”.

Nah, special untuk pertanyaan dari wigati, “bagaimana pandangan islam mengenai kasus buruh ini?”. Dijawab langsung oleh Ustadz Umar Abdullah, “dalam islam tidak ada persoalan buruh apalagi sampai berdemo . Sebenarnya yang dituntut para buruh itu adalah upah yang cukup, jaminan ini jaminan itu (jaminan kesehatan, jaminan pendidikan). Nah, didalam islam tidak boleh ditetapkan upah minimum. Ini tergantung buruhnya mau digaji semampu perusahaan atau dipecat?” jawabnya lantang.

Ustadz Umar Abdullah kembali melanjutkan “kenapa dalam islam itu tidak ada yang namanya persoalan buruh? Karena kesejahteraan buruh itu bukan tanggung jawab perusahaan tapi tanggung jawab Negara” jawabnya tegas.

Ustadz Umar Abdullah berhenti sejenak dan kembali menjawab dengan memberikan sebuah perumpamaan “jadi misalnya ada buruh yang digaji 1,5 juta perbulan. Sementara biaya hidup dia beserta istri dan dua anaknya di Jakarta sebesar 2-3 juta. Siapa yang mencukupi? Yang pertama sebelum sampai kenegara adalah keluarganya kalau misalnya enggak cukup juga tetangga yang paling dekat dengannya. Kalau enggak cukup juga barulah Negara. Terus apa lagi jamninan kesehatan, pendidikan. Dalam islam rumah sakit, sekolah itu digratiskan.”

Kaitannya dengan rencana kenaikan harga BBM, Ustadz Umar Abdullah memberikan komentar.

Berapa harga BBM saat ini?

Untuk yang bensin harganya Rp4.500 sedangkan pertamax harganya Rp9.000-10.000.

Kenapa harga bensin mau di naikkan?

“Ini dikarenakan SPBU asing itu sudah mulai gulung tikar. Karena orang-orang pada beli ke PERTAMINA. Harga BBM yang dijual Pertamina lebih murah dibanding dengan perusahaan asing.

Makannya mereka (perusahaan asing) meminta pemerintah agar harga BBM yang premium itu dinaikkan. Entah itu Rp8.000 atau Rp9.000 sehingga masyarakat yang tadinya mengunakan BBM premium beralih menggunakan pertamax atau beli ke perusahaan asing seperti perusahaan milik AS, Belanda, Malaysia, Arab Saudi, China, Australia, Inggris.

Mereka mengadu ples menyuruh kadin Indonesia. Jadi yang ngomong orang-orang kadin, alasan yang mereka pakai  adalah “membebani APBN”. Padahal faktanya tidak seperti itu. Yang benar adalah kenaikan harga itu karena adanya permintaan perusahaan asing yang bermain di bagian Hulu dan Hilir.

Harga BBM naik bukan karena ada kenaikan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Tapi SPBU-SPBU asing yang sudah mulai bangkrut dan meminta sekali lagi agar harga bensin dinaikkan. Itu semua dilakukan agar mobil-mobil pribadi membeli BBM di SPBU asing karena harganya Rp9.000 hampir sama dengan pertamax.

Kenapa ketika harga minyak dunia naik kita bingung memikirkan banyaknya BBM yang diperlukan? Ini semua karena kebodohan pemerintah. Mengesahkan UU MIGAS  NO 22/2001 yang diusulkan oleh SBY. Karena UU itulah tambang minyak dikuasai asing.

Sekarang, akan dimunculkan lagi pasal penghinaan presiden dan wakil presiden. Padahal dulu pasal ini sudah dihilangkan di zamannya SBY dan sekarang mau dimunculkan lagi. Ini terjadi karena, saat ini presiden SBY sudah seperti bencong sedikit-sedikit mengeluh.

Pada tahun 2001 ada UU minyak dan gas bumi yang membolehkan lebih dari 50% tambang-tambang dikuasai oleh asing. Dan sekarang sudah 90% ladang-ladang minyak yang dikuasai oleh asing. Mulai dari perusahaan AS, Belanda, Malaysia, Arab Saudi, China, Australia, Inggris itu menguasai ladang-ladang minyak Indonesia. Dan akhirnya Indonesia hanya menguasai 10% saja.

Itu yang menyebabkan Indonesia yang dulunya sebagai Negara peng ekspor minyak sekitar tahun 80-an. Tapi karena wadah-wadah minyak itu diserahkan kepada asing  dan Negara masih memiliki mental terjajah dengan negara-negara amerika itu saja tidak beranai.

Seharusnya presiden sekarang bisa bertindak seperti presiden Soekarno. Berani mengusir asing yang ketika mereka mengiming-imingi bantuan tapi dengan syarat mereka diberi posisi freeport tapi soekarno tidak mau dan berkta kepada asing yang artinya “pergi ke neraka dengan bantuan-bantuanmu”.

Selain itu, karena jumlah ladang minyak yang dikuasai Inidonesia itu hanya 10% makanya Indonesia menjadi Negara pengimpor minyak. Soalnya, minyak yang di hasilkan tidak cukup buat konsumsi Indonesia.

Dulu kalau harga minyak naik Negara seneng dapat untung sekarang kalau harga minyak dunia naik kita yang bingung. Itu salah pemerintah yang membuat UU yang membuat asing menguasai sawah ladangIndoesia.

Ada juga dugaan yang beredar, kalaubensin itu sekarang kualitasnya buruk bensinnya kotor dan mudah merusak kendaraan. Ini dilakukan agar orang membeli pertamax.

“Kenapa pada tanggal 1 aprilkemarin pemerintah tidak jadi menaikkan harga BBM?”

Itu semua karena SBY baru saja menjadi ketua umum demokrat. Kemarin demokrat itu lagi turun dan sementara itu pamornya sendiri masih tinggi. Kalau gara-gara menaikkan harga pamornya menjadi turun tidakada yang dapat diharapkan lagi.

Jadi bukan keberanian terhadap asing tapi hanyauntuk menyelamatkan pamor SBY. Dan sampai PEMILU nanti kemungkinan besar BBM tidak akan dinaikkan. Bukan karena sayang kepadarakyat atau berani terhadap asing tetapikarena pengen selamat saat PEMILU.

Solusinnya adalah Berani mengusir perusahaan asing yang menguasai pertambangan Indonesia. Dengan cara undang-undangnya diganti dengan undang-undang Islam.

Syariat tentang tambang: Dalam islam tambang tidak boleh dikuasai oleh pribadi. Hanya Negara yang boleh menguasai tambang. Dan kemudian hasil tambangnya diberikan untuk rakyat.

Berikut dalilnya “Dulu Rasulullah pernah memberikan sebuah daerah kepada seorang  kaum muslimin. Ternyata daerah itu memang dikenal ada garam. Tapi, Rasulullah tidak menyangka kalau darah itu adalah tambang garam. Lalu Rasulullah diberi tahu oleh para sahabat kalau itu adalah tambang garam. Setelah mengetahuinya Rasulullah mengambil kembali daerah yang diberikannya”.

Dan juga “kepala Negara adalah penanggung jawab atas rakyatnya”. Jadi dari hasil berbagai tambang itu diberikan kepada rakyat. Bisa dalam bentuk minyak. Misalnya harus dibayar dibayar dengan harga yang murah. Ini dilakukan agar rakyatnya senang. Dan kemudian Negara akan mendidik rakyatnya untuk mengambil secukupnya.

Semoga diskusi ini bermanfaat. Satu-satunya cara menyelesaikan problem ini adalah kembali kepada hukum Islam. Sudah lama kita menderita dalam sistem warisan penjajah yang menyengsarakan rakyat kecil karena keberpihakannya kepada pemilik modal semata. Jadi jangan takut mencoba dan jatuh bangun jika mau menjadi seorang pengusaha. [Nurmaila Sari, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas yang diberikan pemimpin diskusi aktual kepada panelis, dan menjadi bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

KOMENTAR: Secara penyampaian laporan sudah cukup detil dalam tulisan Nurmaila Sari ini. Informasi yang ditulis nampaknya berupaya ditulis ‘apa adanya’ sesuai pengamatannya dalam diskusi tersebut. Hanya saja masih banyak salah ketik dan keliru dalam penulisan ejaan. Misalnya: di perlengkap (tetapi yang benar: dilengkapi). Juga dalam aturan penulisan huruf kapital, dalam tulisan ini masih cukup banyak, salah satunya penulisan: islam (seharusnya yang benar adalah Islam). Terus berlatih menulis dan tetap semangat!

O. Solihin
Instruktur Kelas Menulis Kreatif

==

*Gambar dari sini

1 Mei buruh diskusi May Day pesantren media problem buruh santri

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait