Loading

Penyambutan Santri Baru sudah berlalu hari Ahad kemarin. Alhamdulillah, ada 14 santri baru tahun ini. Jenjang SMA ada 9 orang, dan jenjang SMP, 5 orang. Insya Allah ini adalah santri pilihan. Ya, Allah Ta’ala memilih para santri baru ini untuk belajar di Pesantren Media. Insya Allah adalah pilihan terbaik bagi mereka dan juga bagi kami, serta para orang tua mereka. Ada banyak yang mendaftar, namun yang berhasil melalui tahapan seleksi hanya 14 orang tersebut.

Alhamdulillah, santri baru tahun ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Bogor (5 orang), Tangerang (1 orang), Pandeglang (1 orang), Jakarta (2 orang), Bangka, Sumatera Selatan (2 orang), Pontianak, Kalimantan Barat (1 orang), Banjarbaru, Kalimantan Selatan (1 orang), Konawe, Sulawesi Tenggara (1 orang). Total 14 orang. Ini adalah hasil seleksi dari 20 lebih pendaftar.

Pesantren Media memang hanya menerima santri dengan kuota terbatas. Selain karena ketersediaan tempat (asrama), juga agar lebih mudah dalam pengawasan sesuai kemampuan pondok saat ini. Insya Allah.

Pada sambutan di acara kemarin saya sempat menyampaikan kepada para santri baru tentang sedikit tips agar betah di pondok. Saat itu, saya hanya menyampaikan dua hal: jangan menyendiri dan jangan baper. Kemudian pada briefing rutin setiap Senin bakda Tahfidz al-Quran, saya menambahkan beberapa tips lagi: menghargai teman, saling menolong, saling percaya, meluruskan niat dan menentukan tujuan, juga tentang target. Cukup banyak juga ternyata.

Baik, di tulisan ini saya hanya ingin menekankan dan sedikit menambahkan saja dari apa yang sudah disampaikan pada dua agenda yang disebutkan tadi. Semoga karena dituliskan, jadi awet dan mudah dibaca kembali bila lupa. Insya Allah.

Tips pertama agar betah di pondok, menurut saya, berdasarkan pengalaman, adalah jangan pernah menyendiri. Maksudnya nggak mau berteman dengan alasan sulit adaptasi di tempat baru atau alasan lainnya. Sebab, ketika seseorang menyendiri, akan mudah melamun lalu akhirnya banyak hal yang diingat, banyak kenangan bermunculan, dan pada saat itulah setan melancarkan godaannya agar orang tersebut berpaling dari kebaikan yang sudah dipilihnya. Kebaikan, yang bahkan dengan susah payah diupayakan, dan melibatkan banyak orang, terutama orang tua.

Menyendiri juga rawan jadi sedih. Bikin baper, kata anak zaman now. Ya, kadang sedihnya juga nggak jelas, malah ada juga sedih yang tercela. Jadi, jangan menyendiri, karena bisa bikin sedih dan baper.

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa sedih tidaklah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan kadang sedih itu terlarang dalam beberapa keadaan tatkala dikaitkan dengan hal agama. Seperti firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman(QS Ali Imran [3]: 139)

Selain jangan menyendiri dan jangan mudah baper sebagai tips agar betah di pondok, juga saya menambahkan tentang menghargai teman, saling menolong, dan saling percaya. Ketiga hal ini penting. Sebab, hidup berdampingan dengan teman senasib sepenanggungan menjadikan kita (mestinya) belajar menghargai teman. Bagaimana pun, hidup bersama dalam satu atap asrama, dengan banyak ragam karakter akan menyulitkan kita jika tak saling menghargai, tak saling menolong, dan tak saling percaya. Saling menghargai, saling menolong, dan saling percaya adalah modal penting dalam bergaul. Maka, jadilah teman yang baik bagi temanmu. Jangan cuma menuntut teman agar baik pada dirimu.

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR Bukhari, no. 2101)

Insya Allah, para santri adalah orang-orang yang baik, shalih dan shalihah. Semoga terus bisa memperbaiki diri agar bisa saling mengingatkan dan saling menghargai, saling menolong, dan saling percaya. Ujung-ujungnya, tentu jadi betah di pondok karena bisa kompak dalam kebaikan. Iya, kan?

Selain hal yang sudah dibahas tadi agar betah di pondok, juga ada poin penting lainnya untuk menguatkan kalian para santri agar betah di pondok. Apa itu? Yakni, meluruskan niat dan tujuan, juga tentang target. Ini malah sebenarnya jadi prioritas. Niat yang ikhlas itu penting. Sebab, jika salah niat, jadi bahaya yang didapat. Rugi!

Benar. Bahkan para santri sudah belajar tentang niat. Hadits tentang niat juga insya Allah ada yang sudah hafal. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jadi, niatkan belajar di Pesantren Media untuk mencari ilmu dan keridhoan Allah Ta’ala. Sehingga tujuan dan target yang hendak dicapai juga akan senantiasa disandarkan kepada aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Selain itu, memiliki tujuan dan target akan menolong kita menyiapkan diri dalam pembelajaran tersebut. Ujung-ujungnya, waktu terasa begitu cepat berlalu. Itu artinya, kalian betah tinggal di pondok. Jadi, harus punya tujuan dan target, memang. Misalnya, jadi penulis, editor, desainer grafis, fotografer. Namun, karena belajar di pondok pesantren, semua hal yang sudah dipilih itu harus dilandasi dengan tsaqafah Islam dan adab yang benar dan baik.

Semoga para santri baru dan juga santri lama alias senior bisa tetap semangat mencari ilmu dan ikhlas mencari keridhaan Allah Ta’ala. Itu tujuan dan target idealnya. Sehingga keberadaan kalian di pondok memberikan suasana baru bagi teman-teman yang lainnya. Jadilah pribadi yang baik terlebih dahulu, sehingga teman lain akan senang berteman dengan kalian. Jika sudah kompak selama di pondok, insya Allah kalian akan betah tinggal di pondok. Jadi, tetaplah semangat dan ikhlas menggapai keridhaan Allah Ta’ala!

Selamat bergabung di Pesantren Media bagi para santri baru. Pesantren Media adalah pondok yang mencetak dai bidang media dan tenaga kreatif yang handal untuk mendukung dakwah melalui media. Sehigga bisa bersama-sama mewujudkan visi Pesantren Media, yakni menyongsong masa depan peradaban Islam terdepan melalui media.

Insya Allah ini adalah pilihan terbaik. Semoga menghasilkan yang terbaik pula. Tentu, semuanya atas izin Allah Ta’ala. Itu sebabnya, luruskan niat, maksimalkan ikhtiar, dan iringi dengan doa. Semangat!

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *