Loading

Santri Pesantren Media, disiapkan untuk menjadi bagian dari barisan pengemban dakwah. Sesuai misinya, yakni mencetak dai bidang media. Jika pun sulit menjadi dai, karena memang tidak semua orang bisa menjadi dai, setidaknya bisa menjadi tenaga kreatif yang handal untuk mendukung dakwah melalui media. Intinya, tetap ada nuansa dakwahnya. Itu sebuah keniscayaan. Maka, memilih menjadi santri Pesantren Media, berarti sudah siap untuk menjadi pengemban dakwah, atau mendukung para pengemban dakwah dengan menjadi tenaga kreatif di di belakang mereka.

Mengapa harus berdakwah? Sebab, dakwah adalah bagian dari syiar Islam. Mengajak orang lain berbuat baik. Bahkan Allah Ta’ala menyampaikan dalam firman-Nya:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33)

Kedua ayat dalam al-Quran ini adalah terkait kewajiban berdakwah. Tentu saja, kewajiban ini hanya bisa diemban oleh mereka yang sudah memiliki ilmu dan sikap mental yang baik agar dakwah bisa membawa berkah. Lalu, bagaimana menyiapkan diri agar mampu menjadi pengemban dakwah?

Perubahan. Ya, perubahan dalam diri. Para santri Pesantren Media, diharapkan sudah sadar diri ketika memutuskan memilih belajar di Pesantren Media. Sadar diri bahwa harus siap berubah menjadi lebih baik dan mau mengajak orang kepada kebaikan. Idealnya, memang para pengajak kepada kebaikan adalah orang-orang yang sudah baik terlebih dahulu. Mengapa? Supaya menjadi contoh. Maka, di sini memang harus berusaha untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi terbiasa melakukan kebaikan. Harus mau dan mampu melepaskan diri dari sifat malas. Pengemban dakwah jangan malas. Apalagi tantangan dakwah sangat berat dari waktu ke waktu.

Itu sebabnya, ubahlah segala bentuk keburukan yang masih ada pada diri. Berusahalah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Insya Allah di pondok sudah disiapkan sarana menuju kebaikan tersebut. Itu artinya, tinggal diri kalian yang harus siap diberikan arahan dan siap menerima konsekuensi dari peraturan yang diberlakukan. Perubahan diri ke arah yang lebih baik, akan menjadi modal untuk berdakwah.

Nah, kalo sudah siap berubah, dan siap berdakwah, maka ada satu hal yang sangat penting dan jangan sampai dilewatkan. Apa itu? Niat yang ikhlas. Betul. Mengubah diri menjadi lebih dan berusaha untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain melalui dakwah, akan sia-sia jika tak memiliki keikhlasan. Niat yang ikhlas akan menentukan hasil akhir. Perlu diingat bahwa ikhlas menjadi sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian.

Al-Baihaqi dalam al-Madkhal ila ‘Ilmi as-Sunan (jilid 1. hlm. 42) berkata: “Aku pernah mendengar Abu ‘Abdurrahman as-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad al-Fara’ berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun al-Qasshar, “Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?”

Ia berkata, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.”

Ikhlas itu akan membuat amalan itu lebih langgeng. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”

Insya Allah, setelah diniatkan dengan ikhlas semata untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala, maka belajar di pondok akan memudahkan untuk mendapatkan ilmu, lalu karakter diri menjadi lebih baik, dan siap untuk berdakwah. Tentu, karena santri Pesantren Media lebih banyak belajar teknik media, maka dakwah yang dilakukan lebih banyak dan disiapkan yang berhubungan dengan pemanfaatkan teknologi multimedia. Semoga bisa diwujudkan. Semangat!

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *