98 total views,  2 views today

Pekan pertama berlangsungnya pembelajaran, santri Pesantren Media langsung diberikan amanah tugas pekanan dari pondok, selain tentunya ada juga tugas dari guru yang mengampu mata pelajaran yang menjadi kurikulum di pondok. Tugas khusus dari pondok ini sifatnya wajib, jadi seluruh santri harus mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Pemberian tugas ini terdiri dari tiga jenis: desain grafis, tulisan, dan fotografi. Tujuan diberikan tugas setiap pekan, yakni agar para santri terbiasa berkarya. Semoga ada hasil yang bagus dari setiap karya yang dibuat dari waktu ke waktu.

Nah, omong-omong tentang karya, bagi seorang muslim tentu wajib melandasi karyanya dengan tuntunan syariat Islam. Tidak asal berkarya, ada aturan dan batasan. Berkarya bukan untuk mencari popularitas, walau sebenarnya popularitas pada akhirnya bisa didapat ketika kita konsisten berkarya. Jadi, popularitas bukan tujuan utama. Berkarya juga bukan untuk mencari harta, walau sebenarnya harta pada akhirnya bisa saja didapat ketika kita konsisten berkarya lalu orang mengambil manfaat dari karya kita dengan sejumlah uang. Mungkin saja. Tetapi, mendapatkan harta bukan tujuan utama dalam berkarya. Popularitas dan harta hanyalah efek samping.

Saya sering menyampaikan kepada para santri, karena ini juga terkait dengan Ikrar Santri Pesantren Media, khususnya poin ke-9 atau poin terakhir, yakni: berkarya untuk kemaslahatan umat. Ikrar ini sering dibacakan sebelum pelaksanaan briefing pekanan di setiap Senin pagi. Semoga bukan hanya dihapal, tetapi diamalkan. Ya, berkarya bagi kemaslahatan umat, jelas adalah karya yang positif. Betul. Kita wajib berkarya dengan karya yang positif. Memberikan inspirasi kebaikan,

Melihat beberapa stiker di grup WhatsApp yang saya ikuti, ternyata ada juga stiker yang dikirim anggota grup yang menurut saya tak baik. Tidak perlu disebutkan isinya seperti apa, tetapi sudah cukup menggambarkan keburukan. Baik foto, gambar, maupun kata-katanya.

Membuat sebuah stiker perlu berpikir dan mengerahka kemampuan, tidak asal bikin. Itu sebabnya, ketika stiker itu dibuat tetapi isinya tidak bermanfaat, sia-sia, bahkan menunjukkan keburukan, berarti terkategori karya yang negatif. Bisa saja dia tidak dibayar memang untuk membuat stiker tersebut. Sekadar iseng-iseng saja dan targetnya bikin senang orang (tapi caranya salah). Namun, bagi seorang muslim, termasuk santri Pesantren Media, tetap berkarya mengedepankan tuntunan syariat.

Oya, karya itu berpengaruh juga kepada pembuatnya, lho. Jika kebaikan yang disampaikan dalam karya tersebut, maka pahala yang akan kita dapat. Jika keburukan yang dibuat dalam karya tersebut, maka dosa yang akan kita dapat. Waspadalah!

 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

Menunjukkan kebaikan dengan karya yang dibuat: desain grafis, fotografi, tulisan, short movie, video tutorial ibadah dan sejenisnya, dan juga menyediakan website berisi konten islami, adalah bagian dari menunjukkan kebaikan. Bila ada orang yang membaca dan melihat karya kita tersebut lalu mereka terinspirasi untuk melakukan kebaikan yang sama sesuai pesan yang kita tampilkan dalam karya kita, insya Allah menjadi ladang amal shalih kita.

Tahun 2002 saya pernah menulis buku bareng seorang kawan, judul bukunya, Jangan Jadi Seleb. Di buku tersebut, pada bab kelima bagian pertama tentang “teladan dan dosa”, kami menukil sebuah hadits yang mudah-mudahan memberikan dorongan agar para remaja mau beramal shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikit pun,” (HR Ibnu Majah)

Bayangkan, jika ada orang yang terinspirasi dan mendapatkan hidayah dari karya yang kita buat (tulisan, desain grafis, fotografi, video, dsb), lalu membagikan lagi karya tersebut di media sosial dan ada banyak orang yang terinspirasi lagi, maka insya Allah pahalanya akan terus mengalir. Semoga demikian. Namun sebaliknya, jika karya yang kita buat adalah karya yang tak bermanfaat, apalagi mengajak maksiat, maka dosanya juga akan terus mengalir seiring dengan semakin banyak orang yang mengikuti dan membagikannya di media sosial. Naudzubillah min dzalik.

Yuk, tetap semangat belajar, dan terus berlatih menghasilkan karya positif. Kerjakan tugas-tugas dari gurumu, jadikan itu sebagai karya terbaik kalian untuk menebar manfaat dan maslahat bagi umat. Tak usah khawatir jika hasilnya belum bagus, teruslah berlatih dan mengembangkan diri melalui tugas-tugas yang diberikan para guru. Semoga semakin sering mengerjakan, kian terasah pula kemampuannya. Semoga pula bisa meraih keridhaan Allah Ta’ala. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *