Kenapa Santri Malas Belajar?

1363 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 27 Februari 2013

download

Rabu, 27 Februari 2013 – pukul 11.15, melihat harinya sudah biasa, tanggalnya pun nggak ada yang aneh. Tapi menengok jamnya terlihat tidak biasa. Ya tentu aja karena santri akhwat terlambat. Diskusi actual yang seharusnya dimulai 30 menit sebelumnya, akhirnya jadi assa’atul hadiyata ‘asyro  warrubu’.

Kami tentu punya alasan tertentu kenapa bisa terlambat. Sebenarnya dari pukul 10.00 kami sudah siap, namun karena di bawah masih sepi dan pemimpin diskusi juga tidak ada, akhirnya kami kembali ke atas dan menunggu. Tentu sikap ini sebenarnya salah.

Sementara santri ikhwan sudah siap di tempat duduknya masing-masing. Dari sini membuat opini seolah-olah santri akhwat pemalas semua. Memang benar sih..

Diskusi actual adalah pelajaran paling menyeramkan dan menegangkan buat beberapa santri sesudah ada peraturan kalau moderatornya adalah santri sendiri. Ditambah saat ini SMA kelas satu juga ikut andil dalam mencatat diskusi, di sini maksudnya adalah notulen.

Karena terlambat itu membuat Ustadz Umar Abdullah menjadi marah. Semua kena marahnya, termasuk aku juga. Beberapa santri ditanya kenapa belum hadir ketika jam menunjukkan pukul 10.30.

Macam-macam alasannya ada yang mengira nggak ada diskusi actual, ada yang ketiduran dan lain-lain. Aku juga sama mengira nggak ada diskusi actual karena katanya Ustadz Umar sedang pergi.

Kemudian kami ditanya tentang tema diskusinya, aku dan teh ira sama-sama menjawab tentang Palestina yang tewas oleh Israel (yang ditahan Israel) . Tapi akhirnya beliau memutuskan untuk mengangkat tema “Kenapa Santri Malas Belajar”.

Moderatornya Kak Farid dan notulennya adalah aku.

Kak Farid segera membuka dengan mempersilakan santri bertanya.

1. Teh Ira         : Apa tips agar tidak malas belajar?

2. Teh Novi     : Apa dampak dari malas belajar dan apa pandangan Islam mengenai malas?

3. Fathimah     : Apa alasan/penyebab yang mmbuat malas?

4. Wigati         : Apakah malas bisa menular?

5.  Anam         : Apakah guru yang malas bisa mempengaruhi santri-santrinya?

6. Yusuf          : Apakah malas membuat kita tidak konsentrasi?

7. Hawari        : Apakah seluruh santri di dunia suka malas?

8. Musa           : Mengapa membahas tema ini?

 

Delapan pertanyaan sudah terkumpul. Aku mengurutkan pertanyaan yang akan dijawab. Pertanyaan Musa yang aku pilih untuk pertama yang dibahas. Kemudian Kak Farid mempersilakan santri untuk memberikan suaranya.

Kenapa kita membahas tema ini?

Abdullah memberikan pendapatnya karena akhir-akhir ini santri malas belajar. Anam juga membenarkan hal itu dia menambahkan kalau santri sering telat datang.

“Kalau semangat kita turun mau tidak mau dekat dengan kemalasan. Kalau kita serius dalam 1 bidang pelajaran, maka kita akan semangat. contoh pelajaran Al-Quran. Kalau tidak suka, bakal telat biasanya,” Begitu Kata Kak Farid menutup jawaban dari pertanyaan ini.

Selanjutnya pertanyaan Fathimah yang dijawab,” apa alasannya malas?”

Hawari berpendapat karena salah satunya adalah bosan, karena rutinitasnya belajar terus. Beda halnya dengan Anam dia mengatakan alasan malas karena tergantung dari pelajarannya, kalau suka dengan pelajaran tersebut nggak akan malas dan bisa juga karena gurunya yang membuat malas.

Aku juga tak mau kalah berpendapat, “biasanya malas belajar karena udah dapat kritikan pedas. Kemudian takut disuruh ini itu, contohnya diskusi actual, biasanya takut disuruh jadi notulen dan moderato. Kalau pelajaran public speaking biasanya takut disuruh maju ke depan.” (Santri akhwat pada nyengir, dalam hati mereka pasti membenarkan jawabanku, karena itu isi hati semua santri akhwat).

“Ya benar, Kadang bisa juga karena pengaruh lingkungan sekitar, contohnya hujan. Pasti membuat tempatnya nggak nyaman. Bisa juga dikalahkan dengan hobi, contohnya facebookan, main game. Atau yg sering menimpa kita adalah mood. Karena kalau tidak mood biasanya malas belajar. Juga bisa karena kondisi fisik yang kurang prima, dalam hal ini sakit,” sambung Kak Farid.

“Takut akan sebuah tantangan. ini juga menjadi alasan malas,” Kak Farid menghela nafas sejenak. “Sebenarnya lingkungan nggak bakal berpengaruh  kalau kitanya semangat,” lanjutnya.

Pertanyaan kedua selesai dijawab, giliran pertanyaan dari Yusuf,” Apakah malas bisa memubuat tidak berkonsentrasi?”

Anam menjawab,” malas mengikuti suatu pelajaran, jadinya malas mengikutinya.”

“Tapi bisa juga karena tidak konsentrasi akhirnya jadi malas, misalkan pikiranyya terpusat pada game,” Kak Farid menambahkan.

Singkat, padat dan jelas. Lalu giliran pertanyaan dari Wigati,” apakah malas bisa menular?”

“Bisa jadi. Tersugesti. Ya contohnya aja kalau kita melihat teman cemberut mulu, pasti kitapun liatnya nggak enak dan ikut-ikutan cemberut,” kataku.

“Betul, saya setuju. Apalagi kalau sudah sehati sama sahabat pasti nantinya tertular,” Kak Farid membenarkan.

Berikutnya pertanyaan dari Anam,” Apakah guru yang malas bisa mempengaruhi santri-santrinya?

“Iya pasti, karena tidak suka dengan pelajaran atau gurunya, atau cara mngajarnya,” Teh Novi ikut berpendapat.

“Hm. Misalnya aja guru matematika, cara mengajarnya nggak enak akhirnya menjadi factor yang dapat menghasilkan kemalasan,” Kata Kak Farid, mungkin pengalaman pribadi. Ketika Kak Farid melempar pertanyaan itu kepada Anam, diapun sama menyetujuinya.

Kemudian menjawab pertanyaan dari Hawari, menurutku pertanyaannya konyol buat geli. “Apakah santri diseluruh dunia malas?”

“Kalau melihat potensinya pasti setiap santri bisa malas. Bahkan bukan santripun bisa malas, sudah menjadi kodrat manusia. Kecuali malaikat. Karena malaikat tidak diciptakan dengan diberikan nafsu seperti manusia,” itu kata Kak Farid. Dalam hati aku bergumam,”bisa juga ya Kak Farid sebijak itu berkata.

“Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara kita menghilangkan rasa mala situ,” lanjutnya. Kemudian Kak Farid bertanya pada Abdullah tentang apakah santri di dunia malas semua.

Abdullah menjawab so’ tua,” sepertinya saya tidak tahu santri di dunia malas semua atau tidak.” Kami tertawa geli mendengar jawabannya yang baku itu itu.

“Kalau masalah suka atau nggak, yang namanya malas pasti nggak mau. Tapi susah mengendalikannya itu,” Kata Anam di balik tembok. (tempat duduk santri Ikhwan dan Akhwat dipisah dengan dibatasi tembok)

“Walaupun sebutannya santri, tetap saja santri juga manusia. Tetaplah manusia,” perkataan Kak Farid ini membuat suasana menjadi riuh dengan tawa.

Setengah dari pertanyaan santri sudah selesai dijawab, kemudian giliran pertanyaan dari Teh Novi,” apa dampak dari malas?”

“Pasti ada akibatnya. Contohnya makan akibatnya kenyang. Minum tidak haus,” Kata Kak Farid.

“Dampaknya tugas numpuk, cucian numpuk, tidak menyimak pelajaran, dimarahi ustadz,” jawaban Hawari mewakili fakta yang sebenarnya.

“Berpengaruh pada masa depan kita. Hancur dan suram. Mahasiswa yang malas belajarnya ya tidak akan tidak akan lulus. Macam-macam dampaknya. Intensitasnya juga bisa kecil dan bisa besar. Bisa berdampak pada diri sendiri juga untuk orang lain. Misalnya aja soerang ayah malas bekerja pasti akan menjadi contoh oleh anaknya,” Papar Kak Farid.

“Kalau menurut pendapatku juga bisa menurunkan kualitas generasi-generasi anak bangsa khususnya kaum muslim,” Aku mengutip perkataan dari seseorang yang lupa namanya.

Selanjutnya pertanyaan dari Teh Ira,” apa tips supaya kita tidak malas.”

“Niatnya belajar, ingat cita-cita, ingat orangtua yang membiayai kita sekolah dan berteman dengan orang yang tidak malas,” satu suara dari Cylpa santri SMP baru keluar. Pesanku sih akan lebih sempurna jika diniatkan hanya untuk Allah semata. Pasti bagaimanapun belajarnya akan senang karena ikhlas.

“Kalau dari segi model rutinitas, bisa kita keluar sejenak dari kegiatan-kegiatan yang membuat penat seperti jalan-jalan,” Hawari memberikan tipsnya.

Anam pun menambahkan agar banyak-banyak sholat malam, membiasakan bangun pagi. Banyak berdoa aja.

Emang iya sih, tapi masalahnya sholat malam pun suka malas. Mungkin harus memegang prinsip “Gampang karena Bisa, Bisa karena Biasa dan Biasa karena Dipaksa.”

Terakhir pertanyaan dari Teh Novi, “apa pandangan islam?”

“Dalam Q.S. Al-Ashr: semua orang merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh,” Kak Farid berhenti sejenak. “Kemudian demi masa, berarti Allah ingin menunjukkan bawha sebuah waktu itu barharga, Sangat sayang jika waktu disia-siakan. Umur tidak bisa diundur oleh karen itu manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya,” paparnya.

“Kita juga tahu bahwa setiap orang diberikan waktu 24 jam oleh Allah, tidak ada yang lebih dari itu,” lanjutnya. Sebenarnya aku nggak ngerti maksudnya itu bagaimana dan apa hubungannya.

“Orang yang malas tentu kalah dengan orang yang rajin. Santri-santri yang malas belajar tentu akan kalah dengan santri yang rajin belajar,” begitu kata Kak Farid kemudian dia mempersilakan Ustadz Umar berkomentar.

“Saya tidak main-main mendidik kalian. Saya punya target supaya kalian lulus dari sini sudah menjada da’i, udah bener cara ngmongnya,” Ustadz Umar sepertinya marah besar, kami semua diam.

“Aa gym sekarang turun. Mamah dedeh kacau. Ustadz Arifin Ilham dzikkir mulu. Yusuf Mansyur fiqihnya sering salah. Apa yang mau diharapkan dari mereka?” Kami tertunduk merasa bersalah.

“Secara lagu, saya dan mas dedy saingannya siapa? Kalian mau tahu? Itu si Ahmad Dhani. Kita bersaing melawan si Yahudi Ahmad Dhani. Dan itu nggak main-main. Punya misi yang nggak main-main,” aku nggak nyangka saingannya ternyata artis yahudi itu.

“Kalian harus sadar kami kader untuk jadi pasukan yang luar biasa. Tulisan, desain, suaranya luar biasa. Selalu bangun jam 3. Kalau tidak, kalian akan kalah oleh orang-orang kafir. Contonhya si selangkangan itu, belum lagi si ulil yang liberal,” perkataan Ustadz Umar yang ini membuat aku terhentak. Dan sangat merasa bersalah. Mungkin bukan aku saja, tapi santri yang lain juga.

“Nggak apa-apa Abdi Robby pergi, apalagi Heksa cuma suka music dan olah raga. Pesantren Media bukan untuk penampungan anak-anak nakal apalagi pecandu narkoba. Karena kita ingin nggak hanya menguasai indonesia tapi kita harus menguasai media internasioanal,” Ustadz Umar mengepalkan tangannya dan kami semangat.

“Lalu kalian dilatih untuk mendiskusikan berita-berita yang bersifat sesuai fakta. Tahun ini sih enak. Apalagi waktu tahun kemarin mendiskusikan berita yang tak hanya nasional tapi internasional juga, nggak ada yang ngerti pun dipaksa untuk menelannya dulu,” aku dan Teh Novi yang dari tahun kemarin di sini tersenyum dan mengangguk membayangkan tahun lalu, betapa sakitnya kepala kami ketika disuguhi perkataan atau bahasa yang asing bagi kami. Contohnya,” kapitalisme, bursa efek, dan bahasa lainnya.

“Tadi saya sempat berdebat dengan istri saya tentang kemalasan kalian, “ternyata bukan hanya Santri Akhwat yang malas, Santri Ikhwan pun sama seperti itu. Kalau giliran belajar di pondokan ikhwan, setengah jam ikhwan nggak keluar-keluar. Nunggu gurunya datang dulu baru keluar. Jadi PENYEBABNYA ADALAH TEMPAT. Sehingga mulai minggu depan tempatnya di masjid. 11 kurang lima sudah ada di sana. Dan bentuknya diskusi panelis,” jelas Ustadz Umar. Di sisi lain kami senang Ustadz Umar mengetahuinya. Jadi nanti tidak hanya Satri Akhwat yang kena marah, tapi Santri Ikhwan juga.

Adzan sudah berkumandang, akhirnya diskusi pun selesai. Cukup menegangkan tapi membuat senang dihati para santri akhwat, karena kami selalu merasa yang selalu dimarahi Ustadz Umar. Merasa Ustdaz Umar pilih kasih. Tapi itulah manusia, seperti kata Kak Farid tadi, santri tetaplah santri, santri juga manusia. Mungkin juga karena kodratnya perempuan yang cemburuan makanya santri akhwat seperti itu.

[Ilham Raudhatul Jannah, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas yang diberikan pemimpin diskusi aktual, dan menjadi bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

diskusi malas santri

Penulis: 
author
Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Posting Terkait

  1. author
    laely6 tahun agoBalas

    HAHAHAHAHI, That’s right mbakyu….

Tinggalkan pesan