Kemerdekaan 17 Agustus, Disyukuri atau Dirayakan?

576 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media, 12 Agustus 2015

Rabu, 12 Agustus 2015. Pesantren Media kembali melaksanan agenda rutin mingguan, diskusi aktual. Tema yang diangkat pada diskusi aktual kali ini adalah “Disyukuri atau dirayakan kah hari kemerdekaan itu?”

Seperti biasa, diskusi didampingi oleh Ustadz O.Solihin, dua moderator dari ikhwan Ihsan Abdul Karim (Kelas 3 jenjang SMP) Syahidan F (Kelas 2 jenjang SMP) dan notulen Salma TF.

Siang yang panas itu, Ihsan memberikan sedikit pemaparan tentang kemerdekaan. Tanpa berlama-lama, moderator menawarkan kepada para santri “Ada yang mau bertanya? Silakan”

Tawaran itu disambut oleh Umar “Mengadakan lomba pada hari kemerdekaan itu, dosa atau tidak?” lalu diikuti oleh beberapa pertanyaan dari santri ya lain, hingga terkumpul 7 pertanyaan dalam laptop notulen.

Pertanyaan pertama yang dijawab “Apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya?” dari Rizki. Cepat, Umar menjawab merdeka itu ketika sudah terbebas dr penjajahan fisik dan mental, meraih hak penuh tanpa kendali orang asing, mendapatkan kecukupan pendidikan, pangan, pakan, kesehatan. Kemerdekaan tidak ada keterpaksaan dari segi pola pikir, budaya, dan agama.

Qois dan Abdullah menambahkan bahwa merdeka itu saat kita terbebas dari penjajahan, peperangan, bebas, tidak memiliki keterikatan dengan pihak lain.

Pertanyaan kedua dari santri baru, Nufus. Kenapa kemerdekaan harus dirayakan. Disambar oleh Haikal yang juga santri baru “Karena pada tanggal itu Indonesia merdeka” jawaban yang simple. Tiga oarang lainnya mengacungkan tangan, siap untuk menjawab pertanyaan dari Nufus. Menurut Abdullah itu adalah sebuah bentuk pensyukuran atas kemerdekaan Indonesia. Rizki menuturkan, kita harus merayakan apa yg telah kita perjuangkan, merayakan hari kemenangan melawan penjajah, seperti hari raya idul fitri kan merayakan hari kita menang melawan hawa nafsu ketika berpuasa. Sedangkan Ela, Indonesia itu belum sepenuhnya merdeka. Kenapa? karena masyarakat belum mengetahui secara menyeluruh bahwa Indonesia belum merdeka seluruhnya. Lihat saja kekayaan indonesia yang terus tergerus oleh asing. Fathimah menambahkan, banyak orang yang tidak tahu Indonesia itu belum merdeka secara hakiki, lagunya Indonesia Raya itu menjelaskan bahwa Indonesia itu terlahir kembali, jadi perayaan ini sama dengan merayakan ulang tahun RI.

Saatnya menjawab bersama pertanyaan pertama dari Umar tadi, “Mengadakan lomba pada hari kemerdekaan itu berdosa atau tidak?”. Jawaban polos dari Nufus dan Haikal, “Tidak, karena tidak melakukan kesalahan” bukan jawaban tepat namun tak bisa disalahkan. Disusul oleh Alifa yang juga tidak membolehkan, katanya hari kemerdekaan kaum muslim bukan 17 Agustus, ketika Rasulullah menang dalam perjuangannya saja tidak dirayakan. Kata Ela, “kalau dosa atau enggaknya sih gak tau, dan menurut saya itu melakukan hal yg sia-sia. Ya memang dalam perlombaan itu kita juga berjuang, dan boleh juga sih kita ngadain lomba kayak gitu tapi buat yang lebih bermanfaat, biar anak-anak itu gak dapet senangnya aja, tpi dapat juga pelajaran dri perlombaan tersebut”

Dalam udara yang membuat para santri semakin kegerahan, Umar menyanggah penuh semangat “Kalau gitu, islam itu kok monoton banget ya, masa lomba dibilang sia-sia?”

Fathimah merespon, lomba boleh asalkan bukan dalam rangka merayakan 17 Agustus, karena mengikuti budaya luar (barat). Ucapan Fathimah terpotong oleh Abdullah dengan gelagat ‘bijak andalannya’. Tuturnya, “Dari pada merayakan 17 Agustus lebih baik merayakan hari kemenangan islam”

Umar belum puas dengan semua jawaban “Semua orang tuh kan pasti senang harinya dirayakan. Kalau misalnya perayaan umat islam, ada yang bilang itu masuk ke bid’ah. Memperingati kelahiran rasul aja, di bilang bid’ah. Lagian perayaan kemerdekaan seperti di Indonesia itu kan tidak ada di luar” kata Umar nyolot.

Keadaan semakin “Greget!”

“Lomba pada 17 agustus itu boleh, asalkan niatnya tidak untuk merayakan hari kemerdekaan itu. Sama seperti merayakan hari ulang tahun, sebenarnya kan tidak ada dalam islam, itu tuh asalnya dari budaya barat yang dijadikan tradisi oleh kita. Sama aja kayak kita merayakan ‘hari terlahirnya kembali Indonesia’ Jadi lombanya tidak apa-apa, tapi niatnya itu” Fathimah memperjelas jawabannya yang tadi.

Karena waktu yang terbatas, Ustadz Oleh Solihin menambahkan penjelasan dari Fathimah. Tergantung niat, tapi tidak boleh juga sampai mengikuti budaya kafir, lebih baik menghindari hal yang syubhat. Melepaskan penghambaan kepada makhluk Allah dan hanya menjadikan Allah Ta’ala sebagai khaliq dengan konsekuensi manusia memang harus menjadi hamba-Nya, itu merdeka menurut Islam. Sementara saat ini tak pantas disebut merdeka yang sesungguhnya menurut Islam, karena negeri ini masih terjajah secara politik, ekonomi, budaya, hukum, pemerinhtahan. Ini masih perlu perjuangan lebih lanjut untuk menjadikan negeri ini merdeka sepenuhnya.

Waktu diskusi aktual semakin berkurang, untuk mempersingkat waktu notulen memutuskan untuk menggabungkan tiga pertanyaan terakhir yang semuanya memiliki keterikan. “Apakah merayakan itu bentuk mensyukuri kemerdekaan? Apa yang disyukuri? Adakah manfaatnya bagi umat islam?”

Moderator menawarkan, “Ada yang mau jawab?” semua diam kecuali Abdullah yang masih SMP dengan nada mengejek “Boro-boro bersyukur, itu tuh cuma sebatas euforia saja”

Tersisa beberapa menit waktu untu berdiskusi, Ustadz Oleh Solihin menyimpulkan. Tentang merayakan bagian dari mensyukuri hari kemerdekaan. Sebenarnya dalam islam, hari raya islam itu haya ada dua menurut dalilnya, hari raya idul fitri dan idul adha. Kalau bergembira, orang pasti gembira merayakan suatu kemenangan tapi tidak juga menjadi berfoya-foya. Tetapi bukan seperti itu cara mensyukuri dalam islam, islam mensyukurinya dengan sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat. Manfaatnya sekarang ada juga, kita di Indonesia sudah tidak diperangi secara fisik lagi seperti negara Palestina dan yang lainnya. Kita sekarang bebas melakukan aktifitas tanpa adanya penjajahan. Soal islam yang monoton, ya tergantung. Memang semua harus berkaitan dengan ibadah. Tapi kan kita bisa tuh mengemas cara penyampaiannya sehingga ringan dicerna orang lain. Biar ringan tapi membekas, dan orang paham “Oh, jadi gitu toh”

Dalam keadaan yang memanas, sangat disayangkan waktu diskusi aktual telah habis. Sehingga tidak bisa dilanjutkan lagi. Diskusi aktual pertama kali bagi santri barupun berakhir. [Salma TF, santri angkatan ke-4, jenjang SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  1. author
    maila3 tahun agoBalas

    Kangen ih ikutan diskusi n jadi notulen kayak Salma. ribet-ribet gimana gitu, tp seruuu dapat ilmu baru di setiap diskusi. Oya, ngomong2 kenapa tulisan di blog makin hari makin menipis? apa lg pada banyak tugas??

Tinggalkan pesan