301 total views,  2 views today

Rabu, 26 Agustus 2015. Pesantren Media kembali melaksanan agenda rutin mingguan, diskusi aktual. Tema yang diangkat pada diskusi aktual kali ini adalah “Penggusuran Kampung Pulo”

Seperti biasa, diskusi didampingi oleh Ustadz O.Solihin, dua moderator dari Akhwat Daffa Azzahra (Kelas 3 jenjang SMP) Ela Fajar Wati (Kelas 3 jenjang SMA) dan notulen Fathur Rahman Al-fatih.

Setelah mendengarkan prolog serta beberapa informasi dari Ustadz Oleh, sesi pertanyaan pun dibuka

Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Hanifa “Mengapa warga kampung pulo saja yang harus digusur, padahal penyebab banjir bukan disitu saja?”

– Haykal: soalnya kampung pulo paling deket sama sungai ciliwung.

Pertanyaan selanjutnya datang dari salah satu santri baru yang bernama Annis “Berdosa nggak kalo warga kampung pulo itu diusir?”

– Nissa: Berdosa. Karena kan warga Kampung Pulo yang digusur itu kan tempatnya hak mereka bukan hak negara. Kalo seandainya kampung pulo itu hak negara juga jangan digusur secara paksa. Terus kan barang-barang warga kampung pulo juga banyak yang rusak karena penggusuran tersebut. Padahal kan itu tempat mereka kampung mereka, mereka bayar PBB setahun sekali. Terus pas mereka pindah ke rusun nawa itu mereka seakan ngontrak gitu, terus mereka kan gak terima soalnya pas mereka di kampung pulo itu kan gak bayar yaa, mereka jadi gak terima. Berarti jatohnya dzolim.
– Ustadz Oleh: Kepemilikan itu kan menjadi persoalan. Berat, mungkin kalau orang jaman dulu juga kan kalau ada yang kosong belom ada surat yaaa nempatin-nempatin aja. Sekali nempatinnya banyak dan akhirnya ada yang sampai bikin sertifikat tanah meraka, terus dibangun juga rumah. Kayak gitu kan ada permainan dibadan pertanahannya/yang ngatur urusan tanah itu. Kalaupun misalnya demi kepentingan umum, sebetulnya dibolehkan asalkan caranya. Misalnya rumahnya di situ terus dipindahkan 1 atau 2 KM dari pinggir sungai itu. kalo nggak bayar kan ringan. Seperti yang dikatakan nissa tadi, udah digusur, banyak barang yang ancur, banyak juga yang dirugikan, terus pindah ketempat lain yang malah bayar. Padahalkan waktu di kampung pulo mereka kan nggak bayar. Sebaiknya pemerintah itu terutama DKI menyediakan tempat sebagai ganti direlokasi yang setimpal rumah diganti rumah, atau kalo nggak rusun nawa nggak usah bayar. Jatohnya berarti dzolim. Tapi kalo Ahok yang gusur kategorinya dzolim atau nggak yaa rumit soalnya diakan bukan islam. Kalaupun orang islam yang melakukannya tetep dzolim.

Pertanyaan selanjutnya dilontarkan oleh Rizka “Kampung pulo kan digusur terus warganya di pindahin kemana?”

Sepertinya jawaban dari pertanyaan Rizka ada dijawaban pertanyaan yang sebelumnya yaitu Rusun Nawa yang ada di Jatinegara barat.
Pertanyaan selanjutnya datang dari Ihsan “yang digusur kan Kampung Pulo, apa banyak orang islam disana? Dan apa dampak buruk dan baik bagi umat islam nya kalo kampung pulo digusur?”

– Fathimah: dampak baiknya sungai ciliwung nggak banjir lagi. Dampak buruknya banyak yang terdzolimi
– Nissa: kemungkinan besar banyak kaum muslimin disana banyak. Kan ada tuh yang kayanya ada salah satu rumah yang belom bisa dirobohkan, katanya yang punya rumahnya tuh Haji Musa, dirumahnya sering ngadain majelis ta’lim. Disana juga ada kuburan kayak habib-habib gitu yang dipermasalahin sama FPI.
– Ustadz Oleh: Karena upaya relokasi tersebut itu tidak berjalan maksimal atau tidak sesuai yang seharusnya. Itu memang komunikasi, Ahok kan cenderung di satu sisi harus tegas. Tapi memang problem itukan tidak sesederhana membalikan tangan. Kalo seandainya dipersuasif /diajak. Misalnya di sini banjir terus berapa kerugiannya, nanti kalo kita mau pindah di sediain ganti rugi seperti yang sebelumnya misalnya kesekolah deket, ke pusat pembelanjaan deket, ke mesjid deket, pokoknya mirip seperti yang sebelumnya gratis pula. Yaaaa, saya pikir orang pasti bakalan mau aja kalo memang bagi mereka nyaman.

Pertanyaan selanjutnya datang dari salah satu santri baru juga yang bernama Azka “ kenapa ahok cuman gusur kampung pulo saja, padahalkan banyak bukan kampung pulo doang?”

Sepertinya jawaban dari pertanyaan Azka ada dijawaban pertanyaan yang pertama yaitu Karena Kampung Pulo paling dekat dengan sungai Ciliwung.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Difa “penggussuran kampung pulo tuh kan dapat respon yang negatif dari warga. Seperti dilempari batu dan semacamnya. Apakah tindakan mereka benar? Kalo salah Lalu apa tindakan yang benar?
– Fathimah: masyarakatkan bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin, jadikan nggak usah pake kekerasan juga.
– Ustadz Oleh: Respon tersebut adalah bentuk pengekspresian dari warga sekitar. Soalnya di situ tempat tinggal warga, nah tiba-tiba ada penggusuran. Mereka mungkin kaget atau belum siap mentalnya jadinya respon-respon kekerasan itu sudah jadi reflek bagi mereka. jadinya gaya koboy “hajar dulu urusan belakangan”. Gaya komunikasi yang ada di masyarakat memang itu yang ada. Kalo tindakan yang bener, masyarakatkan bisa mendiskusikannya dengan pemerintah.
Karena waktu yang terbatas, beberapa pertanyaan yang sulit, yang sama dan sudah dibahas sebelumnya kemudian tidak dibahas lagi. Diskusi aktual ditutup dengan membaca Do’a Kafaratul Majlis.

[Fathur Rahman Al-fatih (TUY), santri angkatan ke-4, jenjang SMP, Pesantren Media]

By Difa Raihan Habibi

Alumni SMP Pesantren Media Angkatan Ke-2|Email : mujahidhabibie@gmail.com|IG : difphotograph|Twitter : @MujahidHabibie|FB : Difa Raihan Habibi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *