Kekerasan di Sekolah

222 views

Akhir – akhir ini kita dikejutkan oleh tersebarnya sebuah video kekerasan anak sekolah dasar. Video kekerasan yang dilakukan beberapa siswa SD terhadap temannya ternyata terjadi di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pemerintah Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat akan memanggil Yayasan Perwari terkait dengan kasus kekerasan terhadap salah seorang murid SD dalam rekaman video yang ditayangkan di Youtube.

“Sangat sedih dan menyesalkan terjadinya aksi kekerasan terhadap murid SD Trisula Perwari dalam ruang kelas yang diunggah di Youtube,” kata Wali Kota Bukit Tinggi Ismet Amziz saat seperti dikutip dari Antara, Minggu (12/10).

Oleh karena itu, Pesantren Media mengadakan diskusi aktual yang mengangkat tema tersebut dengan judul tema, “Kekerasan di Sekolah.”

Kak Maila dan Alifa yang bertugas sebagai moderator memulai diskusi aktualnya dengan memberi salam. Setelah salam, sang moderator membuka sesi pertanyaan.

“Mengapa kakak kelas sering membully adek kelasnya sendiri di sekolah lain?” Pertanyaan pertama datang dari Usman.

Setelah itu pertanyaan kedua datang dari Abdullah, “Apakah guru sudah tahu kalau misalnya kakak kelasnya suka ngebully adek kelasnya?”

“Bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadap hal seperti ini?” Pertanyaan dari Qois.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di sekolah?” Pertanyaan dari Fathur.

“Hukum apa yang pantas diberi untuk para pembully?” Pertanyaan dari Kak Salma.

“Dalam kasus ini, yang membully adalah anak kecil. Siapa yang harus disalahkan?” Pertanyaan dari Rizki.

“Apa penyebab terjadinya pembullyan?” Pertanyaan dari Fadlan ‘Adzim.

“Kenapa banyak anak remaja jaman sekarang yang ngelihat anak dibully malah ikutan?” Pertanyaan dari Kak Putri.

Lalu pertanyaan yang mengejutkan bagi santri adalah pertanyaan selanjutnya yang datang dari Taqi. “Apa itu Bully?”

Pertanyaan selanjutnya datang dari Kak Ela, “Apa yang harus dilakukan sebagai santri media untuk memperbaiki akhlak bocah jaman sekarang?”

Dan pertanyaan terakhir datang dari Kak Fatimah, “Apa yang harus kita lakukan jika kita udah membully orang?”

Sesi pertanyaan ditutup dan sesi jawaban pun dibuka.

Pertanyaan pertama yang dibahas adalah pertanyaan dari Taqi. “Apa itu bully?” Jawaban pertama datang dari Abdullah, “Bully itu menjahili teman terus diusili dan ada yang dipukuli.” Lalu jawaban Abdullah diperjelas lagi oleh Fadlan ‘Adzim, “Perilaku seseorang atau sekelompok yang menyiksa orang lain.” Selanjutnya Kak Via menjawab pertanyaan ini, “Bully adalah satu tindakan yang terjadi di satu kelompok. Misalnya kekerasan fisik atau sekadar mencaci maki. Tetapi jaman sekarang, Bully lebih cenderung ke kekerasan fisik.” Lalu Difa menjawab, “Bully adalah perbuatan atau tindakan kekerasan secara fisik, lisan, dan mental kepada seseorang. Sehingga menyebabkan rasa tertekan, takut, dan tersiksa.
Setelah membahas pertanyaan dari Taqi. Pertanyaan selanjutnya yang dibahas adalah pertanyaan dari Usman, “Kenapa di sekolah lain kakak kelasnya sering membully adik kelasnya?” Jawaban dari Rizka: “Menurut saya mungkin ada rasa kesal terhadap adek kelasnya sehingga tidak bisa ditahan lagi rasa kesalnya sampai dia ngebully adek kelasnya.” Jawaban dari Rizki: “Bully itu tradisi, misalnya kakak kelas ngebuly adek kelas entar adek kelas kalo udah naik kelas ngebully adek kelasnya. Seperti saya dulu sering dibully.”

Lalu Ustadz Oleh menambahkan: “Bisa jadi ada juga memang kakak kelas yang dia gak suka. Mungkin adek kelasnya melakukan hal yang tidak disukai sama kakak kelasnya. Dan kakak kelas merasa dia harus dihormati. Yang hilang itu dua, kadang adek kesal nyebelin sama kakak kelasnya. Dan kakak kelasnya tidak menghormati. Padahal Rasul mengajarkan yang muda menghormati yang tua. Yang tua menyanyangi yang muda.”

Pertanyaan selanjutnya yang akan dibahas adalah pertanyaan dari Abdullah, “Apakah guru sudah tahu kalau misalnya kakak kelasnya suka membully adek kelasnya?”

Karena tidak ada yang menjawab. Akhirnya Ustadz Oleh menjelaskan untuk pertanyaan ini. “Yang model begini harus crosscheck atau datanya di orang. Apa gurunya sudah tahu atau belum. Dan sebenarnya yang seperti ini adalah sebuah kelalaian daripada pihak sekolah. Seperti jika tidak ada guru di kelas. Muridnya akan ribut malahan bisa membully temannya. Kelalaian yang lain juga karena tidak akhlak murid tidak dididik dengan benar.

Pertanyaan selanjutnya yang akan dibahas adalah pertanyaan dari Qois, “Bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadap kasus seperti ini?”

Jawaban dari Kak Musa: “Kita harus memberantas kasus itu. Kita sebagai santri media bisa menyebarkan video itu nanti kan lama-lama semua orang bisa tahu. Natikan HAM bisa mengatasi hal itu.

Jawaban dari Kak Icha: “Kalau untuk anak kecil dinasihati saja. Kalau bully itu tak baik. Kalau yang sudah dewasa, dimantapkan akidahnya. Bisa dihukum juga. Dan bilang pada si pembully itu. Kenapa kita harus memusuhi sesama muslim padahal masih ada banyak musuh-musuh islam yang lain?”

Pertanyaan selanjutnya yang akan dibahas adalah pertanyaan dari Fathur, “Apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di sekolah?” Jawaban dari Kak Fatimah: “Si pembully dikeluarkan dari sekolah.”

Lalu Kak Via menjawab, “Kalau dari pihak sekolah. Yang pertama ada guru BK. Diusahakan si pembully dinasihati dengan baik. Kalau di pembully masih membully. Ya di DO (Drop Out). Tapi disuratnya itu dikasih alasan. Kalau dia di DO karena dia suka ngebully. Biar kalau mau pindah ke sekolah lain. Sekolahnya tidak menerima si pembully ini karena suka ngebully. Agar si pembully sadar apa yang dia perbuat.”

Jawaban Abdullah: “Kita harus menghukum orang-orang yang suka ngebully dengan hukuman yang jera. Biar nggak ngebully lagi. Dan memberikan contoh kepada yang lain. Misalnya suruh nyapu satu kota Bogor biar jera.”

Karena Fathur belum puas dengan jawaban yang ada. Akhirnya Ustadz Oleh menambahkan, “Kalau yang seperti ini, mungkin harus dihukum dengan hukuman yang jera. Sebenarnya ini semua bisa diselesaikan. Dari sisi orang tua harus menasihati dan mendidik anak-anaknya. Di masyarakat, di sekolah, dan di lingkungan sekitar harus diberi pemahaman Islam. Dan negara harus mengatur dan memberi sanksi. Walaupun anak-anak nanti yang dipanggi orang tuanya dan gurunya. Keduanya akan dimintai pertanggung jawaban karena lalai mendidik anaknya. Karena anak-anak masih dibawah umur. Tetapi untuk pendidikan, anak-anak bisa diberi sanksi hukuman. Seperti dikeluarkan dari sekolah. Itu tidak apa-apa jika untuk pendidikan.”

Pertanyaan selanjutnya yang akan dibahas adalah pertanyaan dari Kak Putri, “Kenapa banyak anak remaja jaman sekarang yang melihat orang lain dibully malah ikutan?” Jawaban Syahidan: “Mungkin itu adalah kebiasaan yang seru bagi mereka.”

Jawaban dari Kak Rizki: “Terkadang yang dibully itu bukan cuma orang yang tidak bersalah tapi orang yang nyolotin juga sering di Bully. Mungkin karena orang di sekitarnya asyik ngelihat orang dibully.

Jawaban dari Kak Cylpa: Mungkin karena ada rasa setia kawan dari yang di bully. Sehingga yang dibully rela dibully.

Lalu Ustadz Oleh menambahkan: “Karena tipis solidaritasnya terhadap yang dibully dan sang pembully.”

Karena pertanyaan dari Kak Salma, Kak Rizki, Fadlan, dan Kak Ela jawabannya sama dengan beberapa pertanyaan sebelumnya. Akhirnya Ustadz Oleh melanjutkan langsung ke pertanyaan terakhir.

Pertanyaan terakhir yang akan dibahas adalah pertanyaan dari Kak Fatimah. “Apa yang harus kita lakukan jika kita sudah membully orang?” Lalu Ihsan menjawab, “Kita harus meminta maaf kepada orang-orang yang sudah kita bully. Dan berjanji tidak akan berbuat hal keji itu lagi.”

Alhamdulillah, semua pertanyaan sudah dijawab. Sekitar dua puluh menit sebelum Adzan Dzuhur moderator menutup diskusi.

Ustadz Oleh memberikan kesimpulan singkat. “Jadi, materi kita pada kesempatan kali ini adalah sebuah problem yang harus segera diselesaikan. Pertama adalah pendidikan dari orang tua. Kedua, harus bekerja sama dengan lingkungan sekitar untuk mengawasi dan menindak orang yang seperti itu. Harus dipahamkan akidahnya. Jika sudah menambah pemahaman agamanya dia akan sadar dan menghindari perbuatan keji ini.”

Setelah Ustadz Oleh memberi kesimpulan. Diskusi ditutup dengan membaca kafaratul majelis.

Catatan dari Ustadz Oleh: “Inilah buah dari sistem kapitalisme dimana setiap orang tidak memiliki perasaan yang benar. Karena tidak ditanamkan dengan Akidah Islamiyah yang benar dan Nafsiyahnya nanti jadi rusak. Dan semuanya jadi rusak. Karena dasarnya sudah salah. Sehingga akan berdampak pada perilaku dan cara pandangnya. Ini semua harus diubah dengan syariat Islam.”

Sumber berita klik disini

(Ihsan Abdul Karim, Santri Angkatan 3 Pesantren Media. @CountzingP)

akidah anak dewasa Anak Kecil bully kekerasan sekolah

author

Nama saya Ihsan Abdul Karim. Saya lahir pada tanggal 27 Juni 2001. Saya nyantri di Pesantren Media sebagai santri Angkatan 3. Saya tinggal di Citayam, Indonesia.

Posting Terkait