Remaja dan Jihad

DISKUSI AKTUAL: REMAJA DAN JIHAD (Rabu, 31 Agustus 2016)

Terinspirasi dari film dokumenter berjudul “Jihad Selfie” karya Noor Huda Ismail. Menurutnya remaja mudah digoda/diajak dalam hal apapun termasuk jihad. Seperti konflik yang terjadi sejak dieksekusinya Sadam Husein, diikuti dengan hancurnya menara kembar yang terbukti merupakan konspirasi oleh Amerika tahun 2001. Kemudian diserangnya Irak (pada 2003) yang membuat Amerika kewalahan karena lima puluh ribu pasukannya tewas di Irak. Orang Indonesia kini pun banyak yang terbang ke Suriah dengan alasan berhijrah. Berdasarkan pendapat Noor Huda Ismail, benarkah remaja sekarang mudah diprovokasi dalam berjihad?

Diskusi Aktual pada hari Rabu, 31 Agustus 2016 kembali hadir dengan tema ‘Remaja dan Jihad’. Dibimbing oleh Ustadz Oleh Solihin dan moderator Abdullah serta Nufus, pukul 8.10 Diskusi Aktual dimulai. Ustadz Oleh membuka diskusi dengan pengantar film dokumenter berjudul “Jihad Selfie” dan pembahasan singkat remaja di Indonesia yang terbang ke Suriah untuk berhijrah dan jihad. Setelah membuka, moderator memberikan kesempatan pada santri yang hadir malam itu.

Pertanyaan pertama keluar dari santri angkatan ke lima, Fathimah. “Lebih baik berjihad di medan perang atau melakukan hal lain, mengingat di negara sendiri banyak yang belum benar?”

Selanjutnya moderator memberikan kesempatan pada Fadlan untuk bertanya, “Apa saja syarat-syarat untuk berjihad disesuaikan dengan zaman sekarang?”

Berselang cukup lama, Fathur dan Usman kemudian ikut andil untuk bertanya. “Jihad yang dilakukan seperti hacker dan sebagainya boleh atau ngga?”, adalah pertanyaan dari Fathur, sementara Usman bertanya tentang bagaimana cara mengajak remaja untuk berjihad.

Karena jumlah pertanyaan yang masuk hanya tiga, moderator memancing peserta untuk kembali bertanya. Pertanyaan keempat dari Adam, “Bagaimana cara mengurangi musuh sementara PBB saja orang kafir. Bagaimana caranya melawan mereka yang kafir ini?”

Pertanyaan terakhir dari Amilah tentang bagaimana membedakan jihad yang mengajak untuk kebenaran dan kesesatan (jihad yang benar dan yang salah)?

Moderator kemudian membuka sesi jawaban setelah memastikan tidak ada lagi pertanyaan yang ingin disampaikan.

Pertanyaan dijawab berurutan, dimulai pertanyaan pertama dari Fathimah  tentang lebih baik berjihad di medan perang atau melakukan hal lain, sementara negara sendiri banyak yang belum benar, yang dijawab oleh moderator, Abdullah. Abdullah menjawab pertanyaan berdasarkan penjelasan Ustadz Abdurrahman, hari sabtu silam yang menyimpulkan untuk menyeimbangkan keduanya. Maksudnya adalah untuk menyeimbangkan antara berjihad di medan perang dan melakukan hal lain, misalnya mengajak orang-orang terus kepada kebaikan.

Pertanyaan kedua adalah syarat-syarat untuk berjihad disesuaikan dengan zaman sekarang yang dijawab oleh Fathimah. “Kalau disesuaikan dengan zaman sekarang sih ngga tau juga, tapi kalau dulu itu pertama berjihad karena Allah, kedua berjihad untuk mati syahid, terus tidak boleh memiliki hutang, yang keempat urusan di dunia sudah selesai, yang terakhir tidak boleh ada kewajiban yang harus dibayarkan lagi.”

Karena Fadlan, yang bertanya sudah merasa puas, sesi menjawab dilanjutkan ke pertanyaan ketiga yaitu bolehkah jihad yang dilakukan seperti hacker? Di pertanyaan ini, moderator menanyakan pendapat beberapa santri yaitu Fadlan dan Bintang yang membolehkannya untuk dakwah, memperjuangkan Islam.

“Tergantung dengan niatnya, harus karena ingin memperjuangkan Islam.” jawab Fadlan mantap.

Sementara jawaban Bintang awalnya ragu-ragu tapi dipertegas di kalimat terakhir, “Mungkin boleh. Tergantung orangnya juga, sih. Kalau untuk berdakwah dan menegakkan agama Allah, ya boleh.”

Abdullah dan Fathimah pun meski tidak dikatakan secara gamblang namun ikut menyetujui pendapat Bintang dan Fadlan.

“Kalau ingin membantu dalam bidangnya sendiri, mengingat masa kini teknologi modern membuat orang-orang mudah mengambil informasi dari mana-mana, dan itu sangat diperlukan. Dalam islam pula pasti dibutuhkan strategi-strategi musuh, yang tentunya dibutuhkan orang-orang yang mampu mengendalikan teknologi.” kata Abdullah, disusul Fathimah yang menambahkan, “Seperti yang di film Eye In The Sky, jika kita bisa mengambil alih rudal dan sejenisnya yang tentunya membantu.”

Atmosfer ruang kelas, tempat berlangsungnya Diskusi Aktual mulai terasa memanas. Sesi menjawab pun terus berlanjut ke pertanyaan kelima dari Usman tentang cara mengajak remaja untuk berjihad.

Zadia menjawab pertanyaan Usman tapi karena jawabannya kurang jelas maka Fathimah unjuk jari dan menjawab berdasarkan kesimpulan dari jawabn Zadia.

“Menyimpulkan jawaban Zadia untuk mengajak remaja, saat ini mereka lebih dekat dengan sekolah dan jarang curhat ke orangtua entah gengsi atau malu. Biasanya mereka masuk ke suatu organisasi tentang ke Islaman lalu dibimbing tentang jihad dan sebagainya. Biasanya mereka lebih mudah menerima penjelasannya.”

Ikut menjawab, Bintang memiliki pendapat berbeda dari santri akhwat, “Peran orangtua lebih banyak, karena mereka dari kecil sudah dibesarkan dalam keluarga yang islami, yang pastinya sudah tahu yang mana yang benar dan salah. Yang kedua, jaman sekarang memang banyak remaja yang curhat ke sosmed, yang berhubungan dengan media. Ada baiknya pula menyampaikan dakwah melalui media, dipost dan sebagainya.”

Tidak terjadi perdebatan berarti untuk pertanyaan keempat, maka moderator mempersilahkan santri untuk menjawab pertanyaan dari Adam yaitu bagaimana cara mengurangi musuh sementara PBB saja orang kafir. Bagaimana caranya melawan mereka yang kafir ini?

Dalam menjawab pertanyaan dari Adam, ada 2 pendapat yang muncul di antara para santri. Pendapat pertama dari Abdullah untuk yakin kepada Allah. Dia menyatakan, “Saat Perang Badar, pasukan muslim kalah jumlah dengan musuh. Tapi mereka tetap menang. Kenapa? Karena mereka yakin. Ketika seluruh dunia melawan Islam kita jangan takut, dan harus yakin bahwa kita akan menang karena Allah pasti memenangkan Islam. Indonesia takut melawan Amerika padahal di zaman Rasulullah saat perang badar mereka menang karena yakin dan Allah menolong mereka dan menghendaki mereka untuk menang yang akhirnya menang. Jangan takut. Kita Islam sudah pasti menang, dan kita harus meyakini para remaja kalau Islam itu pasti menang. Percaya dan percaya bahwa Islam itu pasti menang.”

Pendapat Abdullah pun didukung dalam al-Quran yang artinya jangan takut (atas mereka) dan jangan bersedih.

Pendapat lainnya dari Zadia yang ‘menyerang’ dari dalam. Dia mengatakan, “Kalau kita mau mengurangi musuh di PBB, kita belajar terus masuk ke dalam PBB. Kalau kita cakap dalam berbicara kan bisa menarik anggota PBB itu untuk masuk Islam, kayak Soekarno yang sampai dihormati karena kecakapannya dalam berbicara walaupun akhirnya dia tidak konsisten dengan jalan ke-Islamannya.”

Meski ada perbedaan pendapat antar santri, tapi tidak memicu perdebatan sehingga sesi menjawab pun kembali dilanjutkan ke pertanyaan terakhir dari Amilah dengan bagaimana cara membedakan antara jihad yang benar dan yang salah.

Bintang lagi-lagi turut menjawab pertanyaan, “Bagi kita yang tahu yang mana benar dan salah sudah mudah. Tapi bagi yang tahu mana benar dan salah itu masih bisa terjerumus, untuk yang paling benar kita bisa melihat ke Al-Qur’an dan Al-Hadits.”

Dari jawaban Bintang, muncul anak pertanyaan yang diutarakan oleh Fathimah, “Ada orang yang diajak ikut ini tapi tidak tahu yang diikutinya itu benar atau salah, cara membedakannya bagaimana?”

Tidak skakmat menjawab, Bintang kembali bersuara, “Tanya ke orang yang berilmu. Karena kita harus tahu. Kalau orang yang ditanya tidak tahu, mending jangan ikut-ikut dulu karena jatuhnya syubhat.”

Tidak ada lagi anak pertanyaan atau pendapat menentang pun dukungan yang keluar. Moderator langsung mempersilahkan pembimbing untuk memberikan kesimpulan.

“Dari sisi berjalannya diskusi, partisipasi baik peserta maupun moderator sudah baik. Untuk pertanyaan mengkritik dari Adam, bisa dijawab dengan banyak penjelasan. Memang bisa dengan yang Zadia sampaikan yaitu dari dalam, bisa dicoba. Tapi bisa juga dari luar seperti yang Bintang katakan. PBB itu seperti jaring laba-laba yang rapuh karena tergabung dalam perserikatan berbagai bangsa yang memiliki kepentingan masing-masing, makanya rapuh. Kadang sulit untuk dihancurkan dari dalam karena orang dalamnya sudah rusak makanya dari luar saja (seperti di film Renegade). Kalau ingin mengurangi orang kafir kaum muslimin harus bersatu. Di daerah Syam, Suriah, sudah dijanjikan dalam hadits yang akan memulai kebangkitan Islam dari sana. Makanya banyak orang yang terinspirasi seperti orang-orang Inggris yang memilih masuk Islam dan memerangi Israel, terisnpirasi pula dari penakluk Konstantinopel, Mohammad Al Fatih yang merupakan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara.

Apakah boleh berjihad dengan hacker. Sesuai definisinya, berjihad di jalan Allah. Perang dan jihad berbeda. Perang bisa saja melawan saudara sendiri yang Islam tapi melanggar ketentuan Allah seperti tidak membayar zakat sebagaimana yang dilakukan Khalifah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Sementara jihad berarti mengangkat senjata melawan orang kafir (ini definisi secara syar’i) tapi secara bahasa berarti sungguh-sungguh.

Pertanyaan dari Amilah menjadi catatan pula. Ada orang yang memanfaatkan moment dengan membelokkan perjuangannya. Seperti dulu teman sekaligus musuh Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartoesuwirdjo yang ingin membuat negara Islam. Awalnya lurus tapi ketika beliau meninggal, intelijen menyimpangkannya seperti dibentuknya pesantren Al-Zaitun yang disimpangkan tujuannya.

Kesimpulannya, jihad itu agung karena merupakan puncak tertinggi karena tidak semua orang mampu, banyak godaannya sehingga mereka takut. Q.S Al-Baqoroh: 216, tentang jihad.”

Ustadz Oleh selaku pembimbing menutup Diskusi Aktual dan membubarkan santri untuk kembali ke asrama masing-masing di jam 9.40 malam. [Bogor 12 September 2016, 1.00 AM | willyaaziza nama pena dari Zadia Mardha, santri kelas 1 jenjang SMA]

About the author

Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA