Hiburan, Olahraga, dan Perjuangan Islam di Masa Depan

648 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 25 September 2013

Rabu, 25 September 2013 sekitar pukul 10.30 WIB, diskusi actual di Pesantren Media dimulai. Moderator kali ini Dihya Musa Amal Romis, santri kelas dua SMA – angkatan kedua dan notulennya Neng Ilham Raudhatul Jannah, santri kelas tiga SMA – angkatan pertama. Kelas ini dibimbing oleh Ustadz O. Sholihin, beliau juga adalah Kepala Sekolah di Pesantren Media dan Pengajar di kelas menulis kreatif. Peserta diskusinya adalah semua santri ikhwan dan akhwat, santri kalong maupun santri reguler.

Diskusi actual ini diawali dengan pertanyaan dari Abdullah Musa Leboe, Santri Kalong Pesantren Media, “kenapa memilih tema ini?”

Karena yang memilih tema ini Ustadz O.Sholihin sendiri. Akhirnya pertanyaan dari Abdullah ini dijawab oleh beliau.

“Karena melihat Islamic solidarity games yaitu kompetisi olimpiade yang diikuti umat muslim. Tujuan memilih tema ini supaya umat muslim tahu yang harus dipikirkan itu bagaimana cara memperjuangkn islam bukan memprjuangkan supaya dapat perunggu. Kalau fokus ke olahraga nanti umat muslimnya malas. Membuat kaum muslimin jauh dari islam.” Paparnya.

“Kalau kita ikut terlena dengan semua itu bagaimana nanti dengan Islam? Akan berat kalau kaum muslimnya hanya senang hiburan atau olahraga.” Jelasnya

Kemudian beranjak ke pertanyaan dari Zahrotunnissa, Santri kelas satu SMA – angkatan ke -3, olahraga apa saja yang disarankan dalam islam?”

“Berkuda, memanah dan bergulat/bela diri dan berenang,” kata Anam.

“Olahraga otak, supaya tahu strategi perang, contohnya Sudoku,” Abdullah semangat.

“Karena nggak ada memanah, jadi diganti menembak. contohnya senjata api,” pendapat Rizki.

Bapak moderator menyetujui pendapat dari Anam, Abdullah dan Rizki.

Karena nggak ada yang berkomentar, Lalu dia mempersilakan santri untuk menjawab pertanyaan dari Ahmad Khoirul Anam, santri kelas dua – angkatan kedua,bagaimana batasan-batasan hiburan dalam islam?”

“Selama nggak ada kemaksiatan,” kata Rizki.

“Selama tidak melampaui batas, tidak keterlaluan, tidak keasyikan. Kemudian tidak menghambur-hamburkan uang.” Tia memberanikan menjawab.

“Jawaban Tia hampir betul. Asalkan Isi pesannya tidak merusak aqidah, tidak melalaikan sholat, hiburannya tidak bertentangan dengan syariat.” Ustadz O. Sholihin menambahkan.

Pertanyaan ketiga selesai dijawab, setelah itu beralih ke pertanyaan dari Ihsan Abdul Karim, kelas satu SMP – angkatan kedua, “apa saja hiburan yang diperbolehkan dalam islam?”

“Hiburannya yang bermanfaat dan tidak melalaikan,” kata Cylpa.

“Menonton sejarah islam contohnya,” menambahkan pendapat dari Cylpa.

“Kalau ngisi TTS Ustadz, boleh nggak?” Tanya Nisa.

“Boleh TTs asalkan tentang islam,” jawab Ustadz O.Sholihin.

“Baca buku, gimana Ustadz?” Ela memastikan.

“Ya, sebagian orang ada yang menganggapnya hiburan, asalkan islami ya,” jawan Ustadz O. Sholihin.

Selanjutnya pertanyaan dari Fadhlan Turi, santri kelas satu SMP – angkatan kedua,”permainan apa saja yang dilarang dalam islam?”

“Tentang kekerasan,” kata Cylpa pendek.

“Main judi!” Kata Kholifah dan Mila berbarengan.

“Game online tuh, itu termasuk juga.” Komentar moderator.

“Main game yang ada maksiatnya, udah gitu main bola pakai celana di atas lutut.” Kata Anam.

Berikutnya pertanyaan dari Rizki Yannur Tanjung, santri kelas satu SMA – angkatan ketiga, apa main bola dibolehkan dalam islam?”

“Boleh kalau nggak terlihat aurat,” Diva menjawab setelah ditunjuk moderator.

“Boleh aja, asalkan tidak melalaikan sholat,” kata Abdullah.

“Tidak ada unsur judinya!” Notulen tidak mau ketinggalan berkomentar.

“Boleh aja asal nggak berlebihan. Karena akan melalaikan.” Kata Anam.

Lalu lanjut menjawab pertanyaan dari Saknah Reza Putri, santri kelas dua SMP – angkatan pertama (apakah seorang muslimah boleh menjadi atlet?) dan Ela Fajarwati Putri, santri kelas satu SMA – angkatan ketiga, “apakah boleh muslimah jada atlet pencak silat?”

“Kalau silat mending nggak boleh, soalnya pakai celana,”Kata Moderator.  “Yo’ silakan dijawab?” dia mempersilakan peserta diskusi untuk menjawab.

“Beladari boleh kalau tujuannya untuk membela dirinya, untuk jaga-jaga, tapi kalau jadi atlet beladiri, baru nggak boleh.” Kata Anam.

“Ustadz, kalau disuruh orang tuanya menjadi atlet gimana?” Tanya Ela. Tapi pertanyaan Ela ini akan dijawab setelah semua pertanyaan selesai dijawab. Karena ini pertanyaan baru. Kemudian Musa menunjuk Nisa untuk menjawab pertanyaan dari Ela.

“Nggak boleh ngikutin. Walaupun perintahnya harus dituruti tapi kalau melanggar syariat islam, ya nggak boleh,” kata Nissa mantap.

Pertanyaan ini selesai dijawab kemudian ke pertanyaan dari Novia Handayani, kelas tiga SMA – angkatan pertama, apakah dalam islam wanita boleh berenang?”

“Boleh asal di tempat tertutup,” kata moderator.

“Tidak bercampur baur,” tambah Ustadz O.Sholihin.

“Kalau kapal tenggelam gimana?! Itu kan di tempat terbuka!” Celetuk Fathimah di belakang.

“Kalau itu lain lagi masalahnya. Karena itu darurat jadi boleh,” komentar Ustadz O.Sholihin.

Lalu moderator mempersilakan notulen membacakan pertanyaan selanjutnya yang akan dijawab. Pertanyaan dari Fathimah yang terpilih, apakah wanita boleh berkuda?”

“Boleh. Untuk berjihad,” kata Anam.

“Kalau misalnya mau berlatih kuda boleh aja. tapi di tempat tertutup. Tapi kan sekarang dan motor. Belajar motor aja.” Kata Ustadz O.Sholihin.

[Ilham Raudhatul Jannah, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA, Pesantren Media]

dakwah diskusi aktual olahraga perjuangan pesantren pesantren media santri

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait

Tinggalkan pesan