Menyibak Waktu

535 views

Alarm pun berbunyi menandakan pukul 05:00.  Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan langsung melaksanakan sholat Subuh. Usai sholat, ku tak lupa melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an, tanpa ku sadari cahaya-cahaya sinar matahari mulai menerangi kamarku. Ku letakkan Al-Qur’an, aku berjalan menuju jendela, ku buka jendela sembari menghirup udara segar Kota Bogor, Ya Rabb sungguh besar nikmat yang telah Kau berikan kepada umat-Mu. Burung-burung mulai berkicauan untuk mencari makan, sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah. Betapa ruginya mereka yang menyia-nyiakan nikmat-Mu.

Namaku Arina, orang biasa memanggilku arin. Aku seorang thalibul ilmi yang terlahir dari kedua orang tua yang kuat akan agama. Aku tidak mempunyai saudara kandung, ya lebih tepat nya anak tunggal. Keuangan orang tuaku bisa dibilang diatas kecukupan, karna kakekku atau ayah dari ayahku seorang pengusaha sukses. Dan ketika kakek meninggal maka yang melanjutkan usaha nya adalah ayah. Ayah cukup telaten dalam mengurusi usahanya. Sedangkan ibu seorang yang terlahir dari keluarga sederhana, tapi ia tidak pernah mengeluh, hingga saat sudah menikah dengan ayah pun ibu  tidak pernah menuntut apa-apa dari ayah.

13 tahun yang lalu saat umurku 5 tahun aku tumbuh menjadi anak yang pintar hingga saat itu pun aku sudah bisa masuk SD. Namun kondisi fisik yang tidak sehat dan ukuran tubuh yang tidak sama dengan anak anak pada umum nya membuat aku susah mencari SD. Semua SD menolak karna alasan penyakit ku. Aku menderita asma sejak umur 2 tahun, sejak itu pula berat badanku mulai menyusut hingga ibu harus membawa ku ke dokter 1 minggu sekali. Dan akhirnya ada SD yang mau menerima ku, dan itupun terpaksa karna ibu memohon mohon kepada kepala sekolah nya. Sungguh kasihan aku melihat ibu.

Hari-hari di sekolah sangatlah menyenangkan,aku menjadi murid yang berprestasi dan hampir disetiap kenaikan kelas aku mendapat juara umum. Waktu berlalu begitu cepat, 6 tahun di sekolah sudah berlalu. Dan saatnya memasuki ke jenjang Sekolah Menengah Pertama atau SMP, ya dimana masa masa remaja akan terukir. Namun pasti ada saja pembulian, pelecehan, dan lain-lain, hal seperti itu sering kali terjadi di SMP. Aku masuk kesekolah favorite di Kotaku,

Dan inilah hal yang kurindukan,

masa-masa SMP memanglah indah, dimana kita mengerti apa artinya persahabatan, namun setelah lulus smp dan berpisah, tidak banyak persahabatan yang bisa bertahan.

Tifa, dia sudah ku anggap sahabat, tipang panggilan yang kerap kuucapkan untuknya. Tipang terlahir dari rahim seorang Dokter Gigi, sedangkan ayahnya seorang PNS, hmm tidak masuk akal bila seorang dokter gigi bisa menikah dengan seorang lelaki yang hanya bekerja sebagai PNS, dan gaji pun hanya pas pas an untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi jodoh sudah ada yang mengatur, mungkin ia yang terbaik untuk ibu tipang. Tipang bungsu dan ku akui dia manja tapi itu wajar. Tifa mempunyai 2 saudara kandung laki laki.kakak pertamanya kuliah di UI yang sebentar lagi akan bergelar dokter. Dan kakak keduanya aku tidak terlalu mengenalnya karna tipang jarang membagi kisah tentangnya, tapi setau ku dia SMA. Tipang seorang yang aktif, banyak bicara namun tidak disaat belajar, dan pastinya dia cantik seperti ibunya. Kulitnya putih, rambutnya sebahu dan selalu diurai.

Mega, bisa dibilang dia saingan ku dalam belajar. Mega cukup pintar, dia terlahir dari keluarga yang berkecukupan atau sederhana, namun tak pernah ku  lihat dia iri terhadap aku dan tipang. Mega begitu menjaga derajat orang tuanya, dia tidak mau membuat masalah dan akan berdampak pada orang tuanya. Sungguh mulia hati mega, wajahnya yang tidak begitu cantik namun indah saat dipandang, mungkin karna kemuliaan hatinya. Aku tidak mau bercerita panjang tentang mega karna akan terlalu panjang bila harus diceritakan semuanya.

 

Teettt… tetttt… teeettt…  Bel menandakan masuk sekolah pun tiba, semua anak berlari menuju kekelas nya masing masing dan begitu juga aku, pagi ini aku sedikit telat, karna mobil ayah dibengkel dan terpaksa aku naik angkot. Padahal Jakarta pada hari senin sangatlah macet, ditambah polusi dari mesin kendaraan, tapi untung saja aku berangkat subuh jadi ketika sampai sekolah gak telat telat banget. Ketika sampai kekelas aku langsung duduk dan tak lupa menyapa kedua sahabatku yang duduk tepat dibelakangku.

“ Rinn, lu buat tugas gak? tugas dari pak kumis! ” bisisk tipang yang ada dibelakangku,

“ Hah! Emang hari ini ada tugas? Gua gaa denger kemarin pak kumis ngomong apaan. ” Kataku dengan kaget.

“ coba lu tanyain ke mega, gua takut mega terlalu jutek hari ini, ”bisik tipang sambil meledek mega, kami pun tertawa kecil.

“Heyyy !!!!!! apa yang kalian tertawakan? kalian menertawakan saya?! sekali lagi kalian seperti itu, saya gantung kalian ditiang bendera! ” kata Buk Sonya yang memang guru terkiler di sekolah. Ini bukan pertama kalinya kami ditegur, sudah sering hal seperti terjadi dan menurutku itu wajar.

Waktu istirahat pun tiba. Aku, Tipang, dan Mega bergegas menuju kantin dan duduk ditempat favorite kami. Kami bercanda tawa sambil menunggu makanan, Tipang lah yang selalu mencairkan suasana. Kami termasuk kelompok yang famous, mungkin karna ada Tipang yang anak seorang dokter, sedangkan Mega dan aku bisa dibilang murid favorite guru walaupun terkadang kami sedikit degil.

Saat pulang sekolah kami berencana ke Toko Buku langganan kami, jaraknya dari sekolah  tidak terlalu jauh. Dan ketika kami tiba di Toko Buku, aku dan Mega segera menelusuri bagian buku sejarah, dan Tipang ke bagian komik, Tipang hanya suka membaca komik dan novel namun buku pelajaran dia sangat anti menyentuhnya kecuali saat saat disekolah saja.

Dan tipang menghampiriku, “ rinn, lu liat dompet guaa gak? ”

“ engga, gua ga liat, coba cek lagi sapa tau keselip ”kataku,

Tiba-tiba mega mendekati kami, “ bukannya tadi terakhir lu ngeluarin dompet pas dikantin. ”

“ oiyaa, tapi kayak nya udah gua bawa deh dompetnya ”jawab tipang

“ yaudah gini aja, biar gua aja dulu yang bayar buku tipang, besok kita cari dompetnya, trus kalo ga dapet kita Tanya ke anak anak sapa tau mereka ada yang liat. ” saranku.

Begitulah Tipang, selalu teledor dalam segala hal, mungkin kerugian orang tua nya hampir 1m karna barang-barang yang dihilangkan Tipang.

Aku rindu sekali masa-masa itu, Tipang yang selalu menceloteh disetiap tempat, dan Mega yang pendiam namun asyik. Kasihan Tipang, orang tua nya bercerai karna ayahnya selingkuh, ayahnya Tipang harusnya bersyukur mendapatkan istri cantik dan seorang dokter. Semenjak kejadian itu entah kenapa tiba-tiba tipang memutuskan untuk mengenakan hijab, oiya aku lupa, sebenarnya diantara kita bertiga yang mengenakan hijab hanya aku dan Mega, sedangkan Tipang masih mengurai mahkota indahnya. Namun menurutku itu wajar, karna Tipang hidup kurang akan naungan agama, dan aku sebagai seorang sahabat wajib membantu dia mengenal agama nya namun pasti perlahan-lahan.

Dan saat lulus SMP kami berpisah. Tipang dikirim keluar negeri, mega masih menetap di Jakarta, dan aku melanjutkan sekolah di Bogor.

Tiba-tiba suara ibu menghentikan lamunanku.

[Zuyyina Hasanah, Kelas 1 SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
    author

    Posting Terkait