Matahari

986 views

Pendahuluan

Matahari adalah unit terbesar dari sistem tata surya kita. Matahari sangatlah panas dan mengandung gas yang selalu terbakar.

Di permukaannya selalu terjadi ledakan bagaikan jutaan bom atom yang dijatuhkan tiap waktu. Ledakan ini menghasilkan lidah api raksasa yang ukurannya 40 atau 50 kali lebih besar dari bumi kita.

Matahari seperti bola api raksasa yang memberikan panas dan cahaya yang sangat besar dari permukaannya. Ruang angkasa, bagaimanapun, gelap gulita. Bumi kita adalah salah satu bagian yang indah dari kegelapan mutlak itu.

Dan, tidak ada unit lain selain matahari di tata surya kita yang mampu menyinari dan menghangatkan bumi kita. Apabila bukan dari matahari, maka akan terjadi malam selama-lamanya, dan setiap daerah akan terselimuti es. Kehidupan dengan begitu akan mustahil, dan kita pun tidak akan ada.

Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus. Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium.

Setiap detik 616 miliar ton hidro-gen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.

Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan un-tuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.

Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam. Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti.

Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)

 

 

Penciptaan Matahari

Allah menjelaskan tentang penciptaan matahari pada surah al A’raf:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (al A’raf: 54)

Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa Allah Swt. berfirman bahwa Dialah yang menciptakan seluruh alam semesta ini, termasuk langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Hal seperti ini disebutkan di dalam AlQur’an melalui bukan hanya satu ayat. Yang dimaksud dengan enam hari ialah Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Pada hari Jumat semua makhluk kelak dihimpunkan, dan pada hari Jumat pula Allah menciptakan Adam a.s.

Para ulama berselisih pendapat mengenai pengertian makna harihari tersebut. Dengan kata lain. apakah yang dimaksud dengan harihari tersebut sama dengan harihari kita sekarang, seperti yang kita pahami dengan mudah. Ataukah yang dimaksud dengan setiap hari adalah yang lamanya sama dengan seribu tahun, seperti apa yang telah dinaskan oleh Mujahid dan Imam Ahmad ibnu Hambal, yang hal ini diriwayatkan melalui AdDahhak dari Ibnu Abbas.

Adapun mengenai hari Sabtu, tidak terjadi padanya suatu penciptaan pun, mengingat hari Sabtu adalah hari yang ketujuh. Karena itulah hari ini dinamakan hari Sabtu, yang artinya putus.

 

Sifat-sifat  dan ciri-ciri Matahari

  1. 1.       Matahari terbit dan terbenam

Allah berfirman dalam surah ar-Rahman ayat 17: “Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” (Ar Rahman:17)

“Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.” (ash Shaffat: 5)

Atau dalam surah al Kahfi ayat 90: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari[890] itu,” (al Kahfi:90)

Ketahuilah bahwa allah menciptakan matahari adalah dengan berbagai fungsi, yang mana allah-lah yang mengetahui rahasianya.suatu hikmah yang jelas bahwa allah membuat gerakan-gerakan matahari untuk menegakkan keberadaan siang dan malam di bumi ini. Bayangkan jika tidak ada matahari bumi akan gelap gulita bukan? Bagaimana pula manusia tidak akan bisa menjalankan aktivitasnya jika tidak ada matahari. Renungkanlah itu kaum musimlimin muslimat. Renungkanlah ketika matahari tenggelam, apa hikmah di balik orang yang mendapat sinarnya ?

Suatu hikmah dalam tenggelamnya itu sendiri, sebab andai tidak tenggelam, maka makhluk hidup ini tidak akan memperoleh ketenangan & kenyamanan.padahal mereka butuh istirahat , terlebih lagi seluruh indera & organ tubuh demi kelancaran aktivitas. Terbit dan tenggelamnya matahari pada waktu tertentu , yang sinarnya bagaikan lampu di rumah kita. Pada waktu tertentu lampu rumah itu dihidupkan dan dalam waktu tertentu pula lampu tersebut dimatikan agar mereka mendapat ketenangan, kenyamanan, dan petunjuk. Matahari selamanya diedarkan demi kepentingan makhluk hidup di bumi dengan pergantian antara terang dan gelap. Dengan pergantian ini diharapkan antar sesama saling tercipta rasa tolong-menolong.

  1. 2.       Matahari bersinar dan bercahaya seperti pelita

Allah berfirman dalam surah asy Syams ayat 1: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” (asy Syams:12)

Tafsir al Azhar menjelaskan Yaitu orang; “Yang menyala-nyalakan api yang besar.” (ayat 12). Artinya, bahwa di dalam hidupnya di dunia ini tidak ada usahanya hendak mendekati syurga, dengan takut kepada Tuhan, dengan Iman dan Amal yang shalih. Telinganya ditutupnya daripada mendengarkan peringatan yang benar. Dia asyik memperturutkan hawa nafsunya. Sebab itu maka sejak kini dia telah mulai menyalakan api neraka yang besar buat membakar dirinya sendiri. Bertambah dia membikin dosa, bertambah dia menyalakan api. Dia tak mau melaksanakan perintah Ilahi yang telah menciptakannya, yang telah membuat perseimbangan dalam dirinya, yang telah mengatur hidupnya dan memberikan petunjuk kepadanya.

Dia tutup telinganya daripada mendengarkan itu semuanya, lalu yang dikerjakannya ialah apa yang dilarang. Merusak peribadi sendiri dengan memakan dan meminum yang haram, tidak sembahyang, tidak puasa, tidak barzakat. Tidak berniat menolong sesamanya manusia yang melarat dan dosadosa lain, sehingga putus tali hubungan batinnya dengan Tuhan dan dengan manusia dan dengan dirinya sendiri.

Dalam ayat lain juga dijelaskan: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (al Furqan: 61)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Yunus: 5)

 “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (siraaja)?” (Nuh:16)

Ayat ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan matahari seperti pelita, bersinar dan memancarkan cahaya. Itulah yang membedakannya dengan bulan, bulan hanya bercahya tidak bersinar, ia memantulkan cahaya dari matahari. Kata pelita, juga menunjukkan bahwa matahari mengeluarkan sinar dan memancarkannya.

Perhatikanlah bola lampu listrik. Di dalamnya terdapat kumparan kawat halus yang akan mengalirkan arus listrik. Energi yang ditimbulkan arus listrik itu ‘mengejutkan’ atom atom dari kawat, lalu elektron elektron akan loncat keluar dari orbitnya, membentuk orbit baru, tapi akan segera kembali lagi ke orbit semula. Disini peranan energilah yang menyebabkan keluar masuknya elektron elektron tersebut. Peristiwa inilah yang kita lihat sebagai cahaya dan panas dari lampu listrik tadi, Lantas bagaimana dengan matahari?

Begitu pula matahari, bahkan matahari terbentuk berkat terkejutnya gasgas antar bintang. Kejutan kejutan itu membangkitkan energi yang sangat besar dalam bentuk gelombang radio, panas, cahaya, sinar ultraviolet, sinar x, dan sinar gamma.

  1. 3.       Matahari berjalan atau beredar sesuai dengan waktunya

Allah berfirman dalam surah az Zumar ayat 5: Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (az Zumar: 5)

Tafsir jalalin menjelaskan bahwa (Dia menciptakan langit dan bumi dengan -tujuan- yang benar) lafal Bilhaqqi berta’alluq kepada lafal Khalaqa (Dia menutupkan) yakni memasukkan (malam atas siang) sehingga waktu malam bertambah. (dan menutupkan siang) memasukkannya (atas malam) sehingga waktu siang bertambah (dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan) pada garis edarnya (hingga waktu yang ditentukan) yakni hari kiamat. (Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang atas semua perkara-Nya dan Yang Maha Membalas terhadap musuh-musuh-Nya (lagi Maha Pengampun) kepada kekasih-kekasih-Nya.

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Faathir: 13)

Tafsir jalalain: (Dia memasukkan) Allah memasukkan (malam ke dalam siang) sehingga bertambah panjanglah siang (dan memasukkan siang) (ke dalam malam) sehingga waktu malam bertambah panjang (dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing) dari matahari dan bulan itu (berjalan) beredar pada garis edarnya (menurut waktu yang ditentukan) yakni sampai hari kiamat. (Yang -berbuat- demikian itulah Allah Rabb kalian, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian seru) yang kalian sembah (selain-Nya) yang dimaksud adalah berhala-berhala (tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari) yakni kulit yang melapisi biji.

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.(ar Rahman:5)

Maksudnya berjalan dengan waktunya adalah proses revolusi Matahari yang lamanya adalah 1 tahun.

  1. 4.       Matahari tunduk kepada Allah

Matahari tunduk kepada Allah, banyak sekali Allah menjelaskan mengenai hal ini, seperti dalam beberapa ayat di bawah ini:

 “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (az Zumar: 5)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (al A’raf: 54)

Di antara ulama ada yang membaca nasab, ada pula yang membaca rafa\ tetapi masingmasing dari kedua bacaan mempunyai makna yang berdekatan. Dengan kata lain, semuanya tunduk di bawah pengaturanNya dan tunduk di bawah kehendakNya.

Dalam menghadapi berbagai keyakinan syirik yang busuk, menyimpang dalam urusan Tuhan, maka ayat ini menjelaskan mengenai Tuhan semesta alam yang sebenarnya. Ayat ini mengatakan, Tuhan kamu adalah Zat yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan yang mencipta dan mengatur matahari, bulan dan bintang-bintang. Tuhan yang mengatur siang dan malam dengan segala peristiwa yang silih berganti. Dia adalah Tuhan Yang Esa. Tuhan seluruh alam semesta yang mengatur segala urusan di jagat raya ini. Karena bila tidak demikian maka setiap sesuatu akan memiliki jenis tuhannya sendiri.

Perwujudan segala makhluk merupakan sebuah perwujudan yang penuh berkah dan semua berkah bersumber dari perwujudan Tuhan. Dia adalah Tuhan alam semesta. Allah Maha Kuasa yang menciptakan Alam dalam sekejab waktu, tetapi kebijaksanaan-Nya maha luas, dimana berbagai makhluk telah diciptakan secara bertahap. Oleh karena itu Dia telah menciptakan langit  dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di suatu tempat yang bernama Arsy yang kesemuanya di bawah kekuasaan Allah Swt.

Dalam banyak ayat lain Allah juga menjelaskan:

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Faathir: 13)

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Luqman: 29)

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (Al Ankabut: 61)

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (ar Ra’d: 2)

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),” (an Nahl: 12)

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 13)

  1. 5.       Matahari beredar pada garis edarnya

Allah berfirman dalam surah yaasin ayat 40: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (yaasin: 40)

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yaasin: 38)

Tafsir jalalain, surah yaasin 38 sampai 40:

38. (Dan matahari berjalan) ayat ini dan seterusnya merupakan bagian daripada ayat Wa-aayatul Lahum, atau merupakan ayat yang menyendiri, yakni tidak terikat oleh ayat sebelumnya demikian pula ayat Wal Qamara, pada ayat selanjutnya (di tempat peredarannya) tidak akan menyimpang dari garis edarnya. (Demikianlah) beredarnya matahari itu (ketetapan Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

39. (Dan bagi bulan) dapat dibaca Wal Qamaru atau Wal Qamara, bila dibaca nashab yaitu Wal Qamara berarti dinashabkan oleh Fiil sesudahnya yang berfungsi menafsirkannya yaitu (telah Kami tetapkan) bagi peredarannya (manzilah-manzilah) sebanyak dua puluh delapan manzilah selama dua puluh delapan malam untuk setiap bulannya. Kemudian bersembunyi selama dua malam, jika bilangan satu bulan tiga puluh hari, dan satu malam jika bilangan satu bulan dua puluh sembilan hari (sehingga kembalilah ia) setelah sampai ke manzilah yang terakhir, menurut pandangan mata (sebagai bentuk tandan yang tua) bila sudah lanjut masanya bagaikan ketandan, lalu menipis, berbentuk sabit dan berwarna kuning.

40. (Tidaklah mungkin bagi matahari) tidak akan terjadi (mendapatkan bulan) yaitu matahari dan bulan bersatu di malam hari (dan malam pun tidak dapat mendahului siang) malam hari tidak akan datang sebelum habis waktu siang hari. (Dan masing-masing) matahari, bulan dan bintang-bintang. Tanwin lafal Kullun ini merupakan pergantian dari Mudhaf Ilaih (pada garis edarnya) yang membundar (beredar) pada garis edarnya masing-masing. Di dalam ungkapan ini benda-benda langit diserupakan sebagai makhluk yang berakal, karenanya mereka diungkapkan dengan lafal Yasbahuuna.

Matahari beredar pada garis edarnya juga dijelaskan dalam ayat ayat berikut ini:

 “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (al Anbiya: 13)

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 13)

Dari 2 ayat di atas menunjukkan bahwa Hal ini sama sekali bukan berarti bahwa Matahari mengelilingi Planet, atau bumi sebagai pusat tata surya. Padahal Qur’an tak pernah menulis Matahari mengelilingi bumi, tapi Qur’an menulis Matahari mempunyai garis edarnya sendiri.

Dan ini telah terbukti secara ilmiah jika memang Matahari itu mempunyai garis edar sendiri menglilingi galaksi kita. Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. Kenyataan yang lebih dulu disampaikan dalam Al-Qur’an ini baru diungkapkan pengamatan astronomi dizaman kita.

Menurut pengamatan, matahari, sebagai pusat tata surya galaksi kita, ternyata matahari bergerak dengan kecepatan yang luar biasa yaitu 720.000 Km/jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang dinamakan Solar Apex. Ini berarti Matahari diperkirakan bergerak sejauh 17.280.000 Km/Hari.

Bersamaan Matahari, seluruh planet yang ada dalam pengaruh gravitasi Matahari ikut pula berjalan menempuh jarak ini . Selanjutnya semua bintang dalam galaksi yang lain di alam semesta pun berjalan dalam gerakan yang terencana sehingga banyak sekali garis-garis edar atau jalan lintasan bagi setiap benda angkasa termasuk galaksi lain.

Terdapat sekitar 2 milyar galaksi di alam semesta dimana masing-masing galaksi terdiri dari 200 bintang, sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut berjalan dalam garis edarnya yang diperhitungkan sangat teliti.

Selama Jutaan tahun, masing-masing beredar dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, Komet-komet pun beredar dalam lintasan yang yang ditetapkan Allah baginya.

Kekuasaan Allah tidak terbatas, pergerakan ini tidak hanya dimiliki oleh benda-benda langit disetiap galaksi yang ada, tapi galaksi itu sendiri pun berjalan pada kecepatan yang luar biasa dalam suatu peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tidak satupun benda-benda angkasa dan galaksi ini memotong lintasan atau bertabrakan dengan yang lainnya.

Bahkan telah diamati sejumlah galaksi berpapasan 1 sama lainnya tanpa satu bagian dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Jelas pada saat Al-Qur’an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop atau teknologi canggih untuk mengamati angkasa luar yang jaraknya jutaan kilometer dan tidak pula fisika atau pengetahuan astronomi modern.

  1. 6.       Matahari bersifat panas

“dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (Thahaa: 119)

Temperatur matahari sangatlah tinggi. Di permukaan saja temperaturnya mencapai 6000 derajat C. Makin ke dalam makin panas, bahkan bisa mencapai 15 sampai 20 juta C, akibatnya semua jenis logam dan batuan tidak akan ditemukan di sana. Tak ada yang yahan dengan panas setinggi itu. Semua tidak hanya mencair melainkan langsung menguap menjadi gas. Itu sebabnya matahari tidak padat seperti bumi, matahari adalah ‘siraajaw’

  1. 7.       Matahari bersujud kepada Allah

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (al Hajj: 18)

Dalam tafsir jalalin disebutkan: (Apakah kamu tiada melihat) tiada mengetahui (bahwa kepada Allah bersujud makhluk yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi dan matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon dan hewan-hewan yang melata) semuanya tunduk dan patuh menuruti apa yang dikehendaki-Nya (dan sebagian besar daripada manusia?) adalah orang-orang Mukmin, yaitu dengan bertambah perasaan rendah diri dalam sujud salat mereka. (Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya) mereka adalah orang-orang kafir, karena mereka membangkang tidak mau bersujud, sedangkan sujud itu adalah pertanda iman. (Dan barang siapa yang dihinakan Allah) disengsarakan-Nya (maka tidak seorang pun yang memuliakannya) yang akan membahagiakannya. (Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki) seperti menghinakan dan memuliakan.

  1. 8.       Matahari adalah benda gas

Allah berfirman dalam surah an Naba’: “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),” (an Naba’: 13)

Dan juga dalam surah Nuh: “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai siiraaja (pelita)?” (Nuh:16)

Jadi jangan kira matahari itu adalah benda padat. Tak ada bagian yang padat di matahari, Qur’an menyebutnya ‘siraaja’ yang bisa diartikan pelita, bisa juga diartikan api. Semuanya serba gas. Hanya saja gasnya berbeda dengan gas yang ada di bumi karena kerapatannya tinggi sekali. Artinya sekalipun bahannya terdiri dari gas, namun jarak antara partikel yang bedekatan seolah  ‘dempet’.

  1. 9.       Matahari memiliki sifat terang benderang

“dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),” (an Naba’: 13)

Sinar matahari sangatlah terang. Mungkin kamu pernah mencoba menatap matahari di siang yang cerah. Setelah beberapa detik, matamu akan merasa silau bukan? Karena cahayanya yang sangat terang, menatap matahari secara langsung sangat berbahaya bagi mata. Demikian pula berjemur di terik matahari dalam waktu lama di musim panas juga berbahaya. Beberapa bagian kulit kita akan terbakar, dan hanya bisa disembuhkan oleh dokter. Terutama di musim panas, matahari sangatlah panas. Tetapi, jarak matahari jutaan kilometer jauhnya dari bumi kita, dan hanya seper dua ribu dari panas matahari yang sampai di bumi.

Jika suhu bumi cukup panas meskipun jarak matahari dan bumi sangat jauh, dapatkah kamu bayangkan panasnya matahari? Para ilmuwan sudah memperkirakan besarnya. Namun, kita tidak akan mampu membayangkannya dengan mencoba membandingkannya dengan suhu benda-benda yang kita kenal di bumi. Anggap suhu permukaan matahari adalah 6,000°C (11,000°F). Di bagian tengahnya bisa mencapai 12,000,000 o C (21,600,000o F). Tak ada benda panas mana pun di bumi yang dapat dibandingkan dengannya. Tanganmu sulit menyentuh air yang panasnya 50°C (120°F). Bahkan pada cuaca yang panas, suhunya hanya sekitar 40–50°C (105-120°F).

Contoh ini menunjukkan bahwa Allah mengatur dengan sangat tepat jarak antara bumi dengan  Matahari. Jika matahari sedikit saja lebih dekat dengan kita, segala sesuatu di bumi ini akan layu dan kering karena panasnya dan berubah menjadi abu. Sebaliknya, jika ia sedikit lebih jauh, segala sesuatu akan membeku. Tentu saja, tidak akan ada kehidupan pada keduanya.

  1. 10.   Matahari bertasbih merasa makhluk lainnya

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Q.S, Al-Jumu’ah:1

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” QS. Ash-Shaff:1

semua yang ada di langit dan ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, semuanya tunduk kepada perintah Allah Tuhan Semesta Alam. Bumi, matahari, bulan, planet, air, malaikat, manusia, binatang semua bertasbih memuji kebesaran Sang Pencipta. Tasbih dari alam semesta ini ada yang dapat dijangkau oleh pemikiran dan penglihatan mata manusia yang terbatas, namun banyak juga sebenarnya bentuk-bentuk tasbih yang tidak bisa dilihat langsung oleh panca indra kita yang terbatas. Seperti alam di jagad raya ini, bentuk tasbihnya yang bisa manusia tangkap yaitu proses berjalannya alam dan seluruh isinya dengan sempurna, matahari menyinari planet-planet, planet-planet mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya, begitupun matahari yang selalu berputar mengelilingi jagad raya ini. Semuanya berjalan sesuai dengan porosnya dan tidak berbenturan satu sama lain. Itulah sebagai salah satu bukti tasbih alam ini kepada sang Maha Pencipta Allah Azza Wajalla. Semua berjalan sesuai denga skenario Allah.

Begitu pula dengan binatang-binatang di bumi ini, semua bertasbih kepada Allah, hanya saja panca indra kita yang terbatas ini tidak bisa sampai melihat dan memastikan langsung cara-cara binatang bertasbih, bisa saja ayam pada saat berkokok adalah bentuk ucapan tasbih kepada Allah, bunyi jangkrik mungkin juga merupakan tasbih kepada Allah, begitu juga dengan binatang binatang yang lain.

 

Himah diciptakannya Matahari

  1. Sebagai perhitungan waktu

 “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Yunus: 5).

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-An’am (6) : 96).

Allah telah memberi cahaya pada bulan dan sinar pada matahari. Coba perhatikan bagaimana Allah menciptakan gugusan-gugusan bintang dan garis edar yang akan dilalui oleh keduanya fase demi fase. Dengan begitu terjadilah perputaran waktu dalam setahun dan sempurnalah perhitungan waktu di bumi ini yang sangat dibutuhkan umat manusia demi maslahat mereka. Dengan waktu itu dapat diketahaui perhitungan jam kerja dan tenggang waktu bagi proses utang piutang, sewa menyewa, mu’amalah, bilangan dan berbagai macam maslahat lainnya. Sekiranya matahari dan bulan tidak beredar pada garis edarnya dan tidak berpindah dari satu fase ke fase yang lainnya tentu manusia tidak akan mengenal waktu. Allah telah mengingatkan hal tersebut pada sejumlah ayat di dalam Al Qur’an, di antaranya adalah firman Allah:

Dengan 2 ayat di atas, maka jelaslah Allah menciptakan matahari salah satunya adalah sebagai perhitungan waktu.

Mengenai surah yusuf ayat 5 ini, tafsir jalalin dijelaskan: (Dialah yang menjadikan matahari bersinar) mempunyai sinar (dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi bulan) dalam perjalanannya (manzilah-manzilah) selama dua puluh delapan malam untuk setiap bulan, setiap malam daripada dua puluh delapan malam itu memperoleh suatu manzilah, kemudian tidak tampak selama dua malam, jika jumlah hari bulan yang bersangkutan ada tiga puluh hari. Atau tidak tampak selama satu malam jika ternyata jumlah hari bulan yang bersangkutan ada dua puluh sembilan hari (supaya kalian mengetahui) melalui hal tersebut (bilangan tahun dan perhitungan waktu, Allah tidak menciptakan yang demikian itu) hal-hal yang telah disebutkan itu (melainkan dengan hak) bukannya main-main, Maha Suci Allah dari perbuatan tersebut (Dia menjelaskan) dapat dibaca yufashshilu dan nufashshilu, artinya Dia menerangkan atau Kami menerangkan (tanda-tanda kepada orang-orang yang mengetahui) yakni orang-orang yang mau berpikir.

  1. 2.       Sebagai tanda kebesaran Allah

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al Kahfi:17)

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintahNya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (Q.S.An-Nahl (16):12).

Allah telah menciptakan jarak yang sempurna antara bumi dan matahari. Apabila jarak matahari lebih dekat dengan kita, maka semua yang ada di bumi akan menguap dan terbakar. Begitu juga, apabila jaraknya lebih jauh dari saat ini, maka semua daerah akan tertutupi es. Dengan begitu, tentu saja, kehidupan akan mustahil.

Bagaimanapun juga, Allah menciptakan matahari, bumi dan sistem tata surya dengan sedemikian teraturnya agar kita dapat hidup dengan nyaman. Di ayat lain dalam Alquran tertera bagaimana matahari dan bulan selalu bergerak sesuai perintah Allah. Dan semua itu adalah sebgai tanda-tanda kebesaran Allah.

  1. 3.       Untuk menentukan waktu-waktu sholat

Allah berfirman dalam surah alIsra ayat 78: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh[865]. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Al-Isra:78_-

Ayat ini memerintahkan agar Rasulullah saw mendirikan salat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan mendirikan salat subuh. Maksudnya ialah mendirikan salat yang lima waktu, yaitu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isyak dan Subuh.

Mendirikan salat yang lima waktu ialah mengerjakan dan menunaikannya, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, terus menerus dikerjakan, sesuai dengan yang diperintahkan Allah, baik menurut lahir, maupun menurut batin. Yang dimaksud “lahir ialah mengerjakan salat sesuai dengan ketentuan ketentuan yang ditetapkan agama, dan yang dimaksud dengan “batin’ ialah mengerjakan salat dengan hati, dengan segala ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT penuh kekhusyukan, karena merasakan keagungan dan kekuasaan Allah yang menguasai dan menciptakan seluruh alam ini. Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin, menyembah Allah, termasuk salat dalam keadaan seakan-akan melihat Allah SWT.

Bersabda Nabi saw: “Sembahlah Allah, seolah-olah engkau melihat Nya, maka jika engkau tidak melihat Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau”.

Apabila seseorang hamba Allah mengerjakan salat yang lima waktu, berarti Ia telah mengerjakan salah satu dari rukun Islam. Dalam ayat ini diterangkan bahwa salat subuh itu disaksikan oleh para malaikat. Maksudnya ialah pada waktu subuh itu bertemu malaikat penjaga malam dengan malaikat penjaga siang, karena pada waktu mereka mengadakan pergantian tugas. Pada waktu kedua malaikat itu akan melihat seseorang hamba yang dan melaporkan kepada Tuhan apa yang mereka lihat itu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi saw:

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw bersabda: “Malaikat malam dan siang bergantian dalam tugasnya. Mereka berkumpul pada salat subuh dan salat asar. Maka naiklah malaikat yang menjagamu pada malam hari, dan Tuhan bertanya kepada mereka (padahal Allah lebih mengetahui tentang kamu): “Bagaimana keadaan hamba Ku waktu engkau meninggalkan?” Para malaikat menjawab: “Kami datang kepada mereka, mereka dalam keadaan salat dan kami tinggalkan mereka, merekapun dalam keadaan salat pula” (H.R. Tirmizi)

Mengenai keadaan seorang mukmin yang selalu mengerjakan salat subuh pada awal waktunya, berkata Ar Razi: “Sesungguhnya pada waktu subuh itu manusia menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kebagusan hikmah Nya di langit dan di bumi. Pada waktu itu sinar siang yang terang benderang menyapu kegelapan malam, waktu itu bangunlah orang yang sedang tidur dan pancainderanya kembali bekerja setelah terlena selama mereka tidur”.

 

  1. 4.       Sebagai Pelita

Allah berfirman dalam surah Nuh ayat 6: Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? (Nuh:16)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 16: Nabi Nuh telah menerangkan kepada kaumnya bahwa Allah SWT yang hendak disembah itu menciptakan bulan sebagai cahaya bagi manusia dan matahari sebagai pelita. Dari susunan ini dipahami bahwa:

1. Keadaan matahari berbeda dengan keadaan bulan; baik kedudukannya di antara planet, sifat cahayanya, maupun faedah cahayanya.

2. Matahari termasuk induk planet, yang mempunyai anak-anak planet dan bulan termasuk anak planet matahari yang beredar mengitarinya.

3. Matahari memancarkan sinar sendiri, sedang bulan mendapat cahaya dari matahari. Cahaya yang dipancarkan bulan berasal dari sinar matahari yang lebih dipantulkannya ke bumi. Karena itu sinar matahari lebih keras dan terang dari cahaya bulan.

4. Kedua sinar itu mempunyai faedah bagi manusia. tetapi bentuk faedahnya berbeda-beda.

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),” (an Naba’:13)

Bagi manusia, matahari adalah benda alam semseta yang sangat penting. Pada matahari lah terletak seluruh nasib tata surya. Matahari lah mata kisaran seluruh komet, asteroid, dan planet. Mataharilah pemancar tenaga seantero tata surya, pengatur dan pengocok perubahannya, pembangkit segala gerak utmanya. Mataharilah lampu yang paling terang, dan masa yang paling berat. Matahari jugalah yang menjadi penopang kehiduapn bagi banyak orang. Kelangsungan hidup di dunia amat tergantung oleh matahari. Ia berperan penting dalam kehidupan di dunia, salah satunya adalah menjadi pelita yang paling terang. Bahkan di saat malam pun, cahaya matahari masih tetap menjadi pelita melalui pantulan bulan. Hal tersebut sesuai dengan yang telah digambarkan al quran pada banyak ayat.

  1. 5.       Sebagai tanda kekuasaan Allah

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (Fushilat:37)

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),” (an Nahl: 12)

Jasi jelas sekali, bahwa Alah menciptakan matahari adalah sebagai tanda kekuasaanNya, agar manusia memperhatikan.

Dalam tafsir jalalain: (Dan Dia menundukkan malam dan siang untuk kalian, dan matahari) lafal wasysyamsa bila dibaca nashab berarti diathafkan kepada lafal sebelumnya, bila dibaca rafa’ berarti menjadi mubtada (bulan dan bintang-bintang) kedua lafal ini dapat dibaca nashab dan rafa` (ditundukkan) kalau dibaca nashab, maka berkedudukan menjadi hal, dan kalau dibaca rafa` maka menjadi khabar (dengan perintah-Nya) berdasarkan kehendak-Nya (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memahami-Nya) bagi kaum yang mau memikirkannya.

  1. 6.       Sebagai petunjuk

“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,” Al Furqaan:45

Tafsir Jalalain menjelaskan: (Apakah kamu tidak memperhatikan) yakni tidak melihat (kepada) ciptaan (Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang) mulai dari tenggelamnya matahari sampai dengan hendak terbitnya (dan kalau Dia menghendaki) yakni Rabbmu (niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap) artinya tidak hilang sekalipun matahari terbit (kemudian Kami jadikan matahari atasnya) yakni bayang-bayang atau gelap itu (sebagai petunjuk) karena seandainya tidak ada matahari maka niscaya bayang-bayang atau gelap itu tidak akan dikenal.

Dalam sebauh artikel dijelaskan bahwa Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya memperhatikan ciptaan-Nya bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dari tiap-tiap benda yang kena sinar matahari. mulai terbit sampai terbenamnya. Sengaja Allah menjadikan panas dari teriknya matahari. Kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Biasanya Allah SWT membiarkan bayang-bayang itu memanjang atau memendek untuk dipergunakan manusia mengukur waktu seperti di Mesir mempergunakan alat yang diberi nama “Al Misallat” untuk mengukur waktu pada siang hari dan menentukan musim-musim selama setahun, hal mana sudah berjalan sejak dahulu kala, dan bangsa Arabpun telah mempergunakan alat yang diberi nama “Al Misawil” untuk menentukan waktu salat dengan bayang-bayang sehingga mereka dapat memastikan tibanya waktu Zuhur bila bayangan jarumnya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu Asar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya, kecuali menurut pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa bayangan itu harus dua kali dari panjang benda itu sendiri. Jadi jelas bahwa menurut ayat ini Allah SWT menjadikan bayang-bayang matahari sebagai petunjuk waktu.

 

 

 

Keadaan matahari yang tidak biasa, dalam al Quran

  1. 1.       Matahari tenggelam ke dalam lumpur hitam saat terbenam

Allah berfirman dalam surah al-Kahfi ayat 86: Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam[887] di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat[888]. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan[889] terhadap mereka. (Al-Kahfi:86)

Tafsir jalalain mejelaskan: (Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari) tempat matahari terbenam (dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam) pengertian terbenamnya matahari di dalam laut hanyalah berdasarkan pandangan mata saja, karena sesungguhnya matahari jauh lebih besar daripada dunia atau bumi (dan dia mendapati di situ) di laut itu (segolongan umat) yang kafir (Kami berkata, “Hai Zulkarnain!) dengan melalui ilham (Kamu boleh menyiksa) kaum itu dengan cara membunuh mereka (atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka)” dengan hanya menawan mereka.

Atau di dalam sebuah artikel dijelaskan: Setelah dia menempuh jalan itu, maka sampailah ia kepada ujung bumi sebelah barat di mana kelihatan matahari terbenam seolah-olah masuk ke dalam lautan Atlantik. Di mana dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang rupanya (kelihatannya) kehitam-hitaman seperti lumpur. Dia telah melalui negeri Tunis dan Maroko dan sampailah ke pantai Afrika sebelah barat, dan di sana menjumpai beberapa kaum kafir. Dan Allah telah menyuruhnya untuk memilih di antara dua hal, yaitu menyiksa mereka dengan penumpahan darah atau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Yang demikian ini dijelaskan dalam firman Allah yang disampaikan kepada Zulkarnain secara ilham. Zulkarnain disuruh supaya membunuh mereka jika mereka tidak mau mengakui keesaan Allah dan tidak mau tunduk kepada ajakannya, atau mengajarkan kepada mereka petunjuk-petunjuk sehingga mereka mengenal hukum dan syariat agama dengan penuh keyakinan.

 

 

 

Keadaan matahari di hari kiamat

  1. 1.       Matahari suatu saat akan mati

“Dan Matahari berjalan ke tempat Peristirahatannya. Itu adalah keputusan dari Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui.” (Surah Ya Sin, 38).

Dijelaskan dalam sebuah artikel bahwa Matahari telah memancarkan panas selama sekitar 5 miliar tahun sebagai akibat dari reaksi kimia konstan berlangsung pada permukaannya. Pada saat yang ditentukan oleh Allah di masa depan, reaksi ini pada akhirnya akan berakhir, dan Matahari akan kehilangan semua energi dan akhirnya Mati. dalam konteks itu, ayat di atas dapat dijadikan acuan bahwa pada suatu hari energi matahari akan segera berakhir. (Allah maha tahu akan kebenarannya).

Bahasa Arab “limustaqarrin” dalam ayat ini merujuk pada tempat tertentu atau waktu. Kata “tajrii” diterjemahkan sebagai “berjalan,” juga bermakna seperti “untuk bergerak, untuk bertindak cepat, untuk bergerak, mengalir.”

Tampaknya dari arti kata bahwa Matahari akan terus dalam perjalanannya dalam ruang dan waktunya, tetapi pergerakan ini akan berlanjut sampai waktu tertentu yang telah ditetapkan. Ayat “Ketika matahari dipadatkan dalam kegelapan,” (QS. at-takwir, 1) yang muncul dalam deskripsi Hari Kiamat, memberitahu kita bahwa seperti waktu itu akan datang. Waktu tersebut hanya diketahui oleh Allah.

  1. 2.       Matahari akan digulung saat kiamat

“Apabila matahari digulung,” (at Takwir: 1)

Menurut tafsir al Azhar, “(Ingatlah) apabila matahari telah digulung.” (ayat 1). Di sini kita melihat penggambaran keadaan kiamat, satu keadaan yang berobah sama-sekali dari yang biasa. Mula-mula diterangkan bahwa matahari itu telah tergulung. Tentu banyaklah arti yang dapat kita ambil kata-kata kuwwirat, tergulung atau digulungkan. Makna digulung ialah bila tugasnya telah habis dan dia tidak memancarkan cahaya lagi, sehingga dunia ini menjadi gelap-gulita dan kacaubalau.

Dalam sebuah artikel dijelaskan, ilmuwan NASA menemukan bahwa bintang yang jauhnya 4000 tahun cahaya dari bumi, dan sangat mirip dengan matahari kita ini meledak dengan sendirinya, dan mulai mengecil ukurannya sehingga berubah menjadi bintang kerdil yang putih, ledakan ini menimbulkan derajat panas yang dahsyat mencapai 400 ribu derajat celcius.

Para ilmuwan menegaskan bahwa nantinya matahari kita akan mengalami nasib yang sama dengan bintang tersebut, meledak, lalu menyusut secara bertahap dan berubah menjadi matahari kecil yang disebut dengan istilah Bintang Kerdil Putih. Allah SWT Sang Pencipta Matahari dalam surat At Takwir ayat 1 dan 2, telah menceritakan bahwa menjelang kiamat nanti matahari akan digulung dan bintang memudar: “Jika matahari digulung, dan jika bintang-bintang memudar”
Maha Benar Allah dalam Segala Firman-Nya.

  1. 3.       Matahari akan dikumpulkan dengan bulan

 

“dan matahari dan bulan dikumpulkan,” Al Qiyamah: 9

 

Tafsir Jalalain menjelaskan: (Dan matahari dan bulan dikumpulkan) maka kedua-duanya terbit dari arah barat; atau kedua-duanya telah hilang sinarnya, yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.

Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan beberapa tanda kedatangan Hari Kiamat itu dalam tiga hal, yakni:
1. Apabila mata terbelalak (karena ketakutan). Pada waktu itu tidak sanggup mata menyaksikan sesuatu hal yang sangat dahsyat. Dalam ayat lain tercantum makna yang sama, yakni:

“Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (Q.S. Ibrahim: 43)

2. Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Hilangnya cahaya bulan selama-lamanya, bukan seperti keadaan waktu gerhana bulan yang hanya berlangsung sebentar saja.

3. Dan matahari dan bulan dikumpulkan. Artinya matahari dan bulan saling bertemu, sudah kacau-balau. Keduanya terbit dan terbenam pada tempat yang sama, menyebabkan gelapnya suasana alam semesta ini. Padahal keadaan begitu tidak pernah terjadi, masing-masing berada dalam posisi yang telah ditentukan Allah berfirman:

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”  (Q.S. Yasin: 40)
Jelasnya bahwa di antara peristiwa yang terjadi ketika kedatangan kiamat adalah: manusia sangat ketakutan (terbelalak matanya), hilangnya cahaya bulan untuk selama-lamanya, dan bulan serta matahari dipertemukan (dihancurkan).
Pada saat itulah manusia yang kafir menyadari betapa janji Allah menjadi kenyataan. Semua orang berusaha hendak menyelamatkan diri.

 

 

Kesimpulan

Tidak dapat disangkal lagi, al Quran memang ‘kitab kehidupan’ di dalamnya tidak hanya memuat tentang peribadatan, dalam arti sempit, melainkan juga memiliki porsi yang besar di bidang sosial , budaya, sains dan teknologi. Salah satu diantaranya, seperti yang telah banyak disinggung di atas, adlah berkenaan dengan penggambaran matahari yang telah banyak diberitakan di dalam al Quran, dan semuanya sudah terbukti kebenarannya.

Dengan sangat jelas dan beralasan, dengan tepat al Quran telah memberikan gambaran mengenai matahari. Masalahnya saat ini adalah bagaimana manusia dapat menangkap tanda tanda yang telah disampaikan al Quran dengan kemampuan yang dimiliki masing masing, sebagai bukti syukur kita pada kasih sayangNya.

[Ahmad Khoirul Anam, Santri Angkatan Ke2, Jenjang SMA, PesantrenMEdia]

anam makalah matahari santri

Penulis: 
author
Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Posting Terkait