Di Akhir Ramadhan (1)

Aku menatap langit di kejauhan. Abu dan oranye melembayung, menutup ujung puncak Gunung Salak. Tidak lama tetes air mengetuk-ngetuk kaca jendela taksi yang kutumpangi. Kupalingkan wajah dari pemandangan, menatap kaca depan mobil, memperlihatkan kendaraan-kendaraan yang saling menyalip satu sama lain.

“Griya Taman Kasih blok F nomor tiga, Pak.” Aku memalingkan wajah, kembali ke pamandangan di sampingku setelah kontak mata sebentar dengan supir taksi.

Dalam hati aku mendesah keras. Sudah beberapa bulan tidak kembali ke Kota Hujan ini tak ada rasa rindu sama sekali begitu melewati perbatasan antar kota. Bukan berarti aku punya memori buruk di kota ini. Hanya saja aku tidak pernah suka dengan perubahan cuacanya yang ekstrim meski hampir seluruh daerah di Indonesia seperti itu.

Aku tak pernah bersahabat dengan cuaca. Tubuhku baik-baik saja, tentu, dengan jadwal gym dan jogging yang rutin, penyakit jarang mendekat. Tapi cuaca mengalahkan semua usahaku itu. Aku bisa bedrest seminggu lebih hanya karena terkena terpaan hujan yang tiba-tiba menggelegar atau panas yang terlalu membakar.

Taksi yang kutumpangi berbelok ke kanan di pertigaan dan berhenti di rumah ke dua sebelah kanan. Aku turun dari taksi terburu-buru lalu membuka pagar rumah untuk berteduh. Sementara supir taksi membawakan koperku. Setelah membayar argo dan taksi pergi, aku memasuki rumah.

“Bu, Najwa pulang, nih.” kataku dengan nada lelah sementara sayup-sayup terdengar barang berjatuhan dari dapur disusul ibuku yang muncul dari balik tirai pembatas dapur.

“Waalaikumsalam Najwa…” aku menggumam asal sambil duduk di sofa ruang depan.

Badanku pegal-pegal setelah perjalanan dua jam lebih dari Kalimantan ke Jawa. Dan bodohnya aku langsung memilih naik taksi untuk sampai ke Bogor dari Bandara Soe-Ta. Seharusnya aku beristirahat di hotel saja dulu. Belum lagi turbulence di pesawat karena cuaca buruk disusul jetlag, setelah di Kalimantan aku ngebut menyelesaikan pekerjaanku dan langsung terbang ke Jawa begitu selesai. Akh, ini semua karena satu orang yang aku sayang. Kalau tidak, mana rela pegal-pegal begini.

“Kok gak bilang sih, sama ibu kalau kamu udah mau sampe. Udah gitu ibu masak yang simple aja tadi. Tunggu bentar, yah, bentar lagi mateng kok. Bersih-bersih dulu sana!” aku menggumam malas, mengiyakan omongan ibu tapi masih berleha di sofa. Aku benar-benar lelah sekali.

“Cepetan, Ja! Biar seger, tinggal makan nanti.” Teriakan ibu dari dapur memaksaku bangkit dan berjalan ke kamar sebelum mendengar omelan lebih panjang dari ibu.

Aku langsung merebahkan diri ke kasur begitu keluar dari kamar mandi. Fresh. Itu yang kurasakan sekarang. Ah, dilihat lagi, kamarku sampai SMA ini masih sama. Meja belajar di samping ranjang single bed, di samping meja belajar ada rak dengan buku-buku memenuhinya. Lalu tepat di samping rak ada pintu kamar mandi yang di dalamnya ada lemariku. Kamarku memang ku design sendiri. Dan aku lebih suka lemarinya ada di dalam kamar mandi. Lebih praktis.

Sebagai anak tunggal dengan ayah yang sudah tiada sejak aku kelas dua SMA, sudah biasa untukku suasana sepi yang hangat ini. Yang tentunya, ibulah yang memberikan kehangatan. Meski aku ada di Kalimantan sekalipun, ibu rajin mengirimiku pesan dan rutin menelepon setiap pagi, siang, dan malam. Merepotkan tapi menghangatkan. Menandakan ibu mengkhawatirkan juga merindukanku.

Bukan keputusan yang mudah untukku merantau ke pulau seberang untuk bekerja. Tapi setelah dititipkan pada eyang yang memang tinggal di sana, ibu mengizinkan meski dengan berlinang air mata. Aku juga tidak tega untuk meninggalkan ibu sendiri di Bogor. Kalau kami hanya beda kota, mungkin sudah setiap minggu aku mengunjungi ibu. Atau setiap hari ibu mengunjungiku. Tapi lain soal kalau perihal beda pulau, hanya saat libur panjang saja aku menyempatkan diri pulang.

Seperti sekarang ini. Biasanya aku pulang seminggu sebelum lebaran. Tapi kemarin malam, ibu nangis dan marah-marah memintaku pulang cepat hari itu juga. Ibu yang tidak mau menjelaskan kenapa ia menangis sambil marah-marah membuat aku panik dan langsung mengerjakan semua sisa pekerjaan agar bisa mengambil cuti lebih cepat. Yah, itu juga berkat orang dalam dan beberapa orang yang bersedia menggantikanku kalau-kalau ada agenda dadakan.

Tapi melihat kondisi ibu sekarang, sepertinya sesuatu yang membuatku khawatir itu tidak ada. Mungkin hanya kekangenan ibu saja padaku.

Yah, awalnya begitu sampai ibu memberikan kertas A4 padaku di ruang keluarga sambil menonton tivi dan makan makanan kesukaanku yang akhirnya diselesaikan ibu. Makanan rumahan biasa, khas orang sunda, lele, sayur toge, sambal terasi, lalapan, dan teh hangat disertai takjil sisa buka tadi sore.

“Apaan, ini, Bu?” tanyaku heran sambil menatap kertas itu.

‘MERDEKA!!!’ tertulis besar-besar di bagian atas kertas itu, di bawahnya ada kalimat penjelas, ‘meriahkan Ramadhan dengan suka cita’. Aku menatap ibu heran dan bingung sekaligus takut, mengabaikan semua makanan yang ada di lantai. Kami memang makan lesehan di rumah.

“Yah, itu, acaranya anak-anak DKM dan karang taruna buat ngeramein Bulan Ramadhan.”

Aku membuang napas malas. “Ngerti. Tapi kenapa ibu kasih ke Najwa?”

“Ikutlah…”

“Ikut apaan?”

“Itu, acara itu…”

“Buat bocah kali, bu.”

“Yah, jadi panitianya lah, Ja.”

Aku hampir tersedak teh hangat yang sedang kuminum saat mendengar itu. Dari mana ibu bisa punya pemikiran seperti itu? Dari dulu aku tidak pernah suka berorganisasi, dan ibu juga tau itu. Pernah aku dipaksa kakak kelasku untuk jadi Ketua OSIS saat SMP dulu, yang kutolak mentah-mentah. Jadi sekarang, aku heran kenapa ibu tiba-tiba meminta permintaan aneh ini.

“Ibu disogok siapa sampe bisa minta Aja buat jadi panitia?”

“Osh, kamu itu ngga sopan! Ibu bukan koruptor yang mau-mau aja disogok!”

“Yah, terus kenapa tiba-tiba ibu minta Aja buat jadi panitia di acara begituan?”

“Bukan begituan Ja. Acara bagus ini! Nambah pahala, kan, baik!”

Aku geleng-geleng kepala dan mendiamkan ibu, menunggunya sampai mau bicara sendiri alasan dibalik permintaan anehnya itu. Yang untungnya tidak berlangsung lama. Begitu kami duduk di sofa setelah membereskan sisa makanan, ibu langsung duduk merapat padaku.

“Si Gusti, anaknya Bu Nari yang baru lulus dari S1 itu, loh, Ja, inget kan?” aku masih diam, tidak menanggapi tapi tetap mendengarkan meski sebenarnya aku tidak tahu siapa yang ibu maksud. Siapa pula Bu Nari ini. “Dia diterima kerja di perusahaan internasional masa, padahal baru lulus S1, hebat banget, yah?” aku menekan tombol di remot, mengganti ke channel berita, “Walaupun dia kerja di perusahaan yang katanya sibuk gitu, tetep ikut jadi panitia, loh, Ja. Hebat banget, bisa ngatur waktu, dia…”

Aku menjalin benang merah antara omongan ibu barusan dengan telpon ibu yang sambil menangis tapi marah-marah juga. Aku mendesah berat saat tahu sebuah fakta. Alasan ibu supaya aku cepat-cepat pulang ke Bogor. Yah, apalagi kalau bukan karena merasa tersindir dengan omongan ibu-ibu tukang gosip dan memaksa aku pulang cepat supaya bisa ikutan jadi panitia. Heuh… kekanakan banget, deh, ibu alesannya.

“Jadi, Aja ikut jadi panitia aja. Bisa nambah pahala tau, Ja. Kegiatannya juga banyak, dari ngebantu anak yatim, fakir miskin sampe sanlat dan pengajian sambil ngabuburit. Seru, deh, pasti! Nah, kan Aja punya banyak relasi, nih, bisalah bantu-bantu cari sponsor atau dana,”

Aku mengecilkan volume tivi dan melirik ibu sekilas, sebelum akhirnya mematikan tivi dan berjalan menuju kamarku sambil berkata, “Aja ngga suka berorganisasi. Kenapa ngga ibu aja, yang ikut?”

 

To be continued….

willyaaziza [ZMardha] santri kelas 2 SMA Pesantren Media