Tuhan, Aku Mencintainya

540 views

Pagi ini begitu cerah. Burung-burung bernyanyi dengan kicauannya yang merdu. Suara gemercik air yang terdengar, begitu menenangkan jiwa. “Hari ini harus semangat. Harus bisa bangkit dari apa yang telah terjadi. Semua tidak ada yang abadi. Semua makhluk hidup pasti kembali pada-Nya” gumam Nindy.

Setelah dua tahun ditinggal pergi oleh ayah handanya. Pergi untuk tidak akan kembali lagi. Pergi untuk selama-lamanya. Pergi meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Pergi untuk menghadap Sang Pencipta. Sejak itulah Nindy jadi pemurung. Dia sering menyendiri. Menjauh dari teman-temannya. Bahkan ia menjauh dari keluarganya.

Jauh sebelum ayahnya meninggal. Nindy tipe orang yang ceria, pandai bergaul, cepat beradaptasi. Bahkan, dia tidak pernah meneteskan air matanya. Sekarang, semua itu berbanding terbalik. Nindy sangat jauh dari sifatnya yang dulu. Wajar saja Nindy sangat terpukul saat ayahnya meningga dunia, Nindy adalah anak kesayangan ayahnya. Apapun yang Nindy mau, ayahnya pasti akan mengabulkannya. Apalagi saat Nindy ditinggal ibunya untuk menjadi TKW di Arab, ayahnya-lah yang mengasuh Nindy. Sedangkan, saat itu kakak Nindy sudah kuliah bahkan sudah ada yang berumah tangga.

Ibu dan kakak-kakak Nindy sudah berusaha agar Nindy bangkit dari kesedihan ini. Segala cara sudah dilakukan. Namun, kehilangan ayahnya membuat luka yang sangat dalam dihati Nindy. Nindy merasa tidak ada lagi yang akan memanjakan dirinya. Hingga suatu hari, Ibu dan kakak-kakak Nindy berinisiatif untuk memasukan Nindy ke pesantren.

Nindy sekarang duduk di bangku SMP kelas 9. Satu semester lagi dia lulus. Tujuan sang ibu memasukan Nindy ke pesantren, agar dia bisa beradaptasi lagi dengan lingkungannya. Mungkin di pesantren dia bertemu dengan sahabat yang bisa membawanya ke jalan yang benar. Agar kesedihannya ini tidak berlanjut sampai nanti.

OOoOO

Ini hari pertama Nindy masuk pesantren. Semua berjalan begitu saja seperti air. Semua perlengkapan sudah disiapkan ibu dan kakak-kakaknya. Nindy terlihat biasa saja. Tidak terlihat dia senang ataupun sedih. Raut wajahnya tidak memperlihatkan apa-apa.

Hari demi hari sudah dia lewati di pesantren itu. Sudah banyak teman yang mendekati dia, namun tidak meresponnya. Sudah tiga bulan di pesantren, Nindy belum mempunyai teman. Hingga suatu hari, ada murid baru masuk pesantren itu. Hari itu, pas pelajaran Bahasa Arab, wali kelas Nindy masuk.
“Assalamu’alaikum” ujar Ustadzah Dila, sambil mengetuk pintu kelas.

“Wa’alaikumussalaaaaaaaaaam” serentak teman-teman Nindy menjawab.

“Alhamdulillah, hari ini kalian punya teman baru. Silahkan perkenalkan namamu nak.” sambil memegang pundak seseorang yang dibawa oleh Ustadzah Dila, untuk memperkenalkan diri

“Namaku Husnatul Ulya. Antum semua bisa panggil ana, Husna. Ana berasal dari Bandung. Ana pindahan dari pesantren Darussalam Bandung” santri baru itu memperkenalkan dirinya

            Setelah memperkenalkan dirinya, Ustadzah Dila mempersilahkan Husna duduk di samping Nindy. Sejak masuk pesantren, Nindy memang sering menyendiri. Jadi di kelaspun dia duduk sendiri. kebetulan itu kursi satu-satunya yang kosong, jadi Ustadzah Dila menyuruh Husna duduk di samping Nindy.

OOoOO

            Sudah sebulan berlalu. Nindy dan Husna tidak juga menjadi teman akrab. Padahal Husna sering ngajak Nindy ke kantin, ngobrol, ngerjain PR bareng, bahkan mereka sekamar, tetep aja Nindy cuek. Dia keukeuh dengan kesendiriannya.

Hingga suatu hari, Husna memungut kertas yang dibuang Nindy. Kertas itu, Nindy tulis saat pelajaran bahasa Inggis berlangsung.

“Ayah aku kangen. Ayah aku kangen. Ayah aku kangen” tulisannya hanya itu. Husna mengerenyitkan dahinya.

“Kenapa dia engga pulang aja kalau dia kangen ayahnya” gumamnya Husna dalam hati

OOoOO

Hingga suatu malam Husna memperlihatkan sesuatu ke Nindy.

“Nindy liat deh” Husna menyodorkan bingkai foto ayahnya

“Ini ayah ana Nin. Udah lama ana enggak nerima kabar dari ayah ana. Beliau pergi untuk berjihad. Ana engga tahu sekarang ayah ana masih hidup atau sudah meninggal. Sebelum pergi ayah berpesan “Jangan pernah tangisi kepergian ayah. Allah telah menjanjikan surga untuk ayah”. Sejak itu ana udah pasrah Nin. Ana yakin, apapun yang terjadi Allah pasti ngasih yang terbaik” tiba-tiba Husna cerita tentang ayahnya yang pergi berjihad. Seolah-olah dia tahu, kalau ayah Nindy sudah meninggal.

Secara perlahan Nindy ngambil bingkai foto itu dari tangan Husna. tiba-tiba air mata Nindy jatuh. Ia teringat akan mendiang ayahnya. Tubuhnya langsung lemas dan terduduk di atas tempat tidurnya.

“Aku kangen ayahku. Beliau satu-satunya orang yang mengerti akan suasana hatiku. Beliau yang merawatku sejak ibuku jadi TKW ke Arab. Umur 2 tahun aku ditinggal ibu. Ibu terpaksa jadi TKW, karena perekonomian keluarga kami sangat memperihatinkan. Apalagi saat itu kaki ayah lumpuh sebelah. Ayah enggak bisa kerja apa-apa, dengan kaki yang lumpuh. Sedangkan kakak keduaku perlu biaya untuk sekolah. Dan kakak pertamaku, bekerja untuk makan beberapa orang saja. Tidak cukup untuk satu keluarga” air mata Nindy semakin deras. Tangisnya terisak-isak.

“Nih tissue. Ya udah antum izin aja untuk pulang dulu, jadi antum bisa ketemu ayah antum deh” Husna memberikan tissue untuk menghapus air mata Nindy. Husna mencoba memberi nasehat, yang sebenarnya itu salah dan dia tidak tahu kalau ayahnya Nindy sudah meninggal.

“Ayah aku sudah meninggal Na. sejak aku kelas 1 SMP. Sejak saat itu, aku udah enggak pernah ngerasain kasih sayang dari seorang ayah.” Nindy, menahan air matanya yang akan jatuh dengan senyuman kecil.

“Inalillahi. Maaf Nin, dari tadi ana enggak tahu kalau ayah antum sudah meninggal” Husna terkejut sambil meminta maaf atas cerita yang membuat Nindy teringat ayahnya.

“Enggak apa-apa kok. Aku juga jadi lebih tenang dari sebelumnya” ujar Nindy sambil tersenyum, kali ini senyumannya agak lebar sampai kelihatan giginya.

“Ya Allah Nin, kenapa engga cerita dari tadi sih. Ana jadi enggak enak sama antum” Husna masih merasa bersalah

“Udah biasa aja kali. Tahu engga? Semenjak ayahku meninggal aku enggak pernah cerita ataupun ngobrol sama ibu, kakak-kakakku atau bahkan teman-temanku. Aku baru mau cerita dan ngomng panjang lebar gini sama kamu. Sama orang yang bahkan menurut aku tuh kamu orang asing. hehehe” Nindy mencoba meyakinkan Husna kalau dia engga apa-apa. Sambil menggoda Husna.

“Serius antum? Jadi selama ini antum diem-diem aja gitu? Pantesan, semenjak ana masuk pesantren ini. Ana jarang lihat antum bicara sama teman maupun guru. antum kaya tertutup gitu. Antum tuh suka banget sendirian.” Husna tekejut saat mendengar pernyataan Nindy tadi. Dan akhirnya, sekarang Husna tahu kenapa Nindy suka menyendiri.

            Semenjak kejadian itu, Nindy dan Husna semakin dekat. Mereka sekarang menjadi sahabat. Seantero pesantren bahkan guru-guru takjub melihat kecerian Nindy. Mereka tidak menyangka bahwa Nindy bisa seceria itu.

OOoOO

            Hubungan yang dijalankan Nindy dan Husna tidak hanya di pesantren. Setelah menjadi alumni di pesantren itu, Nindy dan Husna masih menjalin hubungan persahabatan. Nindy menemukan sahabat yang bisa membawanya ke jalan yang benar. Dari sahabatnyalah dia bisa kembali seperti Nindy yang dulu, saat masih ada ayahnya.

            “Tuhan, aku mencintainya. Aku mencintai dia Karena dia telah membawaku lebih dekat dengan-Mu. Darinyalah aku temukan jalan yang lurus. Darinyalah aku tidak mengambil keputusan yang bisa membuatku celaka. Darinyalah aku memiliki semangat hidup. Terimakasih engkau telah menggantikan ayah dengan seorang sahabat seperti Husna. aku mencintai sahabatku karena-Mu, Ya Allah.” Panjat Nindy.

[Holifah Tussadiah, santriwati kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

cinta sahabat

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait