Seperti di Negara Eropa

485 views

Kebun_teh_di_puncak

“Ayo segera masuk” aku mengajak tman-temanku masuk ke dalam mobil panther.

Yah,hari ini kami akan piknik ke beberapa tempat yaitu:

  1. Sungai ciliwung dan lapangan sempur
  2. Bendungan katulampa
  3. Mesjid Att’awun
  4. Paralayang
  5. Puncak pas

Untuk pergi kesana kami memerlukan 2 mobil. Yang satu mobil Avanza yang di kendarai Ustadaz Umar. Yang di dalam mobilnya  ada 10 orang yaitu

  1. Fathimah
  2. Ulfia
  3. Teh Via
  4. Tah Holifah
  5. Teh Maila
  6. Teh Icha
  7. Teh Rani
  8. Teh Eneng
  9. Teh Novia
  10. Teh Dini

Dan mobil yang panther  di kendarai oleh Ka Musa. Dan di dalamnya  ada 11 orang

  1. Ka Anam
  2. Ka Hery
  3. Ka Farid
  4. Yusuf
  5. Taqi
  6. Abdullah
  7. Siti
  8. Cylpa
  9. Aku( Putri)
  10. Wigati
  11. Teh Ira

Sebelum berangakat kami di bagi menjadi 4 regu dan akhwat SMA di bagi menjadi dua Regu .

Regu pertama yaitu REGU Akhwat  SMP yang di pimpin oleh Cylpa Nut Fitriani(Cyl,Cyl) beranggota 5 orang yaitu:

  1. Saknah Reza Putri(Put,Put )
  2. Fathimah Nurul Jannah Leboe (Fat,Fat )
  3. Siti Saudah(Sit,Sit )
  4. Wigati(Gat,Gat/Wig,Wig )
  5. Nur Ulfia Nisa (Ul,Ul)

Yang kedua regu Teh Via yang di pimpin oleh teh Noviani Gendaga yang beranggota 4 orang yaitu

  1. Siti Muhaira(Teh Ira)
  2. Holifah Tusa’diah(Amah Kholi/Teh Olif)
  3.  Novia Handayani(teh Novi)
  4. Chairunnisa Bayu Parameswari(Teh Icha)

Yang ketiga regu Tah Din Purnama Indah Wulan yang di pimpin oleh Dini yag beranggota 3 orang yaitu

  1. Rani Anajar Putri(Tah Rani)
  2. Maila(Teh Maila/ teh May,May)
  3. Eneng lham Raudhatul Jannah (Teh Eneng)

REGU YANG TERAKHIR ADALAH REGU Ikhwan SMA SMP yang dipimpin oleh Farid AB. Yang beranggota 4 orang yaitu:

  1. Ahmad Khoirul Anam(Ka Anam)
  2. Hery Pramono(Ka Hery)
  3. Dhiya Musa Amala Romis (Ka Musa)
  4. Yusuf Aditiya( Yusuf)

Keadaan di dalam mobil tidak memungkinkan. Di dalam mobil sangat panas dan sesak. Karena mobil yang belum jalan dan barang-barang yang banyak. Di sela-sela kaki kami terdapat Kardus Aqua yang membuat kami tambah sesak. Dan aku sagat kasihan keoada teh Ira karena Postur badan yang kecil pun terjepit di samping pintu.  Sebelum berangkat Ustadaz Umar melihat keadaan di dalam mobil panther. Setelah selesai melihat-lihat keadaan,Ustadaz Umar pun membuka pintu belakang. Dan berkata” Cylpa turun”. Dan setelah di perintahkan Cylpa lansung berlari ke arah mobil Avanza. Sesudah Cylpa keluar Ustadaz Umar melihat ada kardus Aqua yang berada di sela-sela kaki kami. Dan menaruh di bagian tengah yaitu tempat Ikhwan. Tiba-tiba Teh Via keluar dan menuju ke arah mobil panther . dan duduk di   sampingku, memang tempat duduk kami berhadapan di bagian kursi kanan belakang terdapat Siti dari sebelah kanan,Wigari di tengah dan teh Ira yang di ujung dekat dengan pintu. Sedangkan di bagian kaku sebelah kanan kami hanya duduk berdua saja. Karena badan-badan kami yang besar maka kami hanya duduk berdua. Weenak… setelah teh Via naik dan sudah menutup pintu Ustada Umar membuka lagi dan memerintah Teh Ira turun. Teh ira berkata” Yah sama saja ga ada Via” maksudnya kalo ga ada teh Via. Sama saja tidak menyenangkan. Kahirnya sampai dua kali ustadaz Umar memerintahkannya , baru teh Ira turun dan menuju ke arah mobil Avanza. Dan Ulfia yang turun dan menuju ke Mobil Panther. Ulfia tidak langsung masuk dan melihat dulu. Sampai Ustadaz Umar menyampirinya dan berkata “ kenapa. tidak masuk?” “ tidak muat,Ustadaz!” “ masuk dulu” Ustadaz Umar memerintahan Ulfia untuk masuk. Ulfia pun masuk, dan tasnya di taroh di depan bagian ikhwan.

Beberapa saat kemudian mobilnya pun berjalan pelan-pelan menjadi kencang. Yang sangat lucu apabila Ka Musa  menginjak gas mobil. Maka yang di belakang mobil itu akan menutup helmnya atau menutup hidungnya dengan suatu benda, karena asap yang di keluarkan mobil panther sangat keren.

Tiba-tiba, kami berheti di depan SPBU. Ternyata, mobil Avanza lagi di isi makanan. Yaitu bensin. Kami pun menunggunya di samping orang jualan, yang berada  disamping SPBU. Setelah beberapa saat kami menunggu, teh Ira datang dan melihat ban-ban mobil. Setelah itu teh Ira melihat-lihat keadaan di dalam, ternyata teh Ira melihat-lihat , karena mencari ka Anam. Karena Ka Anam dududknya di depan teh Ira pun menuju ke depan, untuk meminta uang kepada ka Anam karena di suruh Ustadaz Umar. “Anam kata Ustadaz Umar, uang 70.000” (yang Putri dengar) ka Anam hanya menyerahkan 20.000 saja. Teh Ira ke bingungan. Terus teh Ira mengulangi perataanya. 70.000 dengan suara sedikit keras. Setelah itu baru ka Anam memberikan 50.000-Nya. Setelah itu teh Ira pergi dan menuju Mobil Avanza. Beberapa saat kemudian mobil Avanzza pun keluar dari SPBU. Ketika kami ingin mengikuti mobil Avanza,tiba-tiba Fathimah dan teh Ira membuka kacanya dan berkata yang tidak jelas. Ternyata mereka berkata bahwa ban mobilnya kurang angin. Kami pun berhenti di pengisian an. Ka Musa pun turun dan Ustadaz Umar pun juga turun untuk membayarnyaa. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Kali Ciliwung dan Lapangan Sempur.

 

Kali ciliwung dan lapangan sempur….

Di sepanjang perjalanan sangat ke bungungan untuk melakukan apa, akhirnya aku pun mendengarkan musik. Setelah beberapa puluh menit kami pun sampai di kawasan Lapangan Sempur. Aku dan Ulfia pun membangunkan teman-teman akhwat yang tertidur di perjalann. Aku membangunkan Teh Via, Teh Via tertidur karena pengaruh Obat Antimo. Kenapa teh Via meminum obat Antimo? Karena teh Via mabok darat. Jadi kalo mau jalan-jalan teh Via harus meminum obat dulu. Biar tidur dan tidak pusing. Sedangkan Ulfia membangunkan Wigati. Setelah membangunkan teteh dan teman-teman yang tertidur. Akhirnya kami pun sampai di lapangan sempur. Dan bersegera turun. Ternyata aku baru tau bahwa lapangan sempur itu sering aku lewati misalnya kalo hari jum’at akukan selalu jalan. Eh, ga deh jarang-jarang,saja. Ketika aku ingin memphoto-photo. Tiba-tiba Ustadaz Umar memerintahkan kami untuk berkumpul sebentar. Ustadaz Umar menjelaskan bahwa kami hanya memiliki waktu 20 menit saja untuk berada di lapangan sempur.

Aku dan reguku pun ingin melihat kali ciliwung. Kami pun mencari-cari jalan menuju kali ciliwung. Karena kali itu sudah kelihatan tapi bagaimana caranya untuk bisa melihat dengan halangan apa pun.

Karena pemimpin kami kebingungan akhirnya Cylpa pun bertanya” Siapa yang sudah pernah ke sini?”

“Aku”  Ulfia menjawab pertanyaan Cylpa.

“Kamu tau nggak, di mana jalannya?”

“Tau.”

“Ayo…” kami pun langsung mengikuti Ulfia yang berjalan.

Setelah kami sampai di samping sungai ciliwung,kami lihat di sebelah kanan kami ada Ikwan. Awalnya kami ragu-ragu untuk kesana, tapi karena ada Ustadaz Umar. Yah jadinya No Problem. Oh,iya waktu aku di suangai ciliwunga aku hanya membawa kresek bewarna merah tasku aku tinggal di dalam mobil. Di dalam kresek terdapat tablet,earphone,Handphone,kamera dll. Ketika kami ingin berphoto-photo kali Ciliwung tiba-tiba, Abdullah turun ke sungai  Ciliwung. Setelah itu di iringi oleh Taqi. Karena Taqi dan Abdullah turun Cylap dan Siti pun ingin turun juga. Padahal sih aku mau turun. Tapi aku tidak berani, setelah beberapa saat Cylpa dan Siti turun. Wigati pun inhin turun juga padahal sudah mengajakkku. Tapi aku tidak mau aku hanya turun di anak tangga yang ketiga. Dan satu lagi yang turun yaitu Ulfia.  Di sisi kali Ciliwung terdapat tembok besar. Tapi bukan tembok yang ada di china yah! J. Setiap aku berjalan di atas tembok-tembok itu aku membayang kan bagaimana kalau aku jatuh. Eeiii, mengerikan. Setelah Cylpa,Wigati,Ulfia dan Siti naik. Kami pun berphoto-photo bersama anak-anak smp. Photo itu akan menjadi kenangan di Lapangan Sempur. Setelah kami bephoto-photo kami pun memutuskan untuk kelapangan sempur. Kami melihat di depan panjatan tebing banyak kak SMA yang berada di sana, kami pun menuju langsung kesana. Aku melihat Abdulllah berusaha untuk menaiki tebing itu. Sebenarnya Abdullah itu bisa naiknya. Tapi,turunnya Abdullah sellau memanggil” Om Farid,Om Farid” karena Abdullah tidak bisa turunnya. Setelah kami berphoto-photo kami pun di perintahkan agar segera kembali ke mobil.  regu kami pun segera menuju mobil. Cylpa dan Fathimah menuju mobil Avanza sedangkan kami berempat(Putri,Ulfia,Siti,Wigati) memasuki mobil panther. Begitu juga teh Via. Setelah kami masuk kami pun akan menuju bendungan Katulampa. Wow

 

Bendungan Katulampa…

Setelah dari kali  Ciliwung ini kami akan pergi ke Bendungna Katulampa. Sepanjang perjlanan kami membahas tentang Dajjal. Di jalan juga kami menunjuk-nunjuk”itu tas Tajur”. Ketika kita ingin menuju bendungan Katulampa. Kita harus melewati jalan yang agak sempit tapi, mobil bisa kok. Nah di perjalanan jalan yang agak sempit itu  teh Via membagikan makanannya (Pillows). Kepada akhwat dan ikhwan. Setelah akhwatnya pada minta,teh Via memanggil Abdullah.

“ Abdullah mau nggak?” teh Via menawarkan untuk Abdullah dan ikhwan lainya.

“ Apa itu?”

“pillows” “mau nggak?”

“Nggak” Abdullah menjawabnya dengan santai .

Karena Abdullah tidak mau, teh Via menawaarkannya kepada Taqi. Dan Taqi menerimanya. Setelah itu atqi membagi-bagikannya kepada ikhwannya. Tidak sengaja aku melihat waktu ka Musa mengambilnya itu tangan kirinya memegang sitr mobil dan tangan kanannya mengambil makanan pillows dengan 2 jari saja . setelah teh Via membagikan makanannya aku dan Abdullah pun berdebat dimanakah kali ciliwung. Kata Abdullah si sebelah kanan sedangkan aku melihat sungai sebelah kiri. Jadi aku me,ilih. Di sepanjang jalan di sungai-sungai aku melihat ada studio alam,banyak sekali berjejeran. Akhirnya kami pun sampai di kawasan bendungan Katulampa. Kak Musa dan Ustadaz Umar memarkir mobinya di samping pos pemantauan sungai Ciliwung.

Kami pun segera turun dan Ustadaz Umar hanya memberi kami waktu untuk berphoto-photo selama 20 menit lagi. Di sebelah kiri ada sungai buatan untuk memecahkan aliran sungai ke Jakarta. Dan juga aku melihat ada ukuran ketinggia air. Ternyata aku baru liat di depan sana ada jembatan Bendungan Katulampa. Jembatan itu panjang dan tidak terlalu lebar.  Di bendungan ciliwung itu ada banyak batu  dan ada juga  pintu air berjumlah 8. Di bagian pintu air yang ke 8 aku melihat ada batu yang sangat besar. dan juga air yang sangat deras itu menerkam batu. Air itu ssangat desar sampai-sampai kedengeran sangat kencang banget. Kami pun akan berjalan menuju jembatan bendungan katulampa. Di sana apabila ada kendaraan yang lewat maka akan bergoyang. Dan di sungi jembatan itu ada tanah yang di atas rumput-rumput, kalo di lihat dari atas maka seperti pulau. Oh,ita aku lupa di belakang pos ada tembok besar di sanannya nah di situ ada dua orang yang memakai seragambawarna biru. Dan aku juga melihat kunci pintu air. Sebelumnya aku juga melihat kakek yang sedang mengumpulkan pasir di tengah-tengah kali yang surut. Setelah beberapa menit kemudian kami pun di suruh kembali kembali  ke mobil. Tetapi Wigati kebelet pipis. Sebagai regu kami harus menemaninnya. Wigati sedang pipis kami pun memewanwancarai bapak yang ad di sana. Bapak itu bernama Andi Sudirman. Bendungan Katulampa didirikan pada tahun 1911 pada zaman Belanda. Setelah mewanwancari kami pun di suruh berkumpul di tugu bendungan Katulampa. Ternyata kami di Photo oleh Ustadaz Umar.  Setelah di photo kami pun akan menuju mesjid Att’awun.

Mesjid Att’awun.

Setelah dari Bendungan katulampa kami akan menuju mesjid Att’awun. Di perjalan Siti membagi makannnya. Dan teh Via mebagi coklatnya. Dan juga wigati tidak akan tidak membagika permennya. Kami pun melewati pasar Ciawi. Pasar itu pernah aku datangin bersama Abang Mama Papah dan Aisyara,kesana. Keadan cukup sedikit macet. Yang sangat lucu kata teh Via. Teh Via sangat suka dengan macet. He,katanya dia dari kecil sangat suka macet. Ketika kami ingin menuju tol ke puncak tiba-tiba kami di tilang. Ka Musa pun senyam senyum. Bukannya ketakutan ke, eh malah senyum Ka Musa pun membuka pintu dan turun. Dan kak Musa mengambil STNK mobilnya. Polisi itu bertanya” mana SIM kamu?” polisi itu bertanya kepada kak Musa

“SIM saya hilang pa” ka Musa menjawabnya dengan muka yang sangat santai

“KTP?”

“ketinggalan pa.”

Pa Polisi itu pun mengambil STNK itu dan mencatat plat mobil itu. dan polisi itu memasuki kantornya , ka Musa pun mengikutinya. Kami pun di dalam mobil sibuk hanya makan-makanan saja. Ternyata mobil Avanza juga di tilang karena duduk berdua di bangku depan. Dan mengeluarkan uang sebesar 200.000. padahal di mobil kami juga duduk berdua di depan. Alhamdullilah yah sesuatu banget. Musa bisa menyelesaikan masalah itu. walau pun hanya pajaknya saja yang belum di bayar. Ka Musa hanya cukup mengeluarkan uang 20.000.

Setelah itu ka Musa masuk ke dalam mobil. Ka Musa ke bingungan ke puncak jalan sebelah mana. Setelah itu ka Musa turun bertanya kepada pa Polisi itu. “ pa ke puncak sebelah mana yah?”

“Ke sebelah kanan,sebelah kanan”

“ iya pa,sip pa,ok pa” menjawabnya dengan santai. Membuat kami tertawa.

Apalagi ini Pa Polisinya bilang” bocah!” terus waktu kami mau jalan pa Polisi mengeluarkan kata-kata” Hati-hati yah” menurut kami pak polisi itu sanagat aneh tadi marah-marah. Eh,ini baik. He,tapi no problem.

Setelah kami lewati macet. Akhirnya kami sampai di kawasan puncak. Subahanallah ya Allah terasa sangat berbeda dengan di Kalimantan Selatan. Baru pertama kali ini aku merasakan udara puncak. Di setiap jalan terdapat kebunteh-kebun teh yang segar-segar. Dan aku juga melihat kecap sedap besar dan minuman teh yang  besar. setelah beberapa kemudian,kami pun akan memasuki halaman mesjid Att’awun.  Waktu pertama-pertama perasaanku susah menghafalnya. Jadi biar cepet hafalnya di ganti aja dulu ataakhar. Jadi kalo ingat ataakhar ingat juga att’awun. Kami pun sudah memasuki halaman besar mesji aAtt’awun. Yang penuh dengan orang berjualan. Baru turun dari mobil sudah di tawarin tahu sumedang sebenarnya sih aku mau,soalnya aku lagi laper tapi aku pikir-pikir dulu. Solannya nanti jugakan mau makan. Akhirnya aku tidak jadi beli. Aku dan reguku pun memasuki mesjid Att’awun. Sebelum memasuki mesjid Att’awun kami menitipkan dulu sepatu sendal kami. Aku kaget ketika aku ingin  memasuki mesjid Att’awun. Ternyata aku harus melepas kaos kakiku. Karena kalo mau memasuki mesjid itu kita harus melewati kali yang kecil. Aku pun mncelupkan kakiku ke air. Eeeem, dingin sekali. Subahannallah aku tidak pernah merasakan dinginnya air ini. Eh,pernah deh kalo air kulkas. Kami pun menuju tempat berwudhu, aku tidak langsung berwduhu. Melainkan aku ingin ke kamar mandi dulu. Seelah kekamar mandi aku pun berwudhu dulu. Hem, airnya sangat dingin. Ber, aku pun berwawa(berdandan). Alah lebay, ga lah aku hanya merapikan kerudungku saja. Setelah merapikan kerudungku. Aku pun langsung sholat. Hampir saja jaket dan jam tanganku ketinggalan. Di depan tempat wduhu ada seperti telivisi yang buat menyetel DVD. Di sana kau juga melihat ada flim Umar. Tidak berlama-lama kami pun langsung sholat. Ternyata orang-orang pada sudah rakaat terakhir aku pun langsung sholat tidak menunggu lama-lama. Setelah sholat aku mephoto-photo di dalam mesjid. Setelah itu kami pun di perintahkan oleh Ustadaz Umar  untuk makan. Kami pun segera turun. Setelah kami turun. Aku dan Wigati mengambil nasyang lauknya ayam. Aku pun duduk di samping. Kata Ustadaz Umar tidak boleh ada nasi yang tertinggal. Setelah makan aku pun bermain di air yang dingin itu. sambil menunggu  yang lain selesai makan. Setelah semuanya selesai makan kami pun di suru berkumpul. Kta Ustadaz Umar kita tidak jadi ke paralayang karena tidak memungkin ke sana Karena becek dan jatuh soalnya licin. Dan juga mana ada orang main paralayang cuacanya tdak mendukung,jadi kami hanya bermain di sini. Setelah berkumpul kami pun di bolehkan memphoto-photo di sini tapi harus berdua. Aku bersama Cylpa.  Aku dan Cylpa pun mephoto-photo pemandangan yang ada. Setelah itu , tiba-tiba ada kabut yang yang menutupi gunung aku langsung memphotonya. Tidak akan ku tinggalkan. Setelah itu pengen jagung. Kami pun ke tempat orang jualan jagung. Tapi sebelumnya aku membeli gelang yang namanya Puncak Bogor. tapi sayang L sudah putus. Ternyata gelangnya tidak terlalu tahan lama. Setelah itu aku pun membeli Rasbery harganya 5000 dapat sangat murah. Setelah itu aku mebeli tas harganya 8000. Sesudah memebeli tas aku pun makan jagung. Aku tidak membeli sendiri tapi, di belin Siti. Terimakasih Siti J. Aku pun makan jagung. Hem, aku pun meakan jagung sambil memainkan nafasku. Setiap aku berbicara pasti berasap. Seperti di negara-negara Eropa. Tapi tidak ada salju.  Setelah selesai makan jagung kami pun memasuki mobil. Dan mobil siap berjalan menuju pesantren media. Go… sebelum pulang kami ke puncak pas dulu. Tapi hanya beberapa detik saja terus putar balik deh.tidak sepat memphoto  Di sepanjang jalan aku melihat seperti orang yang menyewaan vila-vilanya banyak sekali.  Setelah itu beberapa saat kami pun berhenti sebuah SPBU dan kata Ustadaz Umar sia yang ingin ke kamar mandi segera. Yang turun hanya Siti dan Wigati. Setelah mereka pada kembali ke mobil. Mobil pun akan berjalan lagi. Dan di perjalanan aku tertidur lelap. Tapi sebelum tidur aku, aku memphoto keadaan dulu. Aku terbangun ketika kami melawati Kebun Raya Bogor. setelah aku bangun Wigati yang terbangun. Kan Wifati angun tidurnya rambutnya berantakan. Aku menyuruh Wigati untuk merapikan rambutnya. Tetapi dia hanya mngelusnya saja sampai 2 kali aku begitu yang ke tiganya baru dia masukin rambutnya. Di perjalanan kami mengikuti suara taqi yang bernyanyi yang lagu nya” lalu untuk apa kita ber….. amal” sampai berkali-kali sampai-sampai semunya itu mengikutinya. Setelah itu Alhamdulilah akhirnya kami ingin sampai di depan komplek Lalado Permai. Kata Ka Anam ke rumah Media ajah Mus” “eeeeee” semua akhwat yang di dalam mobil itu berteriak. Setelah itu kami pun memasuki komplek laladon permai. Dan akhirnya kami sampai Allhamdulilah akhirnya, kami sudah sampai. Piknik ini tidak akan aku lupakan. Rasanya aku ingin ke sana lagi karena airnya.

[Saknah Reza Putri, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMP, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature, di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

ciliwung puncak sempur

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait