Racik dan Kucing-Kucing

Racik dan Kucing-Kucing

Namaku Racik, aku kucing liar yang sering berkeliaran di asrama akhwat Pesantren Media. Salah seorang penghuninya menangkap basahku sedang makan nasi goreng racik buatan mereka, makanya mereka menamaiku Racik. Meski begitu aku suka nama ini.

Walaupun aku diberi nama oleh mereka, tapi mereka tidak menjadikanku hewan peliharaan. Aku dibiarkan bebas hidup seperti kucing liar lainnya. Dan ketika aku mengunjungi mereka, seringkali mereka memberiku makanan. Aku bersyukur dipertemukan oleh Allah dengan mereka. Mereka begitu baik merawat dan memanjakanku, tapi tidak mengekangku.

Seperhatianku, aku adalah kucing kedua yang mereka temui di sini dan mereka berinama. Yang pertama adalah seekor kucing berwarna abu-putih, tapi aku tidak tahu nama apa yang mereka berikan. Setelah aku, ada kucing kecil bernama Hachi dengan warna bulu yang hampir mirip denganku.

Ah, aku sangat merindukan Hachi. Dia anak kucing yang lucu dan sering bermain dengan boneka kucing milik salah satu santri yang bernama Seul-Gi. Haha, bisa-bisanya kucing bertengkar dengan boneka kucing. Hachi . . . Hachi . . . eh, seperti suara bersin, yah?

Para santri akhwat menamainya demikian karena Hachi mirip salah satu tokoh kartun yang berjudul Hachi. Tokoh itu adalah lebah yang hidup sebatangkara dan mencari-cari ibunya. Salah satu santri akhwat sering menyanyikan lagu dari kartun itu untuk Hachi.

Tapi sayang, sekarang Hachi entah pergi ke mana, aku berharap ia kembali ke asrama akhwat. Para santri dan aku merindukan dia.

Kucing kecil lainnya yang pernah diberi nama oleh santri akhwat adalah Chiko, dia dibawa oleh salah satu santri di rumah kosong depan asrama akhwat bersama Choki. Chiko memiliki bulu berwarna putih dan kuning sementara Choki hitam dan putih. Sayangnya Chiko pergi, sementara sampai sekarang Choki masih setia tinggal di asrama akhwat.

Choki masih terlalu kecil untuk bisa berkeliaran bebas sepertiku, tapi kulihat sesekali dia pergi ke kebun di seberang jalan. Aku berharap dia tidak tersesat dan hilang seperti kucing-kucing sebelumnya.

Kucing yang baru-baru ini diberi nama oleh santri akhwat adalah Suji. Dia diambil oleh salah seorang santri. Saat itu situasinya sangat menyedihkan, ia ditemukan sedang bersama saudaranya yang sudah meninggal dengan darah keluar dari kepalanya. Suji tampak sedih sekali saat itu, dia berdiri merapat pada saudaranya yang sudah terbujur kaku. Huu… mengingat kejadian itu membuatku sedih. Untung saja pakde langsung menguburkannya.

Choki dan Suji menjadi kucing tetap di asrama akhwat. Awalnya mereka sering bertengkar, apalagi Suji sering menggeram pada Choki. Untungnya akhir—akhir ini mereka lebih sering terlihat bermain bersama. Mereka juga akur  dan Choki menjadi ‘kakak’ yang baik untuk Suji.

Aku tidak mau kalah dengan mereka. Kalau aku ada di asrama akhwat biasanya aku ikut bermain bersama Choki dan Suji. Mereka seringkali mengekoriku ke mana-mana. Oh, Choki sudah bisa melompati jendela sekarang, dan Suji lebih sering terlihat bersantai di teras depan. Santri-santri bilang Choki dan Suji mengikuti tingkahku karena sering mengikutiku. Hahaha…

Selain kucing-kucing yang tadi disebutkan, masih banyak kucing lainnya yang sudah diberinama oleh santri akhwat, salah satunya Milli.

Milli adalah kucing berwarna putih-kuning yang sesekali mengunjungi asrama akhwat. Para santri akhwat menyukainya, tapi dia tidak terlalu akrab denganku, entah kenapa, aku tidak tau alasannya.

Para santri akhwat mengira Milli adalah namanya, tapi ternyata santri ikhwan sudah lebih dulu memberi kucing putih-kuning itu nama Stella, jadilah nama Milli tersingkirkan. Hingga sekarang namanya Stella, tapi dia sudah sangat jarang dan hampir tidak pernah lagi mengunjungi asrama akhwat. Dia lebih sering terlihat di dekat bedeng (asrama ikhwan) dan di kelas.

Ada pula Taeyang dan Taemin. Keduanya adalah kucing dengan warna bulu yang sama denganku. Mereka hanya sesekali saja terlihat dan jarang sekali mengunjungi asrama akhwat. Biasanya Taeyang muncul di pagi buta ketika para santri pergi tahfidz, sementara Taemin biasanya terlihat di malam hari setelah santri pulang tahfidz. Taemin selalu mengikutiku ke mana-mana!

Oh, ada satu kucing lagi yang sangat disukai para santri akhwat. Namanya Mill, dia berbulu lebat dengan corak hitam-putih. Dia tampak seperti seekor angora yang cantik. Tapi dia pemarah, dan setelah bertengkar dengan Stella, Mill sudah tidak pernah terlihat lagi.

Ah, hari sudah malam, dan bulan sudah mau meninggi. Aku berjalan di jalan beton menuju ke asrama akhwat. Sayup-sayup kudengar para santri akhwat berjalan mendekatiku sambil bercanda ria. Ah, mereka tampak senang sekali.

“Raciiik!” kata salah satu santri memanggilku. Dia langsung menepuk-nepuk kepalaku penuh sayang.

“Sini Racik, sini!” panggil yang lainnya.

Para santri akhwat berjalan beriringan menuju ke asrama, sementara aku mengekor di belakang mereka. Mereka asyik bercerita, sedikit mengabaikanku. Aku berlari mendahului mereka dan menunggu di teras depan asrama. Dari kejauhan aku dapat mendengar suara mereka memanggilku, entah membicarakan apa.

Choki berjalan pelan menghampiriku lalu menjilati bulu-bulunya. Sementara Suji lanngsung berlari mendekati para santri begitu suara mereka terdengar jelas olehku.

Choki yang kalem dielus-elus oleh salah seorang santri sementara Suji yang cerewet terus mengeong minta makan pada santri yang lainnya. Aku memilih diam saja sebelum akhirnya mereka mengalihkan atensi padauk dan mengelus-elus buluku.

Hum… aku suka suasananya, begitu ceria dan terasa hidup. Dengan Choki, Suji dan para santri, aku senang bersama mereka. Aku bersyukur Allah mempertemukan kami. Dan aku berdoa, semoga Allah mencukupi kami dengan kebahagiaan ini. Amin.

 

willyaaziza [ZMardha]

kelas 1 SMA Pesantren Media