Perjalanan dari Bogor ke Tangerang

445 views

4 AGUSTUS 2012, LALADON PERMAI

Detik-detik pergi dari pesantren menuju Bandara Cengkareng.

Terharu. Itu yang kami rasakan saat akan berpisah dengan teman-teman satu pondokan. Bagaimana tidak, satu bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mengikat hati kami menjadi kesatuan yang utuh. Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk membangun emosi jiwa antar santri Pesantren Media. Susah senang setidaknya pernah kami rasakan bersama.

***

Bruummm ….pusshh.. asap itam dan bau bahan bakar solar pun tercium seiring Blue Panther melaju. Ya hari ini hari Sabtu giliran santri yang di luar Jawa diberikan dispensasi dua hari lebih awal untuk pulang kampung. Santri yang lain, yang berasal dari Pulau Jawa baru hari senin boleh pulang. Yah senang tak terkiralah akhirnya bisa pulang ke Banda Aceh tercinta. Karena awalnya kukira libur cuma 2 minggu. Eh gak taunya salah paham maksud 2 minggu itu sebelum dan sesudah lebaran.

Duh pokoknya aku nggak sabaran pingin pulang dan langsung menyantap makan kesukaan yang telah lama aku rindukan. Bagaimana tidak! lidahku ini lidah Aceh Bung! Tak cocoklah ama masakan Jawa yang terasa aneh di lidah “masam-keu’ueng”  atau dalam bahasa Padang disebut “asam padeh” seperti saya.

Dan yang unik lagi dalam kepulangan aku ke Banda ini karena sangat rindu sama masakannya bukan sama keluarga. Hahhahahhaaa teman-temanku yang lain nyinyir ketika kubilang seperti itu. Ya maklumlah kawan, aku sudah terbiasa jauh dengan keluarga atau orangtua. Jadi, ketika ditinggal sendiri di sini pun tak masalah bagiku, hepi-hepi aja.

***

Blue Panther berhenti di tempat pengisian solar. Minum yang banyak ya Blue, supaya di jalan tidak kehausan apalagi pas melewati jalan tol yang alamak, panas sangat!

Alunan Soledad Westlife pun mengalun sendu di telinga. Mengusir rasa penat yang merasuk. Kulihat Wigati yang berasal dari Riau sedang asik mengobrol dengan kawan sejawatnya, Siti yang mau pulang ke Banjarmasin. Sedang Putri larut dalam obrolan emaknya di telpon. Maila dan Abdi Robi sibuk dengan kesendirian dalam heningnya. Abi Umar yang sedang menjelaskan arahan pada kami tak henti-henti ngoceh.

***

Tepat pukul 07:14 WIB Blue Panther yang kami tunggangi berhasil keluar dari kota angkot Bogor. Dan sekarang memasuki tol Jagorawi. Semakin jauh kendaraan ini melaju mataku tak tinggal diam. Terus dan terus mengamati ke sekeliling. Karena ini pengalaman pertama kalinya kulalui jalur ini. Seiring mengamati tanganku pun tak tinggal diam mencatat apa saja yang menuut ku Waw! Unik dan nyentrik tentunya. Dan ini contohnya. Di tengah perjalanan, mata dan otakku merekam pemandangan yang unik yang sering kutengok di film-film! (Hahaha… teringat Novia Gendaga kawan sejawatku dari Samarinda: kocak, lucu, dan tingkahnya ada-ada saja, teringat diriku waktu SMA ya seperti dia lah!) Yakni supir bus Damri yang memakai jas dan dasi, plus kacamata riben hitam yang tersangkut rapi di telinga pak supir. AH bukan main aneh, unik, dan nyentrik.

Ada lagi yang manurutku aneh di perjalanan yakni, ada truk Holcim yang dekorasi kabin supirnya ada umbul-umbul/renda warna hijau plus manik-manik. Hahahhaa… ini lucu menurutku. Karena setahu ku, Holcim itukan branded luar negeri. Dan umbul-umbul/renda itu sering kutemui di angkutan umum(labi-labi) di Aceh.

Nah setelah itu kami melewati az-Zikra Islamic Centre, Bogor. Aku ingat sepintas. Zikra, anak balita umur 2 tahun yang sering kutemui di samping Tokoku di Banda Aceh. Ayahnya adalah seorang ustadz dan pengusaha muda yang cukupn terkenal di Banda Aceh. Penampilannya mirip dengan ustadz Arifin Ilham. Ngga pernah aku lihat dia memakai baju selain warna putih dan potongan rambut yang selalu cepak. Dengan kupluk putih yang tesemat di kepalanya. Mirip sekali bukan dengan penampilan Arifin Ilham. Oh ternyata baru kutahu. Ia jamaah setia Arifin Ilham. Hampir setiap ada pengajian Arifin Ilham di Banda Aceh dan sekitarnya pasti ada dia dan keluarga. Ustad Arifin Ilham terbilang sering ke Banda karena tempat ini adalah kampung halaman istrinya. Ya! Beliau menantunya (alm) Abuya Wali, ulama yang berasal dari Labuhan Haji, Aceh Selatan. Zikra anaknya itu di ambil dari majelis dzikir AZ-ZIKRA itu. Ketika aku di Banda pun aku pernah melihat masjid MUAMMAR KADHAFI. Dan Walla! I found it now!![]

 

catatan diary perjalanan

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

Tinggalkan pesan