Namaku, Ciwi

369 views

Pagi masih gelap. Baru saja azan selesai berkumandang. Ada santri akhwat sudah membuka pintu kamarnya, tapi aku malas untuk masuk. Karena kebetulan kakak-kakak kucingku sudah bangun semua. Bermain di waktu subuh pasti menyenangkan.

Aku melompat, menerkam Ucil, kakak kucing berambut hitam legam dengan mata cokelat. Kami saling berkejaran, bermain mangsa dan target. Berlompat ria di antara jemuran, pagar dan pembatas.

Aku menaiki tangga, bersiap menerkam Ucil yang sedang lengah. Sayangnya, seringkali Ucil langsung kabur begitu aku mengejarnya. Karena aku masih kecil, kakiku belum sepanjang Ucil. Jadi secepat apapun aku mengejar, Ucil tetap lolos.

Sebaliknya, ketika Ucil memangsaku, pasti aku berakhir digigitnya. Uh… aku berharap cepat-cepat tumbuh besar supaya bisa berlari lebih cepat.

Ucil adalah kakak kucing keempatku. Dia yang paling dekat denganku. Em… mungkin karena umur kami yang jaraknya paling dekat. Aku masih punya tiga kakak lainnya. Yang pertama Choki, berambut putih-hitam yang bersih. Kedua ada Pocky, berambut kuning dengan ekor panjang dan badan besar. Ketiga ada Tae—atau salah satu santri akhwat memanggilnya HyunTae—berambut putih-kuning.

Sementara aku… namaku Ciwi. Santri akhwat memanggilku begitu, menurut kakak-kakak kucingku, berarti namaku adalah Ciwi. Tubuhku kecil—aku masih dalam pertumbuhan!—hitam kecoklatan, khas warna kucing liar yang sering ditemui di jalanan. Tidak seperti kakak-kakak kucingku yang lain memang, aku paling berbeda di antara kami.

Meski begitu, aku senang berada di lingkungan ini. Kakak-kakak kucingku menyayangiku. Meski jarang, mereka mau bermain mangsa-target denganku. Santri akhwat juga memberiku makanan yang enak… walau kadang, aku jadi bahan mainan juga oleh mereka. Hu…

Pagi ini, meski masih gelap, tapi aku sangat bersemangat. Sayangnya, Ucil sudah capek bermain denganku. Untungnya, Tae mau bermain. Walaupun aku agak terlalu tidak suka bermain dengan Tae, karena sifatnya yang tenang, jadi terkadang… tidak terasa menantang.

Sebelumnya, aku mengajak Pocky untuk bermain, tapi Pocky… pertama, dia menyeramkan. Galak sekali, pokoknya! Habis itu, raungannya… menyeramkan! Ugh… aku tidak mau bermain dengan Pocky. Sebisa mungkin aku harus menghindar kalau kami hanya berdua, ah.

Lalu Choki… entahlah, tapi aku merasa… Choki bersikap terlalu diam, terlalu tenang, terlalu malas. Seperti mengawasi, hanya melihat begini-begitu, tapi tidak tertarik untuk ikut. Lagi pula, Choki terlihat sangat angkuh, sombong, borjuis, sulit didekati. Yah… mungkin karena dia yang paling tua. Untungnya, kalau kudekati, Choki tidak segalak Pocky. Hihi…

Aku melirik seorang santri akhwat yang sedang duduk di depan pintu kamar yang setengah terbuka. Sepertinya dia ingin bermain dengaku, karena sejak tadi memanggil-manggil terus. Tapi… ah, aku malas. Aku sedang ingin bermain dengan sesama kucing, bukan dengan manusia. Jadi aku tidak mendekati satri itu, dan menjauh dari jangkauan tangannya. Sangat jelas sekali, satri ini malas bergerak walaupun ingin bermain denganku. Haha… makanya jangan jadi pemalas!

Padahal, kalau saja dia tidak duduk di situ, aku mau saja masuk ke kamar. Hitung-hitung menggaruk-garuk, karena kukuku gatal, mau menggaruk-garuk.

Oh, iya, kalau tidak salah… seharusnya masih ada satu kucing lagi di lingkungan ini. Choki bilang namanya Racik. Katanya, Racik lebih tua dari Choki. Tae bilang, Choki sangat menghormati Racik, karena dia yang mengajari Choki kehidupan menjadi seorang kucing berkelas. Emh… sebenarnya, aku tidak mengerti sih, apa itu ‘kucing berkelas’ tapi itu pasti sesuatu yang keren. Aku jadi ingin bertemu dengan Racik.

Pocky bilang, Racik biasanya ada di dekat Bedeng. Bedeng itu asrama ikhwan. Sesekali Pocky memang pergi ke sana, tapi untuk bermain ke rumah Ustadzah Nur, dan seringkali Pocky bertemu Racik di sana.

Aku belum berani pergi jauh dari asrama akhwat, jadi aku hanya mendengar cerita-cerita dari kakak-kakak kucingku tentang Racik dan kebaikan hatinya. Ah, semoga aku cepat besar dan bisa segera pergi ke sana.

Oh iya, ada satu kucing yang tidak aku suka. Namanya Bili—atau Billi, entahlah. Sepertinya semua kucing di lingkunganku juga tidak suka padanya. Choki, Pocky, Tae dan Ucil biasanya kabur, atau langsung bertengkar dengan Bili.

Tapi ngomong-ngomong tentang Bili, sepertinya ada sesuatu di antara dia dan Choki. Tapi aku belum tau apa itu. Ucil belum selesai menceritakannya waktu itu, karena Choki keburu lewat dan marah pada Ucil. Jadi yah… sampai sekarang aku belum tau. Tapi, aku pasti akan mencari tau!

Satu persatu santri akhwat keluar dari asrama sambil membawa Quran. Untuk kebiasaan yang satu ini, aku sudah mempelajari dan mengerti. Biasanya, sehabis subuh dan setelah magrib, mereka akan membawa Quran lalu pergi ke kelas. Ucil bilang, mereka akan pergi tahfidz. Aku tidak tahu apa itu tahfidz, tapi menurut Tae, tahfidz dapat meninggikan derajat manusia di surga. Sepertinya enak. Yummy~~

Aku baru tinggal di asrama akhwat beberapa hari, tapi aku sangat suka berada di sini. Semoga manusia tidak membuangku lagi. Aku pasti sangat sedih kalau mereka membuangku. Aku akan berlatih menjadi kucing yang baik dengan rajin supaya mereka tidak membuangku. Karena, satri yang tinggal—yang anehnya tidak pernah pergi tahfidz—selalu bilang, kalau dia sayang kucing-kucing tapi sebal kalau kami buang kotoran sembarangan.

Hum, Ciwi tidak akan buang kotoran sembarangan!

Kamis, 28 Maret 2019

willyaaziza

al-quran bogor catatan perjalanan cerita cerita tentang kucing cerpen cinta contoh cerpen contoh fable curhatan kucing Design diary fable fiksi Inspirasi islam karya santri kucing media menulis penulis penulis willyaaziza perjalanan persahabatan pesantren pesantren di bogor pesantren media pesantrenmedia remaja sahabat santri santri media santrimedia tentang kucing tulisan willyaaziza

Penulis: 
    author
    Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

    Posting Terkait