My Childhood Friend

38 views

“Rin..Arin!” aku menjulurkan kepalaku ke luar jendela, Dio melambaikan tangannya padaku. Aku mengangguk dan mengambil tas lalu turun kebawah.

“Dijemput Dio ya Rin?” aku mencium tangan Mama dan tersenyum semanis mungkin.

Mama mendesah pelan, “Ya udah hati-hati ya Rin,” aku menoleh dan mengangguk.

Aku menghampiri Dio yang menyender di pagar, “Ayo!” Dio tersenyum dan berjalan disampingku. Sudah jadi rutinitasku pergi dan pulang sekolah bareng Dio, apalagi semenjak Ayah meninggal 3 tahun lalu aku semakin dekat dengan Dio, teman masa kecilku. Bahkan dari TK sampai SMA kita selalu sekolah ditempat yang sama. Hingga orang-orang beranggapan dimana ada aku pasti ada Dio.

Awalnya Mama kurang yakin dengan rutinitasku ini, apalagi aku cukup sering pergi bareng Dio entah itu beli peralatan buat tugas, belanja, bahkan ke makam ayah tapi setelah aku berulang kali meyakinkan Mama bahwa Dio adalah orang baik-baik, Mama akhirnya mengizinkanku dengan beberapa syarat, salah satunya tidak boleh ada kontak fisik baik sengaja atau tidak. Untung Dio juga menyetujuinya saat aku memberitahunya.

Sempat beberapa kali teman-temanku menyinggung soal hubunganku dengan Dio, bahkan beberapa cowok di kelasku minta saran supaya hubungannya bisa langgeng.

“Iya Rin, awet banget sih kamu sama Dio engga bosen?” celetuk Ghina, yang lain mengangguk.

“Apaan sih?” sewotku, aku mengaduk-aduk jusku. Bete.

Lagi-lagi pertanyaan itu. Engga ada topik yang lain?

“Jangan-jangan kalian sebenernya pacaran ya?” tambah Kiki tiba-tiba.

Aku tersedak, “Engga lah! Aku juga udah janji engga akan pacaran kecuali nikah.”

Beberapa temanku mencibir, “Tuh kan, ujung-ujungnya bohong. Kalian cocok kok,”

Aku mendelik, “Aku udah janji, jadi hal itu engga akan mungkin oke?” ujarku dingin.

“Aku sama Dio juga cuma sahabat, engga akan pernah lebih. Oh iya nanti kita main bulu tangkis kan?” aku mengakhiri pembicaraan ini dan mengalihkan topik. Jujur aku paling malas kalo ada yang mempertanyakan hubungan aku dan Dio, kita itu cuma sahabat dan Dio memang teman masa kecilku. Jadi apa masalahnya kalo kita deket?

Aku berlari kecil ke pinggir lapangan, mencari tempat berteduh. Tanganku meraih apel yang kusimpan didalam tas kecil, apel yang di kasih Dio sebelum dia pergi ke kolam renang. Aku sibuk mengunyah apel sambil memperhatikan beberapa teman sekelasku yang bermain bulu tangkis di lapangan basket.  Aku menoleh saat Kiki duduk disampingku tangan kanannya menyerahkan sebotol air, aku mengambilnya dan tersenyum.

“Engga seru ya olahraga semester ini, “ ujar Kiki tiba-tiba. Aku mengangkat bahu.

“Tapi aku lebih suka gini kok, kita main bulu tangkis dan yang cowok ke kolam renang.”

Kiki menyenggol bahuku sambil berdecak, “Ah, kamu engga sepihak sama aku Rin,”

Aku tertawa kecil, “Kan harusnya kita emang terpisah kalo olahraga.”

“Iya deh, aku nurut aja sama orang alim,” ledek Kiki sambil mencubit pipiku. Aku meringis.

“Eh, kamu masih pulang bareng sama Dio?” aku terdiam dan mengangguk.

“Kenapa?” aku menoleh, Kiki hanya menggelengkan kepalanya. Acuh.

Kiki langsung berdiri dan berkacak pinggang, tiba-tiba dia menatapku dan menyeringai. Aku mengangkat sebelah alisku. Bingung. “Main bulu tangkis yuk!” Kiki langsung menarik tanganku ke lapangan.  “Apelnya gimana?” aku menatap apel di genggamanku, Kiki hanya tertawa lepas menanggapi pertanyaanku. Usai pelajaran olahraga, aku dan Kiki berjalan ke kelas Biologi.

Saat melewati ruang guru, aku sempat melihat Dio sedang sibuk memohon-mohon ke Pak Hadi. ‘Pasti nilai fisika lagi,’ batinku, mataku tidak bisa lepas dari sosoknya sampai aku belok ke lorong. Tiba-tiba saja aku teringat ajakan Dio beberapa hari yang lalu, aku belum menjawabnya. “Ah, tanya Kak Nawal aja deh,” gumamku pelan tanpa sadar aku mulai bersenandung, Kiki tiba-tiba menjaga jarak raut manatapku aneh, seolah-olah aku makhluk dari planet lain.

Saat bel istirahat berbunyi aku berlari menyusuri lorong menuju kelas Kak Nawal, salah satu mentor kesayanganku. “Kak Nawal?” seruku sambil membuka pintu kelas, semua langsung menatapku heran. Aku gelagapan, “Kak Nawal ada?” tanyaku pelan.

“Oh..dia di musola.” jawab Kak Nisa, teman baik Kak Nawal.

“Makasih Kak Nis!” aku kembali berlari ke arah musola.

“Rin!” langkahku langsung terhenti, Dio memegang lenganku aku langsung berdehem. Mengingatkan. Muka Dio memerah, “So..sorry,” dia buru-buru melepas lenganku. Dio mengusap belakang kepalanya gugup, aku memiringkan kepalaku. Heran. Ada yang aneh sama Dio.

“Ee..Kamu mau kemana? Kok sampe lari-lari gitu?”

“Hahaha biasa aku mau curhat ke Kak Nawal.” ujarku sambil bersedekap.

“Kenapa engga ke aku?” Dio pura-pura merenggut sambil melirikku.

“Karena kamu teman masa kecilku?” godaku sambil tersenyum lebar. Dio mengangguk mantap.

“Rin?” aku dan Dio langsung menoleh ke sumber suara. Kak Nawal.

“Ah..” aku mengangguk dan memberi kode ke Dio untuk pergi, Dio tersenyum dan pergi.

Kak Nawal tersenyum manis, “Mau ke musola aja?” aku mengangguk.

Aku mengibaskan-ngibaskan kerudung putihku pelan, siang ini benar-benar panas untung saja di dekat musola banyak pohon jadi hawa disini lebih sejuk. Aku paling nyaman ditempat ini.

“Jadi, mau cerita apa kali ini?” Kak Nawal mengawali pembicaraan.

“Itu kak, beberapa hari yang lalu Dio ngajak aku ke toko buku di deket persimpangan .”

Aku menarik nafas, “Aku bingung harus jawab apa, soalnya aku engga ada perlu sih tapi aku juga engga enak kalo nolak. Dio terlalu sering nemenin aku kalo aku pergi kemana-mana dan rasanya aku kayak punya bodyguard gitu hehehe..” aku cengengesan sambil menatap Kak Nawal yang hanya bisa tersenyum tipis.

“Kalau kakak, lebih suka kalo kamu engga terlalu deket sama Dio. Kakak tau kalian teman dari kecil, bahkan sampai sekarang kalian sekolah di tempat yang sama, tapi Rin ini bukan masalah perasaan Dio kalo kamu nolak ajakannya, ini masalah harga diri kamu.” mata Kak Nawal menerawang ke langit. Aku iku menatap langit, merenung.

Aku menghembuskan nafasku berat, “Harga diri?” tanyaku pelan.

“Iya, harga diri kamu sebagai muslimah Arin..” Kak Nawal menepuk pudakku.

“Tapi kita cuma temenan kok kak, engga sampe pacaran.” Aku berusaha berkilah.

“Susah tau Rin punya sahabat cowok itu, apalagi kalian udah berteman dari kecil.”

“Buktinya aku engga pernah ngerasa suka sama Dio,”

Kak Nawal menatapku gemes, “Lalu Dio? Gimana perasaannya?”

“Mm..engga mungkin deh kayaknya, soalnya Dio juga cuma anggep aku kayak adiknya.”

Alis Kak Nawal bertaut, “Rin..”

“Iya, iya, iya kak aku tau dan aku paham. Kalo misalkan aku atau Dio punya perasaan lebih, aku bakalan ngejauh dan mutusin hubungan ini. Walaupun aku yakin, hal itu engga akan terjadi,” aku mengacungkan jempolku dan tertawa kecil, Kak Nawal hanya tersenyum dan pasrah dengan ucapanku.

“Lagian, aku juga udah janji sama kakak dan mama kan? Aku engga akan pacaran kecuali nikah,”

“Iya, terserah deh, itu kan pilihan yang harus kamu pertanggung jawabkan nanti,”

Aku memeluk Kak Nawal girang dan sebelum berpisah Kak Nawal sempat berbisik di telingaku.

“Kakak harap kamu akan menemukan sahabat yang sesungguhnya Rin,”

Beberapa hari kemudian Dio menjemputku dengan mobilnya, aku memutuskan untuk menerima ajakannya. Setelah pamit dengan mama, mobil Dio melaju membelah jalan. Terlihat beberapa awan menggantung di langit, perlahan-lahan bergerak beriringan. Aku langsung turun setelah Dio memarkirkan mobilnya.

“Waahh..” aku terkagum-kagum melihat berderet-deret buku tersusun rapi.

Di sebelah kanan dan kiri ada banyak kursi dan meja berjejer seperti di kafe. Ditengah ruangan ada tangga dari kayu untuk ke lantai 2. Setelah beberapa menit menyusuri setiap celah, aku baru inget sama Dio, padahal dia yang pengen kesini tapi malah aku yang justru asik keliling.

“Dio?” aku menoleh kebelakang. Celingak-celinguk.

“Dio kemana ya?” gumamku pelan sambil berjalan.

Saat melewati sebuah rak buku, aku mendengar suara Dio dibaliknya. Begitu aku mau memanggil namanya , aku mendengar suara yang lain. Kiki. Perlahan-lahan aku mengintip lewat jejeran buku-buku, ‘Beneran Kiki,’ pikirku. Tapi kenapa dia bisa ada disini ya? Telingaku pun sibuk menguping pembicaraan mereka. Ternyata Dio curhat ke Kiki.

Aku tersentak kaget saat Dio cerita tentang perasaannya, jantungku mulai berdegup kencang, ‘Apa maksudnya?’ batinku. Aku mengigit bibir bawahku, aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Suara Dio kembali terdengar. Aku membekap mulutku pelan, mataku mulai memanas. Tanpa sadar aku berlari keluar dan naik bis, pulang ke rumah. Selama perjalanan aku hanya bisa menutup mukaku, menahan agar air mataku tidak jatuh.

Sesampainya di rumah, aku langsung memeluk Mama dan menangis keras meluapkan semuanya lewat tangisan, bibirku belum sanggup mengatakan apapun. Mama memelukku lebih erat, naluri seorang ibu. Hingga aku agak tenang, baru Mama menatapku. Meminta penjelasan.

“Aku harus ngejauh dari Dio Ma,” ujarku tiba-tiba, suaraku agak bergetar.

Mama mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Karena aku udah berjanji sama Kak Nawal, kalo misalkan aku atau Dio punya perasaan yang lebih aku bakalan ngejauh dan putus hubungan. Kupikir hal itu engga akan mungkin, tapi Dio..ternyata dia suka sama aku Ma dan aku harus nepatin janjiku.” Mama menggenggam tanganku lembut.

“Aku kira, aku bisa mempertahankan persahabatan ini tapi Kak Nawal bener Ma, aku yang salah aku yang tidak bisa menerima kenyataan.”

Air mataku mulai menetes lagi. Mama akhirnya memelukku lagi.

“Move on ya Rin? Kamu kan sudah bertekad akan berubah saat Ayah dimakamkan,”

“Iya Ma, maaf Arin udah maksa Mama nerima kehadiran Dio disamping Arin,”

“Engga apa-apa Rin, mungkin sudah saatnya kamu mencari sahabat yang sebenernya, sahabat yang akan selalu mendukung setiap jengkal perjuanganmu unuk bisa menjadi muslimah sejati, sahabat yang bisa menarikmu kembali saat imanmu turun, sahabat yang mendorongmu agar berjuang bersama dunia dan akhirat. Sahabat sesungguhnya.”

Mataku semakin berkaca-kaca, “Makasih Ma,” lirihku. Malam itu aku menjelaskan semua ke Dio dan mulai malam ini hingga kedepannya aku tidak mau berhubungan lagi dengan Dio. Saat aku mau berterima kasih karena sudah menjagaku nomer Dio sudah tidak aktif, aku yakin Dio pasti kecewa tapi inilah keputusanku dan aku berdoa dari lubuk hatiku yang sedang menangis, kalau pilihanku ini akan membuat aku dan Dio bahagia.

Akhirnya aku memutuskan pindah sekolah dan tinggal bersama tanteku di Kudus. Berusaha melepas sosok Dio dan mencari sahabatku yang sebenarnya, seorang sahabat yang benar-benar sahabat. Waktu terus bergulir, perubahanku juga semakin terlihat apalagi aku juga melanjutkan kuliah di Yogya, banyak sekali yang mendukung perubahanku apalagi beberapa orang terdekatku

Usai acara wisudaku, aku kembali ke Bogor. Mama sudah menyambutku di bandara, saat melihat sosokku yang baru Mama menangis terharu dan memelukku, dibelakang Mama tiba-tiba Kak Nawal muncul bersama seseorang tapi yang membuatku terkejut seseorang itu adalah Rifa, salah satu sahabatku di Kudus yang berperan besar dalam perubahanku juga ada di bandara.

“Hehehe..kaget ya? Aku sepupunya Mbak Nawal,” ujar Rifa saat aku memeluknya.

Kak Nawal berdecak kagum, “Wah, Arin sekarang beda ya?” aku tersipu malu.

“Iya dong, siapa dulu temen seperjuangannya di Kudus.” Rifa langsung merangkulku.

Aku hanya bisa tertawa sambil memukul bahu Rifa pelan, kita berempat berjalan bersama ke tempat parkir. Tapi saat melewati pintu masuk bandara, aku berpapasan dengan seseorang yang memakai topi hitam dan jaket abu-abu. Langkahku sempat terhenti dan aku menoleh ke belakang,

“Makasih Dio!” ujarku pelan, aku kembali berbalik dan keluar dari bandara.

Akhirnya bebanku mulai terasa ringan, kata-kata yang belum sempat kulontarkan padanya waktu itu bisa kukatakan sekarang. Aku bisa bebas menoleh ke masa lalu, mengoreksi diri dan berjuang untuk berubah bersama semua sahabatku. Mungkin masih membutuhkan waktu yang banyak untuk berubah, tapi jika dilakukan bersama akan jauh lebih mudah dan ringan kan?

#Untukmu, seseorang yang sempat singgah dalam hidupku dimana pun kamu berada sekarang aku akan mendoakan kebahagiaanmu :v

#Maaf jika konflik dan klimaksnya terlalu cepat ambil hikmahnya aja ya.. ^^ salam ZulfanaK (1 SMA Pesantren Media)

Penulis: 
    author

    Posting Terkait