Muhaira’s Diary: Melancong ke Jakarta

169 views

# Ahad, 30 November 2014

Akhir bulan ini penulis melancong ke Jakarta. Emm, bukan melancong sih, penulis menemani Teh Junnie Nisfiyanti untuk mengikuti seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Jakarta Timur. Kabarnya, seleksi akan dilaksanakan jam 09.40 WIB. Satu jam sebelumnya peserta harus sudah datang untuk melakukan registrasi. Awalnya kami akan berangkat jam 6 pagi. Tapi jam segitu penulis belum selesai mengikuti pelajaran Tahfidzul Quran. Pulang dari pelajaran Tahfidzul Quran, penulis buru-buru ke PM. Teh Yuni sudah menunggu di sana. Penulis belum sempat sarapan. Untung, masih ada waktu untuk pergi ke warung. Akhirnya penulis makan roti isi coklat di mobil. Sekitar jam setengah 7 kami berangkat menggunakan mobil Panther yang dikemudikan oleh Kak Farid. Melahap roti isi coklat sambil menikmati pemandangan di luar mobil rasanya semakin nikmat. Yummy!

Ujian akan dilaksanakan di Gedung Badan Kepegawaian Negara Regional V, Ciracas, Jakarta Timur. Sebelumnya kami tidak pernah datang ke daerah itu. Sepanjang perjalanan, Teh Yuni bertanya kepada Teh Oppie mengenai rute jalan. Teh Oppie adalah saudara perempuannya. Kami sempat kebingungan. Akhirnya kami bertanya kepada petugas kebersihan dan pengendara motor yang ada di pinggir jalan. Setelah dapat info, kami langsung tancap gas. Melewati jalan demi jalan juga pasar.

Jam terus berputar. Udara semakin panas. Tapi kok belum sampai juga ya?

“Ra, coba cari di sebelah kiri. Nama tempatnya Gedung Badan Kepegawaian Negara Regional V. Aku cari di sebelah kanan.” Kata Teh Yuni. Penulis mengarahkan pandangan ke kiri jalan. Menurunkan kaca mobil, melihat bangunan demi bangunan. Teh Yuni mengarahkan pandangan ke kanan jalan. Berharap Gedung Badan Kepegawaian Negara Regional V segera kami temukan. Namun, kami belum juga menemukannya.

“Hey, itu tempatnya!” Seru Teh Yuni. Kak Farid menghentikan laju mobil Panther. Ternyata Gedung Badan Kepegawaian Negara Regional V ada di sebelah kanan jalan. Kami sampai sekitar jam 8 pagi. Kami mulai memasuki area tersebut. Menuju tempat parkir. Sepengamatan penulis, lahan parkir di sana kurang luas. Mobil Panther terpaksa diparkir di dekat pintu gerbang masuk. Satpam di sana meminta sopir kami untuk tetap berada dekat mobil Panther. Supaya sewaktu-waktu mobil kami bisa dipindah jika mobil truk masuk. Sedang ada proyek pembangunan di sekitar Gedung Badan Kepegawaian Negara Regional V. Mobil truk yang dimaksud adalah yang mengangkut bahan bangunan. Kemudian penulis dan Teh Yuni pergi ke tempat registrasi.

Tempat registrasi berada tepat di halaman depan gedung. Kursi dan meja tertata tak jauh dari pintu masuk gedung. Bunga-bunga hias di atas meja. Para panitia duduk di kursi. Monitor di sebelah kanan dan kiri meja. Di seberang tempat panitia telah disediakan kursi bagi peserta seleksi. Sebagian besar kursi telah diduduki. Kurang lebih ada 40 peserta. Untung, masih ada yang kosong. Penulis dan Teh Yuni duduk di sana. Penulis melihat ke sekeliling. Peserta laki-laki terlihat rapi memakai kemeja, celana panjang dan sepatu. Mayoritas peserta perempuan memakai kerudung meskipun tidak berjilbab. Kisaran usia mereka di atas 20 tahun. Penulis menjadi yang termuda di sana. Hehe

Matahari semakin tinggi. Udara bertambah panas. Semakin banyak peserta yang datang. Penulis kira, pesertanya sedikit. Ternyata kata Teh Yuni pesertanya mencapai 2000 orang. Weleh, weleh, ternyata saingan Teh Yuni banyak juga. Peserta dibagi menjadi beberapa sesi. Kurang lebih ada 27 orang persesi. Teh Yuni ujian pada sesi kedua. Sekarang, sesi pertama sedang berlangsung. Kami masih menunggu di tempat duduk.

Sesi pertama selesai sekitar jam 09.30 WIB. Para peserta berhamburan ke luar meninggalkan ruang ujian. Mereka mendekati monitor. Ternyata hasilnya langsung keluar di monitor itu. Ada tiga jenis tes yaitu tes wawasan kebangsaan, tes inteligensia umum dan tes karakteristik pribadi. Peserta yang mendapat nilai tinggi dinyatakan lulus. Mereka pun bersuka cita. Tapi ini belum menentukan apakah mereka lolos atau tidak. Hasilnya akan ditentukan setelah semua sesi selesai ujian. Peserta yang lulus di sesi pertama menjadi tidak lolos jika di sesi berikutnya ada yang lebih tinggi.

Tiba saatnya peserta sesi dua untuk ujian. Teh Yuni mengambil alat tulis kemudian pergi ke ruang ujian. Sementara penulis menunggu di luar. Peserta yang nantinya lolos akan ditugaskan di kementrian lingkungan hidup sebagai perencana pertama atau penyusun modul dan kurikulum. Penulis sempat heran sih, kenapa Teh Yuni mau mengikuti seleksi tersebut. Sejak kapan Teh Yuni mau menjadi PNS?

“Nyari pengalaman aja, Ra. Pengen tahu gimana rasanya jadi PNS.” Kurang lebih itulah jawaban Teh Yuni. Teh Yuni termasuk yang peduli dengan lingkungan. Maka tak aneh jika memilih kementrian lingkungan hidup. Ohya, Teh Yuni adalah alumni SMAKBO (Sekolah Menengah Analisis Kimia Bogor).

Penulis masih menunggu di luar. Bosan. Akhirnya penulis memutar MP3 sambil membaca novel. Tapi tetap saja. Silau cahaya matahari membuat penulis tak kuat berlama-lama membaca lembar demi lembar novel. Melihat ke sekeliling. Peserta sesi tiga sudah berdatangan. Beberapa ada yang didampingi orangtuanya.  Eh, ada juga peserta yang reunian. Mereka berjumlah 4 orang. Entah teman angkatan semasa kuliah atau SMA. Yang jelas, mereka terlihat akrab dan bahagia.

Jam 11.00 WIB. Akhirnya Teh Yuni selesai ujian. Setelah melihat hasil ujian di monitor, buru-buru Teh Yuni mengajak penulis pergi ke mobil Panther. Kemudian kami bersiap  pulang ke Bogor.

“Gimana Teh ujiannya?” Tanya penulis sesaat setelah kami naik ke mobil.

“Tadi udah selesai ngisi soal, aku pengen cepet-cepet keluar. Yang susah tes wawasan kebangsaan karena nggak memahami tentang sejarah Indonesia.” Jawabnya. Meskipun begitu, Teh Yuni termasuk peserta yang lulus. Ke depannya tinggal menunggu kabar siapa saja peserta yang lolos. Di lain sisi Teh Yuni merasa senang karena telah uji kemampuan dan bersaing dengan ribuan orang.

Perjalanan pulang

Pulang ke Bogor kami melewati jalan tol. Sepanjang perjalanan, penulis merasa udara di luar dingin. Lebih dingin dari biasanya. Mobil Panther bergoyang. Rasanya semua yang ada di dalamnya ikut bergoyang. Padahal kecepatannya masih wajar. Kami pun keheranan. Masya Allah, ternyata di luar angin berhembus dengan kencang. Pepohonan di pinggir jalan bergerak. Dedaunan bergerak mengikuti arah angin. Beberapa ada yang tumbang. Spanduk dan baliho pun sama. Mungkin karena itulah mobil Panther bergoyang. Semakin lama angin semakin kencang. Serem juga lihat pohon besar kena angin. Whoaa, dingin.

Adzan Zhuhur sudah berkumandang. Kami memutuskan untuk sholat di Masjid Agung dekat Pasar Anyar. Kak Farid memarkirkan mobil Panther. Namun, tiba-tiba saja remnya blong. Astaghfirullah. Kami kaget seketika. Teh Yuni kaget bukan main. Untungnya, mobil sudah diparkirkan. Entah bagaimana nasib kami jika hal ini terjadi saat kami masih di jalan tol.

Usai sholat penulis makan siang di area depan masjid. Ummi Lathifah sudah memberi bekal makan siang untuk kami. Nasi putih, nugget ayam plus sambal terasi. Nyam, nyam! Hanya penulis yang makan di sana. Teh Yuni merasa kenyang karena sudah makan saat di perjalanan. Alhamdulillah… terima kasih ya Allah atas nikmat-Mu ini.

Mampir ke Pasar Anyar

Perjalanan kami belum usai. Penulis dan Teh Yuni pergi menjelajahi Pasar Anyar. Seperti biasa, pasar ramai dengan penjual dan pembeli. Ditambah suara klakson kendaraan yang bising dan membuat pusing. Kaki terus melangkah. Tibalah kami di toko furniture. Teh Yuni masuk ke dalamnya. Penulis memutuskan menunggu di luar. Toko itu dikunjungi banyak pembeli terutama kaum ibu. Tempatnya sih tidak terlalu besar. Tapi dipenuhi perabotan rumah tangga. Terbukti, para pembeli berdesakan. Ada yang keluar, ada juga yang masuk. Ada yang sibuk memilih perabotan. Pegawai toko sibuk melayani pembeli. Mengambil perabotan dan mengikatnya dengan tali agar mudah dibawa.

Cukup lama Teh Yuni berada di dalam toko. Penulis jadi bosan. Beberapa menit kemudian Teh Yuni  keluar. Akhirnya. Beliau membeli payung dan alat-alat kebersihan. Kaki kembali melangkah menuju mobil Panther. Eits, gimana kabar mobil itu ya? Apa remnya masih blong? Aduh, penulis dan Teh Yuni jadi khawatir begini. Bisa gawat kalo masih blong.

Tiba di area parkir Masjid Agung. Kak Farid tidak ada di dalam mobil. Kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya Penulis dan Teh Yuni menunggu di bawah pohon.

Inna lillaah… ternyata remnya masih blong. Berkali-kali dicoba, tetap saja. Rem sudah diinjak tapi mobil masih berjalan. Tapi beberapa saat kemudian rem berfungsi kembali. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Rasa takut dan khawatir masih menyelimuti. Mobil Panther berjalan dengan pelan.

Ternyata mobil Panther…

Tiba di komplek daerah Paledang. Astaghfirullah, remnya tidak berfungsi lagi. Remnya blong! Kami memutuskan untuk berhenti.   Kak Farid dan Teh Yuni turun dari mobil mencoba mengecek bagian depan mobil. Ternyata oli mobil habis. Dengan segera, Teh Yuni mengambil oli cadangan di dalam mobil. Penulis ikut turun dari mobil. Kak Farid mencoba mengecek apakah remnya masing blong atau tidak. Hasilnya nihil. Sementara hari semakin sore. Adzan Asar pun telah berkumandang. Penulis dan Teh Yuni pergi mencari masjid terdekat. Ya Allah, tolonglah kami…

Sore itu tidak ada satu pun bengkel yang buka di sekitar komplek Paledang.  Teh Yuni menghubungi kerabat dekat dengan harapan bisa menolong kami. Termasuk menghubungi Musa. Teh Yuni terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah. Regu penolong tak kunjung datang. Kami seperti terlantar. Lalu lalang kendaraan yang melintas di dekat kami tak memberi respon apapun. Termasuk orang-orang yang lewat. >_<

Kabar gembira pun tiba. Akhirnya Musa datang ditemani Anam. Mereka mengendarai sepeda motor. Musa mengecek mobil. Setelah diteliti ternyata selang oli mobil bocor sepertinya digigit tikus. Oli yang tadi kami isi berceceran. Kini tidak ada lagi oli yang tersisa. Dengan keahlian yang dimiliki, Musa mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Sementara Anam pergi mencari bengkel untuk membeli oli. Teh Yuni dan Kak Farid memperhatikan apa yang Musa lakukan. Sesekali mereka membantu. Penulis hanya melihat mereka dari belakang mobil. Penulis bingung, apa yang harus dilakukan.

Akhirnya, oli kami dapatkan. Musa, Anam dan Kak Farid melanjutkan memperbaiki mobil. Penulis dan Teh Yuni pergi mencari warung terdekat untuk membeli obat dan air minum. Teh Yuni merasa sedikit pusing. Di sana Teh Yuni bertanya kepada pemilik warung mengenai bengkel terdekat. Ternyata bengkel-bengkel sudah tutup.

Saat kami kembali, mobil Panther sudah diparkirkan di pinggir jalan raya. Hingga menjelang Maghrib, kami masih terjebak di sana. Musa masih sibuk memperbaiki. Penulis dan Teh Yuni semakin khawatir.

Angin berhembus lumayan kencang. Sang mentari kian menepi ke Barat. Kilau sinarnya perlahan redup. Muncullah awan merah di langit. Hari kian gelap. Penulis dan Teh Yuni berdiri di trotoar jalan, memperhatikan Musa yang masih berusaha. Anam dan Kak Farid pergi mencari toilet. Adzan Maghrib pun berkumandang.

Hingga adzan berlalu kami masih dalam keadaan sama. Musa meninggalkan penulis dan Teh Yuni. Entah ia mau pergi kemana. Anam dan Kak Farid tak juga kembali. Tinggalah penulis, Teh Yuni dan mobil Panther berdiam diri di pinggir jalan. Ya Allah, tolonglah kami…

Entah, apa yang Musa dapatkan setelah ia pergi. Yang jelas, ia kembali mengurusi mobil Panther. Teh Yuni memperhatikannya cara Musa bekerja. Sesekali Teh Yuni membantu memberi penerangan menggunakan senter HP. Anam dan Kak Farid datang.

Alhamdulillah, Musa telah selesai menangani mobil Panther. Untuk sementara ini mobil bisa diatasi. Akhirnya kami bisa pulang. Kami sholat Maghrib di Masjid Nurul Amal.

[Siti Muhaira, santriwati kelas 3 jenjang SMA, Pesantren Media]

diary jakarta mobil panther Siti Muhaira ujian

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait