Kisah Panjang di Liburanku

475 views

^_~2990Setelah berlibur ke Curug Luhur tanggal 5 Oktober lalu, Pesantren Media kini kembali mengadakan liburan. Liburan merupakan salah satu hal yang paling ditunggu oleh kebanyakan santri Pesantren Media. Setiap kali membicarakan tentang liburan, mereka langsung senang dan bersemangat. Ketika ditanya oleh Ustadz Umar ingin berlibur kemana , banyak santri memilih untuk pergi ke Puncak. Ada juga yang mengusulkan pergi ke Masjid Atta’awun. Usul itu diterima oleh Ustadz Umar. Rencananya selain mengunjungi Masjid Atta’awun, kami juga akan pergi ke Bendungan Katulampa, Puncak Pass, Kebun teh dan tempat Paralayang. Dalam menentukan hari , sempat terjadi perbedaan. Ada yang ingin pergi hari Senin, Selasa, dan Rabu. Tetapi Ustadz Umar mengatakan kami boleh pergi selain hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Setelah melalui proses dan pertimbangan akhirnya beliau memilih pergi pada hari Rabu, 12 Desember 2012.

Satu hari menjelang hari-H, tepatnya hari Selasa pukul 8 malam semua santri berkumpul di ruang Perpustakaan. Tujuannya adalah untuk membahas masalah liburan. Seperti di paragraf awal ada lima tempat yang akan dikunjungi. Bendungan Katulampa, Masjid At-ta’awun, Puncak Pass, Kebun teh dan Paralayang. Rencananya kami akan berangkat  pukul 07.00 WIB. Soal biaya, Ustadz Umar  hanya meminta kami untuk membayar Rp 10.000. Masalah transportasi, kami menggunakan dua mobil. Satu mobil Panther biru milik Ustadz Umar dan satu lagi mobil Avanza milik Pak Demono. Pak Demono adalah kakak kandung dari istri Ustadz Umar yaitu Ustadzah Ir. Lathifah Musa. Hanya santri yang sehat saja yang dibolehkan untuk ikut. Bagi yang sakit terpaksa harus tinggal di Pesantren. Semua santri yang ikut diwajibkan untuk membawa payung, jaket, kamera, HP, perlengkapan sholat, baju ganti, topi, alat tulis, dan minuman. Pelajaran pertama seusai sholat subuh tetap dilaksanakan. Nah, itulah informasi yang disampaikan oleh Ustadz Umar. Beliau juga meminta agar santri tidak tidur terlalu malam.

Hari Rabu pun tiba. Santri SMA akhwat bangun lebih pagi yaitu sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah mandi, sholat Tahajjud dan Wittir, beberapa santri menyiapkan barang bawaannya. Karena adzan sudah berkumandang kami pun pergi ke Masjid Nurul Iman. Masjid yang biasa kami datangi untuk sholat dan  belajar. Selesai sholat, kami berkumpul di hadapan Ustadz Rahmatullah untuk memulai pelajaran yang pertama yaitu berdzikir. Ternyata kami hanya membaca al matsurat saja. Tidak seperti biasanya selesai berdzikir ada tafsir, muraja’ah, muhadhasah dan game. Para santri  kemudian pulang ke Pesantren.

Di Pesantren aku memeriksa kembali barang bawaanku. Payung, jaket, alat tulis, HP, minuman, perlengkapan sholat, baju ganti, dompet, dan camilan untuk di perjalanan nanti. Tak lupa aku menambahkan kaos kaki berwarna coklat muda ke dalam ransel. Itu sebagai cadangan karena siapa tahu saja  kaos kaki yang aku pakai  kotor. Santri SMA lain juga ikut memeriksa kembali ranselnya. Ada juga yang baru memasukkan  barang bawaan ke dalam ransel.

Pukul 06.30 WIB adalah jadwal kami sarapan pagi. Hari ini adalah giliran kelompokku yang piket mengantar cucian kotor. Yang bertugas piket adalah aku, Via, Maila dan Rani. Kami sempat kebingungan apakah akan sarapan atau mengantar cucian terlebih dahulu. Akhirnya Via memutuskan untuk sarapan dulu. Setelah sarapan baru kami mengantar cucian ke Rumah Media. Semua santri berkumpul di Perpustakaan. Ustadz Umar akan memberikan instruksi sebelum berangkat. Ternyata ada perubahan schedule. Pertama, kami pergi ke Sungai Ciliwung. Lalu ke Bendungan Katulampa, Masjid At-ta’awun, kebun teh dan paralayang. Sayangnya beliau memutuskan untuk tidak jadi pergi ke Puncak Pass.

Jam sudah menunjukan pukul 07.00 WIB,tetapi kami belum berangkat. Masih ada santri yang belum datang ke Pesantren. Kami pun harus menunggu. Ustadz Umar membagi santri menjadi empat regu. Regu ikhwan, akhwat SMP, dan dua regu akhwat SMA. Regu akhwat SMA dipimpin oleh Via dan Teh Dini. Aku, Ica, Holifah dan Teh Novi ikut regu Via. Sisanya yaitu Neng Ilham, Maila dan Rani ikut  Teh Dini. Ketua regu diminta untuk memeriksa kembali barang bawaan anggotanya.

Sekitar pukul 07.30 WIB kami berangkat. Karena hanya ada dua mobil,  jadi kami harus pintar-pintar membagi posisi duduk. Sebenarnya Ustadz Umarlah yang membagi dan menentukan  tempat duduk. Pertamanya aku ditempatkan di mobil Panther biru bersama  santri akhwat SMP dan ikhwan. Namun, karena sempit aku dipindahkan ke mobil Avanza. Dan beruntungnya aku duduk di kursi depan bersama Fatimah. Tempatnya cukup nyaman dan aku bisa melihat langsung ke depan jalan. Setelah semua santri selesai diatur kami pun berangkat. Bismillahirrahmanirrahiimi.

Eksotisnya Sungai Ciliwung dan Bendungan Katulampa

Sesuai dengan schedule, tempat pertama yang akan kami datangi adalah Sungai Ciliwung. Sungai ini berada di dekat Lapangan Sempur. Kesan pertamaku saat melihat sungai itu adalah biasa-biasanya saja. Tapi ketika melihat lebih detail lagi, ternyata banyak sampah juga. Menurut informasi sungai itu juga dijadikan sebagai MCK. Airnya tidak sekeruh yang aku bayangkan. Banyak terdapat batu-batu baik dipinggir maupun di tengah sungai. Tak bisa dibayangkan apabila sungai ini meluap. Kemudian aku bersama reguku berjalan mengamati keadaan sekitar.  Di Lapangan Sempur banyak siswa yang sedang olahraga seperti lari mengelilingi lapangan. Ada juga yang bermain basket. Di sini  juga terdapat sarana panjat tebing. Setelah dilihat, lumayan tinggi juga. Karena ini unik, aku dan santri lain tak lupa untuk memotretnya. Semua santri juga berfoto bersama tentunya dengan fose yang berbeda-beda. Kami tertawa saat melihat Taqi dan Abdullah berusaha untuk memanjat tebing buatan itu. Selama 10 menit kami berada di tempat ini. Kemudian kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Bendungan Katulampa.

Di sepanjang perjalanan aku mengamati keadaan sekitar. Dari jendela mobil aku melihat di arah kiriku ada sungai kecil. Ini berarti tak lama lagi kami akan sampai di Bendungan Katulampa. Di pinggir sungai ada hal yang menarik perhatian kami. Apa kalian tahu? Ustadz Umar bilang itu adalah studio foto. Sementara santri akhwat menyebutnya photo box. Sebenarnya itu adalah  WC umum.  Berbeda dengan WC umum yang dibuat dan dibatasi oleh tembok dari semen, tempat itu justru hanya ditutupi oleh plastik berwarna biru tua dan beberapa bambu. Seperti yang banyak ditemukan di tepi sungai daerah pedesaan atau perkampungan. Beberapa menit kemudian kami sampai di Bendungan Katulampa. Ustadz Umar dan Musa memarkirkan mobil di dekat Pos Pemantauan sungai Ciliwung. Kemudian semua santri turun dari mobil. Ustadz Umar memberikan waktu 20 menit kepada santri untuk mengamati dan memotret tempat ini.

Bendungan Katulampa adalah bangunan yang terdapat di Kelurahan Katulampa, Kota BogorJawa Barat. Bangunan ini dibangun pada tahun 1911 dengan tujuan sebagai sarana irigasi.  Lahan seluas 5.000 hektar  yang terdapat pada sisi kanan dan kiri bendungan. Saluran irigasi dari bendungan ini mempunyai kapasitas maksimum sekitar 6.000 liter perdetik. Fungsi lain dari bendungan Katulampa adalah sebagai sistem informasi dini terhadap bahaya banjir Sungai Ciliwung yang akan memasuki Jakarta. Data mengenai ketinggian air di bendung Katulampa ini memperkirakan bahwa sekitar 3 – 4 jam kemudian air akan sampai di daerah Depok. Selanjutnya di Bendungan Depok ketinggian air dipantau dan dilaporkan ke Jakarta sehingga masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar aliran sungai Ciliwung sudah dapat mengantisipasi sedini mungkin datangnya air banjir yang akan melewati daerah mereka.

Nah, itulah tadi sekilas info mengenai Bendungan Katulampa. Ya, balik lagi. Aku bersama reguku berjalan ke dekat Pos Pemantauan. Ada tugu kecil bertuliskan ‘Bendung Ciliwung Katulampa BCK. 0’. Kemudia kami beranjak ke Jembatan yang aku tidak tahu namanya. Jembatan itu ukurannya cukup panjang. Tepatnya aku tidak tahu berapa. Dari atas jembatan kami bisa lebih dekat dan jelas melihat bendungan. Di Jembatan ini juga terdapat alat pengukur ketinggian air.  Ini adalah pertama kalinya aku melihat alat itu. Aliran air saat itu tidak deras. Ketinggiannya saja hanya 10 cm. Aku lihat batas maksimum ketinggian air adalah 250 cm. Aku membayangkan bagaimana jika ketinggiannya sampai 250 cm. Pasti menyeramkan. Aku lihat di Internet ketika alirannya deras warna airnya coklat tua. Itu berarti Jakarta harus waspada. Setelah selesai memotret dan mengamati Bendungan Katulampa, kami kembali ke mobil.  Sayangnya aku tidak sempat wawancara dengan petugas pemantauan. Kami pun melanjutkan kembali perjalanan.

Menuju Puncak

Rute selanjutnya adalah ke Puncak dan Masjid Atta’awun. Ternyata perjalanan ke sana ada kendalanya juga. Saat di perjalanan, mobil Avanza yang kami naiki kena tilang polisi. Kami pun kaget dan cemas. Apa kalian tahu kenapa kami bisa ditilang? Itu karena kursi depan mobil ditempati oleh dua orang. Yang duduk di kursi itu adalah aku dan Fatimah. Polisi bilang hari itu sedang operasi zebra dan kursi depan tidak boleh ditempati oleh dua orang. Ustadz Umar terpaksa ke luar mobil dan menemui polisi. Setelah menemui polisi beliau mengatur kembali tempat duduk kami. Aku dan Fatimah duduknya jadi di tengah sedangkan Maila pindah ke kursi depan.

Bagaimana dengan mobil yang dikemudikan Musa? Ustadz Umar berharap mobil itu terus melaju dan tidak kena tilang. Apalagi Musa tidak memiliki kartu SIM dan pajak mobil Panther juga sudah mati. Kami sangat khawatir. Mobil Panther berhasil melaju melewati mobil kami. Awalnya kami lega. Tapi ternyata mobil itu juga kena tilang. Kami pun cemas, bingung semuanya campur  aduk. Bagaimana keadaan mereka? Musa, bagaimana dengan dia? Dia kan tidak punya kartu SIM? Itulah segelintir pertanyaan yang ada di benak kami. Untungnya Holifah segera menelfon Via. Kami pun menanyakan pertanyaan tadi. Via bilang mereka baik-baik saja. Bahkan saat itu mereka sedang asik makan camilan. Menurut penjelasan dari Via, polisi menanyakan kartu SIM kepada Musa. Namun dengan gaya santai khasnya, Musa menjawab bahwa kartu SIMnya hilang. Berkat kecerdikan Musa dan santri ikhwan lain akhirnya mereka hanya ditilang Rp 20.000. Lain dengan mobil Avanza yang aku naiki. Polisi menilang  Rp 250.000. Namun karena di dalam dompet Ustadz Umar hanya ada 200 ribu, jadi hanya sebesar itu yang diberikan. Berbeda 10 kali lipat, kan?

Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Sekarang kami memasuki tol Jagorawi (Jakarta, Bogor, Ciawi). Ternyata di sini macet. Tak hanya di tol Jagorawi, di luar Tol juga macet. Ditambah suara klakson yang mengganggu telinga kami. Semrautnya jalan. Mobil angkot yang mengambil alih setengah bagian jalan hingga membuat kemacetan. Bus jurusan Sukabumi yang salah mengambil jalan dan melaju lambat karena menunggu penumpang. Membuat suasana tidak nyaman. Tapi terlepas dari itu semua, setelah memasuki kawasan Puncak perasaanku berubah 90°.  Seperti yang sudah diketahui kawasan Puncak itu udaranya dingin dan sejuk. Pemandangannya indah dan mempesona. Di sepanjang perjalanan aku terus mengamati jalan. Tak ingin melewatkan sedikit pun.

Setelah  benar-benar memasuki kawasan Puncak, baru udaranya dingin. Aku pun memakai sarung tangan dengan motif belang berwarna merah, putih, dan pink. Subhanallah pemandangannya sungguh indah. Itulah yang bisa kuucapkan ketika melihat ciptaan Allah ini. Kami berada di Gunung Gede. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Kabut yang perlahan turun menutupi  bukit, jalan yang berkelok-kelok, udara dingin yang membuat bulu kulit kedinginan, kebun teh yang hijau dan luas, pepohonan yang tumbuh subur dan tinggi menjulang, jalanan yang mulai basah karena hujan, kabut-kabut yang semakin tebal  dan menutupi bukit. Ditambah alunan musik yang diputar oleh Ustadz Umar. Tak terasa ternyata kami sedang berada di dalam kabut. Hujan pun mulai  turun membasahi mobil dan   semua yang ada di luar. Semakin lama hujan semakin deras. Kami pun semakin dekat dengan tujuan kami yang sempat tertunda karena macet dan ditilang polisi. Dari kejauhan Masjid Atta’awun mulai terlihat dan membuat kami ingin segera sampai di sana. Dari jauh saja sudah terlihat indah.

Masjid Atta’awun, masjid yang Subhanallah

Alhamdulillah sampai juga kami di sana. Subhanallah masjidnya besar, megah, indah dan subhanallah pokoknya. Meskipun gerimis, tak menyurutkan keinginanku untuk masuk ke dalam dan sholat di sana. Kami sampai di area Masjid Atta’awun ketika adzan berkumandang. Alhamdulillah. Setelah Ustadz Umar dan Musa memarkirkan mobil di area parkir, kami pun turun. Di area parkir banyak mobil dan motor. Juga banyak tenda-tenda milik para pedagang. Kemudian kami berjalan menuju Masjid. Untuk sampai di sana kami harus melewati anak tangga.

Akhirnya sampai juga di halaman depan Masjid. Aku tidak dapat berkata-kata selain mengucapan Subhanallah. Masjid Atta’awun begitu besar dan megah. Dengan kubah berwarna putih dan satu menara yang ukurannya lebih tinggi dari kubah lain. Tanaman dan pohon yang ada di sisinya, sungai dan air terjun buatan yang ukurannya kecil, airnya yang sangat dingin serasa menusuk kaki namun tetap segar. Juga taman yang indah  yang rumputnya hijau. Kulangkahkan kaki menuju tempat penitipan barang. Terpaksa sepatuku harus kutinggalkan di sana. Untuk sampai di depan masjid, aku harus melewati kolam kecil yang ternyata airnya sangat dingin. Lalu sampailah aku tepat di depan masjid. Aku harus pergi ke tempat wudhu terlebih dahulu. Wuihh. Cai’na tiis pisan, euy. Airnya memang sangat dingin apalagi ketika kubasuhkan ke wajahku.  Segarnya. Setelah selesai berwudhu, aku masuk ke dalam masjid. Tempat sholat akhwat berada di tingkat dua masjid. Sekilas kulihat lampu berukuran besar yang ada di atas ruangan, mimbar yang terbuat dari kayu, jendelanya berukuran besar. Astaghfirullah, aku harus  segera sholat. Menunaikan kewajibanku beribadah kepada Allah.

Selesai sholat aku pergi ke dekat  jendela. Kulihat bagaimana pemandangan di luar masjid. Subhanallah. Dari atas sini semakin indahlah pemandangan di luar sana. Tak lupa aku memotret pemandangan alam itu. Sayangnya santri harus segera turun dan berkumpul di depan masjid. Ini adalah waktunya kami makan siang. Menu makanannya adalah ayam rendang. Baru diambil saja wanginya sudah menusuk hidung. Bumbu rempah-rempahnya begitu terasa. Terutama rasa palanya. Hmm, makan sambil melihat pemandangan alam yang indah memang sangat menyenangkan.

Selesai makan, Ustadz Umar menyuruh kami untuk berkumpul. Sebelumnya beliau bertanya apakah kami ingin pergi ke kebun teh dan paralayang. Namun, melihat sikon (situasi dan kondisi) sepertinya tidak memungkinkan. Gerimis, jalan becek dan tanah licin. Resikonya cukup besar. Oleh sebab itu kami tidak jadi pergi ke ke sana. Sebagai gantinya, santri dibolehkan untuk membeli jagung bakar . Karena perutku kenyang, aku tidak membeli jagung bakar. Alhamdulillah ini kesempatanku untuk berkeliling Masjid dan memotret objek yang bagus. Tentunya aku bersama kelompokku. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa di belakang masjid ada air terjun buatan. Aku lupa siapa yang memberitahuku  antara Ica dan Neng Ilham. Aku, Neng Ilham, Teh Novi dan Ica pergi ke sana. Tempatnya memang bagus namun dekat dengan WC ikhwan. Kami memutuskan untuk pergi ke kolam kecil. Ternyata di kolam itu ada ikan hiasnya. Asik dapat objek foto nih.

Wisata kuliner di atas genteng

Setelah puas memotret, kemudian kami pergi untuk menemui santri lain. Via mengajak kami untuk membeli jagung bakar. Supaya lebih singkat, aku menyebutnya ‘jakar’ atau jagung bakar. Alhamdulillah kami ditraktir oleh Via. Karena antriannya cukup  lama,  jadi kami menunggu di dalam tenda. Kemudian duduk di bangku yang berukuran panjang. Ternyata kami ada di atas genteng. Sambil menunggu jakar selesai dibakar, kami bergurau. Ternyata salah satu dari kami memperhatikan ketika kami sedang bicara. Katanya ada asap keluar dari mulut kami . Karena ini adalah hal yang sangat jarang terjadi, kami pun memanfaatkan moment ini dengan sebaik mungkin. Saat aku bicara memang ada asap keluar dari mulutku. Kami pun saling berbicara dan bercanda. Bahkan Via sampai meminta Holifah untuk merekamnya saat ia bicara. Ia tidak ingin melewatkan hal ini. Rasanya seperti di luar negeri saja. Haha. Akhirnya jakar rasa manis pedas selesai dibakar. Yummy. Ini adalah pengalaman baru untuk kami. Makan jagung bakar di atas genteng, ditemani gerimis dan udara dingin, dan asap yang keluar dari mulut.  Sambil menikmati pemandangan dengan penuh canda dan tawa.

Galeri Fotoku

Mencuri Waktu 5 menit

Selesai makan jakar kami masih duduk di bangku di atas genteng. Sekilas aku melihat ada bantal hallo kitty berwarna ungu di salah satu kios kecil. Santri lain juga melihatnya. Hal itu membuat kami tertarik dan ingin mampir ke sana. Tapi  Ustadz Umar menyuruh kami untuk berkumpul di dekat mobil. Tadinya kami akan mampir ke kios itu, tapi karena disuruh ke mobil kami pun tidak jadi mampir. Oh iya, ternyata Ustadz Umar mau pergi dulu ke suatu tempat. Berarti masih ada kesempatan untuk mampir.  Kami pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Dan akhirnya kami jadi mampir ke sana. Yang pergi adalah aku, Via, Holifah, Wigati, Ica, dan Teh Novi.

Ternyata selain bantal ada juga tas, boneka, kaos kaki, sarung tangan, dan lain-lain. Aku tertarik dengan kaos kaki dan sarung tangan yang motifnya belang-belang. Setelah kutanya ternyata harganya Rp 15.000. Tapi aku tidak membelinya hanya lihat-lihat saja.  Hehe. Sementara Via membeli satu tas yang terbuat dari hasil kerajinan tangan. Wigati membeli sarung tangan yang aku maksud tadi. Kami tak punya banyak waktu. Lima menit. Ya, hanya lima menit.  Jadi setelah selesai membeli tas dan sarung tangan kami langsung balik ke mobil. Untungnya kami tidak dimarahi Ustadz Umar. Alhamdulillah.

Jadi ke Puncak Pass?

Sungai Ciiwung, Bendungan Katulampa dan  Masjid Atta’awun telah kami datangi. Sekarang adalah waktunya kami pulang. Para santri pun masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil mulai melaju. Ustadz Umar bilang kami akan pergi ke Puncak Pass. Yeah, senangnya. Itulah perasaanku saat mendengar hal itu. Kami pun sampai di dekat sebuah hotel yang aku lupa namanya. Karena hujan, kami tidak turun dari mobil. Ustadz Umar memutar kembali mobilnya. Ya, beliau bilang Puncak Pass itu artinya sudah lewat Puncak. Jadi sekarang kami sudah melewati Puncak. Karena hari semakin sore dan hujan semakin deras kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Pesantren Media tercinta.

Perjalanan Pulang

Dengan bermacam perasaan yang sulit diungkapkan, kami meninggalkan kawasan Puncak. Di luar hujan masih turun. Tapi di dalam mobil Avanza kami  justru bergurau dengan puasnya. Ya, bercanda sambil makan camilan. Sedangkan Ustadz Umar fokus mengemudikan mobil sambil asik mendengarkan musik. Rasa lelah dan kantuk mulai menghampiri kami. Cylpa dan Fatimah sudah tidur duluan. Karena tak kuasa menahan rasa kantuk, aku  pun tertidur. Jadinya semua santri tidur kecuali Ustadz Umar.

Kami tidur dengan puasnya. Meskipun posisi tidurnya tidak nyaman karena berbenturan dengan kursi. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Pesantren. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Ya, liburan kali ini sangat menyenangkan. Tidak kalah dengan liburan ke Curug Luhur dua bulan lalu. Malah lebih berkesan dan subhanallah pokoknya. Hehe. Seharusnya kami bersyukur dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Karena Allah yang telah menciptakan semua yang ada di dunia di bumi ini. Allah  Maha Pencipta segala sesuatu.

Nah, inilah ceritaku. Mana ceritamu? [Siti Muhaira, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini bagian dari tugas menulis reportase di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

ciliwung feature katulampa puncak

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  • Ada sebuah keluarga yang kehidupannya serba cukup, apa-apa harus

  • MINGGU KE-1 Hari Kamis tanggal 31 Mei adalah hari

  • Design yang telah saya buat tepat pada hari raya

Tinggalkan pesan