Ini Ceritaku. Apa Ceritamu?

5222 views

Liburan Akhir Tahun memang akan lebih berkesan bila dihabiskan bersama keluarga tercinta di rumah. Karena kesempatan ini sangat sulit ditemui oleh mereka yang disibukkan dengan kegiatan kerja atau sekolah sehari-harinya.

Sama seperti masyarakat lain, saya juga merasakannya. Keluarga saya yang biasanya sibuk bekerja, dan bersekolah tidak sempat untuk meluangkan waktu bepergian bersama atau sekedar berkumpul di rumah. Umi dan Abi serta kedua kakak saya semuanya sudah bekerja. Sedang saya masih bersekolah di Pesantren Media, pesantren di sebuah “Kota Hujan” di Jawa Barat, Bogor.

Usai UAS (Ujian Akhir Semester) digelar, Kepala Sekolah memberikan kebijakan agar para santri bisa liburan selama 1 minggu. Pada kesempatan yang langka ini, saya memilih untuk pulang ke rumah agar bisa berkumpul dengan keluarga. Karena, kakak saya yang bekerja di Karawang berjanji akan pulang saat liburan akhir tahun ini. Mendengar hal itu, saya segera mengabari Umi dan Abi bahwa saya ingin pulang. Umi akhirnya memutuskan untuk membelikanku tiket kereta lewat paman. Dan saya berangkat pulang hari Jum’at, 27 Desember 2013.

Saya pulang naik KRL Cirebon Express dengan tujuan akhir Tegal, kota di mana saya tinggal. Berangkat dari pesantren naik angkot ke Stasiun Bogor ditemani paman sampai ke stasiun Gambir. Karena paman sedang ada urusan di Bogor, jadi beliau tidak bisa mengantarku sampai rumah.

Awalnya saya kecewa karena tidak ada yang mengantarku, namun ternyata Umi menelpon bahwa “Kamu bisa pulang sendiri?Tidak apa-apa, cobalah dulu. Kamu harus latihan mandiri, agar berani. Waktu Umi pulang dari sana juga sendiri, dan alhamdulillah baik-baik saja.” Beliau mencoba menenangkan hatiku.

Ragu, gelisah, dan takut itulah yang saya rasa saat itu. Dalam pikiranku “Kalau nanti saya tersesat di jalur penungguan kereta, terseret-seret penumpang yang berebut masuk, atau tersesat karena salah jalur kereta, duduk disebelah orang asing yang bertampang menyeramkan” semuanya campur aduk. Tapi kutimbang-timbang lagi, dan akhirnya kuterima tawaran Umi, dan akhirnya beliau segera menghubungi paman agar membelikan tiket kereta dan mengantarku sampai di Stasiun Gambir.

o0o

Hari Jum’at tiba. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang. Saya berangkat dari Pesantren pagi hari dan sampai di rumah sore hari.

Dan alhamdulillah, ternyata saya bisa pulang sendiri. Dan Umi tidak menggelariku Si Penakut lagi, tapi Si Pemberani. Tak lupa semua ini adalah karena ridha Allah Swt, tanpa-Nya aku tidak akan selamat sampai rumah.

Sampai di Stasiun Tegal sebelum kereta berenti aku segera menghubungi Abi agar menjemputku. Dan ternyata beliau sudah sampai di pintu masuk. Saya pulang bersama Abi naik motor. Karena jarak rumahku dan stasiun tidak terlalu jauh, makanya saya langsung bisa beristirahat. Ku copot sendal dan tas yang masih menggelendot di punggungku, lalu segera ke kamar mandi utuk mandi dan sholat Ashar.

Selesai mandi dan sholat, kakak perempuanku yang biasa kupanggil Mba pulang dari bekerja dijemput oleh Abi. Kami mengobrol sebentar sambil menunggu adzan Maghrib dan sholat. Usai sholat kami makan malam. Tak lama, Abi keluar kembali untuk menjemput Umi yang masih menyelesaikan pekerjaannya di rumah makan. Umi pulang membawa beberapa makanan ringan untuk camilan di rumah. Seperti biasa, beliau selalu membawa sesuatu untuk dimakan bersama saat pulang.

o0o

Esok harinya kakak laki-lakiku ternyata sudah pulang. Dia pulang saat saya terlelap tidur, katanya sekitar pukul 2 pagi. Saat aku bangun, dia masih terlelap mungkin karena lelah. Siangnya dia pergi ke sekolahnya dulu untuk mengurus ijazah yang sempat ia tunda pengambilannya karena berangkat ke Karawanglebih dulu.

Malam harinya, saat kami berkumpul. Umi menagih janji Mas (panggilan untuk kakak laki-lakiku) untuk pergi mengunjungi sekalius bermain di Rita Park, sebuah arena bermain seperti Dufan Ala Tegal yang berada di samping Rita Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota kami. Wilayahnya cukup luas, namun pastinya lebih sempit jika dibandingkan dengan Dufan.

Setelah perundingan yang cukup alot dengan pendapat dan alasan masing-masing, akhirnya rencana itu dijadwalkan esok harinya, pada Minggu tanggal 29 Desember 2013.

o0o

Keesokan harinya, sekitar pukul 10.30 WIB kami berangkat ke Rita Mall. Aku dan Umi naik becak sedangkan Mas dan Mbaku naik motor. Lalu kami bertemu di pintu samping masuk Rita Mall. Tadinya kami bingung akan kemana dulu, belanja atau bermain. Namun salah satu dari kami mengusulkan untuk ke Rita Park lebih dulu, agar tidak membawa tentengan yang merepotkan saat bermain di sana.

Segera kami berjalan ke kawasan Rita Park dan membeli tiket masuk. Untuk tiket masuknya saja hanya 5rb, sedangkan biaya untuk menjajal semua wahana 75rb. Harga yang relatif. Setelah kami membeli tiket, di depan pintu masuk petugas memasangkan kami gelang untuk kunci masuk wahana. Dan gelang itu tidak bisa dilepas kecuali oleh petugas. Sungguh menyebalkan.

Masuk, kami tercengang dengan tatanan yang unik dan menarik. Wahananya juga cukup lengkap. Persis seperti di Dufan, namun ukurannya lebih kecil, dan ada juga beberapa wahana yang tidak ada. Ingin sekali kami menjajal semua, tapi sepertinya waktu dan sikon tidak memungkinkan.

Pengunjung yang datang sangat banyak, sampai hampir semua wahana mengantri panjang untuk memasukinya. Seperti misalnya 3D Movie wahana yang kami lihat menarik pertama begitu memasuki Rita Park. Kami ingin sekali masuk, namun antrian sangat panjang, dan kemungkinan durasinya lama, jadi kami memilih untuk bermain Bom-Bom Car lebih dulu.

Pengunjung yang mengantri memang tak sebanyak di 3D Movie, namun tetap saja lama. Dan bukan hanya itu, banyak anak kecil yang merengek minta main mendului antrinya. Daripada berisik, akhirnya petugas membolehkannya. Banyak yang kecewa akibat tingkah anak itu. Tapi, mau bagaimana lagi, namanya juga anak kecil. Pasti rewel bila keinginannya tidak dipenuhi.

Giliran kami tiba. Dengan susah payah berhimpitan mengantri akhirnya lega juga bisa bermain. Namun yang lebih dulu bermain itu Mba. Karena mobilnya hanya 7, akhirnya petugas menyetop giliran masuk tepat di giliranku. Hampir saja saya akan disalip lagi. .Namun sekuat tenaga aku mempertahankan tubuhku di depan yang disusul Masku tepat di belakangku.

Sempat saya melihat Mba kesulitan mengemudikan mobilnya. Dan hanya berputar-putar di tempat yang sama. Aku, Umi dan Mas tertawa geli dibuatnya. Sekalinya berpindah, malah ditabrak dan terseret ke tepi arena lagi.

Setiap giliran bermain, ada saja kejadian yang unik dan membuat perut terkocak. Ada bapak-bapak yang naik bersama anaknya yang berjalan hanya di tepi-tepi saja, menghindar dari pemain lainnya agar tidak ditabrak. Ada yang sengaja menabrakkan mobilnya ke pemain lain, ada yang tidak bisa bermain dan hanya berputar-putar di situ saja, ada juga ibu-ibu yang mungkin sudah bisa dipanggil nenek juga ikut bermain.

o0o

Tiba giliranku dan Mas bermain. Sepanjang permainan kami hampir tidak pernah bertemu atau berpapasan. Sekalinya bertemu, Mas selalu memalingkan mobilnya sambil bergaya ala-ala pembalap profesional. Kami bermain dengan asyiknya, sedang Umi di luar arena merekam kami berdua.

Selalu saja ada yang menabrakkan mobilnya ke mobilku, mencoba menghindar tapi selalu gagal. Sampai-sampai bahuku yang sebelah kiri sakit dibuatnya. Kepalaku juga ikut pusing.

Masing-masing rounde hanya berkisar 3 sampai 4 menit saja. Setelah kami bertiga puas bermain bom-bom car, kami cari wahana lain. Yang paling dekat dan membuat kami tergoda untuk menaikinya adalah Roll-couster. Memang relnya tidak terlalu panjang, namun tikungannya sangat mematikan. Awalnya terasa biasa saja, lama-lama ternyata kereta berjalan semakin cepat. 3 putaran kami lewati. Alhamdulillah, rasanya ketegangan kami langsung hilang. Namun inilah yang menantang, menguji keberanian kita itu sangat mengasyikkan.

Keluar dari gerbong kereta Roll-couster, kami melanjutkan penjelajahan ke wahana yang bernama Undur-undur. Kami kira, jalannya akan berputar mundur seperti hewan Undur-undur, ternyata tidak. Permainannya sangat mengasyikkan dan cukup membuat jantung melompat-lompat. Sederhana namun jika yang tidak kuat dan berani lebih baik tidak mencobanya.

Dia berputar sesuai dengan arah jarum jam. Bentuknya besar, modelnya seperti gurita yang tentaklenya berbentuk gerbong kereta terbuka yang terdapat pengaman memalang dari kiri ke kanan. Berputar dengan sensasi gelombang yang sangat keras dan dahsyat. Putarannya semakin lama semakin cepat.

Aku duduk bersama Umi, dan Mas duduk bersama Mba. Penumpang dianjurkan duduk berdua, agar tidak terpontang-panting ketika berputar. Dan yang di tepi kiri dianjurkan yang lebih gemuk badannya, agar yang kurus tidak tergencet saat Undur-undur berputar.

Saat rounde putaran cepat di umumkan oleh petugas, para penumpang spontan saja berteriak sekeras mereka bisa. Teriakkannya membuat telingaku rasanya berdengung. Saya, Umi, Mba hanya bisa tertawa geli karena putaran itu. Rasanya hati seperti digelitiki oleh angin yang berhembus kencang. Sedangkan Mas malah berteriak sangat keras, tutur Mba yang duduk di sampingnya. Saat itu kursi hanya kosong beberapa, jadi teriakkan penumpang sungguh keras. Sampai sekilas terlihat orang-orang yang melihat di luar pembatas besi menertawakan kami yang naik.

o0o

Lepas sholat Dzuhur di mushola, masih di kawasan Rita Park kami memilih utuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan lebih dulu di resto sebelah pintu masuk. Tempat duduk penuh, untung saja saat kami selesai makanan ada keluarga yang sudah selesai makan, jadi kami bisa duduk di sana.

Kami duduk menunggu pesanan cukup lama. Menyebalkannya, pesanan kami selalu disalip oleh orang lain yang memaksa diantarkan dulu. Setelah cukup lama kami bersabar, Umi dan Mba bergiliran menanyakan pesananan hingga beberapa kali, dan akhirnya datang juga.

Sambil makan, kami sambil bersenda gurau dan bercanda. Tertawa melihat orang naik wahana Sapi Gila. Permainannya seperti yang ada di gameshow yang ada di televisi. Sapi bergerak memutar maju mundur seperti sapi gila yang mengamuk, penumpangnya dituntut untuk tetap berada di punggung sapi. Dan sapi akan berhenti ketika penumpang terlempar atau terlepas dari tunggangan. Mulai dari anak kecil, sampai laki-laki paruh baya semuanya bergeliran naik, dan banyak penonton yang tertawa lepas karenanya.

Selesai makan, membayar pesanan dan cuci tangan, kami melanjutkan penjelajahan ke wahana berikutnya. Karena baru saja makan, kami memilih wahana Bianglala yang tidak membuat perut tergoncang. Menikmati pemandangan Kota Tegal dari ketinggian, dan kawasan Rita Park yang ternyata cukup luas. Terlihat awan yang sedikit menyelimuti pandangan kami ke tempat yang jauh. Waktu terasa lama saat berada di atas. Namun, waktu berputar begitu juga bianglala. Kami pun turun setelah sampai di bawah lagi.

Perjalanan dilanjutkan. Di jalan, kami menemui bangunan serba hitam dengan hiasan mistis. Ya, itu adalah wahana Rumah Hantu. Hanya Mba yang ingin masuk ke sana. Sayang, dia tidak jadi masuk karena tidak ada yang mau menemaninya. Kami hanya sempat berfoto dengan setan yang keluar dari dalam setelah mencicipi naik ayunan raksasa.

Siang beranjak sore, kami berencana akan pulang. Namun, sebelum itu kami tak lupa berfoto dengan boneka Tom&Jerry. Karena Jerry sedang berfoto dengan pengunjung lain, maka kami hanya sempat berfoto dengan Tom saja. 2 wahana terakhir yang kami naiki adalah kereta putar dan komedi putar.

Walau hanya sehari, kami sangat puas dan senang bisa berkumpul bersama. Agak disayangkan Abi tidak ikut karena harus mengurus rumah makan yang sedang ramai pengunjung di Brebes. Memang badan terasa pegal-pegal, namun kebahagiaan kami tidak lantas luntur karenanya.

[Zahrotun Nissa, santri kelas 1 jenjang SMA, Pesantren Media]

 

 

 

keluarga liburan

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

  • Diantara banyaknya amalan hati, sabar salah satu yang sering

  • Hati itu rentan jatuhnya. Jatuh pada hal yang disebut

  • Bunyi notifikasi selalu terdengar. PING… PING… begitu. Rerata hape