Fisik Tokoh

407 views

Wajahnya menatap datar ke arahku. Suaranya bagai bongkahan es tajam, yang sewaktu-waktu dapat menusuk tepat di jantungku. Senyum yang laksana malaikat, berganti dengan senyum miring mengejek. Mata birunya bagai lautan yang menenggelamkanku ke dasarnya. Mata yang dulu menatapku penuh cinta, terganti dengan tatapan kebencian yang menguar kuat. Kantung matanya menggelap, meninggalkan jejak kelelahan. Rambut hitam legamnya tampak acak-acakan. Jambangnya telah tumbuh memanjang. Rambut-rambut tipis mulai tumbuh di dagu mulusnya, tanda belum bercukur beberapa hari.

Tak terasa cairan bening mulai meluncur di pipiku. Aku tak mengerti mengapa ia menatapku seperti itu. Tampangnya sungguh berantakan, bajunya lusuh dan kotor. Ketika aku melangkah mendekatinya ia melangkah mundur. Aku berhenti beberapa langkah dari tempat aku berdiri tadi. Dia memalingkan mukanya dariku, enggan menatapku. Melihat  itu, tangisku pecah. Aku sudah tak sanggup menahannya lagi, dadaku terasa sesak. Apa yang harus kulakukan?.

“Maaf..”

Tak ada respon, aku terduduk tersedu.

“Maaf.. ku mohon dengarkan dulu penjelasanku.. itu hanya kesalah pahaman.” Aku menatapnya memelas, berharap dapat meluluhkannya.

“…” Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong.

“Apa yang harus kulakukan? Kumohon jangan membenciku. Aku hanya mencintaimu. Mengapa kau begitu buta untuk melihatnya?”

“Kau bohong! Kau tak pernah mencintaiku, kau hanya mencintai hartaku.” Suaranya tampak bergetar menahan amarah.

“Apa?!” Aku menatapnya tak percaya. Bagaimana pikiran picik itu dapat menguasainya. Baru beberapa hari aku pergi. Meninggalkannya sendiri. Pergi ke negara tetangga untuk mempertahankan hidupku. Berjuang untuk dapat kembali kepadanya. Tapi apa? Aku mendapat tuduhan tidak senonoh.

Kepalaku berdenyut keras, sakitnya kembali datang menghantuiku. Pandanganku mengabur, kesadaranku mulai menipis. Seketika tubuhku limbung, dunia menggelap di sekelilingku.

 

[Ela Fajar Wati Putri, santriwati kelas 2 SMA]

Penulis: 
author
Zahrotun Nissa, santriwati angkatan ke-3 jenjan SMA, kelas 2 | Asal Tegal, Jawa Tengah

Posting Terkait

  • Diantara banyaknya amalan hati, sabar salah satu yang sering

  • Hati itu rentan jatuhnya. Jatuh pada hal yang disebut

  • Bunyi notifikasi selalu terdengar. PING… PING… begitu. Rerata hape