Dunia Memang Tidak Adil

660 views

Halo, aku seorang anak berumur  17 tahun yang suka sekali memakai topeng. Dengan memakai topeng ini, aku merasa lebih baik. Baiklah, aku akan menceritakan sebuah kisah hidupku secara singkat, kenapa aku memakai topeng ini.

Saat aku berumur 4 tahun, hampir setiap hari aku melihat orang tuaku bertengkar hebat. Seolah pertengkaran tersebut telah menjadi alarm pagi hari. Tapi hari ini berbeda sekali. Tidak ada suara pertengkaran. Sangat sunyi dan kalem. Aku fikir mereka sudah menemukan solusi dari permasalahan mereka.

Dengan wajah yang mengantuk sambil menguap aku mengucek mata dan keluar dari kamarku. Aku segera turun ke lantai bawah menuju ruang tamu dan ketika penglihatanku mulai fokus pada suatu objek, batinku terhentak. Rasa marah, sedih, dan bingung bercampur aduk. Aku melihat ayahku sedang tertawa gembira melihat darah yang keluar dari leher ibu. Dia melirik ke arahku. Dan berkata, “dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.”

Aku menjerit dan langsung melemparkan vas bunga disebelahku ke kepala ayah. Ketika ayah merasa pusing akibat vas bunga yang membentur kepalanya, aku berlari menuju dapur dan mengambil sebilah pisau dan langsung melemparkannya tepat di leher ayahku, seketika semua terasa gelap. Aku melihat dengan tidak fokus ke arah tetangga sebelah rumahku yang sedang mendobrak pintu, seketika aku pingsan.

Aku dibawa ke kantor polisi dan ditanyakan beberapa pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun berat untuk menceritakan masalah pribadi keluarganya. Tapi apa boleh buat, karena kebodohan pak hakim yang menghukum anak berumur 4 tahun, dia menjatuhkan hukuman isolasi sampai umurku 17 tahun dan dianggap sudah dewasa dan mandiri.

13 tahun kemudian.

Hari ini aku telah dibebaskan dari isolasi yang penuh dengan orang yang mempunyai kasus sepertiku, yang selama ini telah mengajarkan aku betapa tidak adilnya dunia ini. Kini aku resmi dibebaskan dari tempat isolasi tersebut. Aku diberikan uang pegangan untuk bertahan hidup seadanya.

Aku ngekost di sebuah tempat kost dekat tempat aku bekerja. Aku sekolah di pagi hari dan bekerja di malam hari. Aku selalu membawa pisau kemanapun aku pergi dengan alasan keamanan.

Pada suatu malam, aku melihat seorang pengemis yang sedang dibully oleh 2 orang preman. Aku turun dari vespa kecil pengantar pizza menuju pengemis tadi. Aku ingin membela pengemis tadi, tapi aku tidak punya kekuatan apapun untuk melawan mereka selain keberanian. Dan akhirnya akulah yang kalah dalam perkelahian tersebut.

Duitku dirampas habis oleh preman bodoh itu. Dan mereka pergi begitu saja. Aku mengerang kesakitan akibat kepalaku yang mengeluarkan darah. Pengemis tadi berjalan menujuku sambil memegang parang. Dan dia berkata dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.” Dan seketika aku teringat dengan kata-kata ayahku di hari itu.

Keesokan harinya aku pergi ke sekolahku. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan alternatif agar cepat sampainya. Di sekolah, aku selalu dibully karena aku tidak punya orang tua. Aku hanyalah sebatang kara di kota tua ini. Sering kali mereka memukulku hingga babak belur. Pernah aku mengadukan mereka ke pihak berwajib. Namun isi dompet orang tua mereka dapat menutup kasus itu dengan mudahnya. Dunia ini memang tidak adil.

Keesokan harinya, seperti biasanya aku selalu dibully. Tempat dudukku dilekatkan sebuah permen karet bekas yang menjijikkan. Hari ini aku merasa sangat marah. Aku memukul wajah anak orang kaya tersebut hingga tulang hidungnya patah. Aku merasa lega dan senang. Tapi itu hanya sebentar saja. Guru langsung memanggil orang tua anak tadi. Dan aku dibawa ke pihak berwajib.

Di kantor polisi kasus kami diproses. Secara teori, adalah naluri manusia untuk membela dirinya. Tapi uang mengatakan kalau akulah yang salah dalam kejadian ini. Dan akhirnya aku divonis masuk ke dalam jeruji besi selama sebulan. Di sana ada seorang penjaga penjara yang selalu menjadi teman curhatku. Dia tahu aku tidak bersalah. Tapi apa daya dia hanya seorang penjaga penjara.

Sebulan kemudian aku bebas dari penjara. Si penjaga perjara baik itulah yang menghantarkanku keluar. Dan kata terakhirnya sebelum kami berpisah adalah, “dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik” sambil dia menunjukkan pistol yang selalu dibawanya.

Keesokan harinya aku kembali ke sekolahku. Dan kejadian itu terulang lagi. Dia membullyku sekali lagi. Aku hanya membalas dengan tatapan hampa. Pada malam harinya aku pergi menuju rumah si bocah kaya itu. Sambil membawa sebuah parang dan pistol, aku memanjat rumahnya. Aku masuk melalui jendela kamar bocah itu yang berada di lantai dua.

Aku menutup mulutnya dan seketika dia terbangun dan hendak menjerit. “Husstttt… nanti orang tuamu bangun. Tidurlah dengan nyenyak. Dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik,” ucakpu dengan lembut. Sambil mengayunkan parang, aku sedikit tertawa. “Jrettt…” parang itu memutuskan urat nadi yang berada di tenggorokan anak itu. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya agar aku dapat mendengarkan suara erangannya. Dan aku menulis sesuatu di dinding.

Orang tuanya terbangun karena ada keributan diatas kamar mereka. Pintu terbuka dan si ibu masuk ke dalam kamar. Dia melihat dengan mata kepalnya sendiri bahwa anaknya sudah menjadi mayat. Dari balik lemari yang gelap aku keluar dan langsung menembak kepala ibu berambut pirang tersebut. Suara tersebut terdengar oleh telinga suaminya.

Lelaki itu menyergapku dari belakang. Pistol dan parangku terjatuh. Dan kami berkelahi dengan jantan. Aku memukul wajahnya hingga hidungnya patah. Dia murka dan langsung memukulku hingga aku terpental keras ke dinding. Segala barang dia lemparkan ke arahku. Sebuah cairan asam dilemparkan ke arahku dan mengenai wajahku. Aku meraba lantai dan menemukan parangku. Dengan membabi buta aku mengayunkan parang itu dan mengenai leher lelaki tersebut. Aku menang.

Aku langsung pulang ke rumah. Aku sadar aku telah menjadi buronan. Setelah aku mengobati luka diwajahku ini, aku kabur entah kemana. Keesokan harinya aku menonton tv di sebuah bar. Aku melihat berita satu keluarga tewas dibantai. Di dinding rumah mereka tertulis dengan tinta darah “ Dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik –Redrum-”. Ya, kurasa Redrum adalah nama yang cocok untukku. Aku membela orang yang lemah yang tidak dapat membela diri mereka sendiri. Namun caraku lebih keras. Dan kini aku menjadi seorang psikopat bertopeng yang harus menutupi wajahnya yang rusak dan jati dirinya yang sebenarnya.

Mungkin kalian tidak sadar. Ketika kalian membaca ini, aku sedang mengintai kalian. Mungkin aku berada disekitar kalian. Atau mungkin aku berada ditengah-tengah kalian. Bagi kalian yang tidak adil dan merasa hebat, aku hanya dapat berkata dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.-Redrum-

__________________________________________________________________________________________

Bolehkah Menuntut Balas?

بسم الله الرحمن الرحيم
Sikap yang paling baik untuk diamalkan oleh seorang muslim ketika ada yang menyakitinya adalah memaafkan, bukan menyimpan kemarahan dan membalas menyakiti atau yang diistilahkan dengan membalas dendam. Inilah yang diajarkan di dalam agama Islam. Allah ta’ala berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” [QS Asy Syura: 43]

Memang benar bahwa jika kita dizhalimi, kita diperbolehkan untuk membalas dengan balasan yang semisalnya atau setimpal. Di antaranya dalil yang membolehkan hal ini adalah firman Allah ta’ala:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
“Barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” [QS Al Baqarah: 194]

Akan tetapi, meskipun demikian, memaafkan kesalahan orang yang telah berbuat zhalim kepada kita adalah lebih baik dan utama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya) maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” [QS Asy Syura: 40]

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ
“Jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” [QS An Nahl: 126]

Ingatlah bahwa setiap kali seseorang memaafkan orang yang menzhaliminya, maka Allah akan semakin mengangkat derajatnya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan perbuatan memaafkannya melainkan (menambahkan untuknya) kemuliaan.” [HR Muslim (2588)]

———————————————

PERHATIAN:

Perlu diperhatikan di sini bahwa penuntutan balas ini tidak boleh dilakukan secara sepihak dan sembarangan menurut kehendak sendiri tanpa ada pengawasan dari pihak yang berwenang seperti pemerintah atau yang sejenisnya. Alasannya adalah karena jika dilakukan sendiri di luar pengawasan, dikhawatirkan akan terjadi kezhaliman dan kekacauan di antara pihak yang bertikai sehingga menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar lagi.

[Rizki Yannur Tanjung (OGEK), santri angkatan ke-3 jenjang SMA, Pesantren Media]

cerpen fiksi Hikmah Ogek

author
Santri asal Medan, angkatan ke-3 jenjang SMA, kelas 2

Posting Terkait