Loading

motivasi-wirausaha                                                                                                                           Hai, kau tahu siapa diriku? Apa kau mengenalku? Mengapa kau diam saja?! Katakan sesuatu, Kumohon! Jangan hanya membaca tulisan ini, katakanlah sesuatu pada diriku! Haaah, Aku benci kau! sangat benci!

Aku tak mengerti, mengapa diriku selalu dijauhi oleh orang orang. Aku tidak mempunyai penyakit serta kecacatan apapun, wajahku tak begitu buruk. Hanya ada sedikit bekas jahitan di sekeliling wajah ku. Namun jahitan itu tak begitu terlihat, karena tertutup oleh rambut panjangku.

Entah dari mana aku mendapatkan jahitan ini, aku lupa. Bahkan namaku saja, aku lupa. Siapa diriku, dari mana aku, dan siapa keluargaku, aku tak ingat. Semua itu terjadi sekitar 1 bulan yang lalu. Yang dimana dimulainya aku lupa segalanya, bahkan namaku sekalipun.

Saat itu aku terbangun dari tidurku di sebuah kasur yang tidak begitu nyaman untuk di tempati, aku berada di sebuah ruangan yang gelap. Ketika aku  terbangun, aku hanya melihat sebuah kasur yang kumuh, infusan yang melekat di tanganku dan secarik kertas bertuliskan “ berjuanglah, kau pasti bisa! -T “. Aku tak mengerti apa maksud itu semua, namun yang jelas aku benci kehidupan seperti ini ! aku tak mengerti, aku benci! Sangat benci!

Sudah sebulan setelah sadarnya diriku, aku tak mendapati orang lain berbicara denganku. Sebulan lamanya pula, aku berkelana mencari jati diriku. Berpindah tempat, mencari makanan sisa di tempat sampah. Layaknya seorang pemulung. Bukan karena aku tak ingin bekerja, namun orang orang tidak memperhatikanku, tak ada yang merespon kata kataku. Sangat menyedihkan dan menyakitkan. 1 bulan tanpa hasil.

Malam ini aku akan bermalam di samping sebuah toko baju yang cukup besar dan ramai pengunjungnya. Toko itu bernama B_T Shop. Didalamnya terdapat baju baju yang sangat bagus dan terlihat mewah. Sudah 7 hari aku bermalam disini karena tidak begitu sulit mencari makan untuk malam hari, karena setiap malam pegawai cantik dari toko baju itu selalu membuang makanan sisanya ke tempat sampah di samping toko. Aku selalu memakan sisa makanannya. Pagi hingga malam, aku menyusuri kota kecil ini. Setiap sudut kota ku lewati hingga aku sangat paham dengan kota ini, layaknya sebuah peta yang sangat detil, namun peta itu berada di dalam otak ku.

————————

Saat nya aku kembali kesamping toko untuk makan dan mermalan disana. Perjalanan yang melelahkan tanpa hasil sedikitpun untuk mencari diriku. Hari ini tak seperti hari sebelumnya, makanan sisa pegawai toko yang biasanya ada di tempat sampah, kini sudah tak ada lagi. aku heran, atau mungkin dia belum membuangnya, segera aku cek dari luar dinding kaca toko dimana sang pegawai cantik itu bekerja. Seperti biasanya juga dia sedang menucuci tangannya seusai makan, itu pertanda bahwa dia baru saja selesai makan. Lekas aku mencari makanan sisanya di sekitar toko. Namun aku kembali tanpa menemukannya. Aku berfikir kembali, apakah ia menghabiskan makanannya? Yaa, mungkin saja ia menghabiskan makanannya.
Aku hanya bisa pasrah mendapati kenyataan yang menimpaku, bermalam tanpa makan. Huh, sudah biasa bagiku tak makan.

Aku duduk dan bersandar di depan toko meratapi nasib.              Aku melihat seorang anak kecil membawa sesuatu. “ hei! Itu milikku ! “ teriak ku, yang dibawanya adalah makanan yang di buang oleh pegawai toko cantik itu. Dia berlari menjauhi ku. Aku heran, segera aku mengejarnya. Bukan karena aku menginginkan makanannya, aku hanya ingin berbicara dengannya.

 

Jarak kami semakin dekat, kali ini dia berbelok kearah kanan lalu berbelok ke arah kiri.

kini dia mengecohku, ada 2 jalan yang berbeda setelah belokan ke kiri tadi.

 

Bersambung

By Shalahuddin Umar

Shalahuddin Umar, santri angkatan ke-3 jenjang SMA, kelas 2 | Asal Tangerang, Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *