Catatan Harian Kakek

675 views

Saat itu, aku tengah termenung sendirian di depan teras rumahku. Tanpa kusadari, air mataku jatuh saat melihat seorang kakek tengah menggendong cucunya dari belakang.

Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa seperti ini. Apakah mungkin aku teringat akan alm kakekku 5 tahun yang lalu.

5 tahun yang lalu

Saat itu, usiaku masih 12 tahun. Tapi karena orangtuaku sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, aku jarang sekali mendapatkan kasih sayang dari mereka. Sampai akhrinya, kakekku datang jauh-jauh dari Palembang untuk menemuiku di Jakarta.

“Kakek. . “ ucapku dengan nada senang, sedangkan kakekku hanya

tersenyum kepadaku.

Melihat senyum kakekku, aku langsung memeluk kakekku dan kakekkupun membalas pelukanku dan berkata,

“Kakek sayang sama Nisa. . kakek akan terus menemani Nisa disini. . “ ucap kakekku. Mendengar perkataan kakekku, aku kembali memeluk kakekku erat.

***

Semakin hari, kedekatanku dengan kakekku amatlah erat. Bahkan jika aku disuruh untuk memilih, siapa orang yang paling aku sayangi, pasti aku akan menyebut nama kakek. Seperti saat ibuku waktu itu,

“Nisa. . siapa sih orang yang paling Nisa sayangi. . ?” tanya Ibuku.

“Kakek. . “ jawabku semangat.

Mendengar aku menyebut nama kakek, kakek langsung merangkulku dan menggendongku dari belakang untuk mengelilingi taman indah yang ada di sekitar rumahku. Kakek tidak peduli jika badanku itu berat.

“Nisa. . kok Nisa bisa sayang sama kakek. . emang kenapa gitu. . ?” tanya kakekku.

“Karena kakek selalu menemani Nisa. . kakek tidak pernah meninggalkan Nisa seperti ayah dan ibu yang suka meninggalkan Nisa. . “ jawabku sambil tersenyum.

Mungkin karena kakekku gemas denganku, kakekku langsung mencubit pipiku dan menciumnya agar cepat sembuh.

***

Tanpa terasa, awan mendung mulai menyertai perjalanan kami. Karena kakek takut aku kehujanan, kakek langsung mencari tempat untuk berteduh. Tapi sayang, baru sampai di tengah jalan, hujan deras mulai turun disertai dengan suara petir yang menggelegar.

“Kakek. . aku takut. . “ ucapku sambil  menangis.

“Nisa tidak usah takut. . ada kakek disini. . “ ucap kakekku sambil terus menggendongku dari belakang.

Setelah lumayan lama kami berhadapan dengan hujan deras dan petir, akhirnya kami sampai ke rumah dengan selamat.

“Alhamdulillah. . akhirnya kita sampai ke rumah. . dan sekarang Nisa mandi yah. . jangan lupa keramas biar Nisa tidak sakit. .!” pinta kakekku.

“Tapi kakek juga mandi yah. . !” pintaku kembali.

“Iya tenang saja, pasti kakek mandi kok. . “ ucap kakekku sambil tersenyum.

Ketika aku sudah selesai mandi, aku langsung menghampiri kakek ke kamarnya, dan terkaget saat kakek tengah menggigil kedinginan sambil menyelimuti tubuhnya dengan kain. Karena aku khawatir, aku langsung memeriksa kening kakek.

“Kakek. . kening kakek panas sekali. . kakek sakit yah. .?” tanyaku.

Tapi sayang, kakek tidak menjawab pertanyaanku. Dengan cepat, aku langsung menelpon ibuku untuk membawa kakek ke rumah sakit.

“Halo assalamu’allaikum ibu. . “

“Alaikumsallam. . kenapa sayang. . ?” tanya ibuku.

“Ibu. . kakek sakit. . tadi saat aku dan kakek sedang berjalan-jalan keluar. . tiba-tiba hujan deras. . dan kami kehujanan. . “ ucapku sambil menangis.

“Apa. .!! Ya sudah kalau gitu. . ibu akan segera pulang. . Assalamuallaikum. . “

“Alaikumsallam. . “ jawab aku dan langsung menutup telponnya.

Sambil menunggu ibu pulang, aku langsung menuju dapur untuk mengambil air dingin dan handuk kecil. Karena saat aku sakit, kakekpun melakukan hal itu. Lalu setelah itu, aku langsung meletakkan handuk kecil yang sudah diberikan air dingin itu di kening kakek.

“Kakek. . kakek cepat sembuh yah. . “ ucapku sambil menangis dan tanpa tersadar, aku tertidur di samping kakek.

Saat tertidur, aku mendengar suara ibu mengucapkan salam dan langsung masuk ke kamar kakek. Sesaar kemudian, ibu membawa kakek ke rumah sakit.

 

Burung berkicau dengan riang di halaman rumahku. Matahari yang terik, membuat mataku silau dan terbangun. Aku turun dari tempat tidurku dan bergegas menghampiri kakek.

“Kakek. . Kakek kemana. . “ panggil aku sambil menyusuri ruang demi ruang yang ada di dalam rumahku.

Melihat aku seperti itu, ibu langsung menghampiriku.

“Nisa. . ?” seru ibuku.

“Kemana kakek. . ?” tanya balik aku.

“Owh. . semalam saat kamu sedang tidur. . ibu membawa kakekmu ke rumah sakit. . “ jawab ibuku.

“Kenapa ibu tidak bangunin aku. . aku mau ketemu kakek. . aku mau menjaga dan merawat kakek sampai sembuh. . “ ucapku sambil menangis.

“Maafin ibu yah sayang. . saat itu ibu tidak berani bangunin kamu. . soalnya kamu tidurnya lelap sekali. . Ya sudah kalau gitu, nanti kita akan ke rumah sakit untuk menjenguk kakek. . oke. . “ ucap ibuku sambil tersenyum.

Mendengar ibuku berbicara seperti itu, aku langsung memeluk ibuku. Ibukupun membalas pelukanku.

“Aku sayang sama ibu. . “ ucapku, meskipun sejujurnya, aku lebih menayayangi kakekku dibanding dengan ibuku.

“Ibu juga sayang sama Nisa. . “ jawab ibuku sambil mencium keningku.

***

Jarak antara rumah kami ke rumah sakit lumayan jauh. Belum lagi dengan kemacetan yang terus terjadi, membuatku semakin tak tahan dan ingin keluar dari kemacetan tersebut. Tapi untungnya, saat aku menolehkan pandanganku ke samping jendela mobil, aku melihat topeng monyet di tortoar jalan.

Sambil menunggu kemacetan, aku putuskan untuk melihat topeng monyet itu sambil tertawa-tawa karena kelucuan monyetnya itu.

Lalu setelah itu, datang seorang anak dengan aqua gelas yang sedari tadi di genggam olehnya. Aku rogoh uang 5000 di kantong celanaku dan aku berikan kepada anak kecil itu.

Anak kecil itu sangat senang, begitupun aku.

***

Tidak terasa, aku sudah sampai di rumah sakit tempat kakek dirawat. Karena aku rindu dengan kakek, aku langsung menuju kamar rawat kakek bersama kedua orangtuaku.

“Ayah, Ibu. .kamar rawat kakek masih jauh yah?” tanyaku.

“Tidak ko sayang. Sebentar lagi sampai kok “ jawab ibuku sambil tersenyum.

Dan setelah beberapa menit kemudian kami berjalan menyusur koridor-koridor rumah sakit, akhirnya kami sampai ke kamar rawat kakek.

“Assalamu’allaikum. Kakek, Nisa datang “ ucapku sambil berlari menghampiri dan memeluk kakek.

“Alaikumsallam. Nisa“ jawab kakekku sambil membalas pelukanku dan mencium keningku.

“Kakek., maafin Nisa yah, gara-gara Nisa, kakek jadi sakit. . “ ucapku murung sambil melepaskan pelukanku.

“Tidak kok Nis, kakek sakit bukan karena Nisa. Tapi kakek sakit karena kakek sudah tua. . “ jawab kakekku.

“Siapa bilang kakek sudah tua. . kakek itu masih muda. . buktinya kakek masih kuat gendong aku, akukan berat“ ucapku polos.

Mendengar aku berbicara seperti itu, kakek langsung tersenyum menahan tawa.

Lalu setelah itu, aku kembali memeluk kakek dan berkata,

“Kakek. . Aku sayang kakek. . “ ucapku.

“Kakek juga sayang sama Nisa. . Sayaaaaaang sekali. . “ jawab kakekku.

***

Hari ini adalah hari terahir kakek dirawat di rumah sakit. Karena pada saat itu aku tidak bisa menjemput kakek ke rumah sakit, akupun memutuskan untuk membuat biskuit coklat yang ada gambar aku dan kakek. Biskuit coklat tersebut terdiri dari biscuit bulat, choki-choki coklat dan strawberry, dan yang terakhir adalah permen cha-cha.

Saat biscuit coklatnya sudah jadi, aku langsung menunggu kakek di ruang tamu rumahku.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson mobil.

“Asikk. . kakek sudah sampai. . “ ucapku.

Aku sudah tidak sabar ingin memberikan biscuit cokelat ini ke kakek. Dengan cepat, aku langsung membuka pintu rumahku sambil tersenyum.

Tapi senyuman itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam, saat aku melihat kakekku tengah terbaring tak bernyawa di dalam mobil ambulance rumahsakit.

“Kakekkkkkk. . “ teriakku sambil menangis.

“Sabar anakku. . tabahkan hatimu. . “ ucap ibukku sambil memelukku dan menangis.

Lalu setelah itu, jasad kakek langsung diletakkan di tempat tidur yang ayah persiapkan.

***

Proses pemakaman kakek amat ramai di datangi oleh teman-teman yang menyayangi kakek. Bahkan sebagian dari mereka berusaha untuk menguatkan aku.

Lalu, saat proses pemakaman sudah selesai. Ibu dan ayahku langsung mengajakku pulang.

“Nisa. . ayo kita pulang. . !” pinta ibuku.

“Iya bu. . “ jawab aku dan langsung pergi meninggalkan tempat pemakaman kakek.

***

Rasa kehilangan, masih terukir jelas di hatiku. Aku tidak pernah menyangka, secepat itu kakek meninggalkanku. Karena aku ingin mengingat kembali kenangan yang kakek berikan untukku, akupun memutuskan untuk ke kamar kakek dan tidur di kamar kakek. Saat aku tengah tertidur, aku tidak sengaja menyentuh sesuatu di bawah bantal.

“Apa ini. . ?” tanyaku heran dan langsung mengambil benda tersebut.

Ketika aku berhasil mengambil benda itu, ternyata benda itu semacam buku catatan.

Ketika aku buka halaman pertama buku catatan itu, tampak tertulis nama kakekku di buku catatan itu.

“Muhammad Dahlan”

“Itukan nama kakek. . berarti buku catatan ini punya kakek. . “ ucapku. Karena aku penasaran, aku langsung membuka buku catatan kakek dan membaca apa-apa yang kakek tulis dibuku catatan itu. Awalnya aku tidak berani membukanya, tapi karena aku sangat penasaran dengan isi yang ada di buku itu, akupun memutuskan untuk membukanya.

Dan saat aku membuka halaman kedua, tampak fotoku yang masih bayi dan kakek terpampang rapih di situ, bahkan ada tulisan kakek di bawah foto tersebut.

“Ini adalah foto Nisa waktu masih kecil. . kakek gemes kalau liat Nisa nangis, apalagi kalau lagi tersenyum ataupun tertawa. . “

Selesai membaca tulisan itu, tanpa terasa air mataku kembali jatuh, tapi aku langsung menghapusnya dan kembali membaca halaman demi halaman yang ada di buku tersebut.

Ketika aku sudah selesai membaca halaman demi halaman, kini tibalah aku membaca halaman terakhir.

Sambil menarik nafas, aku langsung membuka halaman terakhir yang ada di buku catatan kakek tersebut.

“Nisa. . kakek bahagia sekali bisa lihat Nisa kembali tersenyum dan tertawa. . teruslah seperti itu yah. . tapi harus ada alasannya. . Kalau misalkan Nisa senyum ataupun tertawa sendiri. . Nanti Nisa dianggap orang gila lagi. . hehehe. .

Oh iya Nisa. . maafkan kakek. . jika suatu saat kakek tidak bisa menepati janji kakek untuk menemani Nisa terus. . Tapi Nisa harus tau, Nisa adalah cucu kakek yang paaaaaling kakek sayangi. . kakek yakin, Nisapun begitu. . Tapi Nis. . kamu harus inget, kamu masih mempunyai ayah dan ibumu. . sayangilah keduanya seperti mereka menyayangi Nisa pada saat Nisa masih kecil. .

Dan satu lagi nih, waktu kakek masih di Palembang. . kakek melihat kalung yang sangat bagus. . karena kakek tahu Nisa pasti suka, maka dari itu, kakek membelikan kalung itu untuk Nisa. . kalau Nisa penasaran. . Nisa lihat sendiri saja yah di amplop cokelat di bawah tempat tidur. . nanti kalau kakek yang kasih tahu, malah tidak surprise lagi. . hehehe

Usai membaca catatan terakhir kakek, aku langsung mencari amplop tersebut, dibawah tempat tidur kakek. Dan ternyata, amplop itu memang ada dan masih terbungus rapih.

Dengan hati-hati, aku langsung membuka amplopnya dan mengambil kalung yang ada di amplop tersebut. Setelah itu, aku langsung memakainya.

Saat aku tengah keluar, tiba-tiba saja ibuku memelukku erat sambil menangis, sedangkan ayahku tampak murung di samping ibu.

“Nisa. .Maafkan ibu. . ibu sudah tahu semua yang Nisa rasakan selama ini. . maafkan ibu Nis. . “ pinta ibuku, karena aku tidak mengerti maksud ibu apa, aku langsung bertanya kepada ibuku,

“Maksud ibu apa. . aku sama sekali tidak mengerti. . ?” tanyaku balik.

“Sebelum kakek meninggal, kakek meminta ibu dan ayah untuk menyayangi kamu dan meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk kamu. . karena selama ini. . ayah dan ibu hanya sibuk di kantor tanpa memikirkan perasaan kamu. . dan hari ini ibu dan ayah janji akan terus bersama kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. . “ ucap ibuku sambil melepaskan pelukannya.

“Tapi. . bagaimana dengan pekerjaan ibu dan ayah di kantor. . ?” tanyaku kembali.

“Hari ini ayah dan ibu memutuskan untuk keluar dari kantor dan bekerja secara online di rumah. . jadi kamu tidak perlu khawatir. . “ jawab ayahku sambil tersenyum kepadaku.

Mendengar apa yang ayahku katakan, aku langsung memeluk kedua orangtuaku. Dan pelukan tersebut terhenti saat orangtuaku melihat kalung yang kakek berikan untukku.

“Nisa. . kalung ini milik siapa. . darimana kamu mendapatkan kalung itu. . ?” tanya ibuku penasaran.

“Kalung ini milik kakek bu. . tadi saat aku sedang membereskan kamar kakek. . aku menemukan amplop cokelat di bawah tempat tidur kakek. . saat aku buka, ternayata amplop itu berisi kalung. . maka dari itu, aku langsung memakai kalung itu agar terus dekat dengan kakek. . dan sepertinya, kalung itu ditujukan untukku. . “ ucapku berbohong.

“Boleh ayah lihat. . ?” pinta ayahku.

“Tentu. . “ jawab aku dan langsung memberikan kalung itu ke ayah.

Ketika ayah tengah melihat-lihat kalung itu, ayahku tidak sengaja menjatuhkannya. Dan tiba-tiba saja, hati yang tergantung di kalung itu terbelah menjadi dua. Saat ayahku mengambil kalungnya dan berniat ingin membenarkan kembali kalung tersebut, ayahku tampak tersenyum sambil memandang belahan hati yang tergantung di kalung itu.

“Ayah. . kenapa ayah tersenyum. . ?” tanyaku penasaran.

“Ayah tersenyum saat melihat foto kamu dan kakekmu terpasang rapih di kalung hati yang kakek berikan untuk kamu. . “ jawab ayahku sambil tersenyum.

“Apa. . foto aku. . “ ucapku heran.

“Iya foto kamu. . kalau kamu tidak percaya. . nih kamu lihat saja sendiri. . “ jawab ayahku sambil menyerahkan kalungnya.

Saat kalungnya itu sudah ada di tanganku, aku langsung melihat foto tersebut. Dan ternyata, apa yang ayah katakan itu benar. Tampak di kalung hati itu, terpampang foto aku dengan kakek.

Tanpa terasa, air mataku kembali mengalir di pipiku. Dengan sigap, ibuku langsung menghapus air mataku itu dan berkata,

“Nisa. . kamu nggak boleh bersedih seperti itu. . jika kamu sedih. . maka kakekpun akan sedih dan tidak akan tenang disana. . kamu mau melihat kakek seperti itu. . “ ucap ibuku sambil menggenggam tanganku.

“Tidak. . aku tidak mau kakek seperti itu. . “ jawab aku sambil menunduk.

“Ya sudah kalau gitu. . kamu tidak boleh bersedih terus seperti itu. . kalau memang kamu sayang sama kakek. . kamu harusnya berdoa kepada Allah. . agar kakek diberikan surga di akhirat sana. . lagian juga, jika Allah menghendaki kita untuk bertemu dengan kakek. . maka kita akan bertemu dengan kakek. . “ ucap ayahku.

Mendengar apa yang ayahku katakan, aku langsung memeluk kedua orangtuaku erat. Dan pada saat itulah, aku memutuskan jujur seputar catatan harian milik kakek, yang aku temukan di balik bantal kamar kakek.

Dan tampak ayah dan ibu menangis saat membaca catatan harian milik kakek itu.

The End

Penulis: 
    author
    Novia Handayani, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA | Alumni tahun 2014, asal Cimanggis, Jawa Barat

    Posting Terkait