Slice of The Life (6)

148 views

Slice of The Life (6)

I don’t know why. Stop asking me about that,”

Sementara Reza teralihkan, aku mengambil mangkuk, menyendok setengah sup ayam yang dia claim lalu mencari nasi. Aku sangat kelaparan. Dan Reza tidak sebaik itu untuk membiarkanku mengambil apa yang menurutnya milik dia. Aku bisa saja menggunakan alasan ‘aku baru sembuh dari sakit’ agar dia mengalah. Tapi aku tidak akan pernah menggunakan alasan itu meskipun ada kemungkinan dia mengalah—yang mana, itu tidak mungkin.

Trying to cheat me?”

I’m not going to cheating you. It’s totally mine!”

Rencanaku gagal untuk setidaknya memakan setengah dari sup ayam. Karena kakak-bukan-kakakku merebutnya dariku. That insane Reza. Aku menarik mangkuk sup ayam milikku dari tangan Reza, memelototinya sambil berusaha kabur dari jangkauannya. Sangat bukan aku, tapi aku tidak punya cukup tenaga untuk perang mulut dengan Reza sekarang.

It was mine,”

Aku berlari ke arah kamarku, “Mom made this in order to me,”

Your order is that insipid-porridge,”

“Berhenti bersikap kekanakan. Both of you,”

Itu adalah suara Elle, yang entah dari mana muncul di antara pertengkaran tidak pentingku dan Reza. Ah, malam panjangku tidak mau berakhir, ternyata. Dan aku mulai kehabisan tenaga. Membiarkan Reza dan Elle melanjukan perdebatan, aku diam-diam memasuki kamarku.

Di kamar, aku memakan sup ayam plus nasiku dengan sangat rakus. Aku tidak hiperbola saat mengatakan perutku kelaparan dan sangat membutuhkan asupan yang bergizi sangat tinggi. Seperti campuran ayam, sayur, dan nasi.

Aku menepuk perutku yang penuh. Di luar, sudah tidak terdengar suara Reza dan Elle yang saling beradu mulut. Ah, finally I get my calm-time.

Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamarku yang putih. Sangat monoton. Pikiranku me-reka ulang kejadian kemarin malam. Rasanya aku ingin menyalahkan Haz karena membuatku jatuh sakit. Well, walaupun agaknya tidak mungkin aku bisa sakit hanya karena hal itu. Aku hidup di dunia nyata, bukan drama melankolis yang sering ditonton Len dan Ver ataupun thriller film yang sering Sir tonton.

Aku memutuskan penyebab aku sakit adalah karena kekebalan tubuhku tiba-tiba melemah. Membuatku bed-rest hanya dalam kurun waktu setengah hari. Daebak. Hebat.

Aku hampir memejamkan mataku ketika mendengar suara kucing. Dari bawah kasurku. Scared time ever. Aku hampir merinding sampai seekor kucing benar-benar keluar dari sana. Yang mana, dia adalah kucing lumpur itu. Yang bau. Ewh.

Kucing itu berputar-putar kemudian melompat ke meja belajarku. Menjilati ekornya dan duduk dengan tenang di sana. Aku agak menyesalkan tidak menaruh buku di atas meja belajar. Setidaknya jika kucing itu duduk di bukuku dan setumpuk tugas lainnya—kalau bisa merusaknya sekalian—aku punya alasan kenapa aku tidak mengerjakan tugas. Yah, walaupun aku tidak yakin alasan seperti itu akan diterima oleh dosen.

Since when you were there, lil’ cat?”

Bertanya pada seekor kucing. Okay, I feel as insane as Reza.

Kucing itu mengeong lagi. Kuharap dia menanggapi pertanyaanku. Dan dengan opini itu, aku memutuskan untuk melanjutkan obrolan satu arah kami. So crazy.

Why, you think, I cried last night?”

Hening.

Is it because Haz?”

Kucing mengeong. Lalu hening.

Did you think Haz and me knew each other?”

Kucing mengeong dua kali.

But I didn’t think so. I’m sure that our first met is when OSPEK. As him, the committee-leader. So why, it was so familier with Haz? My heart,”

Aku merasa sangat melankolis sekarang. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang bersifat melankolis. Ver bilang aku kekurangan asupan unsur kewanitaan slash feminism yang membuatku tidak melankolis, fashionist dan gaul. Sir bilang aku hanya berputar pada duniaku, tidak peduli dengan keadaan sekitar. Padahal kupikir aku cukup peka dengan pergulatan politik zaman ini.

Yang paling parah, Len. Dia dengan sadisnya mengatakan aku bukan perempuan. Aku hanyalah ‘kehidupan’ yang terperangkap dalam tubuh perempuan. Aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya.

Pada faktanya, aku hanya bertindak dengan mengutamakan logika dan realitas. Sangat cuek terhadap semua hal dan hanya mementingkan situasi atau masalah dimana aku termasuk di dalamnya. Seperti misalnya, ekonomi negeri ini. Well, kalau kondisi ekonominya panas, bisa mengakibatkan kenaikan harga banyak hal. Seperti banyak buku…komik. Itu merugikanku.

Dalam kasus Haz ini, aku merasa tidak ada aku di dalamnya. Karena bagiku, Haz masihlah salah orang. Mungkin dia pikir aku adalah Fathimah yang lain. Itu bisa jadi.

Tapi entah kenapa saat itulah sisi melankolisku keluar. Membuatku menangis hanya karena—sesuatu yang bahkan aku tidak tahu. Itu hanya sebuah penggilan telepon dari Haz, dan aku menangis? Mungkin aku harus pergi ke psikiater.

“Meong~”

Oh, aku melupakan si kucing. Ngomong-ngomong, kemarin malam sepertinya Reza mencari kucing ini. Tapi sejak kapan kucing lumpur ada di kamarku? Aku sangat yakin melemparnya ke luar waktu itu.

Tepat ketika aku berniat mengeluarkan kucing itu, Reza masuk. Dan dia—garis bawah tebali—berteriak seperti cewek ketika melihat adegan aku menjepit kulit leher kucing itu dengan jari. Dari sudut pandangnya, mungkin aku dalam rangka membunuh kucing.

Don’t ever you do that!”

Yeah, aku sangat yakin Reza berpikir aku berniat membunuh kucing itu—yang mana, tidak mungkin. Aku tidak se-phsyco itu untuk membunuh kucing yang tidak-kusuka-bukan-kubenci.

Reza membawa kucing dengan bulu tiga warna itu ke dalam pelukannya. Aku memutar mata saat melihatnya mengelus kucing itu terlalu penuh sayang diiringi suara mendecik yang aneh. Seolah menenangkan seorang bayi. Reza gila.

Just bring her out. Before I really do that. Kill her softly~”

Aku tertawa ketika Reza bergidik ngeri sambil merapatkan pelukannya pada si kucing. Aku tidak pernah tahu kalau Reza bisa seperti itu. Yang paling mengejutkan, pada seekor kucing. Aku penasaran, apa yang membuat dia jadi berubah jadi sekonyol slash bodoh-yang-lucu seperti itu.

 

Hari Sabtu yang cerah. Dan yang kulakukan di pagi yang cerah ini adalah nongkrong di Re-Café. Sebuah café cozy yang dekat dari kampus. Sangat disayangkan untuk memiliki jadwal kelas di hari libur padahal langit sedang sangat cerah. Seharusnya aku shopping. Ke beberapa toko buku, untuk numpang baca beberapa buku…novel, atau komik. Har-har…

Aku memesan teh dan menu breakfast. Ibuku adalah sosok yang terlalu idaman dan dengan rasa kasih sayangnya memberikan semangkuk bubur hambar untuk menu sarapanku. Yang mana, aku tidak memakannya. Jadi aku sangat kelaparan sekarang.

Sambil menunggu pesanan, aku membuka grup chat teman-temanku.

999+

Tidak mengherankan. Mereka cukup gila untuk membuat rekor muri dengan chat terbanyak dalam kurun waktu satu hari.

Aku tidak punya cukup waktu untuk membaca semua chat mereka, yang aku yakini hanya berisi tentang rasa khawatir mereka, penasaran alasan kenapa aku sakit—yang paling mendominasi. Dan sisanya curhatan mereka. As always. Jadi aku langsung men-scroll ke chat paling bawah.

Sir baru mengirimnya satu menit yang lalu.

Sarah Inge.R: coba tebak, Jess update

Sarah Inge.R: dia mengeluh karena Re-Café sedang sepi

Sarah Inge.R: fotonya cukup jelek, akan ku kirim

Sarah Inge.R: pict

Sangat…tidak terduga. Jess ada di Re-Café, dan aku ada di tempat yang sama. Dan sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Padahal Re-Café memang sedang sepi.

Aku sedang malas bertemu Jess, ngomong-ngomong. Aku masih agak kesal dengan olokannya tempo hari. Tentang ketidakmampuanku membuat satu cerita komik utuh. Kuharap dia tidak menggunakan sebagian waktunya di sini untuk mengolok-olokku lagi.

Aku memutuskan untuk mengirim chat ke grup.

Fathimah A.Z: I’m here

Fathimah A.Z: mean, in re-café

Fathimah A.Z: beautiful-accident

Fathimah A.Z: HAR-HAR—sarcasm

Lena Zahra: REALLY?

Vera Larasati: w-o-w… totally incidentally

Lena Zahra: It must be destiny!

Fathimah A.Z: -_-

Sarah Inge.R: nokom

Aku membaca chat teman-temanku dengan penuh putaran mata. Pikiran mereka seperti buku terbuka dimataku. Bahkan Sir! Aku sebal-bukan-benci pada mereka.

Aku baru akan membalas mereka ketika merasakan kehadiran seseorang.

“Fathimah,”

It was Haz

Whatcha’ doin here?”

And that was Jess

Fantastic. It is totally destiny.

 

bersambung…

willyaaziza [ZMardha] santri Pesantren Media kelas 2 

al-quran bogor cerbung cerita cerpen cinta fiksi Inspirasi islam media penulis persahabatan pesantren pesantren di bogor pesantren media pesantrenmedia remaja santri santri media santrimedia tulisan willyaaziza zmardha

Penulis: 
    author

    Posting Terkait