Loading

ANAK PENGHUKUM KELUARGA

oleh : Natasha

 

Hari ini adalah hari terbaikku selama hidupku. Hari ini aku baru merasa bahwa Tuhan
sangat adil. Setelah sekian lama aku memohon, akhirnya Dia mengabulkan do’aku.
Senyumku hari ini amat segar, sesegar darah yang mengalir dari tubuh iblis itu. Ya, mungkin
aku sebagai anaknya terlalu jahat bila bersikap seperti ini ketika ibuku sekarang tengah
terbaring mengenaskan di tengah jalan itu. Namun bagiku, dia sebagai ibu lebih kejam bila
mengingat dulu, bahkan beberapa menit sebelum dia mati tadi, sikapnya padaku bak hewan
terkutuk baginya. Aku lega dia telah pergi untuk selamanya dari hidupku.

Satu lagi orang yang harus kulenyapkan. Dia cukup sulit. Maklumlah, dia kepala
kriminal alias mafia kota ini. Tapi atas didikannya, aku akan melenyapkannya, sebagai tanda
terima kasih padanya. Sekaligus, pembuktian bahwa aku bukan anak lemah seperti yang dia
anggap selama ini.

***

Aku sigap menuju ke markasku. Telepon berdering, aku segera meraihnya.

“Kak, Pak Hotaro tidak ada. Kami sedang menghadapi anak buahnya. Sepertinya
mereka menyembunyikan Pak Hotaro.”

“Oh, begitu. Baiklah. Rasanya aku tahu. Coba kalian mencarinya ke arah utara markas
itu. Di sana ada rerimbun yang sangat lebat. Di balik rerimbunan itu, ada sebuah ruang kotak
terbuat dari besi dengan warna putih. Ruangan itu bersandi, dan didalamnya ada infra merah.
Di sana, kalian akan mendapatkan peta yang menunjukkan semua letak markas Pak Hotaro.
Kemungkinan Pak Hotaro dipindahkan di salah satu markas itu. Jelajahi semuanya!”

“Siap, Kak Claudia. Kami segera Bergerak. Saya akan memanggil Fukube agar
meretas pengaman sandi itu, juga infra merahnya.”

Aku bergegas menyalakan mobil dan meluncur ke arah markas Ayah. Cih, Ayah.
Masih pantaskah dia kupanggil ‘Ayah’. Dari kecil, kebencian ini telah dilahirkan oleh Ayah.
Bahkan ibu, wanita yang pagi tadi sempat menaburkan sumpah serapahnya padaku sebagai
pesan terakhir kematiannya. Walau aku sempat kesal karena diperlakukan seperti anak
ingusan yang dimarahi ibunya, namun setelahnya aku lega dan bangga bisa berubah menjadi
pembunuh yang telah dewasa. Ya, memang akulah yang menyuruh anak buahku untuk
menabraknya. Rencana itu telah aku siapkan, bahkan dari aku kecil.

Teleponku berdering lagi.

“Halo, Kak. Sepertinya kita telah menemukan Pak Hotaro. Tapi kita belum bertindak.
Apa perintah selanjutnya, Kak.”

“siapkan Bomnya.”

“Siap, Kak Claudia.”

Aku menancap gas lebih kencang. Rasanya tak sabar melihat ekspresi terkejut Ayah
ketika dia tahu ternyata akulah dalang di balik ini semua.

Tak sampai setengah jam, aku sampai. Aku sama sekali tak melihat mobil dari anak
buahku. Sepertinya mereka menyembunyikannya. Aku segera menghampiri gerbang markas.
Tak ada anak buah Ayah yang lain. Berarti dia sendiri. Ini akan lebih mudah dari yang aku
duga.

Gerbangnya ternyata tidak dikunci. Aku masuk ke ruang tamu. Markas ini seperti
rumah. Ayah belum pernah mengajakku ke sini. Dulu, Ayah sering mengajakku ke markas –
markasnya, agar aku bisa menjadi seorang mafia. Atau hanya menyiksaku. Entahlah. Ayah
melatihku bela diri dan melakukan siasat pada penyerangan. Aku tidak tahu apa alasan Ayah
mengajariku seperti itu. Padahal setahuku, dia membenciku ketika pertama kali aku
dilahirkan ke dunia ini.

Aku melihat Ayah duduk di sebuah kursi dan menitikkan airmata. Aku perlahan
menghampirinya. Berusaha agar tak membuat suara yang bisa menyadarkannya tentang
keberadaanku. Tiba – tiba, Ayah menoleh sambil menodongkan pistol dengan airmata
beruraian di wajahnya. Aku kaget. Aku reflek mengeluarkan pistol di sakuku.

“Claudia…” Untuk pertama kalinya aku mendengar Ayah memanggil namaku.
Biasanya dia memanggilku ‘Anak Sial’. Ah, kenapa sekarang aku yang gugup. Ayah
menurunkan pistolnya.

“Ayah tahu, kau dalang dari semua rencana ini. Ayah siap menerimanya. Namun
sebelum kau mencapai tujuanmu, biarkan Ayah menceritakan kisahmu. Maaf, Ayah terlalu
malu untuk mengakuimu. Hingga Ayah tak pernah sekalipun bersikap seperti seorang ayah
untukmu. Kemarahan Ayah terhadap Ibumu, membuat Ayah buta bahwa itu bukan salahmu.

“Ketahuilah, Ayah menikahi ibumu bukan karena cinta. Dulu, Ibumu diperkosa oleh
orang lain, lelaki hidung belang. Ketika itu, Ayah menemui mereka di sebuah gang. Ibumu
berteriak histeris. Ketika Ayah menyusul, orang yang memerkosa Ibumu langsung
menyerang Ayah. Ayah menghabisinya, hingga dia menyerah dan kabur meninggalkan Ayah
dan Ibumu. Tak lama setelah itu, beberapa warga datang, dan menuduh Ayah sebagai
pelakunya. Ayah kebingungan. Ibumu hanya diam saja tak membantah tuduhan itu. Keluarga
Ibumu menuntut Ayah agar bertanggung jawab. Jika tidak, maka Ayah akan dilaporkan ke
polisi. Ayah bersikeras menjelaskan bahwa bukan Ayah pelakunya. Tetapi percuma saja.
mereka tetap tak percaya, hanya karena Ayah adalah kepala mafia. Ayah tak berdaya. Karena
Bapak dari Ibumu adalah kepala polisi. Akhirnya Ayah menyerah dan menikahi Ibumu
dengan perasaan yang terhina.

“Itulah penyebab dari kebencian Ayah pada Ibumu. Maafkan Ayah yang
melibatkanmu. Keluarga kita memang sama sekali tidaklah bahagia. Ayah belum pernah
melihat kau tersenyum. Mungkin Ayah akan melihatnya ketika kamu menuntaskan misimu
ini. Dan lagi, kau pasti bertanya – tanya dalam hatimu tentang mengapa Ayah selalu
mengajakmu ke markas dan melatihmu. Itu karena Ayah masih memiliki kasih sayang
untukmu. Ayah tak ingin kamu lemah seperti Ibumu. Sangat tak ingin. Maafkan Ayah yang
mendidikmu dengan keras sehingga setiap pulang, ada saja anggota badanmu yang terluka
dan berdarah. Bahkan mungkin hatimu juga berdarah.”

Ya Tuhan, apa ini. Ayah. Orang yang ingin aku lenyapkan tanpa aku siasati terlebih
dahulu isi dalam pikiran dan hatinya. Aku lunglai. Kakiku lemas. Airmataku deras seketika.
Aku menghambur kepelukan Ayah. Inilah pertama kalinya aku merasakan kasih sayang dalam pelukan. Apakah ibu juga seperti Ayah. Memiliki rasa sayang padaku, walau sedikit.
Sayangnya, dia telah aku lenyapkan.

“Apakah kau senang sekarang? Ayah menunggu saat-saat seperti ini. Namun
kebencian Ayah terlalu besar. Maafkan Ayah. Sekarang lakukan maumu, teruskan
rencanamu. Apapun itu, kau harus menghukum Ayah, bukan? Balas luka dan darahmu
dengan darah Ayah, Nak.”

“Bodoh! Kau pikir membalasmu dengan darah dan luka saja cukup bagiku?” Aku
melepaskan pelukannya. Menodongkan pistol ke dahinya.

“Aku luluh dengan kejujuranmu tadi. Namun kebencianku juga tak kalah besar, Ayah.
Kau benar. Aku harus menghukummu. Namun bagiku, membesitkan luka hingga berdarah
dalam sehari tak akan menebus rasa sakit dan amarahku yang tertahan selama dua puluh
tahun.”

“Lalu apa maumu? Membunuhku?”

“Tidak. Mungkin hanya sedikit siksaan dengan pedang ini.” Kataku sambil
tersenyum.

“Kak, Kak Claudia, Kakak di dalam? Dua puluh detik tersisa sebelum bom meledak.”

“Ah, dua puluh? Sedikit sekali. Tapi boleh juga kalau aku menusuk sambil
menembakmu selama lima belas kali. Lumayanlah untuk kenang-kenangan di akhirat.”

Ayah diam memasrahkan diri, sedang aku membabi buta mencabik-cabiknya dengan pedang
dan peluru.

“Kak Claudia. Ayo! Kumohon! Jangan hukum kami juga dengan kehilanganmu.”
Time menarikku keluar, disusul dengan anak buahku. Aku melihat Ayah dengan darahnya
yang tumpah. Dengan keadaannya yang seperti itu, dia tersenyum padaku. Kenapa baru
sekarang dia tersenyum.

“AYAH! AYAH! AYAH!”

Terlambat.

***

Keluargaku, keluarga yang sama sekali tak pantas disebut keluarga. Entah aku yang
membuatnya begitu, atau Ayah, atau ibu? Jika benar akulah penyebabnya, maka aku akan
menembak diriku sendiri. Untuk menebus segala kesengsaraan yang dirasakan oleh Ayah dan
Ibu. Jika Ayah penyebabnya, mungkin aku akan memaklumi. Karena Ayah telah mengakui
semuanya. Namun Ibu, ia masih misteri. Jika dia adalah penyebabnya, aku tak akan pernah
menyesal atas apa yang telah aku perbuat. Jika bukan Ibu penyebabnya, aku rela dijuluki
dunia ‘Anak Durhaka’ hingga akhir hayatku.

Aku ingin mengetahui siapa penyebabnya. Dan biar aku yang menghukum pelakunya.
Karena aku dilahirkan sebagai anak penghukum keluarga. Tak peduli keluarga siapapun itu.
Aku akan menebaskan pedangku demi menghukum mereka yang menjadi pelaku kerusakan
keluarganya. Sambil membekaskan goresan darah disampingnya, ‘Claudia Hotaro’. Itu
memang jauh dari urusanku. Tapi aku tak ingin mereka menjadi sepertiku.

Aku salah? Mungkin saja. Namun aku tak peduli.

Lihatlah Time, anak buahku yang sangat menyayangiku. Keluarganya aku hukum saat
dia berumur empat belas tahun. Ya, itu tiga tahun yang lalu. Keluarganya membencinya
karena dia dungu. Dia dihina masyarakat dengan kedunguannnya, dan membuat orangtuanya
malu. Orangtuanya merasa dia anak terkutuk. Keluarganya menghukum kelahirannya dengan
memotong kedua telinganya. Padahal, dia adalah anak paling jenius di antara kami. Dia
menciptakan satu alat komunikasi yang diterjemahkan melalui getaran. Setiap getaran
memiliki simbol yang hanya diketahui olehnya. Karena alat itu memang untuk sarana
komunikasinya padaku dan teman-temannya. Hanya saja, aku membiayai dia agar
mengembangkan alat itu untuk membantu orang-orang yang tuli. Dan kini, dia menjadi orang
yang terpandang. Namun tetap saja, dia tidak mau berhenti menjadi anak buahku

Dan semua anak buahku yang sekarang semakin banyak, semua keluarganya adalah
bukti dari penghukumanku.

Aku kejam? Tidak juga. Lihatlah sudah berapa puluh senyuman terima kasih yang
disuguhkan untukku.

[Natasha]

By Fathimah NJL

Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *