Script; “Bangkit”

250 views

Title : Bangkit

 

 

SC1. EXT. LORONG DEPAN MASJID NURUL ILMI – DAY

(Nana, Yaya, Sasa)

 

Nana, Yaya, dan Sasa sedang berjalan di lorong. Yaya dan Sasa berjalan di depan sambil membahas kertas ujian yang mereka pegang. Nana terlihat mengikuti di belakang mereka. Ia menyondongkan leher mengintip di balik bahu kedua temannya.

 

Kertas Yaya dan Sasa menunjukkan hasil yang memuaskan (mungkin 1oo ke atas).

 

Nana menatap kertas ujiannya penuh harap. Tapi yang dilihatnya adalah nilai yang mengenaskan (misalnya 0 ke bawah). Nana memanyunkan bibirnya menyedihkan. Menghela nafas kemudian menunduk pasrah.

 

SC2. EXT. TERAS MASJID NURUL ILMU – DAY

 

Nana menatap kosong ke depan. Menatap kertas ujiannya sekali lagi kemudian menghela nafas sedih lagi. Nana kembali memandang ke depan.

 

FLASH

 

SC3. EXT. LAPANGAN BELAKANG MASJID NURUL ILMI – DAY

 

Nana berdiri di tengah lapangan. Ia tersenyum bangga sekali. Ia mengangkat kertas ujian dan menunjukkan nilai 100 (WOW.. Sempurna!). Sementara Yaya dan Sasa bertepuk tangan bangga. Nana tersenyum lebar sampai menampilkan giginya :D.

 

BACK TO SC2

 

Nana masih dalam lamunannya. Ia tersenyum aneh sambil memejamkan mata. Di depannya, Yaya dan Sasa memandangnya sambil cekikikan. Nana membuka matanya perlahan dan terkejut melihat dua temannya sedang cekikikan di hadapannya.

 

YAYA

(Cekikikan) “Kamu lagi ngapain, Na? Pasti lagi ngelamun.”

SASA

“Jangan suka ngelamun, Na. Nanti kesambet loh.”

 

Nana meringis. Yaya dan Sasa ikut duduk mengapit Nana.

 

NANA

“Kacau, nih. Nilai tesku tadi ancur parah. Siap-siap kena omelan Bu Badriyah. Habis, deh, aku dengerin kicauannya nanti.”

 

Yaya dan Sasa saling berpandangan prihatin. Sasa mengelus punggung Nana menghibur.

 

SASA

“Sabar aja ya, Na. Berarti kamu emang harus belajar lebih lagi.”

YAYA

“Iya, tuh. Nggak ada salahnya kalau emang belum berhasil. Yang penting kan kamu udah berusaha semaksimal yang kamu bisa lakuin. Ya, kan?”

 

Nana tersenyum singkat. Kemudian ia tampak berpikir dan seakan-akan menemukan suatu pencerahan. Ia mengeluarkan hpnya. Yaya dan Sasa menatapnya bingung.

 

Nana mengetikkan sesuatu di pencarian hpnya. “Cara menjadi pintar”. Yaya mengintip ke layar hp Nana. Kemudian berceletuk.

 

YAYA

“Sekalian aja kamu cari tentang jamu pembuat pintar.”

 

Sasa menatap Yaya dengan tatapan mengancam.

 

SASA

“Ish, Yaya!”

 

Tetapi Nana malah mengangguk-anggukkan kepala.

 

NANA

“Ada, ya? Hmm.. boleh juga..”

 

Nana kembali sibuk dengan hpnya. Yaya dan Sasa menghela nafas pasrah.

 

SC4. EXT. – DAY

(Nana)

 

Nana datang dan duduk di tempatnya. Ia mempersiapkan buku-buku dan alat-alat belajarnya. Kemudian menyiapkan diri untuk belajar.

 

Nana mulai membuka bukunya. Membacanya sambil menyalinnya di buku tulis. Tidak berapa lama, Nana berhenti.

NANA (VO)

“Untuk tes besok, apa aku buat contekan aja, ya?”

 

Nana menggelengkan kepalanya keras.

 

NANA (VO)

“Astaghfirullah…(menempar mukanya). Itu kan perbuatan curang(meneampar mukanya). Kalau aku ngelakuin itu, artinya aku adalah orang yang hina(menampar mukanya lagi kanan dan kiri). Pasti nggak enak kalau hidup dengan kepalsuan(menampar pipinya). Astaghfirullah…(menampar pipinya berkali-kali).”

 

Nana mengelus dadanya menyesali niatnya. Kemudian menyemangati dirinya sendiri.

 

NANA

“Ayo! Semangat, Na! Kamu pasti bisa kalau mau. Man jadda wa jada!”

Nana menatap bukunya dengan serius. Namun…

 

5 menit kemudian…

 

Kepala Nana terangguk-angguk. Matanya terpejam. Ia tertidur. Kemudian tersentak bangun. Ia mencoba membangunkan dirinya sendiri.

 

5 menit kemudian…

 

Nana bersandar dengan kepala menengadah ke atas. Wajahnya tertutupi oleh buku. Tiba-tiba terdengar suara panggilan di hpnya. Nana mengangkat bukunya dari wajahnya. Wajahnya sudah kusut sekali. Ia sudah di ambang batasnya.

 

Nana mengambil hpnya dan menjawab panggilannya.

 

NANA

(Lemah) “Assalamu’alaikum…”

IBU NANA (OS)

“Wa’alaikumussalam. Nana, ini Ibu, sayang.”

NANA

(Lemah) “Iya, Bu.”

IBU NANA (OS)

“Loh? Nana kenapa? Kok suaranya lemes banget?”

NANA

(Menghela nafas panjang) “Iya, nih, Bu. Nilai tes Nana ancur parah, Bu. Ini Nana lagi belajar buat tes selanjutnya. (Menghela nafas lagi) Tapi kepala Nana rasanya kayak udah mau pecah.”

IBU NANA (OS)

“Haduh… Yang sabar, ya, nak. Semua hasil yang baik memang membutuhkan usaha yang keras. Tetapi usaha yang keras saja belum cukup. Harus dibarengi dengan ikhlas dan tawakkal kepada Allah SWT. Banyak-banyak berdoa. Pokoknya, jangan melupakan Allah di setiap urusan kita.”

 

Nana mengangguk-anggukkan kepala menyimak nasihat ibunya. Perlahan, matanya yang redup kembali menyala.

 

NANA

“In Syaa Allah, Bu. Terima kasih nasihatnya, Bu. Ibu emang the best. Nana sayang sama Ibu. Ibu doain Nana, ya.”

IBU NANA (OS)

“Selalu, sayang…”

NANA

“Oh, iya, Bu. …”

 

Dan Nana terlibat pembicaraan bersama ibunya.

 

DISSOLVE TO

 

SC5. INT. MASJID NURUL ILMI – DAY

(Nana)

 

Nana bangun dari sujudnya. Duduk tahiyat akhir dan melakukan salam. Kemudian ia menengadahkan tangan.

 

NANA

“Ya, Allah… Hanya Engkaulah yang bisa membantu hamba. Karena Engkaulah yang Maha Berkuasa atas apapun. Berikanlah hamba kekuatan untuk mengubah keadaan. Nilai tes hamba cuma .. Berilah hamba kemudahan, Ya Allah. Aamiin…”

 

Nana mengusapkan tangannya ke wajah.

 

DISSOLVE TO

 

SC6. EXT/INT – DAY

(Nana)

MONTAGES NANA SEDANG BELAJAR DI MANA SAJA

 

SC7. EXT. LORONG DEPAN MASJID NURUL ILMI – DAY

(Nana)

 

Nana membetulkan letak tasnya. Mengangguk mantap lalu berjalan melewati lorong menuju ruang tes.

 

DISSOLVE TO

 

SC8. EXT. JALAN DEPAN MASJID NURUL ILMI

(Nana)

 

Nana berjalan sendirian di jalan. Ia berhenti dan menatap kertas di tangannya. Ia tersenyum. Terlihat di kertas angka yang lebih baik dari sebelumnya. Nana terlihat tersenyum bangga.

 

FREEZE-FADE OUT

 

END

 

[Fathimah NJL, Kelas 3 SMA, Pesantren Media]

@fathimahnjl bogor cerita cerpen fiksi Inspirasi islam karya santri media menulis pesantren pesantren media remaja sahabat santri santri media skenario tulisan

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait