Purnama: Petir

44 views

Petir Purnama

“Ini kartu nama Papa Sinar, yah?”

“Bukan. Itu angkel, Angkel Ti,”

Alisyah mengangguk mengerti, “Ibu telponin supaya jemput kamu, yah?”

Sinar mengangguk. Alisyah berdiri menjauhi Sinar, muridnya di Taman Kanak-Kanak tempat ia mengajar. Sambil menunggu panggilannya diterima, Alisyah mengawasi Sinar dari kejauhan. Sinar tampak menikmati duduknya di ayunan taman bermain. Memperhatikan sepatunya.

Didering ke tujuh, panggilannya diangkat, “Assalamualaikum, halo. Dengan Bapak Petir Purnama, wali dari Sinar Purnama? …. Saya guru di TK Pelita. Maaf, mengganggu, ini sudah hampir satu jam sejak jam pulangnya Sinar, tapi belum ada yang menjemput Sinar…. Baik, terimakasih,”

Alisyah bernapas lega. Begitu panggilan ditutup, ia berjalan menghampiri Sinar.

“Katanya, uncle bakal jemput. Sinar tunggu sebentar lagi gapapa?”

Sinar mengangguk. Rambutnya yang dikuncir dua menari lucu mengikuti gerak kepalanya.

“Mau Bu Guru dorongin, ayunannya?”

Tidak seperti anak seumurannya yang akan setuju, Sinar justru menolaknya.

Hampir genap dua bulan Sinar Purnama sekolah di TK tempat Alisyah mengajar selama dua tahun belakangan. Dari dua belas murid di kelasnya, Sinar adalah yang paling pendiam.

Awalnya, Alisyah pikir kalau Sinar belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Apalagi dia murid pindahan, jadi mungkin agak sulit memulai pertemanan. Tapi di tiga minggu pertama, Sinar belum juga bergabung dengan murid lainnya.

Murid-muridnya yang lain juga tampaknya enggan bermain dengan Sinar.

Mungkin ada faktor lain,

Alisyah duduk di ayunan di samping Sinar dan menggoyangkannya sedikit.

“Tadi Ibu liat hasil gambar kamu, loh. Bagus banget,”

Sinar mengangkat kepalanya, melirik Alisyah.

“Ibu ngga nyangka Sinar jago ngegambar, yah,”

Sinar mengangguk. Dari tempatnya, Alisyah dapat melihat bibir anak itu tertarik ke atas. Meski sedikit.

“Sinar pengen jadi pelukis, yah?”

Lagi, Sinar mengangguk.

“Waktu Ibu Guru masih kecil, Ibu juga pengen jadi pelukis, loh,” Alisyah tersenyum pada Sinar yang tampak fokus padanya.

“Dulu Ibu Guru punya kucing. Lucuuu banget. Namanya Mondi. Ibu pengen main sama Mondi setiap hari. Tapi ibu harus sekolah, dan ngga dibolehin bawa Mondi. Jadi ibu ngegambar Mondi di buku gambar. Gara-gara itu, Ibu pengen jadi pelukis. Kalo kangen sama Mondi tinggal gambar, deh,”

Senyum Sinar melebar. Alisyah mengacak puncak kepala Sinar, gemas, saat melihat senyum anak itu yang menampakkan gigi gingsulnya.

“Kalo Sinar, kenapa pengen jadi pelukis?”

Sinar tersenyum semakin lebar. Dan dapat dipastikan mata anak berusia empat tahun ini ikut tersenyum juga.

“Sinar pengen kayak mama. Jadi pelukis,”

“Wah…Mama Sinar pelukis, yah?”

Sinar mengangguk bersemangat. Kuncir rambutnya lagi-lagi menari dengan lucu ke depan dan belakang.

“Mama bisa ngegambar semuanya,”

“Oh, ya? Semuanya?”

“Hm. Mama bisa gambar Papa, Angkel Ti, Aunti Hana, Angkel Ki. Semuanya!”

“Wah, Ibu Guru jadi pengen digambar juga, sama Mama Sinar,”

Alisyah megerutkan alisnya sedikit. Sesaat tadi, ia menangkap ekspresi sedih di mimik wajah Sinar. Benar-benar sesaat sampai ia meragukan penglihatannya sendiri.

Masa anak umur empat tahun bisa ngendaliin emosi secepet itu?

“Kalo Sinar udah gede, Sinar gambar Ibu Guru,”

“Bu Guru—” Alisyah tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat matanya menangkap mobil berwarna hitam melewati gerbang sekolah.

Walinya Sinar?

 

Sinar Purnama memilih tetap di tempat saat gurunya menghampiri pamannya yang keluar dari mobil.

Dari tempatnya, ia melihat pamannya. Yang seperti biasa selalu tampak hebat dan menakutkan di saat yang bersamaan. Membuat Sinar merasa kagum tapi takut disatu waktu. Meski Sinar sendiri tahu, pamannya adalah orang yang baik. Sangat baik.

Uncle Ti selalu bermain dengan Sinar sebelum sarapan dan setelah makan malam. Sinar juga suka kalau diajak Uncle Ti ke taman dekat komplek di Hari Minggu. Kadang, Uncle Ti suka gendong Sinar di punggung kalo dia capek. Uncle Ti juga beliin Sinar boneka panda yang dua kali lebih besar dari Sinar. Sekarang boneka itu selalu jadi favorit Sinar.

Uncle Ti, uncle yang paling hebat buat Sinar.

“Uncle Ti itu kayak ayah kedua buat Mama, Uncle Ki dan Uncle Gun,”

Sinar menunduk muram, mengingat perkataan mamanya dulu. Pikirannya memutar ulang memori bersama paman kesayangannya. Yang hebat dan selalu tampak sempurna.

Dulu Uncle Ki pernah bilang kalo manusia itu ngga ada yang sempurna. Makanya mereka diciptain berpasang-pasangan buat saling melengkapi. Sinar ngga tau apa maksudnya. Pas mau nanya maksudnya, Uncle Ki malah dimarahin Uncle Gun.

Kali ini, pikiran Sinar yang masih berkembang, berpikir keras.

Semua manusia ngga sempurna. Kalo mau sempurna harus ada pasangannya. Setau Sinar, yang namanya pasangan itu kayak sepatu sebelah kanan dan sebelah kiri. Mama sama Papa. Atau Uncle Ki sama Aunti Hana. Atau Uncle Gun sama Aunti Raya. Mereka semua sekarang sempurna, karena berpasangan.

Uncle Ti sempurna buat Sinar. Dan Mama, Uncle Ki sama Uncle Gun pasti berpikiran sama. Tapi Uncle Ti belum berpasangan. Itu artinya Uncle Ti belum sempurna.

Sinar menendang-nendang pasir dengan ujung sepatunya. Ayunan yang di dudukinya bergerak pelan.

Manusia sesempurna Angkel Ti, harus berpasangan sama siapa supaya jadi sempurna, yah?

Sinar melirik pamannya, Uncle Ti, yang sekarang menatapnya. Sinar melompat dari ayunan, tahu ia harus segera menghampiri pamannya. Kakinya terhuyung sedikit ketika menginjak pasir cokelat. Dia menyeimbangkan tubuhnya dan melirik Bu Guru-nya, Alisyah. Guru perempuan yang paling Sinar sukai di sekolahannya.

Bu Alisyah cantik dan baik. Bu Guru-nya selalu menyukai gambar-gambarnya. Suka mengajak Sinar mengobrol sambil menunggu jemputan setiap pulang sekolah. Setelah selesai tes membaca, Bu Alisyah selalu mengelus ujung kepalanya dan memujinya ‘anak sholihah’.

Sinar juga suka kerudung yang selalu dipakai Bu Alisyah. Juga bajunya. Kalo sedang belajar di luar, baju dan kerudung Bu Guru kadang tertiup angin. Jadi seperti princess-princess yang sepupunya, Sora, tonton di televisi. Sinar suka.

Sinar meraih uluran tangan Uncle Ti. Dia tersenyum lebar pada Bu Guru yang kini berjongkok, menyamakan pandangan mata keduanya.

“Bu Guru harus berpasangan sama Uncle Ti supaya Uncle Ti sempurna!”

 

Alisyah Nur Shifa

Petir membuang napas cepat. Ia mengabaikan mimik wajah guru Sinar yang memakai pin bunga berwarna ungu yang menuliskan namanya.

“Sinar, pamit ke Ibu Guru,” perintahnya.

Sinar menengok ke arah Petir lalu gurunya. Anak itu mengulurkan tangannya pada Alisyah dan bersalaman, “Bu Guru harus janji buat pasangan sama Angkel Ti. Supaya Angkel Ti sempurna,”

Lagi-lagi,

Enam tahun lalu, saat Panah menikahi adiknya, Cahaya, Petir tidak pernah menyangka akan mendapatkan keponakan pertama dari mereka berdua. Dan dia tidak menyangka perpaduan keduanya menjadikan Sinar sosok yang unik. Perpaduan antara sikap terus terang dan cepat tanggap.

Siapa juga yang akan menyangka Sinar mengatakan hal semacam itu secara tiba-tiba. Pada orang yang sama sekali belum pernah Petir kenal dipertemuan pertama mereka. Lagi pula, kenapa Sinar bisa berpikiran seperti itu?

Petir harus menginterogasi Kilat secepatnya.

“Sinar, mengucap janji itu berharga dan harus dipertanggung jawabkan. Bu Guru ngga bisa berjanji buat hal-hal yang belum tentu bisa Bu Guru pertanggung jawabkan,” Alisyah menepuk pelan pundak Sinar, “Udah siang. Bentar lagi waktu dzuhur. Sinar harus pulang. Ayo, ucapin salam dulu,”

Petir menatap interaksi antara Sinar dan gurunya. Ia bersyukur guru bernama Alisyah itu menyamai daya pikir Sinar. Dan mengerti kalau anak ini butuh jawaban yang logis. Seperti halnya Cahaya—adiknya sekaligus orangtua dari—Sinar yang tidak mau menerima jawaban tidak masuk akal dan akan menuntut jawaban yang memuaskan logikanya.

Petir membalas tatapan Sinar padanya. Anak itu langsung menunduk lesu seraya berucap, “Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam,”

Petir membuka pintu mobil, meminta Sinar segera masuk. Dengan enggan, Sinar melangkahkan kakinya ke mobil. Sesekali pandangan matanya tertuju pada gurunya, “Dah Bu Guru,”

“Dah…. Besok jangan telat, yah,” Sinar mengangguk lesu. Kuncir rambutnya lagi-lagi menari lucu. Petir diam-diam tersenyum, kemudian menyusul memasuki mobil.

Petir baru keluar dari komplek tempat TK Sinar, saat ponselnya berdering.

“Ya?”

“Pak, perwakilan dari PT. Agra pengen ketemu langsung sama bapak,”

Petir menginjak rem tepat di lampu merah. Ia melirik caller id. “Lima belas menit lagi saya di sana. Minta mereka tunggu di ruang rapat, aja, Dimas,”

“Oke, Pak,”

Panggilan ditutup. Petir melirik Sinar yang sejak tadi masih menundukkan kepalanya. “Sinar,” panggilnya, “Lagi mikirin apa?”

“Bu Guru,” Sinar berbisik, menjawab.

Petir terdiam cukup lama. Bingung bagaimana harus menanggapinya. Ia bukan tipe orang yang mudah berbasa-basi dan mengalihkan pembicaraan anak kecil, seperti halnya Kilat, adiknya—sekaligus paman Sinar.

Petir menyerah, “Jangan lama-lama mikirinnya. Kita ke kantor uncle dulu. Kalo ngantuk, Sinar tidur di sana gapapa?” Petir melirik keponakannya, “Atau mau langsung pulang di anterin Om Rega?”

Sinar menggeleng, “Sama Angkel aja,”

Lima belas menit kemudian, Petir ke luar dari mobil. Membuka pintu untuk Sinar dan memberikan kunci pada valet. Ia mengangkat Sinar, menggendongnya dan dengan langkah cepat memasuki gedung kantor menuju lift.

“Angkel, Sinar mau ke masjid dulu,”

“Masjid?”

“Atau mushola,”

Petir kebingungan, “Nanti saja, uncle buru-buru,”

“Maunya sekarang,” Sinar meronta. Petir menurunkan Sinar dari gendongannya. “Angkel kerja, Sinar ke masjid,” Sinar berlari ke luar dari lift saat pintunya terbuka. Petir buru-buru menangkapnya, namun Sinar malah memukulinya.

“Ngga mau. Pengen ke masjid,”

“Sinar Purnama!” Petir menggeram tertahan. Ia menangkap kedua tangan Sinar. Ini pertama kalinya ia melihat anak itu bersikap tidak sopan. “Minta maaf!”

Sinar menunduk. Air mata tertahan di pelupuk matanya, “Maaf, Angkel,”

“Dimaafkan,” Petir melepaskan tautan tangannya pada Sinar, “Kenapa Sinar mukul-mukul?”

“Pengen ke masjid,”

Petir menghela napas, “Kenapa Sinar pengen ke masjid?”

“Pengen Sholat Dzuhur. Bu Guru bilang kalau sholat terus minta ke Allah nanti permintaannya dikabulin. Huaaa…”

Petir terdiam saat Sinar menangis dan memeluknya erat.

Anak ini…

Petir membawa Sinar dalam gendongannya. Dari kejauhan, Dimas—salah satu pegawainya—berlari ke arahnya. Memberi kode bahwa salah satu relasinya menunggu di ruang rapat. Ia balas memberi kode agar diberi waktu sepuluh menit lalu melangkah memasuki lift menuju lantai tiga. Menuju mushola.

“Memangnya Sinar mau minta apa?”

“Pengen—…supaya…Angkel sama Bu Guru sempurna. Kayak Mama-Papa,”

Petir menepuk punggung Sinar pelan. Keponakannya masih menangis sesenggukan, membasahi kemeja birunya.

Pintu lift terbuka. Petir keluar lift, berjalan menuju mushola.

Mungkin lain kali permintaan kamu dikabulin, bisiknya pada diri sendiri.

list karakter:

  1. Petir Purnama (anak pertama)
  2. Guntur Purnama (anak kedua)
  3. Kilat Purnama (anak ketiga)
  4. Cahaya Purnama (anak keempat)
  5. Sinar Purnama (anak Cahaya)
  6. Sora Purnama (anak siapa, ya?)

yang lain, nyusul!

bersambung, atau ngga? emh… ngga dulu, deh. Mau selesain yang lain dulu, baru ngurus keluarga Purnama. Okay? Oke, dong!

semoga dapat inspirasi atau motivasi. Amiin…

See, ya, di lain cerita!

willyaaziza

bogor cerita cerpen cerpen baru cinta contoh cerpen fiksi Inspirasi islam karya santri media menulis penulis willyaaziza pesantren pesantren di bogor pesantren media pesantrenmedia remaja santri santri media santrimedia tulisan willyaaziza zadia mardha zmardha

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan