Pengalaman Pertama Menjadi Presenter Radio

382 views

Berisik sekali suara kucing dipagi hari ini, suara kucing yang aneh, aneh sekali, aku hampir tak percaya mendengar suara kucing yang menyesak ke telingaku ini. suara itu terdengar seperti sebuah nyanyian yang mengganggu tidur lelapku, suara yang membuatku semakin resah dan marah, ingin rasanya  kulempar kucing itu, tapi berat sekali mata ini untuk bangun. Tapi anehnya, bersamaan dengan suara itu, aku merasakan ada benda yang bergetar di sebelah telingaku. Dengan mata yang masih terpejam aku berusaha meraba-raba di sekitar kepalaku ini, kutemui ada sebuah benda kotak yang terpegang tanganku, aku hapal benda ini, dan aku sadar bahwa itu adalah hp ku, dan bodohnya lagi, aku baru sadar kalau suara kucing yang seperti bernyanyi itu adalah suara alarm hp ku. Aku langsung membuka mataku dan  memastikan suaru itu. aku tertawa sendiri, lucu sekali ya, aku memasang alarm, dan aku lupa dengan alarm itu. sungguh aneh.

Aku langsung berdiri, kulihat teman-temanku yang lain masih lelap tertidur. Seperti biasanya, aku selalu bangun lebih awal dari teman-temanku, aku langsung keluar kamar dan melihat jam dinding di luar kamar, jam menunujukkan sudut 90 derajat, dan artinya baru jam 3 pagi.

Pagi ini aku dan Yasin ditugaskan untuk menjadi presenter di acara radio (kuliah subuh bersama pesantren media), ini karena Kak Farid yang biasanya menjadi presenter, kini ia sedang sakit. Kami sudah harus sampai di radio Mars FM sebelum jam 5, jadi kami harus bersiap-siap lebih awal dan berangkat jam 4 nanti, semoga saja dapat sampai di radio Mars  sebelum memasuki waktu shubuh, sehingga dapat sholat shubuh di masjid raya, masjid yang terletak di sebelah radio mars fm.

Aku semakin bingung, bukan karena tak punya uang, tapi karena aku bingung sekali memikirkan mengenai siaran nanti, aku tidak punya pengalaman mengenai hal yang satu ini, pernah sih aku ikut Kak Farid siaran dan ikut berbincang-bincang, tapi saat itu kan aku dapat lebih santai karena bersama Kak Farid. Sedangkan sekarang aku hanya bersama Yasin, temanku yang juga tidak memiliki banyak pengalaman menjadi seorang presenter radio. tapi bagaimana pun juga aku harus mencoba nya, karena ini adalah tahap pembelajaran untuk menjadi bisa.

Dengan perasaan yang semakin berdebar-debar, aku dan Yasin akhirnya berangkat menggunkaan motor tua yang selalu setia menemani para anak-anak pesantren media. Motor yang selalu mengantarkan kami ke tempat  yang sulit kami jangkau dengan berjalan kaki.

Di perjalanan, ada sebuah Insiden yang sedikit menghambat perjalanan kami. Saat motor yang kami naiki sedang melaju dengan kencang, tiba-tiba saja, helm yang aku gunakan terlepas dari kepalaku. Seketika aku langsung menyuruh yasin stop. keras sekali suara benturan helm dengan aspal itu, bagiku suara itu seperti suara panci yang jatuh dari ketinggian 5 meter. Tapi aku tidak memikirkan seperti apa suara itu.  Aku langsung turun dari motor, mengambil helm itu dan kembali lagi ke motor. Aku memang lupa mengunci tali helm itu, sehingga helm itu melayang, dan untungnya helm terbang itu tdak mengenai pengendara lainnya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, Insiden itu sudah kulupakan, ada hal yang lebih layak untuk kupikirkan, yaitu mengenai siaran itu. Di perjalanan aku  terus saja berusaha menyusun kata-kata, menyusun kalimat yang enak di dengar. Bagaimana cara membuka acara radio, bagaimana ekspresi saat berbicara, bagaimana cara penutupan, semua nya terngiang-ngiang dipikiranku. Aku selalu saja memikirkan hal itu.

Setelah sekitar setengah jam perjalanan, setelah kami kebingungan mencari jalan, saat hati ini semakin berdebar dan gugup, akhirnya kami sampai juga di radio Mars FM, aku semakin gugup dan berdebar.

Sesuai dengan target, kami sampai sebelum memasuki waktu shubuh sehingga kami masih sempat untuk sholat berjamaah di Masjid Raya.

Aku berusaha tenang dan rilex, aku gugup bukan karena akan di dengarkan oleh banyak orang, tapi aku gugup karena aku bingung bagaimana cara menjadi presenter radio itu, terutama cara membuka dan menutup acara, sebenarnya bisa sih dikarang sendiri kalimatnya, tapi aku takut kalau kalimatku  ini terasa aneh, tidak nyambung dan susah dicerna. Tapi aku tetap berusaha tenang dan menganggap kalau ini adalah proses yang harus dijalankan untuk menjadi bisa.

Waktuya sudah semakin dekat, kami sudah memasuki studio tempat siaran itu, aku berharap ustad oleh akan datang sebelum jam 5, sehingga aku dapat bertanya dahulu mengenai kalimat yang aku bingungkan ini, aku tidak pandai membuat kata-kata sepeti teman-temanku yang lainnya. Membuat kata yang begini saja sudah kebingungan, apalagi jika nanti ceramah di depan umum ya.

Jam 5 lewat 15 akhirnya Ustad Oleh datang juga, aku semakin berdebar dan gugup, dan akhirnya siaran pun dimulai, aku sedikit tenang karena yang membuka acara adalah Yasin, karena mungkin baru pertama kalinya bagi Yasin, jadi ia terlihat gugup dan sering kali tersendat saat mengucapkan kata-kata.

Walaupun aku dan Yasin yang menjadi presenternya, tapi yang paling terlihat sibuk adalah Ustad Oleh, kasihan sekali Ustad Oleh, berungkali mondar-mandir dari kursi narasumber ke komputer. hanya Ustad Oleh yang mengerti cara mengoperasikannya, yang mana lagu-lagu yang harus diputar,  dan kapan lagu itu harus diputar, jadi Ustad Oleh lah yang mengatur semuanya. Kami belum pernah diajarkan mengenai cara mengoperasikannya itu.

Di tengah-tengah perbincangan, aku semakin merasa tenang, gugup yang tadi kurasakan, sudah hilang. Aku semakin mengikuti aliran acara ini. bahkan aku menikmati nya, aku banyak tertawa saat mendengar ceramah Ustad Oleh yang lucu dan menyenangkan.

 

Tahap demi tahap kami lewati, mulai dari sesi pembukaan, pertanyaan, break, dan penutupan. Aku melewati itu semua bersama Yasin, kami membagi tugas, Yasin bagian membuka acara dan sebelum break, sedangkan aku bagian  membuka setelah break, dan menutup acara. Sungguh pengalaman baru yag menyenangkan.

Aku lega, semua nya sudah berakhir. Tapi sebelum kami mengakhiri semua ini, aku berfoto-foto terlebih dahulu, agar pengalaman ini akan tetap abadi, selain berfoto-foto dengan Yasin, aku juga berfoto dengan Ustad Oleh.

Sekitar jam 6:15, kami pun pulang, untuk perjlanan pulang ini, kami tidak terlalu hapal jalannya, jadi kami mengikuti Ustad Oleh sampai ke jembatan merah, namun dari jembatan merah ke pesantren media, kami sudah hapal jalannya.

Perjalanan pulang lebih lama dibandingkan perjalanan berangkat tadi. Wajarlah karena jam segini adalah jam-jam macet, anak-anak pergi sekolah, orang-orang pergi kerja, ibu-ibu ke pasar, semua nya bertemu dalam satu jalan yang sempit.

Dan akhirnya kami sampai juga hingga tujuan, dan berakhirlah kisah pengalamanku ini.

 

Ahmad Khoirul Anam

[Santri tahun pertama SMA di Pesantren Media]

belajar catatan diary

Penulis: 
author
Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri