Penantian yang Menyenangkan

917 views

Selasa, 28 Agustus 2012

Hari ini setelah makann pagi. aku dan Kak Farid bersama Ustad Umar pergi ke kantor pos. ya, kami menggunakan mobil Ustad Umar, perjalanan berlangsung biasa, tidak macet dan berjalan lancar. Jadi tidak butuh waktu lama untuk samapi di tempat tujuan, kami berangkat jam setengah sembian lewat dan sampai di kantor pos jam sembilan tepat.

Saat samapi di kantor pos, Ustad Umar langsung menyelesaikan semua prosedur pembayaran , karena ia ada urusan dan harus pulang, jadi kami yang menunggu surat-surat itu,  salah satu pekerja kantor pos itu mengatakan kalo semua ini selesai sekitar jam 12. Wow lama sekali, ujarku dalam hati. Tidak sanggup kami menunggu terlalu lama di kantor pos, karena pasti tidak betah. akhirnya aku dan kak Farid memutuskan untuk jaan-jalan terlebih dahulu. Jam setengah sepuluh kami pergi ke BTM berjalan kaki, karena letak kantor pos itu dekat dengan BTM.

Masuk ke dalam BTM, suasnana masih sepi, baru sedikit toko-toko yang buka, tidak masalah toko mau buka atau tidak, karena kami hanya berniat jalan-jalan, berharap waktu berlangsung sangat cepat. Sambil ngobrol, kami terus melangkahkan kaki hingga akhirnya sampaii ke lantai paling atas. Seperti nya bukan lantai paling atas sih, tapi yang jelas di lantai itu adalah bioskop 21. Tidak, kami tidak ingin nonton, kami Cuma liat-liat saja, lagipula bioskop itu bukanya jam setengah dua belas. Lelah melihat lihat dari atas. Kami berdua langsung turun,satu persatu tangga eskalator kami turuni, melewati setiap lantai, hingga kahirnya sampai ke lantai terbawah.

Walaupun menggunakan eskalator, tetap saja terasa lelah. Akhirnya setelah bosan dengan suasana di dalam, kami langsung keluar dari BTM, merasakan udara yang sangat berbeda. Kami memang tidak membeli apa-apa, tapi meskipun demikian setidaknya kami telah membuat perut ini jadi lapar. Hehe. ya sudah deh, kami memutuskan untuk makan dulu saja. Pedagang-pedagang berjejeran di pinggir jalan, bermacam-macam dagangan. Ada bakso, soto, mie ayam, nasi, es, ketoprak, dan banyak deh. Sampai membuat kami bingung memilihnya. Akhirnya kutanyakan kepada perut ini, dan ternyata aku lagi pengin makan soto, jadi  Aku dan Kak Farid berhenti di salah satu pedagang soto ayam khas madura, disituah aku mengisi perut ini.

Pedas sekali soto ini, bibir ini seperti mau pecah rasanya. padahal aku menggunakan sambal sedikit saja, di tambah lagi panas matahari yang tidak berpihak kepada kami, membakar kulit ini, membuat makanan ini terasa semakin pedas saja. cahaya matahari leluasa memanaskan kulit ini karena tempat makan ini memang terbuka. Udah panas, pedas lagi. Ya, udah akhirnya aku membeli es kelapa, untuk meringankan derita itu semua. Waduhh.. Segarr sekali rasanya. Nyess di tenggorokan.

Akhirnya kenyang juga perut ini. Aku berdiri dan mengambil HP dari saku celana, dan aku berharap sekarang sudah jam 12 saat aku melihat jam nanti. Waduuh… ternayata Masih jam 11, masih lama untuk kembali ke kantor pos, akhirnya kami putuskan pergi ke kebun raya bogor, di sanalah tujuan kami selanjutnya, menghabiskan waktu, dan itu adalah cara kami untuk membuat waktu terasa lebih cepat. Dari BTM ke kebun raya bogor tidak terlalu jauh, tapi kami berjalan kaki sehingga terasa jauh. Kaki ini sedikit lelah. Tubuh ini terasa panas, oleh terik matahari yang sejak tadi tak henti-hentinya memanggang kulitku. Tapi setelah sampai, semua itu seakan hilang, di kalahkan dengan rasa penasaranku. baru sekali aku ke kebun raya bogor ini dan baru tahu aku kalau letak nya disini. kami hanya di luar, mengintip pepohonan dari luar, sebenarnya aku tidak membawa uang,  soto itu aku beli dari uang yang diberikan Ustad Umar. jadi aku tidak masuk, hanya di halaman luar nya saja dengan Kak Farid, tapi itu sudah cukup. Lagi pula aku juga tidak terlalu heran dengan pemandangan pepohonan di kebun raya bogor ini. Karena saat aku dirumah(kalimantan), sudah setiap hari aku melihat pemandangan itu. Pepohonan yang rindang, dan sejuk.  Walaupun berbeda sih. Tapi menurutku biasa saja, hanya kebanggaan yang dapat aku perolleh jika sudah masuk kesana. Bagi orang perkotaan mungkin jarang sekali melihat semua ini.

Aku melepas lelah dengan duduk di patung singa yang ada di depan kebun raya bogor itu, sedangkan Kak Farid sedang asyik memotret, mengambil gambar untuk kenangan, memotret orang-orang, pengunjung, satpam, pohon-pohon, tulisan-tulsan yang terpampang. Dan bahkan ia jail memotretku saat aku sedang melamun kecapean, saat aku sedang dalam posisi tidak siap untuk di potret. aku tertawa saat melihat hasil potretan itu. ya, gambar diriku yang sedang menopang kepalaku dengan tangan, lucu sekali.

Setelah tidak terlalu lelah, barulah aku mengambil kenangan juga dengan memotret pemandanagn sekitar. Ternyata banyak juga turis yang datang dengan ciri khas badan yang tegap, tinggi, besar dan kekar. Kulitnya putih, rambutnya kekuning-kuningan. Mudah sekali mengenali penduduk lokal dan mancanegara. Tapi bukan itu yang ingin aku potret, aku hanya ingin mengenang peristiwa ini dengan foto-foto. Peristiwa menunggu pingirman surat-suratnya selesai, karena banyak sekali surat-surat yang harus dikirim, sebenarnya bukan surat sih, tapi CD Voici Of Islam yang jumlahnya ratusan, jadi butuh waktu lama menyelesaikan semua nya. Dan tidak di sangka sebelumna bahwa penantian ini akan terasa mengasyikkan seperti ini.

Asyik menikmati suasana di kebun raya bogor hingga tak terasa sudah jam setengah dua belas, kami harus pulang. Dan sekarang masalah baru keluar, aku merasa  haus sekali, bahkan sangat-sangat haus.  aku tidak bisa memebeli apa-apa, hanya bisa Memyesal karena aku tidak membawa uang. Mau pinjam ke Kak Farid tidak enak juga. Akhirnya aku paksakan terus berjalan, dengan kehausan ini. Entah  apa yang direncanakan Allah, tiba-tiba saja saat aku melangkahkan kaki ini, di sebuah trotoar pinggir jalan, aku melihat sebuah kertas berwarna merah di depan mataku, sekitar 2 meter jaraknya dariku. Dari jauh aku menebak itu adalah uang, tiba-tiba  aku merasa takut kalo benda yang aku kira uang itu diambil oleh orang yang berjalan di depanku, padahal belum tentu juga uang ya, dan kenapa juga aku harus takut , itu juga bukan milikku kan. tapi perassan itu muncul. dan ternyata ia tidak melihat benda itu.  aku semakin dekat dan saat sudah dekat aku ambil dengan gerakan diam-diam, dan sungguh benar dugaanku, uang 10 ribu tergelatak begitu saja di jalan. Bahkan dua orang di depanku dan satu orang disampingku alias kak Farid, tidak melihat uang itu. hanya aku yang melihat.

“Kak Farid, aku nemu uang ni.” Ucapku pelan-pelan dengan melihat-lihat ke sekeliling jalan, takut ada yag melihat.

Kak farid seakan tidak percaya dan menjawab “Ah Masak, mana?”. Bahkan kak farid saja tidak tahu saat aku menunduk mengambil uang itu

Dan langsung saja aku menunjukkan uang itu, Kak Farid tersenyum. Dan berkata ”hati-hati lo, mungkin itu jebakan ‘SuperTrap’.” Ia bergurau dengan tujuan menakut-nakutiku.

Super trap adalah salah satu acara di tv yang menayangkan aksi jebakan-jebakan konyol.

Aku tahu kao itu hanya gurauan, dia memang sering bergurau malahan aku malah menawab. “mungkin mereka sengaja menjebak kita”. Sambil bergurau.

Aku  tidak habis pikir, di saat aku sangat haus dan membutuhkan uang. Dan saat itu juga aku nemu uang, padahal mungkin sudah ratusan ornang yang lewat jalan itu, tapi mungkin uang itu memang di takdirkan untukku, untuk membeli air, dan semua itu tidak terlepas dari karunia Allah.

Langsung  saja aku dan Kak Farid membeli air minum, tanpa berpikr lagi siapa pemilik uang ini. karena Haus sudah megalahkan  semua oikiran itu.  Aku membeli ‘GreenTea’ yang seharga 6000 sedangkan Kak Farid membeli air biasa yang seharga 3000, jadi uang itu sudah kami belnjakan 9000.

Akhirnya setelah sampai di kantor pos kami langsung menyelesaikan semua nya, dan langsung pulang menggunakan angkot 02, panas sekali di dalam angkot ini, gerah sekali. Akhirnya gerah itu hilang saat kami keluar dari angkot di depan koperasi, dan melanjtkannya dengan berjalan ke Pesantren Media. Sampai deh.

Sungguh penantian yang tak sia-sia. [Ahmad Khoirul Anam, santri Pesantren Media, Kelas 1 SMA]

Catatan: tulisan ini adalah sebagai tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

 

diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait