Jakarta, Tak Pernah Berubah

360 views

Pergi berwisata ke suatu tempat memang menyenangkan dan diinginkan oleh banyak orang. Termasuk saya. Baik untuk bermain, refresing atau lainnya. Ahad, tanggal 10 Maret 2013 lalu, saya bersama  teman-teman, yaitu santri Pesantren Media Bogor pergi ke Islamic Book Fair (IBF) di Gedung Istora, Senayan, Jakarta. Bagi saya, ini adalah kali pertama pergi ke pameran buku islami. Apalagi pameran ini adalah yang terbesar dan terlengkap. Butuh perjuangan dan kesabaran untuk sampai di sana. Apalagi perjalanan yang kami tempuh adalah Bogor-Jakarta. Oleh karena itu, lewat tulisan kali ini saya ingin sedikit berbagi  pengalaman saya. Especially, saat tiba di Jakarta dan seperti apa Jakarta itu. Silahkan dibaca!

Pergi ke Islamic Book Fair lalu bagaikan mimpi untuk saya. Bagaimana tidak, ini adalah pengalaman pertama  saya pergi ke pameran buku. Apalagi setelah mengetahui acara itu diselenggarakan di Senayan, Jakarta. Secara, kita sudah tahu bahwa Jakarta itu kota metropolitan, banyak gedung pencakar langitnya sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Tapi juga terkenal dengan polusi dan udaranya yang sangat panas.  Saya fikir ini adalah kesempatan bagus agar saya tahu secara langsung bagaimana keadaan  Jakarta itu.

Untuk sampai di Jakarta, kami harus menaiki KRL (kereta rel listrik) commuterline dan busway. Naik kereta kali ini adalah yang kedua kalinya bagi saya. Pertama kalinya saat saya masihberusia belia. Namun saya tak ingat bagaimana rasa dan suasana naik kereta pada saat itu. Jadi, naik kereta hari Ahadu lalu, sama saja seperti baru pertama kali naik. Awalnya naik kereta itu menyenangkan. Tapi karena penumpang semakin banyak, terpaksa kami desak-desakan dengan penumpang lain. Saat berada di dalam kereta, saya sempat melihat  ada kereta yang bertuliskan ‘kereta khusus wanita’. Wah, enaknya. Tapi teman sebelah saya mengatakan bahwa itu hanya klise. Di kereta itu tidak hanya kaum hawa, tapi kaum adam juga ada. Saya baru mengetahuinya.

Sampai di Jakarta. Ternyata Jakarta itu memang panas dan banyak polusinya. Pohon dan tanaman jarang ditemukan di sini. Yang mendominasi adalah gedung-gedung tinggi . Misalnya seperti gedung polisi. Masya Allah! Gedungnya tinggi sekali. Berbeda jauh dengan kantor polisi yang ada di Bogor. Ada juga gedung kartu 3 dan AS yang tak kalah tingginya. Jalan tol yang padat merayap oleh kendaraan beroda empat dan jembatan layang yang kurang terurus.

Berbicara tentang gedung tinggi, saya jadi ingat akan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

“Jika kau melihat hamba sahaya melahirkan tuannya,kau lihat penggembala kambing bermegah-megah membangun gedung yang tinggi,dan kau lihat orang-orang yang tak beralas kaki yang lapar lagi miskin menjadi pemimpin manusia, maka itulah tanda-tanda kiamat.”

Dari hadist ini telah jelas bahwa gedung- gedung tinggi adalahsalah satu  tanda hari kiamat akan tiba. Bukan tidak mungkin gedung-gedung di Jakarta salah satunya.

Yang aku tidak habis fikir adalah saat naik busway. Menurutku, jumlah busway di Jakarta tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Aku dan santri Pesantren Media harus menunggu cukup lama karena kami harus mengantri. Tak terbayang bagaimana jika anak pergi  sekolah dengan keadaan seperti ini. Yang ada pasti telat. Selain itu di dalam busway, kami terpaksa desak-desakan dengan penumpang lainnya. Apalagi jika tidak kebagian tempat duduk, maka harus berdiri sambil memegang pegangan.

Awalnya, aku fikir naik busway itu tidak akan macet karena sudah disediakan jalan khusus seperti kata pemerintah. Tapi apa buktinya? Justru masih saja macet. Dari jembatan layang aku sempat memergoki mobil roda empat yang mengambil jalur busway. Wah pelanggaran tuh! Mungkin mobil itu sedang buru-buru kali. Tapi ia jadi tidak mengikuti tata tertib lalu lintas. Ya, soal kemacetan Bogor dan Jakarta tak jauh berbeda.  Hanya saja di Bogor masih banyak ditemukan pohon. Walaupun sekarang banyak tempat di Bogor yang dialih fungsikan menjadi perumahan pribadi.

Kami  juga sempat lewat di depan Hotel Ritz Carlton yang pernah dibom pada tahun 2009 lalu. Lokasinya di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Sama halnya dengan gedung polisi, hotel bintang lima ini sangat tinggi. Sekilas informasi, hotel ini berjumlah 48 lantai dan pada tahun 2005 pertama kali diresmikan.

Ya, itulah pendapat saya tentang Jakarta. Namun, dibalik itu semua, saya merasa senang karena akhirnya bisa merasakan dan tahu bagaimana Jakarta itu. Rasa lelah dan letih terbayarkan setelah sampai di Istora Senayan. Tempat Islamic Book Fair diselenggarakan. Islamic Book Fair merupakan pemeran buku Islam terbesar di Indonesia. Untuk tahun ini, pameran telah berlangsung sejak 1 Maret 2013. Saya bersama santri pergi ke sana pada hari terakhir pameran. Di sana kalian bisa menemukan buku (pastinya), VCD , busana muslimah dan lainnya.

Nah, itulah sedikit cerita yang ingin saya bagi kepada para pembaca. Semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan dan menjadi sebuah pelajaran untuk kalian.  Maksudnya, pelajaran akan teknologi yang semakin maju namun berdampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya lingkungan, pada manusia pun bisa.

Jazakallahu khairon katsiro kepada kalian yang sudah baca. Semoga tulisan saya bermanfaat. Amiin.

[Siti Muhaira, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature, dan menjadi bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

feature IBF 2013 jakarta muhaira

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait

  • Ada sebuah keluarga yang kehidupannya serba cukup, apa-apa harus

  • MINGGU KE-1 Hari Kamis tanggal 31 Mei adalah hari

  • Design yang telah saya buat tepat pada hari raya

Tinggalkan pesan