“Hidayah” dari Guru Ganteng

436 views

 Kelas 12A adalah kelas yang paling rame di Sekolah Islam Terpadu (SIT) itu. Wajar aja isinya akhwat-akhwat semua. Ustadz dan Ustadzahnya pun udah kewalahan ngurusin kelas 12A. kelas yang paling sering buat onar, kelas yang paling banyak kasusnya, dan masih banyak kejelekan lainnya. Seantero sekolah udah tahu gimana kelakuan kelas 12A. ikhwannyapun sampai geleng-geleng kepala liat kelakuat akhwat 12A itu.

Hari itu pelajaran Ustadzah Amel. Ayu lagi males banget merhatiin pelajaran Ustadzah Amel. Katanya sih, bikin ngantuk. Emang sih, Ustadzah Amel kalau lagi ngejelasin suka ngalor ngidul alias kemana-mana. Enggak fokus sama materi yang ada di buku. Walhasil, Ayu and ‘the geng’ ngerjain abis-abisan Ustadzah Amel.

“Ustadzah, saya izin ke kamar mandi” dengan suara yang memecah keheningan. Ayu meminta izin untuk ke luar kelas. Tangannya memberikan isyarat agar teman-temannya ikut untuk ke luar kelas.

Ustadzah Amel mengizinkan sambil meneruskan penjelasannya. Saat itu Ustadzah Amel menjelaskan sambil menulis di papan tulis. Setelah Ustadzah Amel selesai menjelaskan, dan berbalik menghadap siswi-siswinya.

Astagfirullahhaladzim!” dengan suara menyentak bercampur kaget sambil mengelus-ngelus dadanya. ”Kemana ini anak. Kelas sampai kosong begini?”

Ustadzah Amel keluar kelas dengan wajah merah. Mencari siswi-siswi 12A.

“Ayu!” dari kejauhan Ustadzah Amel memanggil Ayu sambil menuruni anak tangga kantin. Suaranya terdengar sangat marah.

Ayu kaget. Es yang di genggamnya sampai terjatuh. “Iya Ustadzah” suara nada Ayu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ustadzah Amel menghampirinya. Menjewer kuping Ayu sambil ditariknya menuju ruang BK. Semua teman Ayu menertawakan Ayu, seakan-akan mereka tidak bersalah.

Sesampainya di ruang BK. Guru BK geleng-geleng kelapa. Merasa bosan dengan siswa yang satu ini. Nasehat sampai ancaman nggak ada yang di dengernya. Dengan berat hati, akhirnya guru BK memutuskan hukuman yang pantas untuk Ayu kali ini.

“Ustadzah ini nggak tahu lagi gimana cara nasehatin kamu. Kali ini kesalahan kamu sangat fatal. Ngajak teman sekelasmu untuk bolos pelajaran Ustadzah Amel. Ini surat untuk orang tua. Mulai besok kamu nggak usah masuk dulu.” Dengan nada kesal, pasrah bercampur kasihan karena surat itu berisi scorsing Ayu.

“ Maaf Ustadzah. Makasih!” dengan nada judes, ia ambil surat itu dan meninggalkan ruang BK

OoOoO

Sesampainya di rumah, Ayu memberikan surat yang diberikan oleh guru BK kepada orang tua Ayu. Tanpa rasa bersalah Ayu memberikan surat itu dengan wajah yang biasa saja, seakan-akan tidak ada masalah.

“Mah, ini surat dari guru BK.” Ayu menyodorkan surat itu ke Mamahnya.

“Surat apa ini Yu?” Mamahnya agak kaget.

“Nggak tahu. Coba buka aja Mah!” bales Ayu.

Mamah Ayu kaget membaca surat itu. Dahinya mengkernyit. Kata demi kata di surat itu, terlukis wajah mamah Ayu yang akan marah.

“Apa-apaan kamu ini Yu? Bisa sampai di scorsing gini! Mulai besok kamu nggak boleh masuk sekolah selama seminggu. Emang apa yang udah kamu perbuat? Kali ini mamah kecewa, Yu!” mamahnya nggak bisa nahan emosi lagi. Abis-abisan Ayu di marahinya.

“Bagus dong Mah! Ayukan bisa ada di rumah selama seminggu. Lagian yang maksa Ayu sekolah di SIT, itukan mamah. Ayu nggak ada minat buat masuk sekolah I slam mah!” Ayupun tak kalah kesal. Menjawab sejujurnya. Membentak mamahnya, seakan itu bukan mamahnya.

“Terus mau kamu apa? Pindah sekolah! Tinggal satu semester lagi kamu di SIT, setelah lulus terserah kamu mau kuliah dimana. Mamah udah nggak mau ngatur kamu lagi.” Air mata mamahnya jatuh. Merasa bersalah telah memaksa Ayu masuk SIT.

Ayu pergi meninggalkan mamahnya. Menutup pintu kamarnya dengan keras.

OoOoO

Seminggu sudah berlalu. Ini hari pertama Ayu masuk sekolah.

“Nggak ada yang berubah. Sama aja kaya seminggu yang lalu.” Bergumam sambil berjalan menuju kelasnya.

Bel berbunyi. Ayu segera masuk ke kelasnya. Pelajaran sastra. Pelajaran favoritnya. Dengan manis Ayu duduk sambil nunggu Ustadzah Indri.

Assalamu’alaikum.”

“Suaranya nggak Ayu kenal. Ini bukan suara perempuan. Ini bukan suara Ustadzah Indri.” Ayu bergumam yang saat itu sedang mencatat pelajaran ke 2, minggu lalu.

“Guru baru. Ikhwan lagi. Wajahnya juga cakep. Cakep banget malah.” Awalnya kaget, setelah melihat wajah guru baru itu, hati Ayu pun berbunga-bunga.

“Siapa namanya Sri?” Ayu kegirangan. Nggak sabar tahu nama guru baru itu.

“Namanya Ustadz Ilham. Baru minggu lalu beliau masuk, menggantikan Bu Indri.” Sri pun menjawab dengan setahunya.

Selama pelajaran berlangsung, Ayu senyum-senyum sendiri. Ayu bukannya merhatiin pelajarannya malah merhatiin gurunya. Wajar aja, Ustadz Ilham emang ganteng.

“Ustadz Ilham ganteng banget siiih. Gantengnya ganteng tujuh turunan, nggak bakan abis-abis deh tuh gantengnya. Makin suka deh sama pelajaran sastra.” Senyum-senyum sambil merhatiin Ustadz Ilham.

“Eh kamu! Siapa nama kamu?” sambil menunjuk Ayu.

“Sa… saya Ustadz?” Ayu gelagapan. Tiba-tiba ditujuk Ustadz Ilham. Padahal saat itu Ayu lagi asyik mantengin wajah gurunya yang ganteng itu.

“Iya kamu! Siapa nama kamu?” UstadzIlham ngulangin pertanyaannya

“Ayu, Ustadz” singkat Ayu menjawab sambil kegirangan ditunjuk Ustadz Ilham.

“Maju sini! Bacakan puisi ini.” Nyodorin kertas selembar yang isinya bait-bait puisi

Ayu ngambil kertas itu. Membaca sekilas isinya. Lalu ia membacakan di depan teman-temannya. Ayu sangat menghayati isi puisi itu. Selain Ayu suka benget ama pelajaran sastra, puisi itu juga bertemakan “Kasih sayang Ibu”. Ayu tenggelam dalam setiap bait-bait puisi itu. Air matanya menetes. Mengingat Mamahnya. Seminggu yang lalu ia berantem dengan Mamahnya sampai sekarang Ayu belum baikan dengan Mamahnya.

Teman-teman Ayu ikut merasakan isi puisi itu. Bahkan sampai ada yang meneteskan air mata. Ayu pun selesai membacakannya. Tepuk tangan yang sangat meriah dari teman-temannya.

OoOoO

Wajibnya kelas 12 menampilkan drama di perpisahan nanti, membuat Ayu semakin dekat dengan Ustadz Ilham. Secara nggak langsung mereka sering ketemu. Penyesalan pun datang.

“Kenapa harus satu semester aja ketemu Ustadz ganteng ini” pikir Ayu.

UN nggak jadi penghalang bagi Ayu dkk untuk menampilkan drama yang terbaik di perpisahan nanti. Semua teman Ayu sangat berkerja keras tentunya dengan bantuan Ustadz Ilham. Ayu dkk semakin semangat untuk latihan drama. Hari libur pun dipakainya untuk latihan. Seakan-akan nggak mau ketinggalan lihat Ustadz yang ganteng itu.

Semenjak ada Ustadz Ilham, Ayu banyak berubah. Prestasinya melesat, sampai-sampai Ayu jadi buah bibir di SIT. Ayu yang sekarang lebih Islami. Mamahnya pun bangga dengan Ayu yang sekarang. Sekarang Ayu sekolah di SIT terasa nggak ada beban, nggak ada paksaan atau apalah yang memberatkan Ayu. Bahkan, Ayu semanget banget untuk datang ke sekolah.

Bagi Ayu, Ustadz Ilham adalah masa depannya. Ustadz Ilham nggak tua-tua amat buat dijadiin suami. Ustadz Ilham memang guru yang paling muda. Umurnya 26 tahun, cocoklah buat Ayu yang bedanya Cuma 8 tahun. Apalagi Ayu suka cowo yang lebih dewasa darinya.

ooOoo

Hari itu pun tiba. Perpisahan  kelas 12. Kelas 12 tampil paling terakhir. Ini hari yang paling mendebarkan bagi Ayu. Perpisahan tahun ini bakal jadi kenangan yang membekas di hati para guru. Terutama  Ustadzah Amel.

Subhanaallah, Sri tamu yang datang banyak banget” Ayu takjub sekaligus gugup liat tamunya bwanyak banget.

Sri hanya mengagguk sambil tersenyum pertanda mengiyakan.

Akhirnya saat yang sangat mendebarkan itu tiba. Kini giliran kelas 12 yang tampil. Saat persiapan akan tampil Ayu dkk bingung, Ustadz Ilham nggak ada diruang persiapan. Semuanya kelabakan.

“Ayu kita berdoa dulu. Semoga penampilan kita yang terakhir di sekolah tercinta ini membekas di hati kita dan juga guru-guru” Ayu memecah kegalauan teman-temannya dengan memimpin do’a.

Teman-teman Ayu mendekat dan saling berjabat tangan pertanda do’a akan segera di mulai. Setelah selesai, mereka langsung naik ke panggung. Mata Ayu mulai liar, mencari sesosok pujaan hatinya. Ayu tidak menemukannya. Drama pun di mulai. Selama pementasan drama itu berlangsung, hati Ayu perharap Ustadz Ilham melihatnya.

Kurang lebih 15 menit Ayu dkk mementaskan drama terakhirnya itu. Akhirnya selesai. Tepuk tangan yang begitu meriah. Tapi mata Ayu masih mencari pujaan hatinya itu. Dan akhrinya ketemu. Ustadz Ilham dengan di temani seorang perempuan. Perempuan itu begitu cantik. Ustadz Ilham pun menggendong anak kecil yang begitu manis. Dan perempuan itu pun sama.

Melihat itu perasaan Ayu sangat hancur.

“Tubuhku bagaikan dibawa terbang ke langit. Setelah itu terjatuh ke lautan dan terombang ambing di lautan itu. Terbentur dengan karang-karang laut. Lalu, dihantarkan oleh ombak ke tepian.” Ujarnya dengan lemas.

“Ustadz Ilham bagaikan hidayah yang Allah turunkan untuk mengubah sikap saya. Saya pun sadar, usia yang cukup jauh dan beliau pun seorang guru saya. Rasanya sangat mustahil bisa bersamanya. Kini saya sadar, cinta tak harus memiliki. Terimakasih Ustadz, telah mengubah hidup saya jadi lebih baik. Terimakasih Ya Allah atas hidayah yang Engkau turunkan melalui tangannya.” Dalam hatinya ia bergumam walau matanya tidak mampu membendung air yang ingin keluar membanjiri pipinya.

The end

[Holifah Tussadiah, santriwati kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

fiksi hidayah

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri