Diary Perjalanan; 24/12 Goes Out!

46 views

24/12 Goes Out!

 

Ahad, 24 Desember 2017

Assalamu’alaikum wr wb

Pertama-tama, tulisan ini harus sesegera mungkin saya tuliskan (mumpung masih segar di memori). Hari ini adalah hari Ahad, tanggal 24 Desember tahun 2017. Di hari libur yang prakiraan cuacanya akan berawan, ternyata cerah. Memang ada awan yang menghiasi langit yang tampak sangat luas. Tetapi awan-awan membuat langit terlihat lebih cerah.

Langsung saja!

Pukul 3 pagi, sebelum alarm yang kusetel setiap hari di hp berbunyi, aku telah membuka mata. Alhamdulillah kuucapkan. Sudah 3 hari terakhir ini aku selalu bangun pagi dan sholat malam. Padahal beberapa minggu sebelumnya, aku bahkan tidak mendengar azan Shubuh. Bonusnya lagi, semalam aku baru terlelap sekitar jam 10 malam untuk mengerjakan editing video iseng-iseng. Pokoknya, Alhamdulillah..

Setelah beranjak untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu, aku sholat Tahajjud 2 rakaat dan Witir 1 rakaat. Rencananya, setelahnya aku ingin langsung pergi mandi. Tapi aku batalkan. Setelah urusan ibadah malam selesai, aku duduk di atas kasur menunggu waktu shubuh. Hasil editing video semalam sudah selesai. Maka aku mempostingnya di akun instagramku.

Dan hal yang sudah kutunggu-tunggu sejak lama pun tiba. Akhirnya pada hari ini, aku akan pergi ke acara Meet Up SPUM. Apa itu SPUM? SPUM adalah singkatan dari Speak Up Your Mind. Penasaran? Silakan search di youtube, ya. Hihihi..

Anak Rumahan Goes Out

Untuk acara ini, aku sudah mulai mencari tentang lokasinya sejak jauh hari. Lokasi acaranya adalah di Kota Depok. Untukku yang istilahnya adalah ‘anak rumahan’, yang tidak akan pergi ke mana-mana kecuali jika ada yang mengantar-jemput, hal ini adalah sesuatu yang baru. Apalagi di sebuah kota yang aku sama sekali tidak punya gambaran tentang seluk-beluk daerahnya. Akhirnya dengan modal nekat dan Bissmillah, aku pun berangkat.

Aku diantar oleh Umi dan Pak Oleh hingga ke Masjid Raya Parung. Dari situ, barulah aku menaiki angkutan kota menuju lokasi yang baru akan kucari juga. Wah.. Dalam hati aku sangat berdegup tidak wajar. Bermodal GPS di hp, aku mulai menikmati perjalanan.

Dari Parung, aku menaiki angkot jurusan Depok. Kalau tidak salah nomor angkotnya adalah 03. Angkot yang kunaiki bersama penumpang lain sangat sesak. Yang paling berkesan bagiku adalah 3 orang pemuda yang sepertinya santri. Mereka berbicara menggunakan bahasa arab. Yah, aku memang tidak bisa berbicara secara lancar dengan bahasa arab. Tetapi aku sadar, bahwa yang mereka obrolkan dengan bahasa arab itu sangatlah terdengar aneh. Yaitu bahasanya campuran arab, inggris, Indonesia, tapi logatnya Indonesia. Hihihi.. Aku sebenarnya sangat kagum pada santri-santri yang berbicara menggunakan bahasa arab.

Terminal Margonda yang Membingungkan

Singkat cerita, setelah cemas karena takut nyasar, akhirnya pemberhentian akhir angkot yang aku tumpangi adalah Stasiun Depok Baru. Aku selalu ingat pepatah ‘Malu Bertanya, Sesat di Jalan’ (Disingkat MBSJ). Karena itu aku memberanikan diri untuk bertanya kepada supir angkotnya. Bagaimana cara untuk mencapai lokasiku. Oh, iya. Tujuan akhirku adalah di Zoe Reborn Café. Letaknya di Margonda. Kalau aku melihat rute di Google Map, patokannya adalah Universitas Gunadarma. Supirnya memang memberitahukanku. Tapi juga karena aku memang sama sekali tidak mengetahui tentang daerah ini, maka bingunglah jadinya.

Pak supir mengarahkanku untuk lurus, kemudian belok kanan. Aku sudah berjalan lurus mengikuti jalannya dan memasuki pasar, tetapi aku tidak tahu kapan harus berbelok. Akhirnya teringat pepatah MBSJ. Maka aku mengeluarkan sarana GPS manual (Gunakan Penduduk Sekitar). Aku bertanya pada pedagang ayam potong. Katanya aku kelewatan. Kemudian ia mengarahkan aku untuk kembali dan berbelok ke kiri. Oke! Kataku.

Dan aku kembali tidak menemukan belokkannya. Maka aku bertanya lagi kepada penjual yang lain. Dan katanya aku terlewat lagi. Ah.. Aku sangat kebingungan karena tidak menemukan belokan di antara jalan tempatku ‘Sa I’ di pasar. Untungnya aku memiliki ilmu sabar yang cukup. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan sangat perlahan. Huft.. Akhirnya kutemukan belokan ‘tersembunyinya’. Yang aku tidak menyangkanya, karena aku harus menyeberangi rel kereta api di dalam stasiun. Wow. Ini juga pertama kalinya untukku.

Keluar dari stasiun dengan gerbang di seberang rel, aku kembali kebingungan. Aku bertemu lagi dengan suasana pasar. Memang lebih banyak angkot. Tetapi tidak bisa kupastikan angkot mana yang harus kutumpangi. Akhirnya aku kembali mengaplikasikan GPS manualku. Aku bertanya pada penjual di sana setelah berjalan mondar-mandir kayak orang aneh. Katanya, aku harus berjalan hingga ke lampu merah di ujung jalan. Atau aku bisa menumpang angkot dengan tarif Rp. 2000. Benar-benar aku sangat bangga kepada orang Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang suka membantu. Termasuk membantu orang yang tidak tahu arah seperti aku. Terima kasih..

Akhirnya..

Aku menemukan jalan raya Margonda. Huft.. Akhirnya tinggal sedikit lagi. Aku hanya tinggal menumpang angkot sekali lagi. Oh, iya. Begitu keluar ke jalan raya Margonda, waw, aku merasa sangat kagum. Kenapa? Pertama kalinya bagiku untuk pergi ke kota dengan jalan besar dan gedung-gedung tinggi sendirian. Aku merasa sangat bangga pada diriku sendiri. mataku beralih dari jalan di luar angkot ke layar Google Map. Kemudian melihat ke jalan lagi, kemudian mengecek layar lagi. Aku sangat khawatir kalau terlewat.

Akhirnya aku menemukan lokasi yang dituju. Di seberang jalan. Setelah turun dari angkot, aku menemukan jembatan layang untuk menyeberang. Aku menaiki tangga dengan perasaan was-was. Beberapa waktu yang lalu aku menyadari bahwa aku sedikit takut sesuatu yang tinggi, sempit, dan berbahaya. Dan jembatan layang ini benar-benar mencakup ketiganya. Namun begitu sampai di atas, aku tak bisa menahan hasratku untuk mengambil beberapa gambar dari atas. Tentu saja dengan perasaan sangat khawatir. Buktinya, ketika sampai di ujung jembatan, aku merasa lemas sekali.

Selanjutnya aku berjalan kaki menuju Zoe Reborn Café. Perjalanan dari rumah menuju lokasi yang sudah aku tempuh ternyata memakan waktu sekitar 1 jam. Alhamdulillah.. Capek ternyata..

Zoe Reborn Café

Ternyata Zoe Reborn Café adalah kafe buku. Tempatnya sangat nyaman dengan cahaya yang temaram. Walau pun ada lukisan-lukisan dinding yang kurang aku suka. Tapi secara tempat aku senang dengan suasananya. Ketika aku sampai, ternyata sudah banyak yang teman-teman akhwat yang datang.

Ketika bergabung dengan mereka, aku merasa sangat senang. Kenapa? Karena aku merasa kami ada di dalam ikatan yang sama. Gimana, ya? Yang terlihat adalah akhwat-akhwat seperti aku. Memakai pakaian yang syar’I, sama-sama mengkaji Islam, wah, pokoknya senang sekali. Aku memang tidak mengenal mereka, tetapi suasananya mengisyaratkan bahwa kami adalah dalam perahu yang sama.

Aku melakukan registrasi ulang. Ternyata kakak yang menjaga meja registrasi adalah kakak kelasku waktu di SDIT Insantama. Wah.. Pertemuan yang tidak terduga. Aku juga berkenalan dengan beberapa orang yang duduk bersamaku. Hingga akhirnya.. Acara pun dimulai!

Meet Up SPUM

Satu kata yang bisa kugambarkan untuk SPUM adalah, mereka HEBAT. Bisa dibilang, kakak-kakak yang tampil di SPUM kira-kira usianya tidak jauh dariku. Tetapi mereka bisa menampilkan Dakwah dengan cara yang kekinian banget. Ada Host Fatimah, Host Fitriyah, Host Ainur, dan Kak Nur Fadhilah. Aku sebenarnya pernah mengetahui keempatnya sebelum mengetahui SPUM. Tetapi hanya sekedar dari sekolah saja. Bukan mengenalnya. Dan juga ternyata kakak editor di SPUM adalah mentorku. Benar-benar, ya. Duniaku memang hanya sebatas itu saja. Hihihi..

Kakak-kakak host benar-benar sangat membuatku kagum. Karena sebenarnya apa yang mereka lakukan sekarang adalah tujuanku. Namun aku bukanlah orang yang seperti mereka. Bisa dibilang aku sangat kaku dan pemalu. Aku memang terbiasa menulis cerita dan melakukan siaran radio. Tetapi sangat kaku dan aku rasa tidak menarik. Karena itu aku ingin belajar dari mereka.

Acara meet up kali ini sangat menyenangkan. Santai tetapi bermakna. Bintang tamu, Kak Putri, sangat lucu. Mungkin karena beliau adalah konselor. Sehingga mampu mengetaui bagaimana menyampaikan kepada remaja. Satu hal lagi yang tidak terduga adalah, founder dari SPUM adalah ustadzahku, Ammah Nafisah. Subhanallah.. Baru kutahu kalau SPUM ini sudah dibentuk sejak tahun 2009. Bahkan Ammah Nafisah dan aku sudah bertemu saat itu. Aku beberapa kali mengisi sandiwara radio yang ditulis Ammah di acara radio Abi dulu. Sebenarnya belakangan ini aku ingin mencari kesempatan untuk bertemu dengan Ammah Nafisah untuk membicarakan suatu hal. Wah.. pokoknya benar-benar pertemuan yang tidak terduga.

Di Jalan Pulang

Singkat cerita, acara berakhir dengan sukses. Setelah makan siang dan sholat Zhuhur, aku berdiri di pinggir jalan. Mencari angkot untuk pulang. Karena sudah bukan yang pertama kali, aku sudah tidak gugup lagi. Aku menyetop angkot dan bertanya tujuanku. Kemudian aku duduk dengan tenang memperhatikan jalan.

Kota Depok di siang hari terasa sangat panas. Tetapi jika aku membuka jaketku, rasanya kurang nyaman bagiku. Mungkin karena kebiasaan. Siang hari di jalan raya Kota Depok ternyata ada banyak titik kemacetan. Hampir saja aku lupa untuk turun dari angkot.

Setelah menyebrang menuju angkot jurusan Parung, aku menaiki angkot dan menyamankan diri. Mungkin karena lelah, aku menjadi mengantuk. Perjalanan menuju Parung masih lumayan jauh. Belum lagi dengan titik-titik kemacetannya. Tapi aku memaksa diri untuk tidak tertidur dengan mengulum permen. Aku takut jika terlewat atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Yah, kekhawatiran-kekhawatiran standar, lah.

Singkat cerita lagi setelah menempuh perjalanan panjang yang membuat sakit tempat duduk, aku pun turun di depan Pasar Parung yang sudah kukenal dan berpindah angkot ke arah Bogor Kota. Aku sudah calling-callingan sama Umi yang akan menjemputku di depan jalan menuju Pesantren Media. Sambil berkesal-kesal dalam hati karena angkot yang kutumpangi ngetem lama sekali.

Akhirnya angkot dijalankan juga. Aku menghela nafas lega. Perjalanan ketika pulang terasa lebih panjang daripada saat berangkat. Aku turun dari angkot dan berpamitan dengan seorang nenek yang duduk di sebelahku. Ketika bertemu dengan umi, maka aku rasa perjalananku hari ini sudah berakhir. Alhamdulillah..

Akhir dari Perjalanan Panjang

Yah.. Perjalanan hari ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Terutama untuk ‘anak rumahan’ seperti aku. Belum lagi pelajaran-pelajaran berharga yang kudapatkan dari acara Meet Up SPUM. Sayang sekali aku tidak bisa menuliskan banyak di tulisan ini. Semoga bisa memotivasi diriku untuk bisa berbuat lebih banyak untuk Islam.

Dan tulisan ini pun akhirnya selesai. #Horee! Alhamdulillah..

 

[Fathimah NJL, Kelas 3 SMA, Pesantren Media]

@fathimahnjl anak rumahan bogor catatan perjalanan cerita diary Inspirasi islam karya santri liburan media menulis pengalaman baru pergi ke luar perjalanan pesantren pesantren media santri santri media seru sekali tulisan

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait

  •                   Zaman sekarang kebanyakan insan memilih instan. Mengukur takar

  • Ya kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan menuju

  • Ya mungkin saya hanya ingin sedikit menceritakan tentang liburan