Cerita Lebaranku

499 views

Gema takbir di seluruh dunia mengiang-ngiang di kepala, tanda berakhirnya bulan suci ramadhan dan mulainya bulan syawal. Mulainya bulan syawal, berarti lebaran telah tiba. Rasa sedih bercampur bahagia bercampur menjadi satu, seperti adonan kue nastar yang di buat para ibu untuk menyambut lebaran. Sedih karna bulan suci ramadhan telah pergi, bulan yang terdapat begitu banyak kemuliaan. Dan bahagia kana hari yang fitri telah tiba, hari di mana kita saling bermaaf-maafan. Di sanalah kita menjadi suci kembali.

Sepert halnya kebanyakan orang yang menyambut hari raya Idul Fitri dengan suka cita. Aku dan keluargaku pun merasakan hal yang sama. Aku merasa lebih bahagia karna lebaran kali ini bersamaan. Berbagai organisasi Islam di Indonesia menyetujui bahwas 1 syawal jatuh pada hari minggu, 20 Agustus 2012. Jadinya semua orang bisa berkumpul bersama dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Banyak ibu-ibu membuat hidangan untuk menyambut lebaran, seperti ketupat, lontong, opor ayam dan rendang. Ah sedapnya… namun umi tak bmemuat itu semua. Karna sibuk dengan jahitannya. Banyak yang memesan baju untuk di jahit sama umi. Alahasil pekerjaan rumah jadi sedikit terbengkalai. Lebaran ini aja aku tak mendapaykab baju, karna umi sibuk dengan jahitannya. But it’s okay lah… gak terlalu penting juga baju baru.

****

Malam ini aku di rumah aja, sambil dengerin suara merdu para pelantun takbir di masjid dan mushala dekat rumah. Tadinya aku mau ke Al Bayan. Itu salah satu tempat mengajiku. Letaknya di Perumahan Pelni, di deket Jalan Juanda. Dekat rumah Teh Novi, kakak kelasku di PM. Di sana nanti kita takbiran bareng. Seru kayaknya. Namun karna tak ada teman dan jauh, jadi aku tak ikut. Lagi pula pulangnnya malam, jadi pasti nanti aku disuruh menginap di rumah teman umi yang letaknya tak jauh dari Al Bayan. Aku gak mau lah… masa lebaran pertama di rumah orang, kan gak enak.

****

Pagi yang cerah menyambutku, hari yang dinanti jutaan umat islam di seluruh dunia. Gema takbir samar-samar terdengar. Aku bersama keluargaku bersiap pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat ID. Setelah mandi dan makan, aku bersama keluarga pergi ke masjid dekat rumah. Masjid Al Barokah. Cukup berjalan sekirat 5 menit untuk sampai ke masjid. Keteka aku melewati jalan raya, jalannya sepi. Jarang sekali kendaraan lewat.

Jalanan kosong, ketika aku dan keluarga hendak pergi ke masjid. Tika (kiri) kakak (kanan)

Karna aku datang agak siang jadi aku shalat di depan masjid, tepatnya di jalan raya. Oh iya keadaan jalan saat itu memang sepi, jadi aman shalat di jalan raya. Sebelum shalat, ketua DKM masjid memberikan sambutan. Lalu perwakilan muhamahdiyah depok menyampaikan sepatah duabuah kata. Setalah itu dilanjukan dengan shalat id. Setelah shalat idul fitri, ada ceramah singkat. Setelah itu kami pulang.

 

Keadaan masjid ketika kami datang. Sudah banyak orang.

Sampai di rumah aku meminta maaf kepada keluargaku. Terutama umiku. Setelah itu kami keluar untuk bersalaman, meminta maaf kepada orang-orang di lingkungan tempat tinggalku. Pertama, kami mendatangi rumah nenek. Nenek adalah tetangga yang rumahnya paling delat dengan rumahku. Kebetulan beberapa tetanggaku juga sudah berkumpul di sana. Seperti pepatah sambil mendayung, dua tiga pulau terlewati. Jadi sekalian maaf-maafan. Eh.. tanpa terduga aku dapat ampau juga. Alhamdulillah. Padahal udah besar, masih aja di kasih. Hehehe…

Setelah dari rumah nenek, kami kerumah Mak Iyoh. Beliau salah satu orang yang di tuakan di daerah tempat tinggalku. Bukan tanpa alasan ia di tuakan, ia memang sudah tua dan sudah lama menetap di daerah tempatku tinggal. Di rumah Mak Iyoh sudah banyak orang, jadi sekalian maaf-maafan. Eh dapet ampau lagi, dari Mba Mar. setelah bermaaf-maafan dengan masyarakat tempatku tinggal. Aku pulang.

Di rumah, aku istirahat sebentar, lalu makan ketupat+rendang buatan nenek depan. Beliau memang orang padang, jadi kalo masak rendang pasti enak. Biasannya sehabis nenek membuat rending, pasti nenek membagi-bagikan rendangnnya kebeberapa tetengga dekatnnya. Seperti keluargaku.

Setelah makan aku bersiap pergi ke rumag bude As. Di Priok. Ke rumah budenya naik bus. Dari rumah aku naik angkot sekali ke terminal depok. Lalu dari terminal, aku dan keluargaku naik bus. Di perjalanan agak macet, terlebih ketika bus yang kami tumpangi hendak memasuki tol. Macet…

Tapi ketika masuk tol, perjalanan menjadi lancar. Di perjalanan aku hanya diam sambil memperhatikan jalan. Kebetulan saat itu aku duduk dekat jendela. Tempat favoritku. Kami melewati masjid At-Tin. Oh iya di dalam bus lumayan sumpek. Karna ketika di jalan, apalagi sebelum masuk tol, kondektur menaik-naikkan penumpang. Alahasil bannyak penumpang yang berdiri.

Sampai di gerbang tol cililitan, aku mulai lelah. Satu yang kuingat. Bus yang kami tumpangi melewati Universitas Mpu Tantular. Setalah itu aku tidur. Dengan hawa yang cukup panas dan sumpek, aku mencoba menikmati tidurku. Entah berrapa lama aku tidur, yang jelas saat ini aku sudah memasuki kawasan Tanjung Priok. Saat itu bus sedikit lagi memasuki terminal Tanjung Priok,  aku dan keluargaku tak turun di terminal. Kami turun di pertigaan dekat terminal, tepatnya di depan sebuah masjid yang lumayan besar.

Aku dan keluargaku pun melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot bertuliskan 03 jurusan warakas. Angkotnya warna hijau toska. Warna kesukaan temanku, holifah. Tak butuh memakan waktu lama, sekitar 15 menit kami pun sampai di jalan menuju rumah budeku. Perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Kami berjalan lumayan jauh. Di warakas, tempat budeku tinggal suasananya kurang enak. Di tambah kurangnnya pohon yang tumbuh di sana. Jadinya kalau siang hari panas sekali. Pemandangan di sana juga kurang enak di pandang, sampah di mana-mana, dan baunya sangat tidak enak. Bayangkan saja kali-kali yang ada di sana semuannya berwarna hitam. Bannyak kotoran  bercampur sampah rumah tangga. Bahkan dulu aku pernah melihat anak kecil BAB di pinggir kali. Iuh… jorok banget tuh anak. Munngkin anak itu males BAB di rumahnnya kali ya… entahlah… hanya tuhan dan anak itulah yang tahu.

Gambaran kali yang ada di sekitar rumah budeku.

Suasana ketika aku sampai di rumah Bude As saat itu sepi sekali, seperti tak ada orang. Padahal biasanya ketika kami sampai sana, sudah banyak orang. Paman Muhammad, adiknnya abi juga pasti sudah datang. Namun, tak sperti biasanya paman belum ada di rumah Bude. Setelah salam berulang kali, barulah Bude keluar sambil membawa senyumnya. Lalu Bude mempersilahkan kami masuk. Kami tak masuk ke ruang tamu, melainkan ke ruang yang lumayan besar. Itu adalah ruangan untuk PAUD. Bude memang mendirikan PAUD di rumahnnya. Di dalam ada Kak Awal, anak pertama Bude. Orangnnya hitam, mukannya jutek, badannya bongsor, rambutnya keriting, trus kalo ngomong tegas. Kalau lagi ngomong, kayak lagi marah.  Padahal emang logatnnya Kak Awal gitu. Maklum kan keturuna flores, orang flores emang kalo lagi ngomong kayak lagi marah-marah. Apalagi kalo flores pedalaman, ngomongnnya teriak-teriak. Kalo orang yang gak biasa denger, pasti di kira lagi marah. Back to story.. tak lama kemudian Mba Novi datang. Mba novi adalah istrinya Kak Awal. Orangnya pendek, rambutnya bondol, sukanya pake kaos sama celana ¾.Sifat Mba Novi berbeda dengan Kak Awal. Mba Novi orangnnya lucu, kalau lagi ngomong suka ngelawak.

Oh iya ada satu lagi di dalam, namannya Mba Nur. Tapi Mba Nurnya lagi tepar di kamar. Dan gak bisa bangun. Sebab semalam Mba Nur dapet sip malam. Jadi kerjannya lembur sampe pagi. Sebenernya bude punya 4 anak. Tapi yang dua tinggal terpisah dengan bude. Karna mereka sudah berkeluarga.

Setelah salim dengan Bude, Kak Awal, dan Mba Novi, kami ngobrol-ngobrol. Lalu Kak Mansyur datang dengan istrinnya. Kak Mansyur saudara jauhnnya abi. Orangnnya hitam dan rambutnnya keriting. Ciri khas orang flores. Kak mansyur baru pertama kali mengajak istrinya, karna mereka memang baru menikah. Istrinnya kak Mansyur orangnnya pendiam. Hannya beberapa kata saja yang di lontarkan ketika kami ngobrol, selain itu ia lebih banyak tersenyum atau diam.

“ Kak, Kakak udah ke makam Kak Udin” Tanya Umikku kepada Bude

“ Belum, nantilah. Soalnnya sekarang penuh banget. Apalagi mau lebaran. Kita tuh sampe gak bisa masuk saking penuhnnya. Kalo malem-malem udah kayak bukan kuburan, tapi kayak pasar malem. Pedagang-pedagang banyak di sana. Ada yang jualan makanan, minuman sampe baju juga ada.” Jawab Bude

“ Oh bisa gitu ya kak…” menanggapi oongan Bude.

“ Iya, makannya kakak ziarahnnya nanti aja, 2 atau 3  hari setelah lebaran…” tambah Bude.

Padeku memang sudah meniggal sejak 3 tahun yang lalu. Tepatnnya di bulan februari 2009. Pade itu orangnnya tegas kayak kak awal. Tapi baik orangnnya. Jadi semua suka sama Pade.

Sementara yang lain ngobrol-ngobrol, aku bersama adikku Tika tidur di ruang tamu, tepatnnya di sofa. Entah apa yang aku mimpikan, yang jelas saat itu aku sangat menikmati tidurku. Ketika bangun, jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Dan Adzan ashar pun sudah berkumandang. Aku tak langsung shalat, karna perutkku lapar. Akhirnnya aku makan dulu, baru setelah makan akupun menunaikan kewajibanku. Setelah itu keluargaku ngobrol-ngobrol lagi dengan keluarganya Bude, kebetulan saat itu Mba Nur sudah bangun dari peraduannya.

Sebelum pulang, aku dan keluargaku menuggu kedatangan anak ke duanya Bude. Namannya Mba Dian. Agak lama kami menunngu. Orang yang kami nanti-natikanpun datang, sambil membawa suaminya, Kak Ipul. Dan kedua anaknnya, Ica dan Nabil. Kamipun maaf-maafan dengan keluarga kecilnnya Mba Dian. Setelah itu kami pulang, sebelum pulang aku, hanif, dan tika dapet ampau dari Mba Dian dan Kak Awal. Lumayan buat jajan..

Halte bus Transjakarta. Namun hanya sebagian yang terpotret

Setelah berpamitan dengan keluarga Bude, kamipun pulang. Kami pulang menggunakan jalur yang sama dengan jalur yang kami lewati tadi. Pertama berjala kaki, naik angkot, bus, dan naik angot sekali lagi. Saat sampai di terminal Tanjung Priok, bus yang tujuan Depok ternyata belum datang. Akhirnya kami menunggu. Tak sampai 15 menit, bus yang akan kami tumpangi datang. Semua orang berebut masuk ke dalam bus. Aku dan keluargaku pun berebut. Dan umiku memilih duduk di barisan paling depan bus. Mungkin biar turunnya nanti gampang.

Bus Transjakarta tampak dari belakang, menyamping

Di bus aku menuggu lama, karna kondektur bus sedang menunggu penumpang lain. Tak banyak yang bisa kulakukan di bus. Hannya duduk diam, dan sesekali memotret dengan kamera HP ku keadaan sekitar terminal. Kalau di kereta banyak yang bisaku amati. Terlabih aku senang sekali melihat orang-oarang dengan stylenya masing-masing. Jadi aku bisa tahu, cara berpakaian orang ini seperti ini, orang ini seperti ini, dan orang ini seperti ini. Kalau di bus, agak susah melihat orang, apalagi kalau duduk di depan, susah. By the way terminal bus tanjung priok bersebelahan dengan halte bus transjakarta. Haltenya lumayan panjang. Dan besar.

Di perjalanan menuju rumah, aku hanya tertidur. Jadi aku tak memeratikan keadaan sekirar. Yang jelas keadaan bus saat itu agak sumpek. Namun tak sesumpek ketika kami pergi tadi. Setelah naik bus, perjalananpun kami lanjutkan dengan naik angkot jurusan kukusan. setelah itu kami pun berjalan kaki sebentar untuk sampai di rumahku. [Syifa Rufaidah, santriwati Pesantren Media, Kelas 1 SMA]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait