Cerita 15 Tahun lalu

793 views

Malam ini langit kembali bewarna hitam. Sang surya sudah tidak nampak lagi. Udara yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Ditambah dengan tiupan angin yang seakan-akan mengusap dedaunan. Dari jendela kamar, kuperhatikan rembulan yang tiba-tiba menghilang. Kemudian muncul, begitulah terusnya. Kusipitkan mata untuk lebih memperjelas penglihatanku. Ternyata rembulan itu ditutupi oleh awan. Kumpulan awan perlahan berjalan melewati sang rembulan. Sayangnya, malam ini tidak ada satu pun bintang yang muncul. Sang rembulan pun harus menerima kenyataan bahwa ia hanya sendiri. Sendiri di tengah sunyi dan dinginnya malam.

Kualihkan pandanganku ke arah kebun talas yang terletak di dekat  sebuah jalan setapak di seberang rumahku. Terdengar  suara jangkrik dan burung hantu yang datang dari pohon mangga di pinggir kebun itu. Kebun talas itu gelap karena memang tidak ada satupun  lampu di sana. Hanya cahaya rembulanlah yang meneranginya. Ternyata dibalik kegelapan itu, ada kunang-kunang yang berterbangan di sekitar kebun itu. Setelah kuhitung, ternyata ada lima ekor kunang-kunang. Cahaya yang keluar dari ekornya memberikan sedikit penerangan untuk kebun talas. Sedangkan jalan setapak ditutupi oleh daun jati yang jatuh oleh tiupan angin malam. Berbeda dengan kebun talas, di pinggir jalan setapak itu ada satu lampu yang menerangi jalanan. Karena itu, aku bisa melihat daun-daun jati berjatuhan dari rantingnya.

Malam semakin larut. Kututup jendela kamar dan kutarik gorden bermotif bunga mawar merah. Lalu kuberjalan menuju spring bed empuk yang juga bermotif sama dengan gorden. Setelah sampai di spring bed, aku baringkan tubuhku yang terasa lemas dan letih. Kemudian kulihat ke arah jam yang terletak di dinding tepat di depan tempat tidurku. Jarak antara jam dan tempat  tidur ± 2 meter. Jam itu berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan berukuran sedang. Juga ada gambar kelinci di bagian tengahnya. Dan menunjukan pukul 21.00 WIB.

Tidak seperti biasanya, malam Rabu ini aku terlambat tidur. Terlambat setengah jam. Seharusnya aku tidur pukul  20.30 WIB. Alasannya, karena hari ini aku disibukkan oleh beberapa kegiatan. Pulang sekolah tadi aku mampir ke rumah Mbak Syifa untuk mengantarkan cup cake. Mbak Syifa adalah teman ummiku. Sorenya, sekitar pukul 16.00 WIB aku pergi ke pameran foto di ‘Galeri Seni ‘ dekat pasar modern. Alhamdulillah sebelum adzan maghrib berkumandang, aku sudah sampai di rumah. Kemudian aku mandi, sholat maghrib, dan makan malam. Setelah sholat ‘isya, aku membantu adikku mengerjakan PR . Menghitung dan menggambar. Ummi-lah yang memintaku untuk mengajarinya.

Oya, kenalkan namaku Nailah Ramsya Sabiha. Biasa dipanggil Nailah. Aku lahir di Bandung, tanggal 7 Mei 1996. Tepatnya di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sekarang ini usiaku genap  16 tahun. Ayahku bernama Muhammad Ikhsan Dafa. Beliau lahir di Lombok, tanggal 18 April 1970. Ayah berprofesi sebagai guru fiqih di salah satu MAN di Bogor. Beliau memiliki sifat bijaksana dan sangat mengagumi sosok Rasulullah saw. Aku sangat bangga kepadanya karena selain bijaksana, beliau juga tegas dan sayang keluarga. Sedangkan ummiku bernama Atiqah Naura. Beliau lahir tanggal 24 Mei 1973 di Bandung. Ummi adalah segala-galanya bagiku. Tentu yang pertama adalah Allah Swt dan Rasulullah. Ummi berkepribadian lembut, penyayang, dan sabar. Beliau juga pintar berbahasa Sunda. Meskipun Ayah dan Ummi berasal dari daerah, budaya dan bahasa yang berbeda, mereka tetap kompak dan harmonis. Jika ada masalah, mereka bermusyawarah dan meminta pendapat. Aku senang mereka seperti itu.

Aku juga memiliki seorang kakak laki-laki. Dia bernama Muhammad Alif Mukti. Aku biasa memanggilnya ka Alif. Berbeda denganku, ka Alif lahir di Lombok. Ya, sama dengan ayahku. Sekarang ia berumur  20 tahun dan sedang kuliah di IAIN SMH Banten. Ka Alif itu orangnya pintar. Tapi jahil dan sering  membuatku sebel.

“ Ka Alif, bisakah satu hari aja nggak nggangguin aku?” Pintaku kesal.

Meskipun begitu dia termasuk kakak yang baik dan sayang kepada adik-adiknya. (kalau kakak tahu pasti hidungnya  langsung terbang, hehe). Karena jarak kampus jauh dari rumah, jadi kakak menetap di Banten. Satu bulan sekali, ia menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah.

Tidak hanya kakak, aku juga memiliki seorang adik. Ia bernama Aqilah Ramsya Sabiha. Umurnya baru 5 tahun. Sekarang ia sekolah di TK Al-Kautsar. Adikku ini manja, mungkin karena umurnya yang masih belia. Tapi dia itu lucu dan pintar. Di pipinya ada lesung pipit, rambutnya ikal, dan kulitnya putih. Sama sepertiku, hanya saja rambutku tidak ikal. Aqilah sering memintaku untuk mengajarinya membaca Al Qur’an dan bercerita tentang sahabat nabi. Terutama saat mau tidur. Sehingga aku dan ummi kadang bergantian membacakan cerita kepadanya.

***

Aku senang dan bangga lahir di daerah ini. Bandung. Salah satu ikon yang ada daerahku adalah Observatorium Bosscha. Kalian tahukan Observatorium Bosscha?  Ini adalah tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Yang dibangun oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Biasanya, setiap liburan sekolah ayah mengajakku pergi ke sana. Tempat ini adalah tempat favoritku ketika umurku 6 tahun. Jaraknya juga cukup dekat dengan rumahku. Cukup naik kendaraan umum satu kali. Aku juga senang pergi ke Gunung Tangkuban Parahu. Di sana aku bisa melihat kawah yang indah. Juga merasakan udara sejuk dan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Merasakan sensasi bau belerang yang semakin lama semakin menyengat. Subhanallah. Begitu indahnya ciptaan-Mu ini Ya Allah.

Itulah sedikit gambaran saat aku masih di Bandung. Namun, hal itu tidak pernah kurasakan lagi setelah 7 tahun lalu orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah ke Bogor. Saat itu umurku menginjak 8 tahun. Ketika megetahui hal itu, aku sangat sedih dan sempat marah kepada ummi. Namun, ummi berusaha menjelaskan kepadaku.

“ Nailah sayang, dengerin Ummi. Kita pindah, karena di Bogor  Emak Amirah kesepian. Beliau ingin kita tinggal di sana.” Dengan lembut ummi mencoba menjelaskan kepadaku.

Kemudian Ummi melanjutkan.

“ Nailah mau kan tinggal di sana? Kasihan Emak Amirah, beliau sangat merindukan Nailah.”

“ Tapi kenapa harus pindah, Ummi? Nailah kan betah di sini.” Jawabku sambil menangis. Tetapi  ummi masih berusaha untuk membujukku.

“ Kalau tidak pindah, nanti bolak-balik. Jarak rumah kita dengan rumah Emak Amirah  jauh. Emangnya Nailah nggak kangen sama Emak Amirah?” Ummi masih membujukku. Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku rindu dengan Emak Amirah. Sudah 5 tahun kami tidak bertemu. Terakhir kami bertemu ketika usiaku  3 tahun.

“ Ummi tahu Nailah kangen sama Emak Amirah. Iya kan? ” Ummi menggodaku.

Sepertinya Ummi memang tahu aku memang merindukan Emak Amirah. Namun, aku masih diam. Menundukan kepala dan tidak berani menatap wajah ummi yang sejak tadi menatapku.

“ Yasudah, kalau Nailah masih bingung Ummi tunggu jawabannya segera, ya!” Ummi beranjak meninggalkanku ke arah dapur. Perlahan ummi pergi meninggalkanku.

“ Kalau begitu Nailah ikut pindah. Nailah mau ketemu sama Emak Amirah!” jawabku beberapa menit kemudian. Aku berlari memeluk Ummi. Ummi pun memelukku dengan lembut.

“ Ini baru anak Ummi. Nanti kita ketemu sama Emak Amirah, ya!” Kata Ummi.

Akhirnya sejak saat itu aku memutuskan untuk ikut pindah ke Bogor. Aku sudah tidak marah lagi. Malah sebaliknya, aku ingin segera sampai di Bogor dan bertemu dengan Emak Amirah. Oya, mendengar kabar itu, Emak Amirah senang. Sebenarnya sudah lama beliau menginginkan keluargaku pindah ke Bogor. Baru kali ini kesampaian. Alhamdulillah. Sekarang aku bersama keluarga tinggal di Bogor.

***

Setelah melihat jam, aku pun beranjak tidur. Memposisikan bantalku agar bisa tidur dengan nyaman. Menarik selimut dan guling yang terletak  berdekatan di ujung spring bed. Di sebelah kanan spring bed, ada lemari coklat tua yang  biasa kupakai untuk menyimpan barangku. Tembok kamar bercat hijau muda dengan goresan tinta coklat bertuliskan ‘everything we do, we do it for Allah’. Ya, itu adalah motto hidupku. Segala sesuatu yang kita lakukan, lakukan untuk Allah. Lantai dengan keramik berwarna putih dengan bercak abu-abu. Oya, lampu kamar tak lupa kumatikan. Do’a pun segera kupanjatkan. Di dalam hati aku berdo’a agar besok keluargaku masih diberikan umur dan masih hidup di dunia ini. Agar bisa melakukan kebaikan dan mencari ridho Allah. Amiin.

***

Jam menunjukan pukul setengan tujuh pagi.

“ yupz, ini waktunya untuk sarapan pagi.” Kataku dengan semangat.

Kuambil roti dan selai strawberi kesukaanku. Lalu kuoles selai itu di bagian atas roti. Mmm, yummy. Kemudian kuseruput susu coklat panas yang masih mengepulkan asap di tengahnya. Sementara Aqilah sibuk dengan selai coklat miliknya. Dari tadi ia berusaha membukanya, namun tidak berhasil. Wajahnya sampai merah dan ngos-ngosan. Kasihan. Aku senyum-senyum sendiri. Tapi Aqilah tetap berusaha.

“ Nailah, bantulah adikmu membukanya!”  Perintah ummi kepadaku. Aku yang tadinya senyum-senyum  langsung diam. Sepertinya ummi tahu kalau aku tidak membantu Aqilah. Dari tadi aku sibuk dengan roti dan susu coklat panasku. Hehe.

“ Iya, Ummi.” Jawabku sambil berjalan menuju Aqilah. Aqilah pun memberikan selainya kepadaku. Kubuka selai itu dengan memutar tutup kemudian menariknya. Dan…

“ Taraa….!!” Dalam hitungan detik selai itu pun terbuka. Aqilah senang luar biasa. Alhamdulillah. Wajahnya yang merah kini telah berubah. Ia senyum sumringah.

Setelah selesai sarapan, aku berangkat ke sekolah. Tak lupa pamit dan sungkem kepada ayah dan ummi. Juga mencium pipi adikku yang lembut dan wangi. Lalu kuberjalan ke luar rumah. Sementara Aqilah melambaikan tangannya. Motor beat berwarna hijau muda bertuliskan plat nomor  F 7596 K sudah menungguku. Ya, plat nomor itu sama dengan angka kelahiranku. 7 untuk tanggal, 5 untuk bulan, dan 96 untuk tahunnya. Kemudian kupakai helm yang juga berwarna hijau muda. Setelah menghidupkan mesin, aku pun berangkat.

“ Bismillahirrahmaanirrahiimi. Assalamu’alaikum!”

Aku pergi ke sekolah dengan mengendarai motor. Ini adalah permintaanku yang sebelumnya pernah ditolak oleh ummi dan ayah. Namun, berkat bantuan Ka Alif akhirnya mereka mengizinkan.  Walaupun dengan beberapa syarat dan pertimbangan. Lagi pula, dengan mengendarai motor aku bisa pergi kemana saja tanpa harus merepotkan ayah.

***

Kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya aku sampai  di depan pintu gerbang sekolahku. Tepat di samping kanan gerbang, terdapat papan yang bertuliskan ‘Selamat datang di SMAN 8 Kota Bogor’. Tulisan itu berukuran lumayan besar terutama di bagian ‘SMAN 8 Kota Bogor’. Di depan pintu gerbang, Pak Hasan berdiri dengan tegaknya. Beliau adalah satpam di sekolahku. Dengan kumis tebal, bertubuh tinggi, dan seragam hitam putih yang biasa dipakainya, beliau memeriksa siswa-siswi. Beliaulah yang bertugas menghukum siswa yang telat atau berpakaian semrawut. Biasanya mereka disuruh push up 50 kali atau keliling lapangan. Beruntungnya aku selalu on time dan seragamku rapi, jadi aku tidak pernah merasakan push up 50 kali. Kalau keliling lapangan sering. Di pelajaran olahraga juga ada. Hehe.

“ Selamat pagi, Pak?” Sapaku dengan lembut.

“ Pagi. “ Jawab Pak Hasan pendek.

“ Silahkan masuk!”  Perintah beliau setelah memeriksa motorku. Untungnya tidak ada masalah. Biasanya motor yang tidak ada kaca spion, plat nomor, atau si pengemudi tidak memakai helm, akan dihukum. Hukumannya, tak lain dan tak bukan adalah motornya disita.

“ Terima kasih, Pak Hasan!” Kataku sambil menahan tawa karena melihat kumis beliau yang semakin lebat. Haha. Astagfirullah. Aku segera sadar.

Di parkiran, Luna telah menungguku. Sambi berdiri di dekat motornya, ia tersenyum padaku. Luna adalah sahabatku. Ia adalah satu-satunya siswi di sekolah yang paling dekat denganku. Nama lengkapnya adalah Luna Awaliyah. Ia anak kedua dari pasangan Amnah Haihanah dan Rusli Hasan. Sama sepertiku, dia juga pendatang di kota seribu angkot ini. Bogor. Luna berasal dari Bangka Belitung. Ia datang ke Bogor karena ayahnya bertugas di sini. Kami mulai akrab sejak pertama bertemu di sekolah. Hal yang disukainya adalah fotografi. Dia senang sekali memotret. Sampai-sampai aku dijadikan objek fotonya. Huuft. Meskipun begitu, Luna orangnya baik hati, pintar, periang dan cantik. Banyak siswa laki-laki yang terpana padanya.

“ Selamat pagi, Nailah!” Sapanya lembut. Lesung pipit di pipinya tercetak manis.

“ Selamat pagi juga, Luna!” Jawabku sambil memarkirkan motorku. Aku memarkirkan motor tepat di sebelah motor Luna.

“ Kaifa Haluk, ya Ukhti?” Tanyanya sambil tersenyum.

“ Alhamdulillah, bikhoir. Wa anti?” Tanyaku balik.

“ Alhamdulillah, ana bikhoir.” Jawab Luna.

Kemudian kami pun tertawa. Setiap hari kami selalu melakukan hal itu. Mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Hal itu sudah biasa bagi kami. Karena kami menganggap kedua hal itu penting apalagi ketika bertemu dengan orang lain. Bisa dapat pahala dari Allah.

“ Ayo, kita pergi ke kelas!  5 menit lagi pelajaran akan dimulai.” Ajak Luna sambil berjalan dan melihat ke arah jam tangan kotak-kotak biru miliknya.

“ Iya, tapi tunggu sebentar! Rokku tersangkut di ban motor. “  Jawabku sambil menarik rok.

“ Masya Allah!” Luna melihatku dengan menggelengkan kepalanya. Tak menyangka rokku tersangkut.

Kemudian kami berjalan menuju kelas. Kelas 11 A itulah kelas kami. Berada di lantai 1, sebelah kanan kelas 11 B, bercat putih dan jendela berukuran sedang. Oya, sudah satu setengah tahun kami menuntut ilmu di sekolah ini. SMAN 8 Kota Bogor. Sekolah yang lumayan luas, terdiri dari tiga gedung yang tiap gedungnya berlantai  dua, bercat kuning telur dengan warna coklat tua di tiap sudut gedung. Lapangan basket, bola voli, bulu tangkis, futsal dan lainnya juga tersedia di sini. Laboratorium, ruang kepala sekolah dan  guru terletak  bersebelahan. Juga UKS dan perpustakaan yang turut mendukung  KMB (kegiatan belajar mengajar) di sekolah.

Teng… teng….teng….

Bel tanda pelajaran akan dimulai pun berbunyi. Alhamdulillah kami sampai di kelas tepat pada waktunya. Semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Para guru telah siap untuk mengajar. Suasana di luar kelas pun sepi. Hanya siulan burung gereja yang sesekali terdengar. Matahari pagi ini bersinar dengan hangatnya. Menyehatkan kulit karena belum bercampur dengan polusi.

***

Jam setengah sebelas, ini saatnya untuk istirahat. Aku bersama Luna berjalan ke luar kelas menuju perpustakaan. Tidak seperti siswa lain yang saat jam istirahat pergi ke kantin. Namun, berbeda dengan kami. Waktu istirahat kami gunakan untuk membaca buku di perpustakaan. Sedikit cerita, perpustakaan di sekolahku tidak lengkap, tidak rapi dan jarang dibuka. Kadang, aku dan Luna kesulitan mencari buku untuk mengerjakan tugas. Terpaksa kami harus mencarinya di tempat lain.

Bukan hanya itu, perpustakaan di sekolah kami mempunyai cerita yang oleh sebagian siswa dan guru disebut dengan cerita misterius. Cerita masa lalu. Kabarnya, cerita itu sering ditutup-tutupi oleh para guru. Namun, sebagian siswa mengetahuinya. Termasuk aku dan Luna. Jadi, dulu di tahun pertama sekolah kami berdiri sekitar tahun  1997, yaitu saat umurku satu tahun. Ada seorang siswi yang meninggal  di perpustakaan. Orang bilang, dia meninggal secara tidak wajar. Kepalanya bocor. Ada juga yang bilang beberapa buku di sana berlumuran darah. Kejadian itu terjadi sore hari sekitar jam 17.55 WIB. Setelah diperiksa oleh aparat polisi, mereka bilang siswi itu dibunuh oleh penjahat. Penjahat misterius.

Anehnya, sampai saat ini penjahat itu belum ditemukan. Guru-guru dan sebagian siswa percaya dengan keterangan dari polisi itu. Berbeda dengan kami. Pertama kali mendengar cerita itu, respon kami biasa saja. Tidak menganggap cerita itu misterius dan sebagainya. Kami anggap statement dari polisi hanyalah mengada-ngada. Bisa saja siswi itu jatuh terpeleset dan kepalanya terbentur ke tembok. Buku berlumuran darah karena mungkin saat itu dia sedang memegang buku. Lalu saat ia jatuh mengenai buku-buku lain.

“ Itu adalah takdir. Setiap kematian itu wajar. Justru orang yang nggak meninggal, itu nggak wajar.” Kataku kepada Iffah setelah keluar dari perpustakaan. Iffah adalah salah satu dari ratusan siswa yang percaya dengan statement polisi.

“ Iya, bener tuh. Kamu masih percaya dengan polisi itu?” Tanya Luna kepada Iffah. Gaya Luna layaknya sedang menginterogasi.

“ Emm…. nggak tahu!” Jawab Iffah sambil berlari meninggalkan aku dan Luna.

“ Nai, aku dengar buku yang katanya berlumuran darah itu masih ada di perpus.”  Luna mulai membicarakan tentang cerita 15 tahun itu.

“ Ohya? Siapa yang bilang?” Tanyaku dengan santai sambil membuka buku sejarah yang  baru kupinjam dari perpustakaan.

“  Banyak siswa yang membicarakannya. Tadi aku dengar dari Kalila.” Jawab Luna spontan.

“ Kalila? Bisakah dia berkata jujur? Bukankah selama ini dia dikenal suka mengada-ngada?”  Tanyaku heran.

Bruk !!

Tiba-tiba ada yang menabrakku. Dia adalah Iffah. Aku heran. Sepertinya dia sedang terburu-buru.

“ Iffah? Ada apa? Kenapa kamu lari? Tanya Luna kepadanya.

“ Maafkan aku, Nailah. Aku sungguh tidak sengaja.” Iffah meminta maaf kepadaku. Tiba-tiba banyak siswa yang berlari melewati kami. Juga guru-guru dan Pak Hasan. Aku dan Luna semakin bingung.

“ Iffah, sebenarnya ada apa? Kenapa semua siswa berlari?” Tanyaku penasaran. Begitu juga dengan Luna.

“ Ka..li..la me..ning..gal.. di perpustakaan.” Jawab Iffah dengan terbata-bata.

“ Apa? Kalila meninggal?” sontak aku dan Luna kaget bukan main. Baru beberapa jam lalu ia berkata kepada Luna.

“ Innalillahi wa innailaihi roji’un.”  Ucapku. Aku mulai penasaran dengan Kalila. Aku ingin melihatnya.

“ Luna, ayo kita ke perpustakaan!” Ajakku kepada Luna. Kami pun berlari ke perpustakaan. Sementara siswa dan guru sudah ada di sana. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di perpus.

“ Lihat, darahnya banyak sekali !”

“ Apakah ia terjatuh?”

“ Kurasa tidak.”

Bisik siswa-siswi yang berada di sebelah kanan dan kiriku. Kalila terbujur kaku dengan lumuran darah di kepala dan perutnya. Ia pun tak sadarkan diri. Bu Azizah, wakepsek sekolah kami mencoba membangunkannya. Namun, tak berhasil. Darah semakin banyak keluar dari kepalanya. Lantai dan tembok pun berlumuran darah. Sementara Pak Ibrahim, guru agama menyuruh agar Kalila segera dibawa ke rumah sakit. Teman-teman Kalila tak kuasa menahan tangisnya. Air mata jatuh membasahi lantai perpustakaan yang sebeumnya dicucuri darah. Kalila pun dibawa ke rumah sakit. Sedangkan siswa lain kembali ke kelasnya.

“ Nailah, menurutmu ini wajar?” Tanya Luna kepadaku sesaat setelah kami meninggalkan perpustakaan.

“ Iya, apa kamu berfikir ini tidak wajar?” Tanyaku balik.

“ Mmm… aku tidak tahu.” Luna menggelengkan kepalanya.

“ Luna, ada apa denganmu? Kenapa kamu berkata seperti itu?” Tanyaku heran bukan main. Sepertinya Luna mulai mempercayai cerita itu.

“Luna, jangan kamu bilang kalau kamu percaya sama cerita itu! Kamu harus sadar!”  Kataku sambil memegang bahu Luna. Aku coba untuk menyadarkannya.

“ Entahah, Nailah.” Jawab Luna kebingungan.

“ Astagfirullah, Luna sadar! Kamu tidak boleh seperti mereka yang percaya dengan cerita itu! Bentakku kepadanya. Wajahku memerah.

“ Luna, kita harus menyadarkan mereka. Mereka salah. Mati itu adalah hal yang wajar dan sudah takdir Allah. Kematian, jodoh, lahir, rezeki sudah Allah tetapkan. Kamu jangan seperti mereka!” Aku mulai berapi-api tak rela membiarkan sahabatku terjerumus oleh paham yang salah. Seperti yang telah dipercayai oleh yang lain.

Tiba-tiba Luna kehilangan konsentrasi. Ia hampir terjatuh. Aku pun membantunya.

“ Astagfirullah, kamu benar. Itu adalah takdir yang sudah Allah tetapkan. Kematian Kalila dan siswi lima belas tahun lalu adalah takdir.” Luna mulai sadar dan kembali pada keyakinannya. Alhamdulillah. Hatiku lega.

“ Nailah, secepatnya kita harus memberitahu yang lain. Sebelum mereka semakin termakan oleh cerita lima belas tahun lalu. Kita harus mencegahnya!” Kata Luna. Ternyata Ia memiliki pemikiran yang sama denganku.

“ Iya. Tapi sekarang kita harus kembali ke kelas!” Ajakku sambil membantu Luna berjalan. Ia masih lemas.

***

Setelah kematian Kalila di perpustakaan, cerita lima belas tahun lalu semakin ramai dibicarakan. Perpustakaan menjadi sepi setelah diamankan oleh polisi. Sebagian besar siswa tidak ada yang berani datang ke sana. Begitu juga dengan para guru. Aku dan Luna heran dengan mereka. Masa guru-guru takut dan tidak mau pergi ke sana? Padahal mereka sudah dewasa. Seharusnya pemikiran mereka sudah matang dan menganggap cerita lima belas tahun lalu maupun kematian Kalila itu wajar. Suasana bertambah rumit setelah banyak siswa yang mengundurkan diri dari sekolah.Kinerja para guru menurun sehingga berdampak juga kepada anak didiknya. Aku dan Luna semakin heran. Kami tidak ingin sekolah  terus-terusan seperti ini. Kami pun merencanakan sesuatu.

***

Lima hari kemudian.

Di sebuah taman yang berada tidak jauh dari sekolah, aku berdiri sambil bersandar di pohon pinus. Menunggu Luna. Berulang kali kulihat ke arah jam yang terpasang di kiri lenganku. 5 menit telah berlalu. Kualihkan pandanganku ke kanan dan kiri jalan. Jalanan lenggang. Hanya tiga sampai lima kendaraan yang melintas perlima menitnya. Di pinggir jalan raya, orang-orang sibuk berjalan. Angin sepoi-sepoi berhembus mengelus kerudung putih yang kupakai. Kemudian kuberjalan bolak-balik sambil melihat ke Hand Phoneku. Tak ada SMS maupun telepon. Orang-orang yang lewat di depanku mungkin merasa heran dengan tingkahku ini. Ya, aku resah menunggu Luna karena ia belum juga datang.

Akhirnya setelah menunggu hampir satu jam, Luna datang. Ia muncul dari arah kanan bahu jalan. Ia berlari. Ketika melihatnya, aku pun langsung berlari ke arahnya.

“ Afwan, aku telat.” Dengan ngos-ngosan Luna meminta maaf. Kerudung dan wajahnya basah oleh keringat yang mengucur dari kepalanya. Kemudian ia menarik nafas dan mengeluarkanya.

“ Yasudah tidak apa-apa.” Jawabku dengan perasaan sedikit lega.

“ Bagaimana, apa kamu dapat informasinya?” Tanyaku penasaran.

“ Iya, aku sudah mendapatkannya.” Jawab Luna semangat meskipun masih ngos-ngosan.

“ Alhamdulillah. Aku juga sudah menyelidiki kematian Kalila.” Tambahku.

“ Lalu bagaimana?” Tanya Luna penasaran.

“ Ternyata sama dengan dugaan kita. Kalila meninggal karena ia terpeleset di dekat rak buku bagian sejarah. Setelah kutelusuri lantainya memang licin. Buku yang berlumuran darah adalah buku perpustakaan  yang ia pinjam. Ketika jatuh, buku itu terlempar  ke tembok. Kepala Kalila juga sempat terbentur meja yang ujungnya tajam. Itulah yang menyebabkan kepalanya bocor. Saat itu di perpustakaan tidak ada pengunjung lain selain Pak Sutardjo, guru BK. Aku mendapatkan informasi itu dari beliau.” Jelasku panjang lebar.

“ Lalu kenapa Pak Sutardjo tidak memberitahu pihak sekolah?” Tanya Luna heran.

“ Entahlah. Oya, bagaimana denganmu?” Aku balik bertanya.

“ Dua hari yang lalu, aku menemui keluarga siswi yang meninggal lima belas tahun lalu.”

“ Apa? Jadi keluarganya masih hidup?” belum selesai Luna bercerita aku memotong pembicaraannya. Hal ini kulakukan karena aku penasaran.

“ Iya, dari saudaranya. Siswi itu bernama Afifa Syahira. Dia siswi kelas 11 F yang dikenal suka membaca buku di perpustakaan. Hari itu, 19 Juni 1997 Afifa pergi ke perpustakaan sekitar  jam 5 sore. Sekolah saat itu sepi karena siswa dan guru semuanya sudah pulang. Afifa pergi ke sana karena ia lupa mengambil buku biologi. Sama seperti Kalila, Afifa terpeleset di tempat yang sama. Ia sempat menabrak lemari kaca sampai jatuh tepat mengenainya. Itulah yang menyebabkan perut dan kepalanya bercucuran darah. Ditambah kepalanya membentur ke lantai dengan sangat keras. Hingga akhirnya dia meninggal seketika itu juga. “ Jelasku kepada Luna.

“ Masya Allah! Lalu kenapa saudaranya bisa tahu?” Tanya Luna

“ Siapa lagi kalau bukan Arsyil. Dialah satu-satunya saksi dan orang yang membuat cerita bohong itu.” Kataku dengan kesal.

“ Arsyil? Bukankah ia teman dekat Afifa?” Tanya Luna.

“ Tepat. Dia iri dengan Afifa yang pintar dan disenangi banyak guru. Dia telah membuat cerita dan merancangnya dengan rapi seolah cerita itu benar. Ya, itulah sebabnya. Sekarang ia telah menyesal dengan perbuatannya itu.” Kataku pada Luna.

“ Sudah kuduga, Nailah!” Respon Luna.

“ Kalau begitu, ayo kita pergi ke sekolah!  Aku sudah tidak sabar untuk memberitahu mereka.” Ajakku kepada Luna sambil menarik tangannya.

Aku dan Luna pun pergi ke sekolah. Untungnya jarak sekolah tidak jauh, sehingga kami bisa cepat sampai. Di sekolah siswa-siswa sedang berkumpul di depan ruang kepsek. Para guru terlihat cemas. Mereka berdiri tidak jauh dari siswa. Entah apa yang dilakukan oleh siswa itu. Aku dan Luna langsung ke tempat itu. Ternyata mereka sedang protes kepada kepsek mengenai kematian Kalila beberapa pekan lalu. Mereka menuntut agar kematian Kalila diungkap kembali.

“ Tepat.” Gumamku dengan senang.

“ Luna, ini saatnya kita memberitahu kenyataan yang sebenarnya.” Kataku kepada Luna.

Luna pun mengangguk. Kemudian kami maju ke depan ruang kepsek dan meminta semua orang diam.

“ Baik, teman-teman mohon dengarkan kami berdua!” Kataku.

“ Hey, apa yang kalian lakukan? Tidakkah kalian lihat kami sedang berorasi?” ucap seorang siswa dengan lantangnya.

“ Kami tahu apa yang kalian inginkan. Dan kami akan memberitahu kalian mengenai kematian Kalila dan siswi 15 tahun lalu.” Sontak semuanya kaget. Mereka pun menatap tajam ke arahku dan Luna. Pak kepsek pun keluar dari ruangannya.

“ Baiklah kalau memang kalian tahu, ceritakanlah kepada kami!” pinta semua siswa yang berada di depan ruang kepsek.

Aku dan Luna pun mulai bercerita. Mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun yang lalu. Juga kematian Kalila. Yang lainnya menyimak dengan seksama walaupun ada diantara mereka yang tidak percaya. Kami menuturkan dengan sejelas-jelasnya. Pak kepsek dan guru lain terlihat serius menyimak. Bahkan burung gereja yang sebelumnya berterbangan, kini diam seolah ikut mendengarkan apa yang aku dan Luna katakan.

“ Teman-teman, kematian Kalila dan siswi 15 tahun lalu bukan hal yang aneh. Itu wajar. Cerita misterius yang selama ini kalian percayai hanyalah cerita bohong. Yang tidak boleh kalian percayai. Kalian harus segera sadar dan bertaubat. Berhentilah mempercayai cerita bohong itu. Kecelakaan atau terjatuh bisa dialami oleh siapa saja. Kematian, jodoh, kelahiran dan rezeki adalah takdir yang  telah Allah tetapkan.” Kata Luna.

“ Siapa pun bisa mengalami kematian walaupun dengan cara dan jalan yang berbeda. Kita tidak bisa lari dari kematian. Seperti firman Allah di dalam Al Qur’an surat Al- Munaafiquun ayat 11 yang artinya, Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. Untuk itu, marilah kita kembalilah kepada jalan yang benar. Jalan yang diridhoi Allah Swt.”  Sambungku dengan semangat.

Akhirnya semua orang yang berada di sana menyadari kesalahan mereka. Mereka percaya dengan perkataanku dan Luna. Itulah fakta yang sebenarnya. Mereka tidak percaya lagi dengan cerita lima belas tahun lalu, yang telah membohongi mereka. Semuanya puas dengan fakta itu.

Sekejap. cerita lima belas tahun lalu tak lagi terdengar. Menghilang bagaikan diterjam ombak lautan. Bagaikan kertas yang dibakar oleh bara api. Aku dan Luna senang karena semuanya telah berubah menjadi lebih baik. Kini perpustakaan sekolah ramai dikunjungi siswa. Kinerja para guru pun menjadi lebih baik. Kematian Kalila dan Afifa sudah berlalu. Kini tinggalah masa depan yang harus kami hadapi. Tetap istiqomah di jalan Allah Swt. Keep spirit! ^^

_The End_

 

[Siti Muhaira, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis cerpen, dan menjadi bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

 

 

 

 

 

cerita cerpen lalu

Penulis: 
author
Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Posting Terkait