456 total views,  1 views today

Judul: De Liefde | Penulis: Afifah Afra | Penerbit: Afra, Indiva || Tahun Terbit: Februari/ 2010 | Kategori : Novel | Jumlah Halaman: 464 | ISBN : 978-602-8277-16 | Harga : Rp 50.000,-

 

Buku De Liefde ini penuh dengan liukan konflik. Epik yang disusun bersama jalinan romansa membuat buku ini begitu memikat pembaca. Latar yang disusun pun sangat kuat, mengingat pengarang harus membuka berbakai referensi untuk membentuk setting pada masa kolonialisme Belanda.

Afifah Afra sepertinya tidak menyukai model roman picisan. Cinta yang digambarkan dalam novel ini bukanlah cinta yang ‘cengeng’, tapi cinta yang digambarkan adalah cinta yang berani, cinta yang mau berkorban, cinta kepada Tuhan, kepada sahabat, masyarakat, terhadap idealisme.

Buku ini pantas jika disebut buku pembangkit idealisme, karena seperti buku yang pertama, sekuelnya ini masih mengusung idealisme yang kuat. Tanpa sadar, pengarang membawa Anda terbawa dengan alur cerita, sehingga pada setiap halaman, pembaca selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada setiap tokoh dalam novel tersebut. Cara pengarang meracik alur yang begitu menarik adalah jalan yang paling tepat untuk memasukkan pesan moral di dalamnya.

Kekurangan yang paling terlihat dari buku ini adalah terdapat banyak kesalahan di beberapa istilah berbahasa belanda. Mungkin hal ini dikarenakan pihak editing yang kurang teliti dalam mengedit karya ini. Kekurangan yang lain adalah penurunan deskripsi pada bagian akhir karya, yang membuat pembaca kurang terpuaskan, karena bagian akhir  adalah bagian yang paling ditunggu oleh pembaca. Tapi, pada bagian akhir cerita, Afifah Afra sukses membangkitkan tanda tanya besar akan kelanjutan cerita, seperti yang telah dilakukannya pada ending De Winst. Rencananya, novel sekuel De Winst akan segera terbit dengan judul De Romance.

Novel kedua dari tetralogi De Winst ini menceritakan tentang perjuangan dua wanita di negara yang berbeda. Sekar harus mempertahankan idealismenya di Negeri Kincir Angin, negeri di mana dia selalu menanamkan cita-citanya setinggi langit sebagai seorang buangan karena telah dianggap menghkianati Ratu Belanda di tanah airnya sendiri.

Tentu tidak mudah menjalani kehidupan sebagai seorang buangan, apalagi tempat pembuangan. Namun, bagi Sekar, dia bagai hidup di istana baru. Garendi, sepupunya, menyambut dirinya bagaikan sorang putri, bahkan menyiapkan segala sesuatu untuk Sekar, termasuk tempat tinggal yang berupa puri yang sangat megah. Paleis De Liefde, puri cinta.

Sekar pun menjalani hidupnya dengan terseok-seok di Negeri Kincir Angin, kehidupan yang sangat jauh dari orangtuanya di Hindia Belanda. Tersmasuk harus berurusan dengan Roesmini van De Brand, gadis cantik yang dijual ayahnya di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan salah satu anggota parlemen. Perkenalannya dengan Sophie, putri pemilik Paleis De Liefde yang memilih meninggalkan semua atribut kemewahan dengan memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan sosiologi antropologi, juga menjadi seorang wartawan yang ingin menguak kasus Roesmini.

Secara diam-diam, Rangga memasukkan Sekar ke dalam lingkarannya. Sekar dibuatnya bingung dengan sering mengajaknya ke pertemuan-pertemuan rahasia yang ia tidak tahu maksudnya. Rangga memilih memperjuangkan Hindia Belanda di Negeri Kincir Angin melalui NAZI. Rangga yang awalnya sempat membangkitkan aroma deja vu dalam diri Sekar, mengingatkannya akan sosok Rangga Poeroehita, ternyata adalah seorang yang sangat ambisius. Tentunya ini adalah sifat yang bertolak belakang dari apa yang Sekar kenal dalam diri Rangga.

Sementara itu di Tanah Hindia Belanda, Everdine Kareen Spinoza, seorang advocate, harus berjuang melawan system hukum yang jauh dari keadilan, meski ia sendiri seorang Netherlander. Kasus kliennya, Rinnah van de Brand, menyeretnya dalam permainan yang mengancam nyawanya, Permainan itu melibatkan salah satu petinggi Buitenzorg, Seberapa besar kasus yang ia tangani. Kareen tidak mengetahui mengapa orang tersebut bernafsu membunuhnya. Berkali-kali Kareen mengalami percobaan pembunuhan dan berkali kali itu pula ia diselamatkan oleh Joedhistira, eks sersan yang dijatuhi hukuman mati sekaligus pimpinan gerakan bawah tanah “Pejuang Hindia”

Tuduhan pun dilayangkan pada Kareen sebagai Nederlander yang tak setia pada Istana Orange. Karena interaksi dengan Jodiestira, ia juga dianggap merencanakan sebuah pemberontakan. Tanpa melalui prose peradilan, Kareen pun dijatuhi hukuman dengan diasingkan di NegaraSuriname. Joedhistira yang mulai jatuh hati pada sosok jelita Belanda totok itu.

Jika De Winst mampu mencetak kesuksesan, maka sekuelnya ini tidak kalah bagusnya. Selamat membaca! [Hawari, Santri Pesantren Media, jenjang kelas 1 SMA]

Catatan: sebagai tugas menulis resensi di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media.

Komentar Instruktur:

Meski judul resensinya sendiri sama dengan judul bukunya. Upayakan judul resensi dengan judul buku berbeda tapi mengandung isi yang sama. Meski sebetulnya masih ada nada “promosi” dalam menulis resensi tsb. Terutama di akhir tulisannya.  Tapi tak mengapa, jika memang sebuah karya itu bagus, bisa secara tidak langsung diberikan poin penilian yang positif. [O. Solihin]

By Administrator

Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Kp Tajur RT 05/04, Desa Pamegarsari, Kec. Parung, Kab. Bogor 16330 | Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA | IG @PesantrenMedia | Channel Youtube https://youtube.com/user/pesantrenmedia

2 thoughts on “De Liefde: Memoar Sekar Prembajoen”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *