352 total views,  2 views today

Laki-laki berjubah cokelat itu berlari menyusuri gang-gang kecil, sepatu bot hitamnya terus menginjak genangan air dan menciptakan percikan kecil. Nafasnya terdengar cepat dan agak tersengal, sesekali dia menoleh kebelakang lalu memperbaiki topi coklat gelapnya yang hampir jatuh. Tangan kirinya mengenggam beberapa lembar dokumen dan sebuah paket kecil. Tak lama dia berbelok di sebuah lorong gelap dan menghilang.

Beberapa orang berseragam biru tua terlihat berlari di jalan yang sama setelah beberapa menit laki-laki berjubah tadi menghilang. Mereka berhenti di perempatan jalan menoleh kesana kemari. Mencari jejak. Mereka akhirnya berbicara dengan bahasa asing kemudian berpencar. Tapi hingga fajar menyingsing mereka tidak bisa menemukan jejak lelaki berjubah itu. Seolah-olah dia lenyap ditelan pekatnya malam.

 

-ZDLC-

 

Aku membuka pintu sambil mengucek mata kemudian berjalan menuju ruang makan, rupanya Mom sedang menaruh piring-piring yang sudah dicuci ke dalam lemari. Tercium aroma roti panggang dan teh hangat yang begitu menggoda saat aku menghampiri meja makan. Aku menarik kursi dan mengambil sepotong roti kemudian menatap jendela di sebelah wastafel. Hari ini aku bisa melihat langit lagi.

“Tidak ada kabut ya Mom?” tanyaku sambil menggigit roti panggang.

“Kau bisa melihatnya sendiri honey,” Mom menoleh dan mengarahkan kepalanya ke jendela.

“Oh,” aku mengangguk dan melahap rotiku yang tinggal setengah.

“Mana Kak Tara?”

Aku melihat keseliling ruangan, biasanya Kak Tara yang paling ribut saat sarapan. Mom berjalan melewatiku dan menaruh sepiring kue bolu, lalu mengecup kepalaku ringan.

“Dia sudah pergi jam 6 tadi dan kau harus mencoba resep baru Mom,”

“Resep baru?” Mom mengangguk dan tersenyum kecil.

“Mom akan menjualnya di toko,”

“Hari ini kau libur kan? dan sepertinya, Mom pulang agak sore jadi kau bisa kan buat makanan sendiri?”

Aku mengangguk setelah beberapa detik, Mom tersenyum lagi lalu menghilang dibalik pintu.

Aku menghela nafas panjang, bingung apa yang harus aku lakukan. Sejujurnya aku tidak terlalu suka makanan manis, tapi Mom menganggap seorang gadis harus menyukai hal-hal yang manis, ‘Yah, kecuali kue mungkin? Pikirku. Kudorong piring berisi kue itu menjauh, kemudian aku beranjak ke kamarku. Setidaknya dengan liburnya sekolah aku bisa sedikit bersantai di rumah kecuali jika ingatan kabur itu terlintas lagi. Ingatan yang memaksaku untuk sadar siapa diriku sebenarnya.

Aku merebahkan diriku di kasur dan memeluk bantal berbentuk rotiku erat. Beberapa menit aku hanya berguling-guling di atas kasur dan menatap langit-langit kamar. Mataku menerawang, beberapa potong ingatan itu mulai kuhubung-hubungkan, ‘Ayunan.. Anak tupai.. Senapan angin.. Gelas yang pecah.. Dermaga tua.. Bros kupu-kupu..’

“Sebenarnya ini ingatan siapa?” aku menatap langit kamar. Bertanya-tanya.

Percuma. Sekalipun aku terus berpikir, aku tidak menemukan petunjuk apapun. Ingatanku seperti sudah di reset. Aku melirik ke jendela kamar dan terperanjat. Mulutku tidak bisa mengatakan apapun, aku hanya bisa menatapnya dari atas kasur. Kabut yang tadi pagi menghilang, tiba-tiba menutupi pandangan. Begitu tebal dan pekat.

Air mataku tiba-tiba jatuh. Sebuah ingatan muncul kembali, membawa sebuah ketakutan. Perlahan-lahan kamarku terlihat buram dan gelap.

 

                Bersambung…

 

ZulfanaK (Zulfa AR 1 SMA Pesantren Media)

#Setelah sekian lama akhirnya saya nge-post cerita juga 😀 maaf terlalu sedikit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.