499 total views,  1 views today

Endingnya:
“Berdiri kamu, Nio, jangan jadi pengecut! Cepat lakukan Rhea!” Teriak Vincent menggema di ruangan tengah Rhea. Rhea mengacungkan pistol miliknya kea rah Nio yang sedang berdiri di samping sofa.
Dor!
“Apa-apan kamu Rhea?! Yang kamu lakukan tidak seperti yang aku perintahkan!”
“Kau tidak menyuruhku membunuhnya. Dare dari mu hanya mengambil pistol dan menembaknya. Tidak membunuhnya. Harusnya kamu lebih spesifik lagi kalau kamu ingin aku membunuhnya. Lagian, kamu nggak mikir apa. Kalau dia sampai mati, bagaimana membersihkan mayatnya? ” Jawabku dengan santai. Aku berjalan ke arah Nio yang tersungkur sambil memengang lengan yang tergoser, akibat peluru dari pistolku.
“Ayahmu, seorang perwira tinggi di mileter. Aku yakin, kalaupun kamu benar-benar bunuh dia, tetap aja nggak aka nada yang berani hukum kamu, Rhea.”
“Lagian, kamu pikir aku mau susah susah beresin mayatnya Nio?” Aku harus bisa mengendalikan diri. Jangan sampai pistol yang ditangaku merubah aku menjadi orang yang tidak aku inginkan.
“Kalau kamu tidak mau menembak Nio. Serahkan pistolmu kepadaku?” Vicent bergerak cepat menujuku. Aku harus menghindar. Tapi, sayang pistol tetap direbutnya.
Kamu telah membangkitkan ku, Viccent.
Dor!
Dor!
Dor!

By Putri Aisyara

Saknah Reza Putri | Santriwati Pesantren MEDIA angkatan ke-2, kelas 3 SMP | Asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan | Twitter @PutriAisyara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *