342 total views,  1 views today

Rik merapikan kerudungnya sebentar di depan cermin. Tidak lama ia bergegas berjalan

ke ruang tengah untuk menemui ibu. Dilihatnya ibu sedang duduk berselonjor kaki di atas

karppet sambil menonton tivi yang menayangkan film religi.

“Bu, Rik berangkat, yah,”

“Kemana?”

“Sekolah. Ada mentoring dari DKM hari ini.”

Rik meraih tangan ibu dan menyalaminya, lalu keluar rumah dan menyetop angkot. Baru-

baru ini Rik memang mendaftar masuk menjadi anggota di organisasi Rohis di sekolah. Banyak

jadwal yang harus Rik ikuti karena masuk ke sana. Dia harus bersusah payah menyesuaikan

jadwal belajarnyya karena semua kegiatan itu.

Bahkan di hari Minggu ini, biasanya dia akan duduk di depan meja belajar, memantengi

buku matematika untuk memperdalam materi SMA. Sudah hampir kelulusan SMP, jadi Rik

merasa dia harus mempelajari materi SMA agar tidak kaget nantinya. Tapi karena kegiatan di

Rohis, Rik menyusun ulang semua jadwalnya agar tidak berbenturan dengan kegiatan organisasi

barunya.

“Kay!”

Rik menatap tidak suka pada Az yang kini berdiri sambil tersenyum jahil di depannya.

Sebelum masuk Rohis, Rik tidak tahu menahu siapa saja anggota yang sudah bergabung. Melihat

Az di sini, hari ini, Rik punya firasat buruk. Dia berharap Az bukan salah satu anggota Rohis.

“Ngapain lu di sini?” merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Az, Rik berlalu

melewatinya dan masuk ke masjid sekolah. Az tidak akan mengikutinya karena Rik masuk ke

tempat akhwat. Rik tersenyum puas.

Ketika memasuki masjid yang bagian akhwat, Rik langsung melihat sekumpulan orang

saling mengobrol ria. Hari ini adalah hari pertamanya ikut mentoring. Beberapa orang

dikenalnya, karena sebelumnya pernah bertemu di kegiatan sebelumnya. Tapi tetap saja ada yang

tidak dikenalnya, apalagi dia juga belum tahu siapa mentornya. Rik measa sedikit minder, tapi

ditepisnya perasaan itu. Untuk apa minder padahal sedang berusaha menjadi lebih baik, pikirnya.

Rik mengucap salam bergitu berjarak sekitar dua meter dari perkumpulan yang berjumlah

delapan orang itu. Ckup banyak, pikirnya. Sambil duduk, Rik menyapa Ro. Ro adalah

perempuan yang anggun menurut Rik. Tapi gadis itu seringkali merasa tidak percaya diri. Sangat

berlainan dengan Rik yang merasa dirinya penuh percaya diri. Meski begitu, RO sangat baik dan

mengontrol kata-katanya. Ro sosok yang ebat di mata Rik.

“Rikayla, yah?”

Seorang perempuan yang cantik dan manis. Itu deskripksi yang bisa Rik kesimpulkan

begitu melihatnya. Mentornya. Namanya Nada. Tutur katanya lembut ketika berbicara, dan sama

seperti namanya, suaranya seolah bernada. Teh Nada adalah mahasiswa UIN jurusan farmasi.

Tapi badannya yang kecil membuat orang yang pertama kali melihatnya beranggapan kalau dia

siswa SMA. Teh Nada tipe yang mudah menyesuaikan diri sepertinya. Buktinya, Rik bisa

berbicara leluasa dengannya meski baru beberapa menit yang lalu bertemu.

Setelah bercakap meramaikan suasana, Teh Nada memulai materi mentoringnya dengan

sebuah cerita yang ia beri judul “Seorang Penjual Tahu”. Kisah yang sederhana sebenarnya, tapi

pembawaan yang dilakukan Teh Nada sangat mengena dan mudah dicerna pikiran.

Cerita itu mengisahkan tentang kalimat alhamdulillah yang terlihat tidak ada apa-apanya

tapi menghasilkan sebuah pertolongan yang begitu hebat. Juga tentang doa-doa yang rutin

terucap di setiap kegiatannya yang awalnya terlihat tidak terkabul. Tapi ketika terkabulkan, ada

hadiah besar yang didapatkannya. Sebuah nyawa yang berharga.

“Sabar itu bukan berarti diam menanti. Tapi tetap berikhtiar di sela penantian,” Rik diam,

menyimak perkataan Teh Nada, “Harapan itu wajar diminta setiap hari dalam doa-doa. Tapi

jangan menyerah ketika sabar dibalas lara, ketika doa belum terjawab juga. Scenario Allah jauh

lebih indah dari manusia, seperti skenarionya pada seorang penjual tahu.”

Dalam hati, Rik tersenyum. Meski apa yang dia dapatkan dari mentoring ini terlihat tidak

seberapa, tapi ia bersyukur memutuskan masuk Rohis dan mengikuti mentoring yang diadakan

DKM dia juga tidak menyesal karena sudah merelakan waktu belajarnya. Pikirnya, apa yang

didapatkannya hari ini lebih daik dari satu bab pemahaman matematika SMA.

Rik berdiri di samping Ro yang mengobrol dengan Teh Nada. Dia tidak terlalu menyimak

pembicaraan keduanya dan sibuk mengobrak-abrik tas slempangnyaa. Sangat menjengkelkan.

Bagaimana mungkin hapenya bisa lenyap dari tasnya padahal sejak tadi dia bahkan tidak

mengeluarkannya sama sekali.

“Kenapa, Rikayla?”

Rik menggeram dalam hati saat namanya dipanggil, “Rik aja, teh.” Katanya

membenarkan, “Hape saya ngga ada di tas.”

“Kok bisa?” sahutan panik Ro diabaikan Rik. Dan ia bersyukur, karena alih-alih terlihat

panik, Teh Nada memilih diam. “Coba cari di dalem masjid. Kali aja ada di sana.”

Baru saja Rik mau melakukan usul yang dicetuskan Ro, suara lain memanggil namanya.

Az memanggilnya, membuatnya mendengus kesal, “Kay!”

Az berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan. Dia memakai baju olahraga yang

sebagian basah oleh keringat. Rik mendengus jijik dalam hati. “Oh, jadi lu ikut Rohis, yah,” Rik

diam, dia ingin cepat-cepat menemukan hapenya. Jadi dia memilih mengabaikan Az dan masuk

ke masjid.

Tapi lagi-lagi batal karena Az memanggilnya, “Oi, Kay, bentar!” Rik menahan kesal dan

menatap Az sinis. “Nih, hape lu, kan? Tadi jatoh.”

Az mengulurkan tangannya. Memang benar, yang dipegang laki-laki itu adalah hape Rik.

Rik bisa mengenalinya dengan mudah karena stiker rumus al-Khawarizmi di sana. Buru-buru

Rik mengambil hapenya.

“Ceroboh banget, sih.”

Rik merutup dalam hati, membenarkan ucapan Az. Mungkin, saat dia buru-buru masuk

ke masjid, hapenya terjatuh. Ah, tapi harusnya kan, Az bisa langsung memberikannya pada Rik

alih-alih memberikannya sekarang.

“Lu udah masuk masjid dan nutup pintunya, jadi gua ngga bisa langsung balikin. Sorry.”

Rik mendengus, malu pada diri sendiri. Samar-samar seseorang meneriaki nama Az,

“Gua balik dulu, yah, takut kena hukum pelatih. Bye, Kay!”

Rik merasa sangat bersalah pada Az. Sebelumnya dia sudah mengabaikan Az dan

mengharapkan yang tidak-tidak pada lelaki itu. Sekarang dia suuzhon pada Az yang sudah

berbaik hari mengembalikan hapenya. Rik menelan ludah, “Az!” teriaknya. Az langsung

menengok ke arahnya, “Makasih,”

Az tersenyum sambil mengacungkan jari, yang dibalas senyuman tipis Rik. Dari

belakang Teh Nada menepuk pundaknya pelan, “Syukur hapenya udah balik. Tapi hati-hati sama

perasaan yah, Rik.”

Hah, “Maksudnya?”

[ZMardha] willyaaziza, Bogor

Evaluasi menulis pemula

By Zadia Mardha

Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *