Loading

 

 

 

Ada sebuah rumah yang sangat kumuh di suatu desa. Di rumah tersebut tinggal seorang suami istri yang selalu menjaga satu sama lainnya. Sang suami kerja sebagai pemindah hujan, pekerjaannya ini sudah di ketahui oleh penduduk desa, sedangkan sang Istri kerja sebagai penjahit. Mereka terlahir dengan orang tua yang berbeda dan juga negara yang berbeda. Jarwo sang suami terlahir di tanah air indonesia, sedangkan Naomi sang istri terlahir di Sakura, Jepang. Jarwo punya hobi yang sangat menarik, dia suka menhitung volume batu dengan rumus matematika. Setiap hari Jarwo selalu menghitung volume batu.

Padahal menikah dengan pria asing adalah sebuah aib bagi wanita jepang. Apalagi seperti kondisi Jarwo sekarang ini. Namun Naomi tidak pernah mengeluh dengan keadaan keluarganya seperti ini. Naomi selalu sabar dalam menghadapi cobaan seperti ini. Di saat Naomi merasa sendiri, Jarwo selalu ada di sampingnya dengan tatapan matanya yang bisa menenangkan Naomi hingga segala masalah yang ada di dunia ini.

Broto mengenakan peci hitam membawa sepeda ontel tua datang menghampiri rumah Jarwo dan Naomi. Dengan kehadiran Broto itu ingin meminta tolong kepada Jarwo untuk memindahkan hujan. Karena dia ingin mengadakan acara hari selasa. Jarwo pun tidak keberatan dengan hal tersebut karena memindah hujan adalah pekerjaan Jarwo yang sudah terlatih. Mas Broto pun mengasih satu bungkus rokok dengan amplop putih yang tebal kepada Jarwo. Namun Jarwo hanya mengambil satu bungkus rokok saja. Mas Brotopun heran, padahal Mas Broto ikhlas mengasih amplop tersebut.

“Sudah saya ambil rokoknya saja, nih uangnya kalo udah berhasil saja.” Kata Jarwo sambil mengasih balik amplop tersebut. Naomi tersenyum saat mendengar Jarwo dan Mas Broto berbicara. Mas Brotopun pamitan dengan Jarwo karena dia harus membagikan undangannya ke desa sebelah. Akhirnya Mas brotopun pergi meninggalkan rumah Jarwo dengan sepeda tuanya.

Jarwo pun menaruh rokoknya di meja di mana ia menghitung volume batu. Namun dia tidak menghitung jumlah volume batunya. Dia mengambil aquarium kecil yang berisi satu ikan cupang. Jarwo mengasih makan ikan cupangnya dengan perlahan. Tak lama kemudian datang calon sepasang suami istri yang sangat mesra menghampiri rumah Jarwo. Kehadian mereka berdua ini ingin bertemu dengan Naomi untuk menjahit baju milik perempuan.

Begitu Jarwo mendengar suara mereka, Jarwo langsung menaruh makanan dan aquarium ikan cupangnya kembali. Wanita itu langsung menemuni Naomi untuk mengukur badannya. Dan Jarwo menghampiri sang lelakinya. Laki-laki itu sudah lama tidak ke rumah Jarwo, baru kali ini dia datang lagi. Pria itu pun mengeritik pekerjaan Jarwo saat ini.

“Jarwo, Jarwo otak kamu itu pintar, masih aja jadi pemindah hujan. Cari pekerjaan lain dong, jadi gurulah, mengajar murid SD. Gajinya terjamin. Kamu nggak perlu mikir orang mempekerjakan kamu memindah hujan.” Kata kakak Jarwo. Jarwo hanya bisa mengangguk-angguk. Naomi masih terus mengukur badan wanita itu. Wanita itu bawel dan cerewet tetapi Naomi tetap sabar. Namun di samping itu Naomi menguping sebuah pembicaraan yang dilakukan oleh Jarwo dan kakaknya. Naomi merasa nggak enak atas pekerjaan suaminya. Dan juga kakak Jarwo yang selalu membicarakan rumah tangga Jarwo dan Naomi, dan jelas Kakaknya Jarwo tidak suka.

Suatu hari Jarwo pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Pulang mencari kayu bakar Jarwo melewati sebuah sungai, dan ia mengambil sebuah batu yang berada di pinggir sungai. Jarwo melihat-lihat batu itu setelah itu ia melihat langit-langit, dan menyelipkan batu itu dengan kain yang ia kenakan. Setelah itu ia kembali berjalan pulang.

Disaat Naomi sedang menjahit datanglah teman sekaligus saudaranya yang berada di Indonesia. Hatashi Takeda itulah namanya. Ia turun dari mobil mewah lalu menuju rumah Naomi. Takeda memanggil Naomi dari halamannya, lalu Naomi menyambut kedatangan Takeda dengan melayani minuman khas jepang. Dan di saat itu juga Jarwo datang dengan kayu bakarnya.

Tujuan Takeda ke rumah Naomi adalah ingin mengajak Naomi ke kampung halamannya. Namun Jarwo menguping pembicaraan Takeda dengan Naomi. Naomi mempunyai prinsip yang sangat kuat sehingga ia menolak ajakan Takeda. Naomi lebih memilih suaminya yang selalu ada di sampingnya di banding pulang ke kampung halaman.

Saat mendengar Takeda ingin mengajak Naomi ke kampung halamannya. Ada suara kayu bakar jatuh, mungkin itu sengaja Jarwo jatuhkan karena ia cemburu. Sebelum Takeda pulang ia memastikan kembali kepada Naomi untuk berubah pikiran seminggu kedepan. Dan setelah itu Takeda pulang denga Perpisahan ala jepang.

Setelah Takeda pergi, Jarwo banyak melakukan gerakan-gerakan yang aneh. Naomipun datang menghampiri Jarwo. Naomi memanggil nama Jarwo, namun Jarwo tidak menyahut dan tetap kepada gerakannya. Hingga beberapa kali Naomi menggilnya, Jarwo tetap tidak menyahut. Air mata Naomipun mulai keluar mengalir kebagian pipinya hingga jatuh ke tanah. Naomi pun lari meninggalkan Jarwo.

Hujanpun turun dari langit kepermukaan bumi, saat Jarwo menghampiri Naomi, banyak kertas-kertas origami yang tersebah di daerah Naomi. Akhirnya Jarwo dan Naomi melakukan dangsa tradisional. Hingga membuat mereka tenang dan nyaman.

Malam-malam Naomi menutup pagar dan juga pintu rumah, sedangkan Jarwo dia melakukan intraksi dengan setan. Jarwo bagaikan dukun yang kesurupan. Banyak bacaan aneh yang Jarwo katakan.

Pada pagi hari yang cerah Jarwo perpamitan dengan sang istri untuk bekerja memindah hujan. Naomi mencium tangan Jarwo dengan penuh rasa sayang. Jarwopun pergi untuk bekerja.

Suatu hari Naomi sedang menjemur pakaian, lalu datangalah sebuah motor tua dengan barang kiriman. Pria pengantar kiriman itu mengasih sesuatu kertas dan juga batu yang di ikat rapih. Ternyata Jarwo berhasil dalam memindahkan hujannya, atas keberhasilannya Jarwopun memberi hadiah kepada Naomi.

By Muhammad Qais

M Qais Abdul Qowiy, santri angkatan ke-2 jenjang SMP dan angkatan ke-6 jenjang SMA | Asal Bogor, Jawa Barat | Facebook : Muhammad Qais | Instagram : @mhmmdqais

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *