Terbakar?

826 views

Ketika pandanganku tiba-tiba melayang menjadi lamunan

yang tinggi nan jauh ke masa lalu

Memikirkan tindak tanduk yang menyimpang

Ibarat anak panah yang meleset dari sasaran

Karena hantaman angin yang keras

 

Kehidupanku dulu, seolah menjadi sayatan panjang

Yang melukai keimananku

Menjadi kenangan masa lalu

Yang sering dibuat indah oleh bisikan setan

Yang mencoba tuk merayuku

Agar aku kembali terjebak di lubang yang sama

 

Pluralisme, kupikir suatu paham yang logis untuk menyatukan perbedaan keyakinan yang terjadi dalam negara kesatuan

Membuat semuanya terlihat benar di mata kaum awam

Hedonisme, kukira mencari keuntungan dengan mengandalkan usaha sekecil-kecilnya, walau dengan cara yang tak halal

Membuat kekayaan yang melimpah itu suatu yang lumrah saja

Materialisme, kusangka memandang semua hal sesuai dengan materi normal saja

Setiap detik dalam kehidupan dihitung dengan uang

Membuat seolah meminimalisir kerugian duniawi yang didapat

Kesetaraan gender, mungkin mampu meningkatkan derajat kaum hawa yang selama masa penjajahan ditindas habis-habisan oleh sekutu

Membuat kaum hawa malah tak lagi dihargai oleh kaum adam

 

Apa yang selama ini aku tanam dalam pikiranku?

Apakah itu hal sepele?  Hingga aku tak peduli waktu itu?

 

Tapi, ketika lamunanku buyar oleh lantunan merdu ayat suci Al-Qur’an

Yang kala itu memenuhi kesunyian malam

Seketika air mataku mengalir begitu saja

Membasahi pipiku dan meluncur ke balutan kerudung hitamku

 

Teringat ketika seorang guru berkata “Mungkin masa lalu kita kelam, namun biarkan masa depan kita secerah mentari yang terbit di ufuk timur”

Spontan senyumku terlukis di wajah

 

Hari ini, kubuka lembaran baru dalam hidupku

Kukunci rapat masa lalu yang kelam yang dibalut akan debu-debu dosa

Ikhtiar dan berdo’a senantiasa kulakukan

Dalam do’aku terselip kata “Ya Allah, jadikanlah aku insan mulia

Yang mampu membangkitkan semangat Islam yang kian lama kian merosot di kalangan remaja ikhwan dan akhwat

Kuyakini rahmatMu meliputi segala sesuatu yang ada

Kuyakini Islam pasti, pasti, dan pasti akan kembali jaya

Semoga aku bisa menjadi salah satu pejuang yang syahid fisabilillah”

 

Api semangatku berkobar

Membakar keputusasaan yang sempat tumbuh seperti benalu

Menggerogoti optimisme yang kokoh

 

Aku terbakar?

Tidak, jika aku terbakar

Aku akan hilang seperti abu yang terbawa angin

 

Lalu?

Aku tetap hidup

Bersama semangat menyeru agama Allah

Berdakwah demi kebangkitan Islam

Dan hanya Allah

Yang berhak mematikanku

Dan berhak menghidupkanku kembali

 

[Zahrotun Nissa, santriwati jenjang SMA angkatan ke-3, Pesantren Media]

api fiksi puisi

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

  • Di Pesantren Media saat ini, sedang menggalakkan tilawah al-qur’an.

  • Tulisan fiksi (cerpen) karya Dinda Adila (asal Banjarbaru, Kalimantan

  • Tulisan karya Rayfino Raynaldi (asal Bogor, Jawa Barat), kelas