273 total views,  1 views today

Kubaca ulang lagu yang kutulis sejak 3 hari yang lalu, sebenarnya masih banyak yang mengganjal menurutku tapi mau bagaimana lagi? Aku juga agak bingung mau menyampaikan apa lewat lagu ini, belum lagi lagu ini akan ditampilkan oleh aku dan 3 temanku untuk acara festival sekolah nanti. Argh..mengingat hal itu rasanya aku ingin meledakkan kepalaku, atau mungkin aku ingin lenyap ditelan segitiga bermuda. Pusing.

Kubenamkan kepalaku dibantal kemudian mulai berguling-guling kekanan dan kiri bergiliran, ini adalah salah satu cara agar aku bisa lebih tenang, lebih tepatnya melepaskan kepenatanku.

“Oke lah…gini aja deh,” putusku setelah 10 menit berlalu.

Tugas ini diserahkan kepadaku karena tidak sengaja ke-3 temanku membaca salah satu lagu buatanku yang benar-benar mello, sejujurnya lagu itu ingin aku kirim ke seseorang tapi gagal karena aku tidak punya keberanian. Lagu itu juga lah yang sanggup membuatku kehilangan separuh nafas, karena akhirnya aku disuruh membuat lagu lagi dengan tema yang benar-benar tidak bisa kumengerti.

Untung saja aku tidak perlu buru-buru menyelesaikannya. Besoknya kuperlihatkan hasil selama aku bersemedi dikamar, kepada 3 temanku.

“Waahh..bahasanya keren banget, kamu cocoknya jadi penulis lagu Aya.”komen Fela.

“Bagus sih..tapi aku enggak terlalu paham hehehe..”tambah Rikka sambil mengunyah roti.

“Jadi kesimpulannya?”tanyaku agak khawatir. Semua menoleh ke arahku.

“Ya, tinggal tentuin aja latihannya..lagian waktu kita tinggal seminggu lagi.”ujar Hana.

“Oke..tapi jangan hari Selasa sama Jumat aja, soalnya aku ada les.”balas Rikka cepat.

“Mm..gimana kalau kita latihan barengnya hari Rabu, Kamis sama Sabtu setuju enggak?”tanya Fela, aku hanya bisa meringis kecil. Feelingku mulai tidak enak.

“Nadanya biar dibuat sama Fela aja, dan Aya…”Hana terdiam, jantungku langsung berdegup kencang.

Kumohon jangan bilang aku yang main..”, “Biola.”spontan aku langsung terhuyung, permohonanku gagal setelah Hana memotongnya.

Akhirnya semua menyetujuinya, dan pulang ke rumah masing-masing. Selama perjalanan aku termenung cukup lama sampai hampir menabrak pagar rumah orang, entah kenapa aku takut, benar-benar takut.

“Ah..paling kamu pengen gak tampil.”gumamku pada diri sendiri. Buru-buru kutepis semua pikiran negatif dikepalaku, jangan sampai aku tidak bisa hafal puisi karena hal ini.

—@—

     Latihan terakhir aku tidak bisa ikut karena aku harus menemani kakekku yang masuk ICU. Hana menghela nafas saat aku mengatakan tidak bisa ikut latihan hari ini, aku yakin dia agak kecewa tapi mau bagaimana lagi? Untung saja Rikka buru-buru menjelaskan kepada Hana semua akan baik-baik saja.

Gomenne Han..orang tuaku juga belum datang.”ujarku lagi.

“Okelah tapi jangan lupa latihan Ay, assalamu’alaikum.”ujar Hana menutup pembicaraan.

     Kusenderkan badanku ke tembok, rasanya aku benar-benar lega karena Hana mengizinkanku tidak ikut latihan. Hana memang seseorang yang perfeksionis tapi selalu menuntut semua serba sempurna setidaknya dimatanya, sifatnya itulah yang kadang membuatku merasa terbebani namun kurasa aku tidak akan bisa jujur padanya. Selamanya.

     Orang tuaku baru datang sekitar 1 jam kemudian, aku pun disuruh pulang ke rumah. Malam itu aku merenung dikamar mengingat kenangan yang sudah lama kusimpan, terakhir kali aku bermain biola saat aku kelas 5 SD, saat itu aku benar-benar terluka dan akhirnya aku berhenti bermain selama 5 tahun. Kurasa aku memang terlalu sensitif.

Besoknya aku langsung berlari menuju sekolah, tempat kami akan latihan terakhir sebelum festival. Kutenteng tas biolaku menuju studio sekolah, semua langsung menoleh kearahku begitu pintu kubuka.

“Oke, Aya udah dateng kita langsung latihan aja.”ucap Hana memberi instruksi. Semua langsung bersiap.

Namun baru beberapa saat kami mulai, aku sudah melenceng Hana langsung menatapku dingin.

“Sorry tadi gak konsen, soalnya..”, Hana langsung memotong ucapanku, “Iya, iya..mulai lagi.”

Kejadian itu pun terulang lagi, lagi dan lagi. Aku hanya bisa menunduk sambil menatap biolaku, tiba-tiba saja Hana menggertakku, “Kamu niatkan Ay? Kalo engga, engga usah aja.”, mataku menghangat tapi buru-buru kutahan, Rikka dan Fela terdiam sementara Hana berjalan mondar-mandir didepanku. Kejadian itu terulang lagi, dan aku mulai menangis dalam diam.

Air mataku perlahan-lahan jatuh ke atas biolaku, aku menunduk berusaha menyembunyikan tangisanku. Rikka yang berada dibelakangku sepertinya mulai menyadarinya saat aku mendengar suaranya, “Kamu kenapa Ay?”, aku menggeleng cepat.

“Aya? Kamu nangis kenapa?”Fela langsung menghampiriku, dan duduk didepanku.

Aku langsung menaruh biolaku dan berlari keluar, saat itulah aku mulai mengeluarkan semuanya. Aku menangis sekencang mungkin di kelas, kukeluarkan semua rasa sakit itu dalam buliran air mata. Aku benci diriku, aku kecewa sama diriku sendiri, kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku gak bisa berubah? Kenapa aku gak bisa jujur pada diriku?

Hari itu, aku enggak ikut latihan lagi untuk yang terakhir kalinya. Rikka pun menelponku, mengajak pulang tapi aku menolak secara halus walaupun sebenarnya aku enggak mau mereka melihat mataku yang agak bengkak karena kebanyakan menangis.

“Kamu enggak usah ikut aja Ay..istirahat dirumah ya?”saran Rikka pelan.

“Enggak Ka, tolong bilang ke Hana juga ya besok aku bakalan ikut.”putusku.

“Gak apa-apa nih?” tanya Rikka memastikan, “Iya..gak apa-apa kok.”balasku pelan.

Fesival sekolah pun datang, kulirik biola disampingku dengan perasaan campur aduk. Selama menunggu giliran tampil, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan mengenggam kedua tanganku erat-erat, keringat dingin mulai mengalir dari dahiku. Apakah benar aku baik-baik saja?kulihat Hana berjalan cepat menghampiriku, wajahnya menyiratkan kecemasan atau mungkin kesal?

“Aya, jangan sampe kamu salah lagi soalnya ini festival, pasti banyak yang liat oke?”serunya agak cepat, menahan emosi.

“Iya, aku gak akan ngulangin kayak latihan kemarin.”balasku pelan.

“Ya udah, aku mau ngecek alat-alat musiknya.”Hana bergegas meninggalkanku. Sendirian.

“Kumohon tenanglah Ay…tenang, jangan panik..”hiburku pada diriku sendiri.

“Aya?”aku menoleh ke arah suara itu dan Rikka tersenyum kecil kearahku, “Kamu enggak apa-apa?”

Mataku mulai memanas, Rikka langsung buru-buru menghampiriku dan menyerahkan selembar tisu. “Oh jangan Ay…jangan menangis nanti matamu bisa bengkak.”ujar Rikka sambil merangkulku, dan aku mulai terisak. Aku takut, benar-benar takut bagaimana jika aku semakin trauma? Tapi Rikka justru mengatakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja, benarkah?

 —@—

      Seminggu memang sudah berlalu semenjak festival dan semua prasangkaku terjadi, aku merusak tampilan kami. Hana langsung turun dari panggung pergi entah kemana,Fela langsung mengejarnya sementara aku pergi kebalik panggung dan menangis lagi, tangisan kebencian. Kenapa ini harus terjadi lagi?

Hana memang sudah melupakan insiden itu, namun aku merasa dia  membangun jarak denganku selain itu tidak ada yang berubah, tapi tetap saja perasaanku sudah tidak utuh lagi remuk redam. Aku menatap teman-temanku yang sedang berolah raga dari balik jendela kelas, untung saja Pak Seno mengizinkanku enggak ikut pelajarannya, karena aku memang ingin sendiri.

Kupandang langit yang mulai kelabu, semakin lama semakin pekat kuharap nanti hujan akan turun dengan derasnya. Ketika pelajaran usai, Hana dan Fela menghampiriku sambil membawa minuman.

“Kamu enggak ikut Ay?”tanya Hana. Aku tersenyum lalu menggelang.

“Kenapa? Cuma olah raga doang kok, lagian enggak akan

“Hahaha..jangan gitu ah, nanti kalo dipaksa-paksa Aya nangis lagi loh kayak waktu itu.”ujar Hana sambil tertawa. Sesak.

“Eh, sorry2…gak maksud nyindir kok Ay..”Fela cengengesan sambil memamerkan lesung pipinya.

“Gak apa-apa kok..”aku tertawa kecil, Hana mengernyit heran.

“Kita ke kelas Rikka dulu ya.”ujarnya cepat sambil berlalu, di belakangnya Fela mengekor.

Doaku terkabul, pulang sekolah hujan turus dengan derasnya. Kupandangi setiap orang yang berlalu lalang di lapangan menembus hujan, ada yang membawa payung dan jas hujan tapi tidak sedikit yang nekat berlari melewati lapangan tanpa berusaha melindungi dirinya dari setiap tetesan hujan. Sementara beberapa anak memilih menunggu di depan rak sepatu dan kelas, termasuk aku.

Tak sengaja mataku saling beradu dengan sepasang mata yang melewatiku di kelas, terjadi begitu saja tanpa kusadari.

“Kamu belum mau pulang?”tanya pemilik sepasang mata itu, aku hanya menggeleng.

“Kalo gitu aku duluan.”tanggapnya lalu berlalu. Aku sendiri lagi di kelas.

Aku langsung memalingkan wajahku ke luar kelas, menikmati irama hujan di luar. Setelah beberapa saat aku menaikkan kakiku ke kursi dan memeluknya erat-erat, cukup lama aku terdiam sampai pertanyaan itu berlalu dipikiranku. “Serapuh itukah aku?”.

                                                                                                                                                                                -Bersambung-

[Zulfa Aulia, Kelas 1 SMA, Pesantren Media]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *