74 total views,  1 views today

cup-of-coffeeSaat mendengar bahwa tugas kami selanjutnya dari ustad O. Solihin adalah membuat feature, jujur saya agak bingung. Pasalnya, selama ini saya sering menulis tulisan bebas dan tidak tahu yang mana tulisan feature dan mana yang bukan. Sedikit bingung sudah membuat saya malas menulis. Namun, penjelasan ustad O. Solihin yang cukup jelas dan fokus dapat kemudian memompa semangat saya untuk segera menulis tepat setelah pelajaran. Entah itu karena memang saya sedang dalam fase manik atau memang ustad O. Solihin memang memiliki semacam  magnet yang kutubnya sama dengan magnet kami sehingga saat terjadi tumbukan pertemuan maka yang terjadi adalah gaya saling dorong mendorong, entahlah. Yang jelas ide-ide brilian tentang isi feature yang akan saya tulis segera membludak tidak karuan di kepala saya. Saya bahkan bingung sendiri dengan ide-ide tersebut. Dan karena saking banyaknya ide yang terus menerus berputar-putar, ujungnya saya malah bingung sendiri hendak menulis apa. Akhirnya setelah pelajaran usai dan kami kembali ke asrama, saya pun mengambil sebungkus cemilan kemudian memakannya sampai saya kenyang, mendengarkan musik pop punk dan berloncat-loncat, hingga saya akhirnya kekenyangan sekaligus kelelahan hingga akhirnya saya jatuh tertidur.

Singkat cerita, saya tidak jadi menulis.

Dan ternyata bukan hanya tidak jadi menulis, semangat saya menulis pun rontok selama seminggu berikutnya. Ini tentunya bukan faktor apapun, melainkan kemalasan. Ya, maklumlah yang namanya remaja. Komitmen masih sangat sulit untuk dijalankan, mungkin karena faktor usia yang membuat mereka menjadi makhluk paling labil sehingga sosok yang kadang terbentuk malah seorang pemberontak, pemalas, peng-galau (istilah saya sendiri, bisa saja Anda tidak setuju dengannya), dan silahkan disebutkan kelanjutannya.

Pada hari Selasa, tepatnya 1 Januari 2013 sore, saya dan Anam diperintahkan Ustad Umar untuk mengantarkan CD Majalah Udara Voice of Islam edisi 67 ke radio Mars FM yang terletak di Baranangsiang. Saat itu pukul 17.50, sehingga bisa dibilang cukup kesorean Ustad Umar memberikan perintah tersebut. Kalau berangkatnya pukul 17.50, pulangnya pasti malam. Tak apa lah, mungkin Ustad Umar baru ingat akan hal tersebut saat hari sudah menjelang sore dan mentari mulai tergelincir di ufuk barat.

Saya sangat ingin menolak perintah Ustad Umar sore itu. Bagaimana tidak, rasanya saya sedang dalam kondisi mood yang luar biasa ambruk padahal beberapa jam yang lalu semangat saya meluap-luap. Saya bahkan sempat berteriak, “Ah, berangkat saja, dan semoga saya kecelakaan di jalan supaya bisa pulang ke Temanggung seperti Musa.” Sangat emosional memang, namun saya pun tersenyum geli ketika menuliskan ulang kalimat yang saya ucapkan sore itu. Ciyus Haw, kamu mau kecelakaan? Miapaaah?

Ih, ngeri deh.

Anam terpekik ngeri mendengar ucapanku itu dan segera berteriak membalas, “Ah, jangan Haw!” Aduh, entah mengapa sore itu mendadak saja kami suka sekali mengatakan sepotong “ah!”

Masalah pertama pun segera muncul. “Bensin habis.” Kalimat maut itu terujar dari mulut Musa yang bertutur dengan santainya.  Saya mendengus geram.  Kami –saya dan Anam- pun terpaksa mendorong motor itu ke pesantren, ingin bertanya di mana penjualan bensin terdekat dan yang paling penting, minta uang buat beli bensinnya.

Ustad Umar keluar dari dalam pesantren dengan wajah yang sangat lelah. Aduh, jadi menyesal deh udah illfeel dari tadi. Ternyata ada yang lebih illfeel dari gue! Ustad Umar tentunya sangat lelah karena tenaganya terkuras untuk berdakwah dan menurunkan ilmunya kepada santri-santri tercinta. Sungguh mulia.

Setelah saya mengambil CD VOI yang terletak di atas meja untuk dikirimkan ke Mars FM, Ustad Umar memberi galon dan uang Rp.20.000,00. Menurut perintah beliau, kami disuruh meminta Musa untuk membelikan bensin dengan galon itu di POM bensin Sindang Barang. Kami pun kembali mendorong motor ke Rumah Media. Namun di tengah jalan, ternyata warung anjing (tempat sebutan kami untuk warung berwarna biru di jalan antara Pesantren Media dengan Rumah Media karena pemilik toko tersebut memelihara banya anjing) yang sekilah terlihat tutup ternyata menyembunyikan sang pemilik di dalam. Kepala wanita penjaga warung melongok keluar dan melihat kami –dua anak malang yang sedang menuntun motor butut yang mogok- dengan tatapan iba. Dia bertanya, ada apa?

Saya segera bertanya apakah dia menjual bensin, dan ternyata iya! Alhamdulillah, kami tidak perlu repot-repot menunggu Musa membelikan kami bensin di POM  bensin Sindang Barang terlebih dulu. Langsung tancap gas!

Motor yang dikendarai Anam mulai melaju. Beberapa ratus meter kemudia, saya menyadari bahwa saya salah mengambil CD! Yang berada di tanganku saat itu adalah VOI edisi 66, padahal seharusnya saat itu saya sedang membawa VOI edisi 67. Saya segera menepuk jidat saya dan menyuruh Anam berputar balik untuk menukar CD tersebut.

Saya segera kembali ke meja tersebut dan benar saja, edisi 67 tertumpuk di antara edisi 66, sehingga jika tidak teliti maka perbandingan kemungkinan mengambil salah satu di antara keduanya adalah 50:50. Setelah menyambar VOI edisi 67, saya kembali meloncat ke atas motor  dan Anam pun segera memacunya.

Anam mendadak teringat sesuatu. “Wah, dari tadi kok ada halangan terus ya? Eh! Tapi mungkin ini karena kita disuruh lewat jalan pintas itu!”

Kami lupa sesuatu yang berharga, yakni untuk mencapai jalan raya dari komplek Laladon Permai ternyata bisa dicapai lebih singkat dengan melewati jalan gang yang bermula di jembatan sungai pembatas komplek Laladon Permai. Namun saat kami hendak melewati jembatan itu, ternyata sebuah gembok sudah tersenyum penuh kemenangan kepada kami. Dia bergelayut manja dalam dekapan sang ‘cantolan gembok’ yang tertaut pada pagar besi.

Apesss…

Kembali kami menempuh rute awal. Well, mungkin saja ini jalan yang terbaik. Duh, mulai deh puitis.

Saya mengamati jalanan menjelang maghrib. Cukup lengang, terutama jalan sepanjang Sindang Barang. Tidak bisa dibilang sepi, namun jangan pula dibilang ramai. Saya mengamati lampu-lampu jalanan mulai dihidupkan, toko-toko beberapa mulai tutup, dan orang-orang mulai beranjak meninggalkan tempat mereka mengeruk secuil kekayaan Sang Pencipta sehingga terciptalah setitik lubang kecil di tengah luasnya samudra semesta yang maha luas tak terkira. Angin yang menerpa wajah serta menggelitik lubang hidungku membawa aroma kering bercampur keringat, bau busuk sayur dan apak debu, aroma kelelahan sekaligus kepuasan akan mendapatkan rezeki secara halal meski hanya sedikit. Saya memejamkan mata dan membiarkan semua ini terekam pada suatu sudut di otak lunak saya dan berusaha agar ia tetap berada di sudut tersebut agar saya tidak akan melupakan suasana ini sepanjang sisa hidup saya.

Keramaian mulai terasa saat kami sampai di daerah Pusat Grosir Bogor (PGB). Aneh ya, kapan pun saya lewat tempat ini pasti selalu ramai. Keramaian kian terasa saat kamu melewati Stasiun Bogor. Hari semakin gelap, dan jumlah orang-orang dijalanan pun semakin bertambah. Entah mereka berasal dari mana, tiba-tiba saja trotoar sudah dipenuhi orang-orang asing itu. Hei, tunggu, bukankah menurut mereka saya juga asing?

Melewati kawasan Istana Bogor, dan maghrib di kota hujan ini semakin memikat hatiku. Banyak hal yang tak dapat kurasakan selain pada waktu maghrib, dan sore itu seolah bagaikan secangkir kopi yang terhidang setelah sekian lamanya saya terlalu sibuk menenun sebuah kain. Bagai menemukan api di tengah dinginnya kutub, kata orang Eskimo. Bagai jatuh cinta pada pandangan pertama saat pandangan-pandangan sebelumnya tak membawa rasa yang berarti apalagi berharga. Dan kata Anggun, bagaikan turunnya salju di tengah gersangnya Sahara. Aduuuh… malah sampai situ!

Tentunya tidak se-spesial itu, namun memang tidak dielakkan kemenarikannya. Sebenarnya saya benar-benar membenci perjalanan dengan mengemudikan motor di tengah kota besar seperti ini. Mengerikan sekali. Apalagi saat itu yang menyetir adalah temanku sendiri, Anam. Ingin sekali saya memejamkan mata agar saya tidak menyadari kejutan-kejutan mengagetkan sehingga saya tidak terpekik sepanjang waktu setiap kali Anam me-rem motor sedikit mendadak, pejalan kaki yang secara tiba-tiba menyeberangi jalan di depan kami, atau atraksi Anam berbelok-belok menyalip kendaraan lain. Jantungku pun terasa dag-dig-dug seperti dentuman dari lagu Sesuatu milik Syarini.

Namun, semua itu saya tahan dengan tetap membuka matsaya demi menatap gemerlap kota dan merasakan sensasi sensual yang menggelitik dari kehangatan tubuh maghrib ini. Gemerlap dan kepadatan kota yang jarang saya dapati di kota kecil tempat saya berasal. Saya kembali mengamati kanan-kiri dan merekam semua yang kuanggap menarik – jalan di sekitar pagar luar Kebun Raya Bogor ternyata terlihat lebih kotor dan bercecran dengan sampah sore itu. Bayangkan, Bogor Botanical Gardens yang sangat terkenal itu memiliki penampakan muka yang tak sedap dipandang apalagi dicium lalu dimakan. Apalah nanti kata orang dari negeri luar?

Saat kami tiba di lampu merah Tugu Kujang, saya menyadari bahwa kepadatan jalan yang mulai terjadi ternyata memberikan peran antagonis kepada angkot-angkot yang mendominasi! Wah, warna hijau ada di mana-mana, sampai jalan pun seolah berisi angkot semua. Ini bagaimana ini? Seharusnya pemerintah mengontrol jumlah kedaraan  umum yang diizinkan beroperasi. Jangan sampai kenyamanan pengendara lain terganggu dengan ‘populasi’ angkot yang kian menjamur!

Kami melewati Botani Square, mall termegah yang ada di Bogor. Ah, masa termegah? Termewah pula katanya? Paling laris?

Saya kembali berfikir. Kenapa kini yang bertema kemewahan yang semakin laris? Kenapa manusia lebih bangga dengan kemewahan ketimbang kesederhanaan? Tidakkah mereka tahu bahwa kemewahan dapat menjadi ilusi karena ia akan membutakan kita bahwa setiap kita ini sama-sama manusia? Bermewah-mewah dapat membawa kita pada kesombongan, sementara bersederhana diri dapat menimbulkan perasaan rendah hati dan ikhlas serta mensyukuri.

Lho, tapi apa hubungannya dengan Botani Square? Entahlah, tapi yang jelas saya tidak begitu suka jika mengunjungi tempat-tempat mewah seperti itu. Bukan artinya saya membenci pemilik tempat itu, lho!

Tapi ngomong-ngomong, kenapa Botani Square berubah nama jadi B a Square, ya? Oh! Ternyata lampu huruf o-t dan n-i nya tidak menyala sodara-sodara!

Kami pun sampai pada jalan menuju tol jagorawi. Setelah kami berbelok pada sebuah kelokan, kami pun menyadari bahwa lalu lintas semakin padat saja. Padahal ini sudah masuk waktu maghrib, namun apakah mobil-mobil tersebut tidak menepi untuk para pengemudinya shalat berjamaah di masjid? Entahlah, melihat jumlah mobil dan motor yang sangat sangat padat di jalanan membuatku berfikir, bahwa mereka pasti tsayat tempat parkirnya di masjid tidak cukup, sehingga malas shalat di masjid.

Benar saja, kami pun tiba di Masjid Raya Bogor yang shalatnya sudah mulai di sana dan menyadari betapa sempitnya tempat parkirnya. Tempat parkir yang terletak di basement tersebut selalu tampak lengang dan luas setiap kali kami mendatanginya untuk memarkirkan motor yang membawa kami siaran di Mars FM. Namun pada waktu maghrib begitu, dimana banyak orang hendak menepi sejenak dari gelombang ombak kehidupan yang keras, melabuhkan sampan sejenak dan merendah diri serta memohon maaf, pertolongan dan kekuatan di hadapan Allah SWT dan mendapatkan kedamaian bagaikan mendapat secangkir es teh di tengah teriknya suasana Jakarta, bahkan lebih nikmat dari itu sensasinya, dugaan kekanak-kanakanku semakin kuat.

Basement ini sangat sesak untuk mobil-mobil yang tersisa di luar! Satu banding sekian puluh! Tapi kenapa ya yang desain basement kok tidak luas? Apakah memang khusus didesain untuk masyarakat Indonesia yang kini semakin banyak yang malas berjamaan di masjid padahal bisa dan mampu, dan mereka adalah muslim?

Saya melupakan pikiran itu dan segera mengambil air wudhu, kemudian ikut shalat berjamaah. Wah, ternyata pada jam seperti itu masjid ramai sekali dengan kaum muslimin, saudara seiman saya. Kami mengambil wudhu dan mendapati tempat wudhu yang cukup luas. Tempat parkir sih boleh terpenuhi kuotanya, tapi tidak dengan tempat wudhunya. Bahkan menurut saya tempat wudhu ini terlalu besar. Seusai mengambil air wudhu, saya dan Anam naik ke lantai atas masjid untuk ikut shalat berjamaah. Kami sudah tertinggal dua rakaat dari deretan jamaah yang membentuk lima baris shaf.

Setelah selesai shalat, kami pun segera beranjang menuju Mars FM yang terletak di timur Masjid Raya, tepatnya di gedung Majelis Ulama Indonesia kantor cabang Bogor. Semakin kami menaiki undakan menuju gedung tersebut, hawa mencekam semakin terasa. Keramaian terasa memudar drastis dan sekilas kemudian saya menyadari bahwa gedung tersebut tampak lebih suram saat waktu maghrib. Saya sudah sering melihatnya saat shubuh atau siang hari.

Kamui mulai memasuki aula utamanya. Cahaya remang berwarnya oranye berpendar hangat dari lampu gantung yang terletak tepat di tengah ruangan. Saya dan Anam berjalan dengan telinga yang dapat mendengar langkah kami sendiri dengan jelas. Kami kemudian menaiki tangga yang mengubungkan kami ke lantai dua. Lorong tangga itu sangatlah gelap tanpa satu pun lampu sengaja diletakkan di atasnya agar orang yang menapakinya tidak salah anak tangga atau setidaknya, agar saya tidak merinding tsayat. Saya pun merasa seolah sedang menaiki portal yang menghubungkan saya ke dunia lain di atas sana. Saya menghayati setiap tapak langkah yang saya hempas dengan kaki saya ke anak tangga, saya menekuri tekstur kayu licin dan halus yang menjadi pegangan tangga sampai ia melengkung untuk kedua kalinya dan berubah dari miring 45 derajat menjadi sempurna 180 derajat. Oh! Sudah sampai lantai kedua rupanya.

Saya dan Anam berjalan melewati lorong yang menyerupai balkon namun terletak indoor. Kami mengetuk pintu Mars FM dan mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban. Akhirnya kami membukanya saja dan langsung menuju studio. Di sana ternyata sudah ada penjaga –entah siapa namanya, namun seingatku perawakannya gemuk dan wajahnya riang serta ramah. Dia nampak kaget saat saya mengetuk pintu studio namun segera menyambut kami dengan hangat.

“Ini, kami mau nganterin VOI edisi 67.”

“Oooh, makasih ya, padahal baru saja saya selesai download file-filenya dari Internet.”

Doeeeng!

Astaghfirullah, lalu kenapa kami harus capek-capek menuju tempat ini? Saya menahan perasaan itu hingga sang penjaga Mars FM tidak melihat kami lagi dari pandangannya, kemudian segera menghempaskannya dengan berteriak geram seraya menggerakkan badan saya menirukan PSY dengan Gangnam Stylenya, sedikit dicampur dengan koreografi Lady Gaga dalam lagu Judas, lalu mengkolaborasikannya lagi dengan tarian-tarian norak khas boyband mulai dari yang sekelas SUJU dan Shinee sampai yang kelas teri seperti Sm*sh dan terciptalah gerakan geram yang awut-awutan dan tidak memiliki gesture serta gerakan yang ‘berseni’.

Kami segera berniat pulang dan menyadari bahwa lalu lintas di kota ini sudah semakin memadat. Maklum, jam pulang kerja. Tapi apalah boleh buat, kami harus segera pulang.

Saya kembali merasakan sensasi menjadi orang jantungan. Bukannya sombong atau ingin jadi Fir’aun kecil nih, tapi saya itu termasuk orang yang sangat hati-hati dalam mengemudikan kendaraan di tengah keramaian, apalagi keramaian kota besar seperti ini. Saya tidak pernah berani melampaui kecepatan 30 KM/jam, selalu menyalip dari arah kanan dan sebisa mungkin untuk tidak mengambil celah-celah sempit demi memangkas waktu yang dapat mengaret jika tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang sering muncul di jalan raya.

Dan ternyata Anam adalah sosok pria yang lebih sejati daripada saya.

Kata orang, lelaki itu lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan, memaksimalkan otak kiri ketimbang yang kanan. Namun yang terjadi pada saya, entah mengapa dua-duanya seolah ingin saling salip sehingga jadilah sosok yang paling aneh di jagad semesta.

Anam mengemudi dengan lebih berani dan saya rasa lebih perhitungan. Berani mengambil resiko, meski harus menjadi orang yang paling saya benci selama perjalanan pulang tersebut. Bagaimana tidak?

Dia kembali membuat saya tersiksa dalam perasaan ‘sesuatu’ milik Syahrini sehingga jantung saya terasa dag-dig-dug dan mulut saya tidak hentinya mencegah gelombang yang digetarkan oleh pita suara agar tidak terpekik keluar. Dia berkali-kali menyalip kendaraan lain dari sebelah kiri, memacu dengan kecepatan yang menurut saya cukup kencang –entah menurutnya bagaimana- di tengah keramaian kota yang dipadati orang-orang dan kendaraan pulang kerja, dan konsekuensinya adalah sensasi terkejut yang semakin men-dag-dig-dug-kan irama lagu Syahrini dengan gencetan rem yang ditarik secara mendadak sehingga saya pun merasa seperti akan terpeleset dan terjatuh dari atas motor setiap kali ada ‘Sesuatu’ yang dapat menghalang kelancaran berkendara kami atau bahkan dapat membahayakan.

Malam nampaknya mulai beranjak naik. Mentari sudah tak menyisakan secarik pun cahayanya. Beberapa orang putus asa menyalakan kembang api dan suara letupan sesekali mengagetkanku. Mengapa aku mengatakan ‘orang putus asa’? Tentu saja, tahun baru kan sudah lewat sehari yang lalu! Pastilah mereka tidak punya uang untuk merayakan pesta meriah kemarin, dan kebetulan saja mereka mendapatkan sedikit uang sehari setelahnya, maka barulah mereka dapat membeli dan menyalakan kembang api. Ups, namun lagi-lagi ini hanyalah dugaan kekanak-kanakanku semata.

Saya mengalihkan perhatianku dari jalan raya di depan –yang tak hentinya membuatku ber dag-dig-dug- dan kembali mengamati suasana kota. Saya melihat restoran Mc. Donald yang semakin ramai dengan orang-orang yang kelaparan dan ingin segera menyantap makanan sampah cepat saji, lalu Anam menyalip sebuah bus bertulis Depok-Bogor yang menyimpan puluhan wajah dan perasaan di dalam sana. Saya sempat mengamati sederet bangku yang diisi oleh keluarga kecil. Mereka tertawa dan bercanda renyah, seolah masalah gadis cantik berwajah sangat murung yang saya lihat duduk di bangku muka tidak memberi pengaruh apapun pada mereka. Kami juga melewati Mall Plaza Pangrango yang gelap dan aku sempat berfikir sudah berapa ratus populasi jin di dalamnya.

Tepat di pertigaan setelah Plaza Pangrango tersebut, kami mengambil jalan ke kiri karena itulah jalan yang seharusnya ditempuh agar sampai Rumah Media. Hore, jalanan mulai sepi! Kebun Raya di sebelah kiriku tampak gelap dan menawarkan nuansa horor bagi yang ingin syuting film murahan di sana. Pepohonan gelap yang menjulang tinggi seolah menyimpan beribu misteri yang susah untuk dikuakkan di tengah kepekatan malam. Ada yang aneh. Dua wanita berpakaian ketat dan mengundang syahwat lelaki terlihat sedang melakukan sesuat –entah apa. Yang jelas terlihat adalah sekilas mereka nampak sedang berfoto-foto ria. Apa yang sedang mereka lakukan di tengah kegelapan seperti itu? Well, aku tidak ingin memikirkannya sama sekali.

Kami mulai masuk jalan di samping Istana Bogor, dan merasa lalu lintas kembali lengang dan gemerlap lampu di atas saya terasa begitu indah, tanpa sengaja mulut saya mendendangkan lagu Butiran Debu milik Rumor. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Baru kemudian aku menyadari lagu itu sangatlah berbahaya! Bagaimana kalau kami benar-benar tersesat dan tidak tahu jalan pulangnya? Aku pun segera mengganti lagu yang sedang kudendangkan dengan Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi…

Kerlap- kerlip lampu kota yang menghiasi jalanan bersih serta cukup lengang dan udara hangat sisa sengatan sang surya masih terasa. Kalau saja yang menyetir di depan adalah saya, dan yang duduk di belakang sini adalah istri saya, maka suasana akan menjadi sangat romantis. Halah! Masih remaja sudah mikir yang seperti itu!

Kami mulai melewati jalan stasiun, dan ketegangan pun kembali terbangun. Anam terasa semakin ‘ngawur’ –menurutku lho…- menyetirnya dan jantungku semakin ber-Syahrini. Jelas sekali Anam lebih suka menyalip kendaraan lain –terutama mobil- dari sebelah kiri. Saya pun tak bisa menahan pekikan ngeri saat Anam menyalip sebuah angkot dari sebelah kiri namun ternyata di samping kiri angkot tersebut sudah ada angkot lain, dan kami pun melewati celah sempit yang sekian puluh sentimeter lagi kami akan celaka.  Ternyata Anam tidak ada bedanya dengan Musa atau Yasin dalam menyetir. Meski menurut saya Yasin lah yang menempati posisi terburuk dalam menyetir, disusul Musa, barulah Anam, namun tetap saja mereka memiliki pola menyetir yang sama.

Saya tak habis pikir mengapa teman-teman saya suka sekali berkendara dengan cepat –meski menurut mereka kecepatan tersebut masih tergolong normal. Mereka bahkan dengan pedenya sempat bermain-main dengan motor mereka saat beberapa menit yang lalu jantung saya nyaris copot.

Suatu ketika, beberapa minggu yang lalu, saya membonceng Musa dalam perjalanan pulang dari siaran di Mars FM. Di tengah kehiruk pikukan orang-orang yang sedang berangkat kerja dan sekolah dengan bermacam perasaan, Musa hepi-hepi saja saat ia berakrobat menyalip sana sini dengan kecepatan yang (lagi-lagi) menurutku cukup tinggi. Dan BRAKK!

Kendaraan di depan kami berhenti secara mendadak dan Musa yang sedang berkecepatan tinggi kesulitan menghentikan motor hingga akhirnya…

Mocong depan motor yang kami kendarai dengan sukses mencium paksa sebuah mobil seksi di depan kami, Mazda 2 yang entah berapa harganya namun memiliki desain elegan sekaligus futuristik dengan warna hijau metaliknya, hingga menciptakan goresan yang cukup mendalam di bagian belakang bumper mobil mewah tersebut.

Keajaiban terjadi, pengendara mobil tersebut nampaknya tidak menyadari stempel yang baru saja Musa goreskan dan kami berlalu dengan wajah seola tidak tahu apa-apa.

Hingga saat ini, Musa melarangku untuk memberitahu siapapun tentang kejadian ini dan alhamdulillah, sampai sekarang rahasia kecil tersebut masih kami simpan rapat-rapat. Apa?

Saya pun teringat seseorang yang pernah menyatakan bahwa jika dia mengebut di jalan raya dan menyalip sana-sini  itu dengan perhitungan dan kalkulasi yang matang, sehingga tindakannya pun tepat dan langkah yang diambilnya selalu presisi.

Oh oke, well, kalian boleh saja percaya pada ilmu matematika yang selalu diagung-agungkan tante-tante dan tetangga-tetangga saya di kampung halaman, boleh saja percaya dengan kalkulasi tepat tentang percepatan, jarak dan waktu serta kecepatan, prespektif, sehingga setiap langkah yang kalian ambil adalah spekulasi paling akurat.

Kalian percaya pada itu semua, namun aku percaya terhadap takdir.

Motor terus melaju, dan meski lalu lintas telah menguras seluruh kesabaran di hati, kemampuan pikir di kepala, serta kekokohan di pinggangku yang kini sudah terasa sangat pegal, saya tetap tersenyum. Setidaknya, saya mendapatkan ide untuk menulis feature.

[Hawari, @hawari88, santri jenjang 1 SMA di Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Hawari

Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *