Sebuah Jawaban #3 [End]

552 views

“Diana! Tolong katakan kepada ibumu. Kuenya enak sekali.” Kata mereka dari kejauhan. Aku menaikkan alis kananku. Darimana mereka tahu ini kue ibuku? “Besok bawa lagi, ya..” kata mereka melambaikan tangan lagi. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan mantap. Tiba-tiba, seseorang memanggil namaku.

“Diana!” kata seorang laki-laki yang kuketahui adalah anak kelas 9. “Kue yang kamu bawa ke kantin tadi masih ada nggak?” katanya terengah-engah karena lari.

“Maaf, kak. Sudah habis semua.” Kataku menunjukkan keranjang kue kosong di tanganku. Ia menghela napas kecewa.

“Besok bawa lagi, ya.” katanya sambil berlari mengejar teman-temannya. Aku tersenyum senang.

Aku berjalan sambil sedikit melompat-lompat. Keranjang kue kosong di tanganku kuayunkan dengan riang. Melihat bus berhenti di depan halte, aku mempercepat langkah kakiku.

Aku memperlambat langkahku. ketika melihat seorang perempuan berjalan menunduk di depanku. Perempuan itu sepertinya seumuran denganku. Ia juga mengenakan seragam yang sama denganku. Aku berjalan mengantri dibelakangnya. Perempuan itu menaiki bus dengan lesu. Siapa dia? Ada apa dengannya? Pikirku penasaran.

Aku berniat mendekati perempuan itu. Namun pandanganku terhalang oleh lalu lalang orang di dalam bus. Akhirnya aku duduk sambil terus mencari dengan melihat ke belakang.

Sebuah benda putih menyembul sedikit di antara kursi-kursi. Ah! Itu dia! Batinku senang. Aku berjalan mendekati tempat itu.

Seorang laki-laki besar mendahuluiku. Ia duduk di sebelah Sally. Akhirnya aku duduk di bangku belakang laki-laki itu. Aku mengintip dari celah kursi. Sekilas, aku melihat laki-laki itu mulai mendekatkan tangannya ke pangkuan perempuan berkerudung itu. Perempuan itu terkejut. Dengan spontan, aku memukulkan keranjang kue ibuku ke kepala laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke belakang bingung. Dengan cepat, aku memukul wajahnya dengan keranjang.

“Kurang ajar! Ngapain kamu?! Pergi!” kataku heboh. Semua orang di bus menoleh kea rah kami. Laki-laki itu berdiri. Lalu dengan cepat, ia melompat keluar dari bus.

Aku duduk di kursi tempat laki-laki tadi. Aku melirik perempuan di sebelahku melalui ekor mataku.

“Terima kasih.” Katanya pelan. Sepertinya aku mengenal suara ini.

“Sama-sama.” Kataku mencoba ramah.

Perempuan tadi menoleh. Sally? Ia juga terkejut. Namun langsung menunduk. Aku menatap mantan sahabat kecilku lurus lurus. Aku menghela napas.

“Kamu kenapa, sih, Sally? Padahal, aku senang sekali bisa satu sekolah denganmu lagi. Kataku ikut menunduk. Sally diam. Aku diam juga. Perasaan dingin di sekitarku terasa menyentuh di hari yang panas ini. Aku menoleh lagi. Kulihat mata Sally berkaca-kaca. Sedih sekali melihat sahabat kecilku dalam kondisi begini. Aku tak tahan. Aku menyentuh tangan Sally dan perlahan memeluknya. Sally membalas pelukanku.

“Maafkan aku, Diana.” Katanya terisak. “Aku salah. Aku selalu iri kepadamu. Kamu selalu disenangi banyak orang. Kalau kita jalan berdua, orang-orang hanya melihat ke arahmu. Aku risih sekali. Ketika aku tahu kamu akan pindah ke kota ini, ke sekolahku, aku khawatir itu akan terjadi lagi.” Katanya menghapus air mata. “Sejujurnya, aku kangen kamu, Diana?” katanya mencoba tersenyum. Namun yang ada, bibirnya malah bergetar.

“Aku juga kangen kamu, Sally. Kangen masa-masa ketika kita kecil.” Aku tersenyum melihat aku sudah bersama sahabatku lagi. “Semua itu tidak benar, Sally. Mereka juga memandangmu hebat. Di angkatan kita, kamu selalu juara kelas. Dulu, kalau tidak ada kamu, aku pasti bingung harus bertanya kepada siapa.” Kataku menghapus air matanya. Ia tersenyum simpul. Matanya seperti menerawang. Itu kebiasaan Sally kalau sedang berpikir atau mengingat sesuatu.

“Oh, iya. Rumah kamu sekarang di mana, Diana?” katanya sambil mengerjapkan mata untuk meluruhkan sisa-sisa airmatanya.

“Komplek Citra Permai.” Mata Sally membesar.

“Ternyata kita tetangga.“ aku dan Sally tertawa pelan. Sally melihat ke sekeliling. “Hah! Udah kelewat jauh!” katanya panik.

“Yah, tunggu halte selanjutnya, deh.” Kataku lemas. Aku menoleh padanya. Ia seperti menahan tawa. Aku tak tahan lagi. Tawaku meledak. Disusul tawanya yang lepas. Menertawai keteledoran kami.

Orang-orang di sekitar kami menatap kami bingung, sebagian melotot kesal karena kami berisik sekali. Tapi bagiku, itu tak cukup penting. Yang terpenting saat ini adalah, aku yakin, hari-hariku selanjutnya, akan lebih indah.

 

[Fathimah NJL, Santriwati angkatan ke-1 Jenjang SMP, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait