84 total views,  1 views today

#8

Akhirnya, setelah mengantar Nissa ke Stasiun Gambir, kami kembali ke Stasiun Gondangdia. Kami harus kembali ke Bogor. Eits, berarti keliling naik bajaj lagi? Yap, naik bajaj untuk kedua kalinya. Tapi rasanya agak berbeda dengan yang pertama. Kebahagiaan saat naik bajaj kini campur aduk dengan rasa sedih dengan kepergian Nissa. Tapi, Nissa pasti tidak ingin kami bersedih. Okelah kalau begitu, senyum 999. Hahaha

~~~

Ketika penulis, Ica dan Ela hendak naik bajaj, Om Dedy berpesan agar setelah turun dari bajaj kami menunggu beliau. Baiklah, akhirnya kami menunggu di dekat pangkalan bajaj. Cukup lama kami menunggu. Kami memperhatikan satu per satu bajaj yang berhenti. Berharap segera melihat Om Dedy. Ternyata batang hidung beliau tak jua kami temukan. Di pangkalan bajaj tidak ada tempat duduk. Sementara rasa pegal mulai menggerogoti kaki kami. Akhirnya Ica dan Ela memutuskan untuk duduk di tepi pohon, tepatnya di tembok berbahan semen dan batu yang menjadi pembatas pohon tersebut dengan jalan raya. Penulis memilih berjongkok karena tembok dan batunya agak kotor.

Hmm…mana Om Dedy, ya? Perasaan, dari tadi bajaj berhenti tapi penumpangnya bukan Om Dedy. Aduh, kami mulai khawatir. Om Dedy tidak mungkin meninggalkan kami.

Rasa khawatir semakin menjadi-jadi. Padahal jarak yang kami tempuh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Gondangdia tidak begitu jauh. Duh, kami khawatir terjadi apa-apa dengan Om Dedy. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Penulis tidak tahan berjongkok lama-lama. Begitu juga dengan Ica dan Ela. Kami melihat ke sekeliling. Tiba-tiba…

Bersambung…

….

Eits, tunggu! Kami bukan sinetron!

Kisah kami masih berlanjut. Kami (terutama penulis) tak ingin menyudahinya sekarang. Di saat genting seperti ini. Di mana kami belum juga menemukan Om Dedy.

Ok, kita ulang dari paragraf,

Rasa khawatir semakin menjadi-jadi. Padahal jarak yang kami tempuh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Gondalia tidak begitu jauh. Duh, kami khawatir terjadi apa-apa dengan Om Dedy. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Penulis tidak tahan berjongkok lama-lama. Begitu juga dengan Ica dan Ela. Kami melihat ke sekeliling. Tiba-tiba…

Ya, tiba-tiba…

Tiba-tiba Ela berteriak.

“Itu Om Dedy!”

Penulis dan Ica berbalik badan. Ya, benar-benar Om Dedy. Beliau ada di belakang kami. Jaraknya ± dua meter di belakang tempat kami berdiri. Alhamdulillah, rasa lega menyudahi penantian kami. Sebelumnya, beliau terlihat sedang berjalan sambil melihat kanan-kiri. Dan suara Ela akhirnya sampai di telinga beliau. Kemudian beliau menghampiri kami.

“Loh, kenapa nunggu di sini? Tadi saya ada di atas (maksudnya di beranda stasiun). Padahal langsung saja ke atas.”

Kurang lebih itulah kata Om Dedy. Beliau keheranan melihat kami berada di pangkalan bajaj. Ya, ya, penulis mengerti sekarang. Terjadi ke-salahpahaman di antara kami. Memang, sebelumnya beliau berpesan agar kami menunggu. Tapi beliau tidak memberitahu di mana tempatnya. Entah kenapa, penulis, Ica dan Ela juga tidak bertanya. Malah menunggu di pangkalan bajaj. Ahaha… lucu juga!

Akhirnya, Om Dedy mengajak kami ke beranda stasiun. Alhamdulillah, penulis senang sekali. Rasa khawatir dan segala macam pikiran saat menunggu beliau kini berakhir. Andai saja Om Dedy tidak balik lagi ke pangkalan bajaj, mungkin penulis, Ica dan Ela akan lebih lama menunggu. Dan kami tidak tahu bagaimana jadinya nanti. Ditambah kami tidak punya bekal apa pun. Tak sepersen pun uang yang kami bawa. Untung saja, kami tidak menjadi gelandangan dan hidup terlantar di Ibu kota Jakarta, tempat yang menyimpan banyak misteri tentang simbol iblis/illuminaty. (Lengkapnya silahkan baca buku The Jacatra Secret karya Rizki Ridyasmara)

Huuft… alhamdulillah.

Well, perjalanan pulang ke Bogor pun dimulai. Are you ready?

[Siti Muhaira, santriwati kelas 3 jenjang SMA, Pesantren Media]

By Siti Muhaira

Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *