Loading

#9

Setelah melalui perjalanan mengantar santri-santri akhwat yang pulkam akhirnya kini kami bisa duduk nyaman di kereta. Ya, alhamdulillah kami mendapat tempat duduk. Rupanya, penumpang kereta tidak seramai dan sepadat seperti saat kami berangkat tadi pagi. Seperti biasa, kami (kecuali Om Dedy) berada di gerbong kereta khusus wanita. Berbeda dengan gerbong sebelumnya, kursi yang ada di gerbong sekarang lebih nyaman. Seperti sofa. Ya, sofa berwarna hijau tua. Tentunya, kami bertiga duduk bersebelahan. Ya iyalah, gawat kalau berjauhan. Kami kan selalu di hati. Hahaha

Sama seperti saat berangkat tadi pagi. Kami harus melewati 10 jalur kereta. Entah kenapa, penulis merasa perjalanan saat ini lebih lama. Padahal biasanya, pergi ke mana pun, perjalanan pulang adalah yang lebih cepat. Entahlah. Penulis memperhatikan ke sekeliling. Ya, kereta masih tidak terlalu ramai dan padat. Penulis melihat ada seorang wanita yang duduk di seberang dan sedang terlelap dengan nyamannya. Wanita itu menutup wajahnya dengan tas. Penulis mengarahkan pandangan ke sebelah kanan. Eh, ternyata. Ela yang duduk di sebelah kanan penulis juga terlelap. Uniknya, Ela tetap duduk sambil bersandar. Tidak seperti wanita tadi yang menutup wajahnya. Meskipun matanya terpejam, rasa lelah terlihat jelas di wajahnya. Ya, bagaimana pun hari ini kami melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Bahkan malam sebelumnya membantu warga TI pindahan. Semoga apa yang telah kami lakukan ini dicatat sebagai amal baik. Amiin

Melihat Ela terlelap, penulis juga ingin melakukan hal sama. Istirahat sejenak sebelum sampai di Bogor. Rasa kantuk mulai penulis rasakan. Berbeda dengan Ica yang duduk di sebelah kiri penulis. Ia tidak merasa mengantuk. Padahal raut wajahnya memperlihatkan kelelahan. Mungkin, Ica ingin menikmati perjalanan ini dengan melihat pemandangan yang ada di luar. Atau ia ingin memastikan agar kami tidak kebablasan. Perlahan penulis mulai memejamkan mata. Selamat beristirahat semua…

zzZZZ

Beberapa menit kemudian penulis terbangun dikarenakan laju kereta. Penulis tidak tahu apakah Ica juga tidur atau tidak. Yang jelas, suasana di dalam kereta masih sama. Penumpangnya tidak padat. Kereta berhenti di stasiun yang entah apa namanya. Penulis tidak melihat peta dan tidak mendengar suara petugas kereta yang biasanya memberitahu nama stasiun tempat kami berada. Sekilas, penulis lihat ada beberapa penumpang yang naik. Kereta pun kembali melaju. Penulis, Ica dan Ela masih bisa duduk dengan nyaman. Oh, ternyata Ela masih terlelap. Penulis pun melanjutkan kembali untuk tidur. zzZZ…zzZZ

Rasa nyaman yang penulis rasakan tiba-tiba lenyap. Kini suasana di dalam kereta mulai berisik. Mata masih terpejam. Tapi indera pendengaran masih bekerja. Penulis yang tidak nyaman berusaha mengembalikan rasa nyaman tersebut, yaitu dengan mengganti posisi duduk. Baru beberapa detik merasa nyaman kembali, penulis mendengar suara berisik. Sepertinya suara anak-anak. Kali ini penulis benar-benar merasa tidak nyaman. Rasanya, harus menyudahi istirahat ini. Ya, perlahan penulis membuka mata. Dan benar. Ternyata suara berisik itu adalah suara anak-anak SD yang duduk di kursi seberang. Owalah…

Penulis memperhatikan mereka. Kurang lebih ada 5 anak dan dua ibu. Mereka perempuan semua. Postur tubuh anak-anak itu hampir sama. Mungkin teman sekelas, kelas 4 SD. Ada satu anak yang tak henti-hentinya mengoceh. Ia bercerita tentang pengalaman saat di sekolah. Ibu yang duduk di sebelahnya mungkin adalah ibunya. Sesekali anak yang lain mengomentari. Anak yang mengoceh itu berbicara dengan logat Betawi plus gaya anak gaul. Ditambah suaranya yang nyaring membuat penulis tidak bisa tidur lagi.

Anak itu masih mengoceh. Sementara teman-temannya sudah terlelap. Penulis merasa heran. Dilihat-lihat, kok wajahnya mirip semua, ya? Penulis menajamkan penglihatan. Benar-benar mirip. Suer deh! Apa mereka kakak beradik? Wajah ibu itu juga mirip. Memang sih, penulis perhatikan anak yang mengoceh tadi terlihat seperti kakaknya. Tapi postur tubuh mereka tak jauh berbeda. Sekelas pula. Wah…

Kereta kembali berhenti di sebuah stasiun. Anak yang mengoceh bersama ibu itu membangunkan anak-anak yang masih tidur.Ternyata mereka susah dibangunkan. Bahkan ibu itu sampai menarik pipi dan memberi sedikit ancaman jika mereka tak kunjung bangun. Kalau tidak salah, ada dua anak yang paling susah dan mereka yang terakhir bangun. Sementara anak yang lain sedang turun. Ya, melihat hal itu penulis jadi teringat waktu membangunkan santri akhwat PM. Beberapa santri ada yang masih susah dibangunkan. Semoga ke depannya mereka bisa bangun sendiri dan lebih awal. Amiin

Well, mengingat masa itu membuat penulis ingin segera sampai di Pesantren. Sepertinya, tak lama lagi kami akan tiba di Stasiun Bogor. Eh, ternyata Ela sudah bagun. Penulis sempat bertanya kepada Ica mengenai anak-anak SD tadi. Ternyata Ica juga berpikir bahwa anak-anak tadi adalah kakak beradik. Tuh kan! Waduh… entahlah.

~~~

Alhamdulillah, sampai juga di Stasiun Bogor. Yeayy! Eits, hari semakin siang. Udara panas menyambut saat kami turun dari kereta. Meskipun begitu, ternyata anginnya berhembus sangat kencang. Wah, ketemu orang-orang sibuk lagi nih. Buru-buru Om Dedy memimpin kami keluar dari area stasiun dan berjalan menuju tempat di mana mobil panter berada. Ok, semangat!

Tempat di mana mobil itu berada sangatlah jauh. Kami harus memasuki Pasar Anyar dan terus berjalan melewati deretan sepeda motor yang diparkir di pinggir jalan. Debu, polusi dan bau kendaraan membuat penulis tak tahan. Dengan langkah cepat kami berjalan. Adzan Zhuhur sudah berkumandang saat kami masih berada di dalam kereta. Duh, kami belum sholat. Setelah berhasil menemukan mobil dengan warna biru tua itu, kami langsung masuk ke dalamnya. Wow, panasnyaa… semua barang yang ada di dalam mobil terasa panas. Termasuk kursi yang sekarang kami duduki. Mungkin selama 4 jam lebih kami membiarkannya berada di bawah terik matahari. Oh, ya Allah hand phone milik penulis juga kepanasan. Penulis tidak membawanya tadi. Yah, jadi nggak ikut ke Jakarta deh! Hehe

Ok, semua penumpang sudah naik. Om Dedy menghidupkan mesin. Mobil mulai berjalan. Kami pun keluar dari tempat parkir. Selamat tinggal Stasiun Bogor…! Akhirnya, perjalanan menuju Pesantren Media.

[Siti Muhaira, santriwati kelas 3 jenjang SMA, Pesantren Media]

By Siti Muhaira

Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *