217 total views,  2 views today

Kakak segera memutar kenop pintu dan masuk ke kamarnya. Kak Revan sama sekali tidak membalas perkataanku. Padahal, aku berharap, dengan berkata begitu, kakak bisa mempercayaiku untuk membagi kisahnya padaku. Tidak menyimpannya seorang diri seperti ini.

***

Dari hari kehari, kulihat Kak Revan semakin kurus serta mukanya semakin pucat. Bahkan sudah dua hari ini dia tidak datang ke kantor. Dia lebih sering mengurung diri di kamarnya.

Aku tersentak. Apa ini sudah saatnya?

Hari ini seseorang menghubungiku. Katanya, Kak Revan jatuh pingsan dan sedang di rumah sakit saat ini. Aku bergegas berlari keluar dari rumah. Doronganku pada pagar terhenti. Ada perasaan tidak asing dalam diriku. Perasaan yang juga kurasakan bertahun-tahun lalu.

Oh tidak. Ya Tuhan. Tolong jangan sekarang.

Saat aku masuk ke dalam ruangan tempat Kak Revan berada, baru aku bisa bernapas lega. Kak Revan sedang tidur di dalam sana. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan lelah.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilkan seorang dokter berwajah ramah.

“Maaf, apa anda keluarga pasien?”

“Ya, saya adiknya.”

“Bisa minta waktunya sebentar?”

“Oh, iya.”

“Mari, ikut saya.”

Aku mengikuti dokter tersebut ke dalam ruangannya. Setelah di persilahkan duduk, sang dokter pun memulai pembicaraan.

“Apa anda sudah tahu mengenai penyakit pasien?”

“Ya.” Aku menjawab lemah.

“Pasien menderita penyakit leukimia. Tinggal menghitung hari menuju kematiannya. Kelihatannya dia sudah berusaha melawan penyakitnya ini. Tapi, kami juga akan berusaha yang terbaik untuknya.”

“Makasih dok, saya pamit dulu.”

***

Aku menghela napas, lalu bergegas melanjutkan langkahku menuju taman rumah sakit ini. Sudah beberapa hari ini Kak Revan dirawat di rumah sakit. Setiap kali Kak Revan tidur, aku akan pergi ke taman ini. Sekedar untuk menimbulkan setitik perasaan tenang dalam diriku. Berusaha melupakan masalah-masalah di belakangku. Masalah? Apa Kak Revan masalah bagiku? Jawabannya, tidak. Masalahku adalah, apa aku sanggup melewati semua kejadian ini? Serta dengan sabar dan ikhlas?

Banyak kejadian-kejadian kurang menyenangkan yang kualami dua tahun terakhir ini. Selama dua tahun, aku sudah kehilangan banyak hal. Hanya dua tahun.

Dia tersenyum dan selalu tersenyum. Tapi entah kenapa ini terlihat begitu kejam. Waktu berlalu begitu cepat. Matahari mulai terbit lagi. Pagi ini, hanya sepi yang kurasakan. Jika sudah waktunya, aku akan pergi menemuimu, kak. Aku berjanji.

***

Revan (pagi yang terasa begitu kosong)

Keegoisanku untuk pergi ini menjadi obsesi dan menjebakmu. Sejujurnya, aku sangat takut di saat aku tidak seperti diriku yang dulu. Apa kau terluka karena aku? Seperti orang bodoh, selalu saja membuatmu terluka dan sedih.

Untuk beberapa alasan, hidup ini semakin sibuk dari biasanya. Ketika aku terjerumus dalam gelap, saat itulah aku kehilangan setiap napasku.

Sudah satu bulan ini aku di rawat di rumah sakit. Detik demi detik terlewat begitu saja. Detak jantungku semakin lambat, bahkan udara di sekitarku semakin berat. Aku takut melihat diriku yang semakin lemah. Di sisa-sisa napasku yang semakin terputus-putus, aku sadar akan satu hal.

Bahkan kini, judul kisah ini terasa tidak sesuai bagiku.

Berakhir? Ya, Ini berakhir. Sudah berakhir.

[Hanifa Sabila, santriwati Pesantren Media, angkatan ke-2, jenjang SMP]

By Hanifa Sabila

Hanifa Sabila | Santriwati angkatan ke-2 jenjang SMP, kelas 2 | @hanifasabila21 | Asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *