407 total views,  1 views today

[PROLOG]
Sang asisten komandan menatap pemandangan yang ada di depannya dengan pilu . Di depannya sang komandan telah terkapar hampir tak bernyawa, hanya bisa mengucapkan sepatah – dua patah kata yang terdengar lirih di telinga sang asisten. “Larilah! Dan bawa orang-orang yang masih hidup ke tempat persembunyian. Aku akan berusaha menahan mereka semua disini semampuku”. Ujar sang komandan di sela-sela batuknya yang mengeluarkan darah berwarna hitam pekat. “Tapi komandan, aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja”. Ucap sang asisten dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.

Sang komandan hanya tersenyum dan kemudian berkata “Aku bahagia mendengarnya darimu, tapi saat ini hanya kaulah yang bisa melanjutkan perjuanganku. Aku minta dengan sangat padamu, asisten Mine. Tolong tinggalkan aku disini dan bawa semua orang yang masih hidup ke tempat persembunyian. Aku akan berusaha semampuku menahan mereka semua disini”. Sang asisten pun berpaling dan berkata “Maafkan aku komandan, aku janji akan membawa mereka semua ke persembunyian dengan aman dan selamat. Sayonara, komandan Gibren”.

Dan sang komandan pun tersenyum, “Nah, sekarang waktunya menggunakan tenaga terakhirku untuk memperlambat kalian, cucunguk kurang ajar!”.

[MAIN]
3 Bulan setelah peperangan itu berakhir.

“Komandan Mine!” seru seorang anak muda bernama Izumi. “Hmm? Ada apa, Izumi?” tanyaku. “Komandan tahu wajah ini kan?” ujarnya. Aku terkejut, spontan aku mengeluarkan respon yang menyiratkan bahwa aku teringat akan suatu kejadian yang memilukan, sangat memilukan. Sampai Aku sendiri pun tidak sedikitpun ingin mengingat tentang kejadian tragis 3 bulan yang lalu, disaat aku masih menjadi asisten komandan dan belum menjadi komandan seperti sekarang ini, ya, saat aku masih seorang asisten dari seorang komandan yang sangat kuhormati. Seorang komandan yang menjadi panutanku selama berada di sini. “Oh begitukah? Kalian ternyata masih menyimpan foto orang itu”, ujarku sambil menyeka air mataku yang entah kenapa tiba-tiba jatuh membasahi pipiku. “Ada apa dengan komandan? Anda terlihat sedih sekali melihat foto orang ini, apakah orang ini sangat berharga bagi komandan?” tanyanya dengan mimik muka yang sangat penasaran. “Kau terlalu banyak bertanya Izumi, tidakkah kau melihat aku sedang bersedih? Tolong, tinggalkan aku sendirian untuk sebentar saja, aku mohon tinggalkan aku.”, ujarku lirih. Dan kemudian dia pun meninggalkanku dengan muka yang tidak puas dengan pernyataan yang aku berikan.

Aku sangat mengingat wajah itu, ya, wajah seseorang yang 7 tahun lalu menyelamatkanku ketika aku diculik oleh komplotan pemberontak kerajaan yang telah membunuh kedua Orangtuaku dan juga adik dan kakakku. Saat itu dia masih sangatlah muda, mungkin umurnya seumuran denganku, tetapi belakangan setelah aku selidiki, akhirnya aku tahu bahwa ternyata dia lebih tua 2 tahun dariku. Ya, belakangan ini sebelum perang 3 bulan yang lalu itu terjadi, tepatnya pada tanggal 28 Februari 2019. Saat itu aku masih sedang dalam perjalanan bersamanya, ketika tiba-tiba kami mendapatkan perintah untuk memberantas sekelompok teroris yang sudah menjadi-jadi di daerah itu. Dalam hati aku berharap semoga tidak ada kejadian yang mengerikan, dan ternyata apa yang aku harapkan sangatlah jauh dari kenyataannya.

Ternyata perintah yang kami terima adalah jebakan…

Di dalam mobil aku berbincang sedikit dengannya, tentang bagaimana perasaannya setiap menerima misi seperti ini, dan dia menjawab “Yah, sebenarnya aku merasa takut, layaknya seorang tikus yang melihat kucing yang sedang lapar, mungkin aku memang terlihat tidak takut akan apapun, tetapi sebenarnya jauh di dalam hatiku aku sangatlah takut. Namun aku selalu mencoba memberanikan diri karena prinsipku adalah jangan biarkan ketakutanmu menakutimu, kalahkan ketakutanmu dengan keberanian, dan gara-gara prinsip itulah aku sampai sekarang masih bisa menjadi komandan di sini.” Ujarnya panjang lebar. Aku hanya tercengang sambil mencerna kata-kata yang dia berikan kepadaku. Dan itu adalah pembicaraan panjang lebar terakhirku dengannya.

Dalam medan perang itu, kami hanya membawa 2 grup pasukan yang berjumlah total 50 orang. Namun kami salah perhitungan, awalnya aku tidak tahu bahwa ini hanyalah jebakan, tetapi setelah peperangan berlangsung sekitar 20 menit, aku mulai sadar ada yang tidak beres. Kenyataan bahwa semakin banyak prajurit yang terluka terkena tembakan peluru OSV-96 kaliber 12,7 x 108mm buatan Rusia membuatku semakin sibuk mengobati para korban sampai-sampai aku tidak bisa menyampaikan pemikiranku kepada komandan yang berada di garis depan pasukan kami.

Sampai akhirnya.

Duarr!! Tembakan sniper musuh yang memakai Hecate II buatan prancis pun mengenai kaki kiri komandan.

Dari situlah akhirnya aku menyimpulkan bahwa misi ini hanyalah jebakan untuk menjebak komandan dan aku. Karena berdasarkan data yang kupunya, yang bisa menembakkan peluru Hecate II dalam jarak yang cukup jauh dengan akurat hanya 2 orang, yaitu komandan Gibren dan salah satu temannya yang terlihat benci kepadaku –dia termasuk salah satu pemberontak dulu–.

Brukk! Komandan terpental sekitar 1 meter dari awal tempatnya berdiri karena peluru dari senapan Hecate II terkenal ganas dan bisa membuat siapapun terpental. “KOMANDAN!!!” aku berlari menuju tempatnya terpental, tak peduli bahwa perang masih berkecamuk, dalam pikiranku aku hanya berfikir untuk menyelamatkannya, namun ternyata aku salah perhitungan. Kesempatan itu rupanya digunakan oleh pihak musuh untuk menangkapku, aku memang pernah mendapatkan pelatihan militer bersama komandan yang saat ini tengah terkapar kesakitan di tanah. Namun tetap saja tenagaku masih kalah jauh dengan tenaga penangkapku yang berotot dan aku yakin tenaganya sangatlah kuat. Ketika aku hampir pasrah mengakui bahwa aku akan tertangkap oleh para teroris itu, aku melihat sekelebat bayangan yang tiba-tiba bergerak menyelamatkanku. Ya, komandan telah bangkit dengan segenap tenaganya untuk menolongku.

..To Be Continued..
Chapter 2 : “Sang Komandan”
@bintangihsan213, Pesantren Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *